Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
keputusan Jeronimo


__ADS_3

Geraldo memandang surat panggilan sidang perceraian yang disampaikan oleh sekretarisnya pagi ini. Wajah tampan pria berusia 32 tahun itu terlihat sedikit kecewa. Apa yang sempat ditakutinya selama ini akhirnya terjadi juga. Finly minta cerai darinya.


Kembali terbayang percakapannya dengan Alexa beberapa hari yang lalu. Alexa yang saat itu sangat senang karena ia akhirnya bisa mengucapkan huruf R dengan benar.


"Teman-teman Eca nggak akan mengejek Eca lagi di sekolah. Sekarang Eca bisa ikut lomba pidato." Kata Alexa dengan senyum manis di wajahnya.


Aldo membelai kepala putrinya. Mata Alexa yang sangat mirip dengannya dan rambut Alexa yang berwarna coklat tua, sedikit bergelombang mengingatkan Aldo akan almarhuma ibunya.


"Eca sebentar lagi ulang tahun ke-6. Mau papa buatkan pesta ulang tahun tema apa?"


Alexa tersenyum. "Eca nggak mau pesta ulang tahun, pa. Kata bibi Giani kita ke panti asuhan saja. Eca bagi-bagi baju dan makanan untuk mereka."


"Baiklah kalau memang itu yang Eca mau."


"Boleh ajak tante bule nggak?"


"Boleh. Mama juga dong diajak."


"Mama pasti nggak mau. Eca juga nggak suka mama ikut. Pasti mama hanya sibuk dengan ponselnya."


Aldo menarik napas panjang. "Kalau suatu saat mama akan meninggalkan Eca sama papa sendiri, apakah Eca akan sedih?"


Alexa menggeleng. "Nggak. Eca akan sedih kalau papa yang pergi. Eca sedih kalau bibi Giani yang pergi. Eca juga sedih kalau tante bule yang pergi."


"Memangnya Eca nggak sayang sama mama?"


"Sayang. Tapi Eca lebih sayang sama papa, bibi dan tante bule."


Aldo memejamkan matanya. Percakapannya dengan Alexa waktu itu membuat Aldo sedikit tenang. Kalau memang Dia dan Finly akhirnya berpisah, Aldo tak akan terlalu terbeban dengan perasaan Alexa. Walaupun jauh di dalam hatinya, Aldo lebih suka Finly tetap ada di sisi Alexa. Bagaimanapun Finly adalah ibu kandungnya Alexa.


Pintu ruangan Aldo diketuk.


"Masuk!" ujar Aldo.


Ayuna, sekretaris Aldo masuk. "Pak, di bawa katanya ada ibu Joana yang ingin ketemu dengan bapak."


"Oh, dipersilahkan masuk. Kami memang sudah janjian untuk ketemu hari ini."


"Baik, pak." Ayuna keluar lagi. Tak lama kemudian Joana masuk diantar oleh Ayuna. Setelah itu Ayuna meninggalkan ruangan bosnya.


"Bagaimana kabarmu hari ini nona Joana?" Sapa Aldo sambil mempersilahkan Joana duduk di sofa putih yang tersedia di ruangan Aldo.


"Baik. Dan panggil aku Joana saja."


"Baiklah. Panggil aku dengan nama Aldo juga."


Keduanya tertawa bersama. Mereka hari ini akan membicarakan tentang beberapa program yang akan ditayangkan bersama di stasiun TV yang Joana tangani dan stasiun TV milik Geraldo.


Percakapan diantara mereka terjadi sampai beberapa jam. Sampai tak mereka sadari kalau waktu sudah menunjukan pukul 1 siang.


"Kita makan siang bersama?" Tanya Geraldo.


"Boleh juga."


Geraldo segera kembali ke mejanya saat mendengar ponselnya berbunyi.


"Hallo Alexa. Ada apa?" Tanya Aldo saat menjawab videocall putrinya.


"Papa, Eca boleh nggak besok pergi ke apartemennya tante bule?"


"Sekarang papa sedang bersama tante bule." Aldo menyerahkan ponselnya pada Joana.


"Hallo Alexa cantik."

__ADS_1


"Tante bule, ngapain ada di kantor papa?"


"Ada pekerjaan, sayang."


"Tante bule sudah bilang ke papa untuk mengajak Eca main?"


"Nanti tante tanyakan."


"Semoga papa mengijinkan ya? Bye..."


Joana memberikan ponsel Aldo kembali. "Kemarin Eca meneleponku. Kebetulan aku lagi buat puding. Dia lalu ingin ke apartemenku untuk membuat puding bersama. Apakah bisa?"


Aldo mengangguk. "Boleh. Apapun itu yang membuat Alexa bahagia. Tapi jangan terlalu memanjakan dia ya? Aku ingin Alexa tumbuh menjadi anak yang tidak manja dan harus mandiri. Karena dia mungkin akan dibesarkan tanpa ada Finly di sampingnya."


"Maksudnya?"


"Finly sudah mengajukan perceraian. Sidang perdananya akan dilaksanakan minggu depan."


"Kamu pasti sedih ya?"


"Ya. Aku sebenarnya hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Namun untuk apa bertahan sementara Finly tak menginginkan aku lagi? Lagi pula aku sudah bertanya pada Alexa. Dia seakan tak perduli jika mamanya pergi. Finly memang tak pernah dekat dengan anaknya. Gianilah yang selama ini menjaga Alexa."


"Apapun keputusannya nanti, aku hanya bisa mendoakanmu. Jadi makan siang kan?"


Aldo tersenyum. "Tentu saja."


Keduanya meninggalkan kantor diikuti tatapan para pegawai yang ada.


"Cantik banget bulenya. Cocoklah sama pak Aldo yang ganteng."


"Iya. Kalau sama ibu Finly kelihatannya kurang cocok. Ibu Finly kan wajahnya jarang tersenyum."


"Diam kalian...! Cepat makan siang dan kembali bekerja!" kata Ayuna sambil membubarkan kumpulan pegawai yang sedang bergosip ria. Ayuna sudah 5 tahun menjadi sekretaris Aldo. Ia sudah tahu ketidakharmonisan rumah tangga bosnya itu. Apalagi dengan surat pengadilan yang datang di pagi ini. Ayuna bahkan pernah melihat Finly memasuki hotel dengan seorang pria bule. Sayangnya waktu itu Ayuna tak sempat melihat siapa bule itu. Makanya Ayuna yakin kalau Finly selingkuh.


***********


"Kamu nggak akan cerai dari Giani? Kamu sudah lupa dengan janjimu dulu saat menikahinya? Hanya satu tahun. Dan ini hampir selesai." Wajah Finly merah menahan amarah. Dadanya naik turun menunjukan rasa emosi yang memunjak di dirinya.


Jero memegang pipinya yang terasa panas. "Maaf, Fin. Aku tak bisa cerai dari Giani."


"Apa alasannya? Kamu jatuh cinta padanya? Atau kamu takut Aldo akan marah padamu? Jawab aku Jero....! Jawab aku...!" Finly menyerang Jero dengan membabi buta. Kukunya yang panjang bahkan melukai leher dan tangan Jero. Hari ini memang Jero hanya memakai kemeja tangan pendek.


"Hubungan kita salah, Fin. Aku tak bisa meneruskannya lagi." Kata Jero sambil sesekali memegang tangan Finly yang terus memukulnya.


"Aku tak mau mengahiri ini, Jero. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kita akan meninggalkan Indonesia dan tinggal di London. Aku tak mau kau membuang aku seperti ini." Finly kelelahan memukul Jero. Ia langsung duduk lemas di atas karpet sambil menangis histeris.


"Fin, jangan seperti ini. Kau punya suami dan anak. Aku tak mau menjadi selingkuhanmu lagi. Aku takut dosa, Fin." Jero berjongkok di depan Finly. Ia ingin memberikan penjelasan pada perempuan itu kalau hubungan mereka memang tak bisa diteruskan.


Finly tertawa dengan nada mengejek. "Takut dosa? Boolshit! Jangan berbicara seolah kau ini seorang penceramah agama yang terkenal."


Jero berdiri. "Keputusanku tetap sama, Fin. Aku tak mau meneruskan hubungan kita dan aku tak akan bercerai dari Giani!"


Finly menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri lalu melangkah ke cermin besar yang ada di dekat lemari. Ia mengambil tisue dan merapihkan make up nya yang sedikit berantakan. Setelah memoles kembali bedak dan lipstik di wajahnya, Finly menatap Jero dengan tajam. "Kalau aku tak bisa mendapatkan kamu lagi, lebih baik aku mati." Kata Finly lalu segera pergi meninggalkan ruangan Jero dengan membanting pintu yang ada di belakangnya.


Jero mengusap wajahnya kasar. Namun keputusannya sudah bulat. Ia ingin hidup lebih baik lagi. Walaupun pada kenyataannya Giani dan dia akan berpisah, namun Jero tak akan kembali lagi pada Finly.


Ponsel Jero berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Wajahnya langsung tersenyum mendengar bunyi panggilan masuk yang khusus ia buat untuk panggilan dari Giani. Lagu lawas milik Bryan Adams. Everything i do, i doit for you.


"Hallo sayang, aku sudah selesai masak makanan kesukaanmu. Rendang sapi dan sup tahu campur jamur."


Hati Jero terharu mendapatkan perhatian Giani. "Aku mau kau sendiri yang mengantarnya ke sini. Aku ingin makan disuapi olehmu."


"Duh yang lagi manja."

__ADS_1


"Selesai makan, kita kan bisa ena-ena, beb."


"Genit, ah. aku jadi takut ke kantormu,sayang."


"Kok takut?"


"Sayang, apa kamu lupa tadi pagi sebelum berangkat kantor kita ngapain aja?"


Jero terkekeh mendengar perkataan Giani. Ia ingat tadi pagi sebenarnya dia sudah pamit untuk ke kantor. Namun ia melupakan file nya. Makanya ia kembali lagi ke kamar. Saat ia masuk, Giani baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat tubuh Giani yang hanya dibalut handuk putih, hasrat Jero langsung bangkit. Ia pun menyerang Giani tanpa ada pemanasan yang cukup.


"Masih perih, sayang."


"Aku janji hanya akan makan siang. Bolehkan?" bujuk Jero.


"Ok."


Namun janji Jero hanya manis di bibir saja. Selesai makan siang, ia justru mulai merayu Giani. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi ke hotel Jero karena Giani tak mau bercinta di sofa.


Giani memakai lagi gaunnya yang sedikit kusut. "Sayang, aku mau balik ke restoram dulu ya."


Jero pun turun dari tempat tidur dan memeluk Giani dari belakang. "Tadi Finly ke sini."


"Lalu?"


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya."


Giani membalikan badannya. "Sungguh?"


"Ya."


"Dia menerimanya?"


"Nggak."


"Dan...."


"Aku tak mau berbuat zinah lagi, Gi. Aku mau kembali ke jalan yang benar."


Giani tersenyum. Ia memeluk tubuh polos Jero dengan sangat erat.


"Gi, palo bisa bangun lagi."


Giani melepaskan pelukannya dan langsung mundur beberapa langkah. "Palo genit, jangan bangun ya. Nanti besok aja saat kita ke puncak." Giani langsung meraih tasnya. "Aku pergi dulu ya."


"Kamu naik apa?"


"Taxi online."


"Hati-hati ya."


Giani mengangguk sebelum menghilang di balik pintu.


Jero mengenakan bajunya lagi. Ia segera menelepon sekretarisnya. "Ayuna, bawa beberapa brosur mobil ke ruanganku. 10 menit lagi aku ke sana."


***********


Terima kasih banyak untuk semua ucapan turut berdukacita. Doa kalian menguatkan aku dan keluarga besarku. Maaf juga karena tak bisa up setiap hari. Aku masih demam.


Makasi sudah baca part ini....


Kisah Keegan sudah mulai up lagi ya..


Kisah 3 hati 1 cinta, bentar lagi tamat..

__ADS_1


Sampai jumpa di next episode


__ADS_2