
"Apa?" tanya Giani seakan ingin meyakinkan pendengarannya lagi.
"Kita jangan berpisah, Gi." Kata Jero mengulangi lagi perkataannya.
Giani memalingkan wajahnya. Kenapa Jero tiba-tiba tak ingin berpisah? Bukankah mereka sudah sepakat untuk menjalani pernikahan ini hanya satu tahun saja? Lalu mengapa sampai tak ingin berpisah?
"Bukankah kamu adalah lelaki yang pegang janji?" Tanya Giani. "Kita kan sudah sepakat pernikahan ini akan dijalani hanya satu tahun saja. Lalu kenapa sekarang tak ingin berpisah?"
"Aku.....!"
Pintu terbuka. Beryl masuk dan menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulut Jero.
"Maaf menganggu. Di luar ada pelanggan yang ingin kerja sama dalam penyediaan kopi. Dan itu adalah tugasmu, Gi." Kata Beryl.
Giani mengangguk. "Aku ke luar dulu!" Giani langsung berdiri dan meninggalkan Jero. Beryl pun menyusul langkah Giani.
Jero mengacak rambutnya kasar. Ia sendiri tak mengerti kenapa kalimat itu keluar dari mulutnya. Apa yang membuat ia tak ingin berpisah dengan Giani? Apakah ia terikat dengan pesona gadis itu?
Tidak! Ini bukan tentang perasaan. Aku tak mungkin jatuh cinta pada gadis yang sama sekali bukan tipeku. Giani tak mungkin juga mencintaiku. Ini salah. Seharusnya aku tak boleh bicara seperti itu.
Jero menarik napas panjang. Ia berusaha menenangkan hatinya sendiri.
*********
"Aku mencintai Jero, ma. Jero juga mencintai aku. Kami tak ingin berpisah lagi."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Finly.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Jero itu sudah menikah dengan Giani. Sementara kamu sudah menikah dengan Aldo. Apa yang kurang dari diri Aldo?" teriak Sinta dengan rasa marah yang sangat dalam.
"Aku tahu Aldo adalah sosok lelaki yang sempurna. Namun aku tidak mencintainya, ma. Aku mencintai Jero!" Finly mulai menangis.
"Kau sungguh tak punya rasa malu, Finly! Jero adalah adikmu. Kalian dibesarkan bersama sejak kecil." Kata Denny sambil memegang tangan istrinya. Ia ingin agar istrinya menjadi tenang.
"Kami bukan saudara kandung. Jero hanya dipelihara oleh papa dan mama. Lagi pula Jero tetap membawa nama Dawson."
Sinta menatap putrinya sambil menggelengkan kepalanya. "Dan Alexa? Apakah kamu akan membiarkan anakmu itu dibesarkan oleh orang lain. Jangan sampai kau menyesal Finly! Di saat kau begitu mengingkan Alexa namun anakmu itu sudah menyayangi wanita lain sebagai mamanya."
Finly diam. Ia saat ini hanya ingin bersama Jeronimo.
"Jero sudah berjanji pada papa dan mama bahwa ia tak akan menjalin hubungan denganmu lagi. Kau hanya akan menghancurkan kehidupanmu sendiri. Pulanglah pada suamimu dan berbahagialah dengannya." Kata Denny tegas.
"Maaf, pa. Aku hanya ingin bersama Jero. Aku mencintainya, pa. Aku telah melakukan kesalahan besar saat menikah dengan Aldo. Seharusnya aku dan Jero berjuang bersama untuk cinta kami. Biarkan aku bersama Jero, pa. Kalau papa yang minta, Jero pasti akan menceraikan Giani." Mohon Finly sambil terus menangis.
__ADS_1
Ia sudah sangat putus asa. Jero sudah memblokir nomornya dan sudah tak ingin menemuinya secara langsung. Ia sungguh-sungguh merasa kecewa karena apa yang diinginkannya seperti dihalangi oleh semua orang.
"Pakai akal sehatmu, Finly. Ini nasehat papa dan mama yang terakhir. Jika kamu masih nekat ingin bersama Jero, kami akan membuangmu sebagai anak kami!" Sinta berdiri. "Ayo, pa. Kita tinggalkan saja tempat ini. Mama tidak pernah mendidik Finly untuk menjadi perempuan tak bermoral seperti ini."
Denny mengikuti langkah istrinya. Mereka meninggalkan Finly yang masih menangis.
Maaf papa, maaf mama. Aku sungguh mencintai Jero. Aku akan melakukan apa saja agar Jero kembali padaku.
********
Sepulang dari cafe, Jero dan Giani saling diam di dalam mobil. Jero mengendarai mobil Giani, sementara mobilnya ditinggalkan di perusahaan.
Saat tiba di rumah, Giani memilih untuk segera mandi. Ia bahkan berendam cukup lama dalam bak mandi. Ia bersyukur karena Jero tak menganggu acara mandinya. Hampir satu jam Giani menghabiskan waktu di kamar mandi. Saat ia keluar kamar, Jero tak ada.
Saat Giani sudah selesai memakai baju rumahan, Jero masuk. Sepertinya ia mandi di kamar mandi yang lain.
"Sayang, kau sudah selesai mandi?" Tanya Giani berusaha menetralkan suasana yang agak kaku diantara mereka.
"Ya. Aku mandi di kamar bawah." Jero melangkah masuk ke dalam walk in closet untuk ganti baju. Ia keluar sudah mengenakan celana jeans dan jaket hitamnya.
"Mau kemana?" Tanya Giani.
"Mau ke club malamnya Frangky."
"Oh....!" Giani hanya mengangguk dan itu justru membuat Jero kesal. Dia ingin Giani melarangnya.
"Mengenai permintaan kamu tadi, apa maksudnya?"
Tangan Jero yang sudah memegang gagang pintu di lepaskannya lagi. Ia menatap membalikan badannya dan menatap Giani.
"Permintaan yang mana?" Tanya Jero pura-pura bingung pada hal ia tahu apa maksud pertanyaan Giani.
"Supaya kita jangan berpisah."
"Oh...yang itu? Sebenarnya aku hanya memikirkan kesehatan mama. Perpisahan Aldo dan Finly pasti akan membuat kesehatan mama terganggu. Apalagi jika ditambah dengan perpisahan kita berdua?"
"Papa dan mama pasti akan mengerti. Mereka tahu apa tujuanku menikahimu. Aku sendiri yang datang menemui papa Denny untuk memintanya agar menjodohkan kita berdua."
Jero berusaha menekan rasa sakit di hatinya mendengar pengakuan Giani. Dia berusaha tersenyum. Ia begitu gengsi untuk mengakui tentang isi hatinya yang sebenarnya.
"Oh...begitu. Aku sebenarnya bukan tak ingin memenuhi perjanjian kita. Aku hanya memikirkan kesehatan mama. Kalau memang papa dan mama sudah tahu bagaimana pernikahan ini terjadi, maka perpisahan kita pasti tak akan menganggu kesehatan mama."
"Jadi?"
Jero menatap Giani. "Seperti perkataanku waktu kita makan malam di taman, kita akan mengukir kenangan manis di sisa hari kebersamaan kita."
__ADS_1
"Ok."
"Aku pergi dulu ya?"
"Sayang, jangan minum terlalu banyak ya? Nggak baik untuk kesehatan."
Jero mendekat. Ia memeluk Giani dengan sangat erat. Lalu mencium dahi Giani dengan sangat lembut. "Jika Finly ada di club, aku tak akan membiarkan dia mendekatiku."
"Aku percaya sayang!" Giani meraih tengkuk Jero agar pria ia sedikit menunduk. Keduanya berciuman bibir sebentar.
"Aku capek hari ini. Jadi tak bisa menunggumu pulang."
"Ok." Jero pun meninggalkan kamar. Ia merasa hatinya begitu berat hendak meninggalkan Giani. Namun dia ingin mengalihkan semua pikirannya tentang Giani. Ia butuh alkohol yang banyak malam ini.
**********
Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Sidang putusan cerai dari antara Aldo dan Finly sudah selesai. Aldo juga sudah berbicara pada papa dan mama mertuanya. Papa Denny dan mama Sinta meminta maaf pada Aldo karena sikap Finly. Namun Aldo yang sudah mantap dengan keputusannya, merasa tak perlu lagi untuk mempermasalahkan itu.
"Papa dan mama tenang saja. Aku akan tetap menganggap papa dan mama sebagai orang tuaku sendiri. Alexa kan menyayangi opa dan omanya."
Perkataan Geraldo membuat pasangan suami istri itu tak bisa menahan air matanya.
Mereka bersyukur mendapatkan anak mantu seperti Geraldo yang begitu baik hati dan pengertian.
Giani dan Jero pun menjalani hari-hari mereka dengan penuh kemesraan. Setiap akhir pekan, mereka menghabiskan waktu berdua untuk pergi ke berbagai tempat. Tak jarang, mereka hanya singgah di hotel-hotel terdekat untuk menghabiskan waktu berdua. Seolah mereka adalah pengantin baru.
Sementara Alexa semakin dekat dengan Joana. Ia bahkan sudah pernah menginap di apartemen Joana karena ingin menikmati waktu bersama tante bulenya. Sesekali juga Giani meluangkan waktunya untuk bersama Alexa. Ia ingin menghibur ponakannya itu. Namun yang dia lihat adalah Alexa seakan tak terganggu dengan perginya Finly.
******
Jero pulang kantor hari ini sambil membawa coklat yang dikirimkan oleh tantenya dari London. Ia tahu kalau Giani sangat menyukai coklat. Ia yakin Giani akan menyukainya.
Saat ia masuk ke dalam rumah, ia mencari Giani ke dapur karena mencium bau masakan. Namun Giani tak ada di dapur. Ia melihat sudah ada masakan yang tersaji di atas meja. Bahkan terlihat seperti akan ada perayaan.
Jero segera menuju ke kamar atas. Saat ia membuka pintu kamar, dilihatnya Giani baru berdiri dari depan meja riasnya. Jero terkejut melihat Giani yang begitu rapih.
"Sayang, mau kemana? Ada acara? Atau ada tamu yang akan datang?" Tanya Jero sambil mendekat.
"Lupa ya? Ini hari apa?"
"Hari apa?" Jero melingkarkan tangannya dipinggang Giani.
"Happy weding aniversary, honey!"
Pegangan tangan Jero dipinggang Giani terlepas. Lututnya pun terasa lemas. Jantungnya seakan berhenti. Begitu manisnya mereka melewati hari bersama sampai ia lupa kalau hari ini adalah 1 tahun pernikahan mereka. Kontrak selesai.
__ADS_1
hua...hua....mana tisue...mana????
Dukung aku ya...vote yg banyak. Siapa tahu bisa masuk rangking 10 besar 😆😆😆😆