Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan kisah cintanya (Bonus Part 23)


__ADS_3

Wajah tampan Oliver terlihat sangat lelah. Ada lingkar hitam di sekitar mata elangnya. wajah nya pun sedikit pucat.


Elvira menatap putra sulungnya itu dengan hati yang hancur. Seakan merasakan kepedihan yang dialami oleh anaknya itu.


"Nak, ayolah makan dulu! Nanti kau sakit." bujuk Elvira sambil menepuk bahunya.


Oliver menatap mamanya. "Aku nggak lapar, ma."


"Kau harus kuat untuk menghadapi semua ini."


Oliver menunduk sedih. "Aku tak bisa tanpa ada Alexa, ma. Aku ingin rasanya mati juga."


Elvira memeluk putranya. "Kau harus percaya bahwa apapun yang terjadi semuanya atas ijin Tuhan."


"Tapi aku mencintai Eca, ma. Aku sangat mencintainya. Mungkin tak akan ada lagi gadis yang mampu membuatku jatuh cinta selain dia."


Dengan lembut Elvira membelai kepala Oliver. Hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai seorang ibu. Menemani dan mendampingi putranya di saat yang paling sedih dalam hidupnya.


Keduanya ada di dalam ruangan perawatan intensif di salah satu rumah sakit terbaik yang ada di kota Sidney.


Sesosok tubuh yang terbaring tak berdaya, dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang melekat di tubuhnya. Walaupun sudah lima kantong darah yang masuk ke dalam tubuhnya, namun gadis cantik itu, yang namanya sangat viral di berbagai media sosial 5 hari belakangan ini, tak juga membuka matanya. Kisah penyelamatan yang dilakukannya untuk para penumpang, termasuk menolong seorang ibu yang melahirkan, menuai pujian dan juga doa bagi kesembuhan pramugari cantik ini.


Kecelakaan pesawat yang terjadi akibat buruknya cuaca, yang telah menewaskan pilot, satu orang pramugari dan 15 penumpang lainnya memang menjadi topik utama semua media massa. Kapten Faris, yang mengambil keputusan menabrakkan pesawat di rimbunan pepohonan, dinggap sebagai keputusan terbaik dari pada harus membiarkan pesawat jatuh di tengah lautan yang dingin dan gelap.


Oliver, yang pertama kali menemukan letak pesawat itu, segera melarikan Alexa yang pingsan dan hampir kehilangan darah itu ke rumah sakit terbaik. Sekalipun kondisi Alexa dinyatakan kritis, namun semua orang yang mengasihi gadis ini terus berdoa.


Aldo, Joana, Giani, Wulan dan Felicia pun ada di rumah sakit ini, menunggu dengan hati yang cemas, seperti juga yang dirasakan oleh Oliver.


*********


Tangan Oliver menggenggam tangan Alexa. "Sayang, ini sudah hari yang ke-7, namun kau tak juga membuka matamu. Apakah kau masih memerlukan waktu yang lama untuk terus tidur? Bangun, Eca! Aku ingin kau mengetahui kebenarannya. Aku tak pernah mengkhianati mu, sayang. Beby itu adalah sepupuku. Kami semua memanggilnya seperti itu. Dia datang ke apartemenku pagi itu dalam keadaan basah kuyup karena jatuh ke dalam kolam yang ada di lantai bawa sementara apartemennya yang ada di lantai 2, pintunya tak bisa di buka karena saking kesalnya, selama 3 kali, Beby salah memasukan password nya. Makanya ia ke apartemenku, meminjam bajuku sambil menunggu teknisi dari pihak apartemen datang untuk memperbaiki pintunya. Saat kamu datang, Beby memang baru saja selesai berganti pakaian di kamarku dan aku sedang mandi. Tak ada yang terjadi diantara kami, sayang. Aku menyayangi Beby seperti adikku sendiri. Hanya saja kamu datang di momen Beby keluar dari kamarku dan tak lama kemudian, aku selesai mandi. Aku hanya mencintai kamu, sayang. Aku tak mungkin mengkhianati mu setelah hampir satu tahun berjuang untuk mendapatkan cintamu. Bangun sayang, aku hanya ingin menikah denganmu!" Oliver mencium tangan Alexa yang ada di genggamannya.


Joana, Wulan dan Giani yang melihat hal itu jadi ikutan sedih.


"Dia sungguh mencintai anak kita. Dia bahkan tak pernah beranjak dari sisi, Eca kecuali kalau dia akan mandi dan makan. Elvira bahkan harus menyuapi Oliver yang tak punya selera makan." Ujar Joana.


"Ya. Oliver bahkan terlihat kacau dengan wajah yang lelah dan jambang yang sudah tumbuh di wajahnya. " Imbuh Wulan sedih.


Giani pun mengangguk. "Alexa tak salah memilihnya."


Hari yang ke-10 setelah kecelakaan......


Oliver sedang berusaha menikmati sarapannya. Ia tak mau membuat mamanya kecewa. Ada segelas susu dan sepotong roti yang hampir saja dihabiskan, saat pandangan matanya yang tak pernah lepas dari tubuh Alexa yang terbaring di brangkarnya nampak bergerak.


"Eca sayang....!" Oliver melepaskan nampan yang ada di pangkuannya ke atas meja.


Ia mendekati tempat tidur Alexa.


"Sayang......!"


Tangan Alexa bergerak seiring dengan matanya yang perlahan terbuka.


Oliver dengan cepat menekan tombol biru yang ada di kepala ranjang untuk memanggil perawat. Semua pun langsung bernapas lega saat mengetahui kalau Alexa sudah sadar.


*********


"Jadi, kita pulang malam ini, tuan?" tanya Kevin.


Oliver mengangguk. Masih jelas terbayang bagaimana tatapan dingin Alexa, saat dokter selesai memeriksanya dan semua keluarga Alexa ada di sana.


"Aku tak ingin dia ada di sini!" ujar Alexa saat melihat Oliver ada diantara keluarganya.


"Sayang, Oliver yang.,..."


"Aku pergi." Oliver memotong ucapan Joana. Ia menunduk hormat pada semua orang yang ada di ruangan itu sebelum akhirnya keluar.

__ADS_1


"Tuan, pilot sudah mendapat ijin untuk penerbangan malam ini." ujar Kevin yang baru saja menelepon.


"Baiklah!" Oliver melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan siap-siap untuk kembali ke Jakarta. Ia senang karena Alexa akhirnya sadar, sekaligus juga sedih karena Alexa masih tak menginginkannya.


********


Jakarta, 3 minggu kemudian.....


"Tuan, nona Alexa sudah 4 hari ini ada di Jakarta." lapor Kevin kepadanya.


"Aku tahu. Kemarin dia di wawancarai oleh salah satu TV swasta dan menerima penghargaan dari menteri perhubungan dan pariwisata bahkan dari pemerintah Australia. Ia juga mendapatkan bonus besar dari pihak maskapai dan keluarga Jesica Swiner yang ditolongnya juga mengiriminya berbagai hadiah bahkan meminta dia untuk menjadi ibu baptis dari anak yang dilahirkan itu."


"Tuan tahu?


"Mami Joana selalu meneleponku. Sayangnya, Alexa tak mau mendengarkan penjelasan apapun mengenai kejadian di apartemenku pagi itu." Ujar Oliver sambil menyerahkan map yang baru saja ditandatangani.


"Tuan menyerah?"


"Aku memutuskan untuk kembali ke Madrid dalam minggu ini. Adikku Leonardo sudah menyelesaikan studi S2 nya. Dia setuju untuk menangani perusahaan di Indonesia dan aku yang akan menangani perusahaan di Madrid. Papa ku selalu mengeluh kalau dia sudah tua. Makanya aku ingin menggantikannya. Biarlah Alexa dengan sifatnya yang keras kepala. Aku tak mau mengejar dia lagi."


"Bukankah dia adalah cinta terbesarmu, tuan?"


Oliver tersenyum getir. "Mencintai kan bukan berarti harus memiliki. Kalau kami memang jodoh, aku yakin Tuhan akan mempertemukan kami kembali."


Kevin terkejut mendengar kata-kata Oliver. Pria ini semakin dewasa dan tidak pemaksa lagi.


*********


"Eca, sampai kapan kau tidak akan mendengarkan penjelasan, Oliver? Dia nggak salah. Kalian hanya salah paham." Joana sedikit kesal melihat anak sambungnya itu nampak cuek dengan urusan cintanya.


Alexa yang sementara membaca email dari Rahel menatap mami bule.


"Apapun alasannya aku tetap tak setuju kalau ada perempuan dengan gaya berpakaian seperti itu keluar dari kamar Oliver."


"Perempuan itu adalah sepupunya, Eca. Namanya memang Beby. Dia juga tinggal di apartemen yang sama dengan Oliver namun berbeda lantai. Kau harus belajar percaya kalau dia tak berbohong. Kamu tahu, saat mendengar pesawatmu jatuh, Oliver seperti orang gila. Ia bahkan membayar sangat mahal agar jet pribadinya diijinkan berangkat saat itu ke Sidney. Dia yang pertama kali mendapat kan lokasi jatunya pesawat itu. Kalau Oliver tak datang tepat waktu, kau bisa saja mati kehabisan darah." Kata Joana dengan sedikit emosi.


Alexa menunduk sedih. Alam bawa sadarnya tahu kalau Oliver ada di sekitarnya. Ia juga sebenarnya seperti mendengar penjelasan Oliver tentang si Beby. Entahlah, Alexa juga bingung.


"Besok, Oliver akan kembali ke Madrid. Adiknya yang akan menggantikan dia memimpin perusahaan di sini."


"Biar saja, dia pergi. Kenapa juga ia tak datang kembali untuk membujukku supaya aku mendengarkan penjelasannya. Kenapa dia harus bersikap pasrah kayak gitu?"


Joana mendekati Alexa. "Kamu tahu, orang juga punya batas kesabaran. Mungkin Oliver memutuskan berhenti mengejar mu karena dia pikir itu yang kamu inginkan. Dan kamu sudah menjadi wanita kedua yang menghancurkan hatinya. Anakku, ada kalahnya kita harus menurunkan ego kita sedikit dan mengejar apa yang sebenarnya kita cintai. Sebab jika cinta telah pergi, menangis pun tak ada gunanya" Joana lalu meninggalkan kamar Alexa. Ia tahu betapa keras kepalanya Alexa dengan prinsip kejujuran dan kesetiaannya.


Alexa menatap wajahnya ke cermin. Ia bingung dengan semuanya. Haruskah ia melepaskan Oliver?


**********


"Tuan, apartemennya sudah dibersihkan. Tuan Leonardo akan tiba malam ini kan? Kapan kita akan ke Madrid?"


Oliver yang sedang berdiri di depan jendela ruanganya, menoleh ke arah Kevin. "Aku juga ingin ke Madrid malam ini. Semua dokumen tentang pemindahan kekuasaan sudah aku tanda tangani. Besok, sekretarisku Judika, akan menyerahkannya pada Leonardo."


"Apakah tidak sebaiknya kita pergi besok saja?"


"Leo sudah tahu kalau aku ingin pulang malam ini dan dia sama sekali tak keberatan. Jadi, kita pulang saja." Oliver melangkah ke mejanya. Ia membereskan meja kerjanya sendiri. Di ambilnya fotonya bersama Alexa dan disimpannya ke dalam kardus yang sudah ia siapkan. Demikian juga dengan papa nama dan beberapa dokumen penting miliknya.


"Kardus ini akan ku bawa ke Mandrid."


"Baik tuan!" Kevin menerima kardus itu dan keluar dari ruangan Oliver. Namun saat membuka pintu, ia terkejut melihat ada Alexa yang berdiri di sana. Alexa tersenyum ke arah Kevin, dan segera masuk. Kevin pun menutup pintu.


"Eca?" Oliver terkejut melihat Alexa datang ke kantornya. Alexa mendekat dengan wajah dinginnya. Tanpa di duga, ia menampar Oliver dengan sangat keras.


"Ada apa, Eca?" tanya Oliver sambil memegang pipinya yang terasa panas.


"Kamu memang tak layak aku percaya. Jika kamu benar mencintaiku, seharusnya kamu datang dan memberikan penjelasan kepadaku. Mengapa setelah aku mengusirmu dari rumah sakit, kamu seolah menjauh? Kamu memang tak serius kan ingin membangun hubungan denganku?"

__ADS_1


"Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hancurnya aku saat kamu mengusirku, Eca. Aku juga sakit hati karena kamu sama sekali tak mau memberikan aku kesempatan untuk berbicara. Ya, aku memang menyerah. Kalau memang kamu tak menginginkan aku lagi, aku mengalah. Mungkin ada pria lain yang akan lebih membahagiakanmu."


"Tuh kan, kamu memang tak serius dengan aku. Mengapa berharap ada pria lain yang akan membahagiakan aku sementara kamu bisa melakukannya."


Oliver menatap Alexa tak mengerti. "Maksudmu apa, Eca?"


Alexa menghentikan kakinya dengan kesal. "Kamu memang bule brengsek yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Tentu saja aku ingin bersamamu! Aku mencintaimu, Oliverio Pregonas."


"Apa?" Oliver mulai mendekati Alexa.


"Aku mencintaimu."


"Maaf Alexa, aku tak mendengarkanmu!"


"Aku mencintaimu bule bodoh !"


Oliver tersenyum. Ia langsung memeluk Alexa dengan sangat erat. "Anggaplah begitu, aku bule bodoh yang tak mengerti dengan kemauan kekasihnya yang cantik ini. Namun aku tetap tampan kan?"


"Kamu juga sok percaya diri." Tangis Alexa pecah dalam pelukan Oliver. Ia memukul dada cowok tampan itu dengan kesal. "Kenapa berhenti mengejar ku? Aku rindu perbuatanmu yang konyol itu, yang selalu mengejar ku kemana saja aku pergi."


Oliver melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Alexa dengan hati yang sangat bahagia. "Sesekali kamu yang mengejar ku. Aku juga mau merasakan sensasi di kejar-kejar oleh pramugari yang sedang viral saat ini."


"Yang harus mengejar itu adalah laki-laki." Wajah Alexa menjadi merah karena tangan Oliver sudah melingkar di pinggangnya dan menariknya agar semakin dekat dalam pelukannya.


"Kata siapa? Perempuan juga harus memperjuangkan cintanya." Oliver menempelkan dahinya di dahi Alexa. "Aku mencintaimu, Alexa. Seluruh hatiku sudah menjadi milikmu. Kau tahu betapa hancurnya aku saat memutuskan akan pergi karena merasa tak diinginkan olehmu."


"Maafkan aku."


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah tahu siapa Beby. Aku yang minta maaf karena tak percaya padamu. Aku merindukanmu, Oliver."


"Aku juga lebih merindukanmu!" Kata Oliver sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Alexa.


Alexa menelan saliva nya. "Oliver, ingat apa kata papi Juan. Kita nggak boleh...."


"Please, sayang. Sekali ini saja kita melanggarnya. Aku sudah tak tahan ingin menciummu." Kata Oliver dan langsung menyatukan ciuman mereka. Alexa memejamkan matanya. Ia menikmati ciuman Oliver. Ada perasaan sayang, cinta dan kerinduan yang coba dibagi dalam ciuman itu. Rasanya keduanya tak ingin saling melepaskan. Mereka kadang hanya berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, lalu kembali lagi berciuman.


Oliver mengangkat tubuh Alexa dan menundudukannya di atas meja kerjanya tanpa melepaskan ciuman mereka. Ciuman itu begitu panas membakar raga mereka sebagai sepasang kekasih yang saling mendamba. Sampai akhirnya, bunyi telepon di ruangan Oliver membuat ciuman mereka harus berhenti. Oliver dengan kesal mengangkatnya.


"Hallo...."


"Tuan, di luar sini ada tuan Juan Fernandez."


"Apa?" Oliver menutup teleponnya dan menatap Alexa. "Papi Juan ada di sini?"


"Iya. Aku yang meminta papi untuk mengantarku ke sini karena di rumah sedang tak ada orang. Tanganku masih sakit untuk membawa mobil sendiri." Alexa tersenyum. Ia turun dari atas meja. Merapikan rambut dan gaunnya yang sedikit acak-acakan. Oliver pun membuka pintu setelah merapihkan juga rambutnya yang tadi berantakan karena tangan Alexa yang bermain di sana.


"Papi .....!" Sapa Alexa dan Oliver saat Juan masuk.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah berbaikan?" Tanya Juan sambil menatap Oliver dan Alexa secara bergantian.


"Sudah." Jawab mereka bareng lagi.


"Kalau begitu, sebaiknya Alexa pulang dulu. Kalian sudah lama tak bertemu. Papi takut kalian melanggar perjanjian kita." Ujar Juan lagi.


"Tapi, Eca masih ingin di sini, Pi." rengek Alexa.


"Jangan ganggu Oliver bekerja sayang. Papi yakin dia harus menjelaskan lada adiknya untuk tidak datang ke Jakarta. Nanti malam, Oliver papi undang untuk makan malam di rumah. Rencana pernikahan kalian harus dibicarakan lagi."


"Sayang, pergilah. Nanti malam kita bertemu." Oliver membujuk Eca yang terlihat tak ingin pergi.


"Baiklah." Alexa mengalah.


Juan tersenyum. Ia menatap putri sambungnya itu dengan seksama. "Alexa, papi perhatikan kalau tadi kamu datang menggunakan lipstick. Kenapa sekarang liosticmu sudah nggak ada?


Deg! Wajah Alexa dan Oliver tiba-tiba menjadi pucat. Oliver buru-buru menyeka mulutnya dengan punggung tangannya karena ia yakin kalau lipstick Alexa ada di sana.

__ADS_1


ih....papi Juan. Kayak nggak pernah muda saja. 😂😂😂😂😂


__ADS_2