
Perlahan Giani membuka matanya. Ia merasakan kalau tangan kekar Jero masih melingkar dipinggangnya.
Ponsel Jero berbunyi namun tak mengusik pria bule itu dari tidurnya.
"Kak, lepasin tangannya. Aku mau ke kamar mandi." Kata Giani sambil mengangkat tangan Jero.
"Bobo aja sebentar." Jero semakin mengeratkan pelukannya membuat Giani terbelalak karena merasa ada sesuatu yang keras menempel ditubuhnya.
"Kak, lepasin dulu. Aku mau pup." Giani berbohong. Sungguh ia tak sanggup jika harus melayani kemauan si palo.
Jero melonggarkan pelukannya membuat Giani dengan cepat turun dari tempat tidur dan segera berlari ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Ponsel Jero masih terus berbunyi membuatnya segera meraih benda itu dan menjawab panggilan Frangky.
"Frangky, kok loe ganggu gue sih? Inikan masih pagi?"
"Pagi kepala loe? Di Jakarta saja sudah jam 10 berarti di sana sudah jam 11, bule!"
"Terus kenapa loe ganggu tidur gue?"
"Nah, loe kan ke sana mau bekerja? Pemilik tanah yang lama sudah menunggu loe di lokasi pembangunan hotel untuk memulai tournya. Loe masih aja di tempat tidur. Memangnya loe olahraga sampe berapa ronde?"
"Nyebelin loe. Bilang ke dia kalau gue siap 30 menit lagi." Jero turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.
"Kakak, aku belum selesai!" Teriak Giani yang sementara menyabuni tubuhnya.
"Aku harus cepat mandi. Ada pekerjaan yang menunggu." Kata Jero lalu ikut bergabung di bawah shower bersama Giani.
"Kakak, aku sudah selesai menggosok badanku. Tak perlu kakak gosok lagi." Giani menepis tangan Jero. Ia buru-buru berlari ke luar dari ruangan kaca lalu mengambil handuknya dan segera keluar dari kamar mandi.
Sesampai di luar kamar mandi, Giani ganti baju secepat yang ia bisa. Ia tak ingin Jero keluar dan melihatnya dalam keadaan polos.
"Gi, aku mau ke lokasi pembangunan hotelku. Kamu mau ikut?" Tanya Jero saat ia sudah keluar dari kamar mandi.
"Aku nggak bisa, kak. Hari ini kedai kopi kami akan buka jadi aku harus ke sana sekarang." Kata Giani sambil menyisir rambutnya yang sudah panjang melewati bahunya.
"Lokasi cafenya di mana?"
"Dekat dari sini. Jalan kaki juga boleh. Dari gerbang hotel, kakak belok kanan, lurus saja. Tempatnya di sebelah kanan. Warnanya sama dengan gedung yang ada di Jakarta."
Jero mengangguk. "Jam berapa pembukaannya?"
"Jam 3 kak."
"Aku usahakan datang kalau pekerjaanku cepat selesai." Jero selesai memakai sepatunya. Ponselnya berbunyi lagi. Sebuah panggilan dari Frangky. "Iya, gue ke sana sekarang."
"Kakak nggak sarapan dulu?"
Jero menggeleng. "Aku pergi dulu ya." pamit Jero lalu mencium dahi Giani dan segera keluar dari kamar.
Giani tersenyum. Semoga perasaanmu pada Finly akan berubah, kak. Aku akan membuatmu tak akan melirik Finly sedikitpun.
Ia pun segera turun ke bawa, jam makan pagi sudah selesai sehingga Giani memutuskan untuk makan di tempat bakso yang ada di dekat cafenya.
**********
"Maaf ya tadi pagi aku nggak ikut dengan kalian." Ujar Giani saat Joana dan George datang ke cafenya. Pembukaannya sudah selesai. Di tandai dengan pembacaan doa dan pemotongan tumpeng. para undangan pun disugukan dengan aneka kopi dan kue.
__ADS_1
Jam 5 sore, para tamu pun sudah banyak yang pulang. Suasana cafe agak sepi dan membuat Giani lebih leluasa berbicara dengan mereka.
"Nggak masalah, Ni. Yang penting kalian happy. Di gempur habis-habisan ya semalam?" goda George membuat pipi Giani merona.
"Tentulah, sayang. Giani sampai nggak bisa bangun pagi." Joana tertawa bersama pacarnya. Membuat Beryl yang baru saja menerima beberapa pengunjung menatap ke arah mereka dengan wajah penasaran. Setelah menyerahkan pesanan tamu ke pelayan yang ada, Beryl mendekati mereka.
"Ada apa nih? Rame banget?"
"Biasa urusan ranjang. Makanya kamu cepat cari pacar. Supaya statusnya jelas. Memangnya dari semua koleksi cewekmu, tak ada satupun yang bisa membuatmu jatuh cinta?" Kata Joana
Beryl hanya tersenyum. "Tidak. Namun sekarang aku sudah menyukai seseorang. Seorang perempuan yang luar biasa. Aku akan sabar menunggunya."
"Apakah perempuan itu tahu kau menyukainya?" Tanya Giani penasaran karena ia dan Beryl hampir setiap hari bertemu.
"Belum. Namun aku sudah menunjukan rasa sayangku padanya melalui perhatian. Aku hanya harus sabar menunggu beberapa bulan lagi baru akhirnya aku akan menyatakan perasaanku padanya." Kata Beryl sambil tersenyum penuh arti.
"Sweet...!" Kata George sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Eh, foto bareng yuk! Sekalian promo cafe baru ini." Kata Giani sambil mengeluarkan ponselnya. Giani memanggil salah satu pelayan untuk mengambil gambar mereka.
Beryl yang berdiri di samping Giani, melingkarkan tangannya di bahu Giani dan tersenyum sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya.
Tepat di saat itu, Jeronimo memasuki cafe. Hatinya langsung menjadi panas saat melihat tangan Beryl yang melingkar dibahu Giani dan wajah mereka yang begitu dekat saat pengambilan gambar.
"Honey....!" Panggil Jero yang secara tiba-tiba sudah berdiri di belakang Giani dan memeluk pinggang gadis itu dengan kedua tangannya.
Giani tersentak kaget. Tangan Beryl yang ada dipundaknya langsung terlepas karena Giani membalikan badannya. "Kak?"
Cup!
Jero mencium bibir Giani dengan sangat mesra. "Selamat ya atas pembukaan cafenya."Kata Jero.
"Pekerjaanku baru selesai." Ujar Jero tanpa melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Giani. Keduanya masih saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Giani terlihat agak salah tingkah karena perlakukan Jero padanya. Namun ia berusaha menikmatinya karena tatapan mata Joana yang memberi isyarat agar jangan melepaskan tangan Jero.
"Kak, mau minum kopi? Atau mau makan sesuatu?" Tanya Giani.
"Mau makan kamu saja!" Ujar Jero sungguh tak terduga membuat Joana dan George tertawa sementara Beryl langsung memasang wajah datar.
"Ihs....kakak, mesum!" Giani mencubit perut Jero.
"Mesum sama istri sendiri kan nggak masalah? Iya nggak?" Ujar Jero sambil menarik Giani agar semakin menempel padanya. Satu kecupan manis mendarat di pipi Giani.
"Dia milikmu, Jero. Aku yakin tak ada yang berani menyentuhnya." Ujar George sambil mengerlingkan matanya ke arah Joana. Keduanya memang tahu kalau tujuan Giani menikah dengan Jero adalah untuk menjauhkan Jero dari Finly. Hanya Beryl yang tahu kalau mereka menikah karena dijodohkan.
Mereka pun tertawa bersama.
"Kak, duduk dulu ya, aku siapkan kopi untuk kakak. Mau kopi hitam atau kopi campur cream dan susu?" Tanya Giani.
"Black coffee mixed with your milk." Kata Jero agak pelan namun bisa didengar oleh yang lain.
"Kakak!" Wajah Giani semakin merah. Ia segera melepaskan tangan Jero yang masih melingkar di pinggangnya dan segera menuju ke pantry.
Jero mengambil tempat duduk di hadapan Joana dan George. Sementara Beryl pura-pura menyambut pelanggan yang datang karena hatinya sedang kesal. Ia merasa kalau Jero sengaja membuatnya kesal.
Giani datang membawakan kopi dan kue setelah itu ia kembali ke pantry karena ada 2 orang lelaki, berwajah bule ingin bercakap-cakap dengan Giani sebagai si pembuat kopi.
__ADS_1
"Your coffee is very good." Kata salah satu pria yang memperkenalkan namanya sebagai James dan pria yang satu ternyata adiknya yang bernama Arthur.
"Bolehkah kami memesan kopi setiap pagi jam 9, sebanyak 25 cup untuk dibawa ke kantor kami?" Tanya James.
"Tentu saja. Kalian akan menjadi pelanggan istimewa kami." Kata Giani senang. Ia memanggil Beryl untuk mendekat. Setelah Beryl berdiri di dekatnya, Giani menjelaskan mengenai permintaan kedua pria di depannya ini.
"Kantor kami letaknya tidak jauh dari sini. Untuk percobaan, kami akan membayar 1 minggu ke depan. Kami mau rasa yang berbeda setiap hari. Nanti setelah satu minggu, kami akan menentukan setiap hari berapa macam rasa kopi yang harus dibawa." Ujar Arthur.
"Dengan senang hati tuan. Kami juga akan memberikan bonus 2 cup kopi setiap hari." Ujar Beryl sambil menatap Joana dan perempuan itu mengangguk setuju.
"Kalian pasangan kekasih?" Tanya James melihat bagaimana akrabnya Giani dan Beryl.
"Bukan. Aku suaminya!" Jero tiba-tiba nyelutuk dari belakang sambil melingkarkan tangannya di bahu Giani.
"Oh, maaf. Rupanya nona Giani sudah menikah. Dia kelihatan masih sangat muda. Aku pikir kalau ia masih mahasiswa atau semacamnya." Arthur langsung meminta maaf sebab sangat jelas terlihat bagaimana sikap Jero yang sangat posesif saat memeluk Giani.
"Istriku ini memang masih sangat muda. Namun dia sangat pintar mengolah usahanya." Ujar Jero lalu mencium pipi Giani.
"Kau kelihatan sangat menyayanginya." Kata Arthur. Cowok itu sedikit menekan perasaannya karena sesungguhnya ia sudah menyukai Giani sejak pertama kali memasuki cafe ini.
Giani hanya bisa menarik napas panjang. Ia heran dengan semua sikap Jero.
***********
Pukul 10 malam, mereka kembali ke hotel. Giani menolak ajakan Joana yang mengajaknya ke pub karena memang ia sangat lelah.
"Kak, pekerjaanmu sampai berapa lama di Bali ini?" Tanya Giani. Ia baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Sampai besok."
"Jadi kakak mau pulang lebih dulu ke Jakarta?"
Jero menggeleng. "Kita pulang bersama saja."
"Pekerjaan kakak di Jakarta kan banyak. Memangnya nggak masalah dibiarkan?"
Jero yang sementara mengirim beberapa data pada Frangky mengalihkan pandangannya dari layar tablet ke arah Giani. Pria bule itu langsung menelan salivanya melihat gaun tidur Giani yang sangat seksi.
"Kamu nggak suka aku ada di sini?"
"Bukan begitu, kak. Jangan salah mengerti dong. Aku suka kakak ada di sini." Giani mendekati Jero lalu duduk dipangkuan Jero. Tangannya langsung melingkar di leher pria itu.
"Gi, jangan bergerak. Kau akan membuat palo bangun!" seru Jero mulai tak nyaman karena Giani tak bisa duduk dengan tenang.
Giani tersenyum. Ia mencium dahi Jero, turun ke hidungnya lalu sampai ke bibir pria itu. Senyum Giani semakin melebar saat ia menyesap bibir Jero dengan gaya sensual.
Jero terbakar gairah. Ia yang kini agresif mencium Giani.
"Kak....!" Giani melepaskan ciuman Jero secara cepat. "Aku ngantuk. Dan kakak segera mandi. Kakak bau!" Giani berdiri dan segera naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut dan segera memejamkan matanya.
Jero mendengus kesal. Ia segera ke kamar mandi. 20 menit kemudian, Jero keluar dari kamar mandi. Ia tak bisa meredahkan palo dengan air dingin makanya ia ingin memintanya dari Giani. Namun saat melihat Giani yang begitu terlelap, Jero tak sampai hati membangunkannya.
Palo, malam ini kamu harus istirahat dulu ya
Jero membaringkan tubuhnya di samping Giani. Ia juga sebenarnya masih merasa sangat lelah. Namun ia tak bisa memejamkan matanya. Ia sangat tersiksa.
Gimana kelanjutannya?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya...