
Jeronimo menatap kaki Giani yang bengkak..
"Sayang, apakah harus sebengkak ini?" Tanya dengan wajah prihatin. Sudah 2 minggu kaki Giani bengkak dan perutnya sudah sangat besar. Di tengah malam, kadang Giani terbangun dan mengeluh susah tidur karena pinggangnya juga sakit.
"Memang begini kalau hamil anak kembar, Bee. Aku menjalaninya dengan penuh syukur walaupun memang rasanya tak mudah. Kita tinggal menunggu waktunya saja. Kemarin mereka genap 9 bulan." Kata Giani sambil memegang perutnya.
"Aku bangga padamu, sayang. Kau mau melewati ini semua demi melahirkan anak-anakku. Aku janji kalau kamu sudah melahirkan, sebaiknya kamu tidur saja sepuasmu. Biarkan aku yang menjaga anak-anak kita. Oh ya, aku sudah menghubungi agen pengasuh bayi namun mama Sinta bilang jangan dulu. Nantilah kalau bayinya sudah berusia 3 bulan. Mama akan tinggal di rumah kita bersama Bi Lumi. Aku akan siapkan kamar mama dan papa."
"Benarkah? Senang sekali rasanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mama Sinta."
"Dia memang mama terbaik."
Giani bergelut manja di lengan Jero. "Bee, kamu mau anak berapa?"
"4 atau lima mungkin."
"Itu banyak, Bee."
"Aku mau rumah kita ramai dengan suara tawa dan tangis mereka."
"Bee, bukankah dulu kamu nggak suka dengan anak-anak?"
"Ya. Namun saat kenal dengan Alexa, saat melihat Frangky yang punya anak, aku jadi pingin juga punya anak. Apalagi anak dari wanita yang aku cintai. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan." Jero membelai wajah Giani. "Aku sungguh tergila-gila padamu. Jangan pernah berpaling dariku, Mel."
"Aku tak akan pernah berpaling darimu, sayang. Karena aku sangat mencintaimu."
Keduanya saling berpelukan dengan penuh sayang. Sampai akhirnya Giani merasakan ada tendangan dalam perutnya.
"Bee, anak kita terjepit." bisik Giani membuat Jeronimo tersenyum. Di belainya perut Giani dengan penuh sayang. "Maafkan daddy ya ganteng..."
***********
Finly menatap tes pack yang ada di tangannya dengan rasa tak percaya. Dua garis? Tidak mungkin. Ia sakit dan sering minum obat dengan dosis yang keras. Dokter mengatakan kalau kemungkinannya untuk hamil adalah sesuatu yang tak mungkin.
Perempuan itu memejamkan matanya. Ia memegang perutnya dengan tangan yang bergetar. "Ini tidak mungkin. Aku tak mungkin hamil."
Semenjak mereka menikah, Juan dan Finly memang sering melakukan hubungan intim tanpa ada pengamanan. Bahkan di akhir-akhir ini, mereka hampir setiap hari melakukannya. Finly tak tahu kenapa ia selalu tergoda dengan rayuan suaminya. Ternyata ini adalah hormon kehamilannya.
Dengan hati yang gelisah, ia keluar dari kamar mandi sambil. Tes pack itu disembunyikannya di dalam saku piyamanya.
Juan yang sudah selesai berpakaian menatap istrinya. "Ada apa sayang? Kenapa wajahmu terlihat sedih? Apakah kamu merasakan sakit lagi?" Tanya Juan sambil memegang bahu Finly.
Tatapan mata mereka bertemu. "Juan..., a-aku, a-ku...."
"Kenapa? Sayang, jangan membuatku takut."
Tangan Finly menjadi dingin. Ia memegang tes pack yang ada di saku piyamanya.
"Aku hamil..!" Kata Finly dengan suara yang hampir tak kedengaran.
"Hamil? Kamu beneran hamil?" Juan menggoyangkan bahu Finly. Jantungnya bagaikan mau copot dari tempatnya.
Finly mengeluarkan tespack itu. "Aku baru saja melakukan tes."
Mata Juan menatap 2 garis merah yang ada di sana. Mata pria itu tiba-tiba saja menjadi berkabut karena air matanya yang hampir saja jatuh. "Kamu sungguh hamil, sayang? Oh Tuhan, Fin. Ini suatu keajaiban!" Juan memeluk Finly dengan tangis yang akhirnya pecah. Finly pun menangis dalam pelukan suaminya.
"Juan, aku takut. Penyakit ku, pengobatan yang sementara aku lakukan, apakah akan mempengaruhi pertumbuhan anak ini?"
Juan mengurai pelukan diantara mereka. "Jangan takut, sayang. Kehamilanmu yang ajaib ini sungguh membuatku yakin kalau ini semua diberikan Tuhan pada kita. Kau akan sembuh, sayang. Untuk merawat dan membesarkan anak-anak kita." Juan menghapus air matanya sendiri, lalu ia menghapus air mata Finly. "Tenanglah sayang, kita akan menghadapi ini bersama. Sebentar sore kita ke dokter ya?"
Finly mengangguk. Ia tak ingin membuat senyum di wajah Juan menjadi hilang. Ia pun tersenyum walau ada keraguan dalam hatinya.
__ADS_1
Sorenya, mereka pergi ke salah satu dokter kandungan yang bernama dokter Vebby.
"Kehamilan dalam kondisi ini memang sangat beresiko. Tapi juga ini suatu keajaiban. Kemoterapi dan pengobatan yang nyonya Finly lakukan sebenarnya akan membuat kandungannya mandul. Aku sendiri cukup terkejut membaca riwayat sakit anda."
"Jadi, bagaimana dok?" Tanya Finly.
"Sejauh ini janinnya baik. Usianya sudah memasuki 6 minggu. Kita akan lihat lagi perkembangannya bulan depan. Makan makanan yang sehat, jangan stres dan selalu berpikir positif." Pesan dokter Vebby.
Finly menatap suaminya. Juan menggenggam tangan Finly erat. "Kamu dan anak kita akan baik-baik saja, sayang."
Finly menarik napas panjang. Ia mencoba berpikir positif. Kalau Tuhan telah membuatnya hamil, berarti Tuhan punya rencana indah baginya dan juga anak ini.
********
Wajah Jeronimo pucat pasih saat ia menemukan Giani yang mengerang kesakitan di kamar mandi karena ia mendadak pusing dan terjatuh. Entah kekuatan dari mana yang Jero dapatkan, ia langsung mengangkat tubuh Giani dan berlari menuruni tangga.
"Siapkan mobil paman Leo." teriak Jero panik. "Bi Lumi, tolong telepon dokter Vebby dan katakan keadaan Giani."
Pak Leo dengan cepat membuka pintu mobil dan langsung menutupnya kembali saat Jero dan Giani sudah ada di dalam.
"Sayang....Giani..., ayo bicara." Jero menepuk-nepuk pipi Giani saat dilihatnya istrinya itu sedang memejamkan matanya.
"Bee..., kamu bicara apa? Aku nggak dengar." ujar Giani pelan tanpa membuka matanya.
"Pak cepat sedikit!" Kata Jero dipenuhi ketakutan.
Sesampai di rumah sakit, Giani langsung di sambut oleh dokter Vebby sendiri. Ia langsung diperiksa.
"Kita harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan ibu dan anaknya." Kata dokter Vebby. Jero hanya bisa mengangguk. Ia kehilangan kata-kata untuk bicara.
"Tuan, baju tuan berdarah." Kata Leo.
Jero melihat kemeja dan celana jeans yang dikenakannya berlumuran darah. Jantung Jero bagaikan diramas keluar. Ia menyadari kalau itu adalah darah Giani. Seharusnya Jero menemani Giani saat istrinya ke toilet pagi ini. Wajah Giani terlihat pucat saat ia bangun. Sudah hampir seminggu ini Giani susah tidur.
Di sana sudah ada mama Sinta dan papa Denny.
"Jero, berdoa nak. Tak ada yang bisa mengalahkan kuasa doa." Kata mama Sinta.
Jero memejamkan matanya. Tuhan, tolonglah istriku yang sementara berjuang untuk melahirkan anak-anak kami. Dia wanita yang sangat baik. Aku tak sanggup jika sesuatu terjadi padanya. Hukum saja aku jika aku yang bersalah. Jangan istri dan anak-anakku.
1 jam berlalu. Dari ruang operasi terdengar suara tangis bayi yang sangat keras.
"Mama, anakku sudah lahir." sorak Jero.
Tak sampai 3 menit, terdengar suara tangis bayi lagi.
"Itu yang kedua, Nak. Selamat kau sudah menjadi seorang papa bagi dua malaikatmu." Sinta memeluk putranya yang sedang terisak. Jero tak bisa menahan perasaannya yang bergetar hebat saat mendengar suara tangis anak-anaknya.
Pintu ruang operasi terbuka. Dua orang suster membawa dua bayi.
"Tuan, ini anak-anaknya. Mereka sangat tampan."
Kembali jantung Jero berdetak dengan sangat cepat saat melihat wajah imut anak-anaknya.
"Ya Tuhan, aku ingin sekali memeluk mereka." Kata Jero dengan haru. Sinta dan suaminya pun nampak sangat bahagia melihat cucu mereka.
"Tuan ganti baju dulu, cuci tangan yang bersih lalu boleh memeluk mereka di kamar bayi." Kata perawat itu sebelum berlalu dari hadapan Jero.
Dokter vebby keluar.
"Bagaimana istri saya, dok?"
__ADS_1
"Nyonya Giani dan anak-anaknya selamat. Sebentar lagi, tuan sudah boleh melihatnya."
Jero bernapas lega. Dia sangat bahagia.
**********
GABRIAN JEREMO DAWSON
GABRIEL JEREMI DAWSON
Air mata Giani tak dapat dibendungnya saat melihat akte kelahiran anaknya yang langsung diurus oleh papa Denny sendiri di hari kelahiran anak mereka.
"Aku suka nama mereka. Yang kakak berarti kekuatan Tuhan disaat sinar matahari pertama dan adik artinya kekuatan Tuhan yang membuatnya di hargai." Ujar Giani membuat Jero yang menatap anak-anaknya di box mereka, menoleh ke arah istrinya. "Ian dan iel. Demikianlah kita akan memanggil mereka. Rambut mereka coklat, perpaduan rambut kita berdua, sayang. Kulit mereka yang putih bersinar, kayaknya mirip aku ya. Hidung mancung mereka mirip dengan kita berdua. Ah, dagu belah mereka mirip dengan aku. Mereka sangat identik sayang. Kalau nggak ada gelang ini, aku pasti tak bisa membedakan mereka."
"Ya. Mereka sangat identik. Tapi kita akan bisa melihat perbedaan mereka. Sayang, tolong buatkan kalung untuk mereka dengan liontin yang ada tulisan Ian dan Iel." Kata Giani.
"Aku ku buat besok."
Pintu ruang perawatan Giani terbuka.
"Hallo ponakan-ponakanku yang tampan." Beryl langsung berteriak dengan hebohnya.
"Beryl, jangan berisik. Mereka sedang tidur." Kata Jero sambil menatap tajam pada sepupunya itu.
"Wah, tampannya....! Sangat mirip denganku ya?"
"Loe gila apa? Memangnya loe pernah menyentuh Giani?"
"Hai tuan posesif, wajarlah kalau mereka agak mirip dengan gue. Kita kan sama-sama turunan Dawson. Gue berharap agar salah satu dari mereka dapat meneruskan citra pamannya ini."
"Citra apaan?"
"Play boy paling tajir."
"Nggak mau. Kamu jangan macam-macam ya."
Beryl tertawa. "Oh ya, gue datang mau menyerahkan undangan."
"Undangan apa?" Tanya Giani penasaran .
"Gue akan menikah." Ujar Beryl dengan bangganya.
"Menikah? Loe kan paling benci dengan komitmen seumur hidup." Jeronimo tak percaya.
"Anggita hamil."
"Ha??" Giani dan Jero sama-sama terkejut.
"Dasar mesum loe. Kenapa nggak pakai pengaman?" Jero menonjok bahu Beryl.
"Anggita selalu membuat gue lupa menggunkan pengaman."
"Nah, kena batunya kan?"
"Menikalah, Beryl. Menikah juga adalah ibadah." Kata Giani membuat Beryl tersenyum.
"Gue menikah karena loe juga, Gi. Coba dulu loe nggak nolak gue, pasti sekarang loe yang melahirkan anak gue."
"Hallo....gue masih di sini." ujar Jero membuat Giani hanya menggeleng.
"Dasar posesif" umpat Beryl membuat Jero segera mengusir sepupunya itu dari sana.
__ADS_1
Mau tahu hot daddy ngurus bayi kembar?
Vote emak dulu ya...