
Sebenarnya Giani malas ke kamar mandi namun karena Jero terus memaksanya, ia pun turun dari tempat tidur.
"Kak, ngapain ikut masuk?" Tanya Giani melihat Jero ikutan masuk.
"Mau lihat prosesnya."
"Ya ampun kak, aku nggak bisa buang air kecil kalau kakak di dalam."
"Kok nggak bisa? Aku kan sudah sering lihat."
"Kak....!" Giani mulai kesal.
"Ok. Aku tunggu tapi jangan lama ya? Kamu tampung aja air urinemu di sini dan kita tes bersama" Ujar Jero lalu meletakan gelas yang sejak tadi dipegangnya di atas wastafel. Ia kemudian keluar dari kamar mandi. Ia menunggu di depan pintu dengan jantung yang berdebar.
Giani memandang wajahnya di kaca kamar mandi. Ya Tuhan, bagaimana kalau aku beneran hamil? Aku tak ingin ini terjadi.
Giani mengambil gelas yang sudah disiapkan oleh Jero. Ia memejamkan matanya sebentar. Jantungnya pun berdetak cepat. Ada rasa ketakutan yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam hatinya mengingat bahwa sepulang dari Bali, ia masih meminum pil anti hamilnya. Giani takut jika anak yang dikandungnya akan cacat karena pengaruh obat itu.
"Gi....., kok lama?" Terdengar pintu kamar mandi diketuk.
"Sebentar kak."
2 menit kemudian Giani keluar sambil membawa gelas yang berisi urinenya. Jero langsung membuka tespack yang dibelinya.
"Kita coba sekarang?" Tanya Jero.
Giani meletakan gelas yang dipegang olehnya di atas meja. Ia duduk dengan jantung yang semakin berdebar.
Jero mencelupkan tespack ke dalam gelas. Ia mencelupkannya sesuai petunjuk. Setelah itu Jero menariknya dan menutupnya dengan tangannya. Ia terlihat tegang.
satu...... dua..... tiga..... empat.... 120
"Dua menit." Ujar Jero lalu menatap tespack itu.
"Gi.....!" Panggil Jero.
Giani yang sedang memejamkan matanya menoleh secara perlahan. Saat melihat tespack itu, senyum Giani langsung mengembang.
"Negatif ya, kak?"
Wajah Jero terlihat kecewa. "Coba dengan tespack yang lain lagi ya?"
"Nggak perlu, kak. Hasilnya pasti akan sama."
"Tapi kamu pusing, mual, muntah bahkan minta sesuatu yang nggak biasa."
Giani bernapas lega. "Kak, aku memang nggak bisa kehujanan. Kepalaku pasti akan sakit. Aku mual dan muntah karena nggak makan. Aku hanya kelelahan saja, kak."
"Ya sudah. Aku mau ke kantor dulu." Jero meninggalkan kamar Giani dan segera menuju ke kamarnya di lantai 2.
Bi Lumi datang sambil membawakan sarapan.
"Bagaimana hasilnya, non?"
"Negatif, bi. Setahuku waktu Jero datang ke Bali, aku memang baru berhenti haid. Namun belum tanggal subur, sih. Sesampai di Jakarta, aku kembali meminum pil anti hamilku."
Jero yang sebenarnya kembali ke kamar Giani untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan, akhirnya mendengarkan percakapan Giani dan bi Lumi.
Jadi selama ini Giani menggunakan pil anti hamil? Apakah dia memang tak ingin punya anak? Atau dia memang tak ada hati padaku? Kenapa aku merasa sakit mendengar ini ya?
"Tuan Jero?" Bi Lumi terkejut melihat Jero yang berdiri di depan pintu kamar yang memang tidak dikuncinya. Giani pun menoleh dengan kaget. Apakah Kak Jero mendengar percakapannya dengan bi Lumi?
"Ponselku ketinggalan." Jero masuk dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Setelah itu dia keluar lagi.
__ADS_1
"Tuan kayaknya mendengar percakapan kita, non."
"Biar saja, bi. Lagi pula tak lama lagi kami akan bercerai. Punya anak akan membuat rencanaku jadi berantakan."
"Non, apakah non sama sekali tak ada hati pada tuan Jero? Kan hubungan non dan tuan audah sangat intim."
Giani tersenyum. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak mungkin akan jatuh cinta padanya, bi. Tujuanku hanya satu. Membuka hati kak Jero agar dia menyadari bahwa Finly bukanlah wanita yang tepat untuknya."
Bi Lumi hanya mengangguk. Ia pun mempersilahkan Giani untuk sarapan sementara ia membereskan tempat tidur.
*********
Saat siang, Giani sudah merasa agak baikkan. Ia pun duduk di taman belakang sambil melihat keadaan restorannya dari layar tabletnya.
Ponselnya berbunyi. Giani tersenyum melihat nama Joana di sana.
"Hallo, Jo!"
"Giani, i want to die." Terdengar suara Joana yang menangis histeris.
"Why?"
"George, died!"
"What?" Giani terkejut. Seminggu setelah mereka kembali ke Bali, George memang kembali ke Amerika.
"What happened?" tanya Giani mendengar Joana terus menangis.
"Dia mengalami kecelakaan tadi malam. Mobilnya meledak karena menabrak pohon. Tubuh George juga ikut terbakar sehingga keluarganya memutuskan untuk mengkremasi mayatnya. Mereka tak bisa menunggu aku lagi. Abunya akan mereka sebarkan di pantai besok."
"Kau dimana sekarang?"
"Aku ada di apartemenku."
"Aku mau ke tempat Joana, kak. Pacarnya meninggal."
"Eca mau ikut." rengek Alexa.
"Biar kakak yang mengantarmu ke sana."
30 menit kemudian....
Joana langsung memeluk Giani saat perempuan itu masuk ke apartemennya. Tangisnya sangat dalam. Giani hanya bisa mengusap punggung sahabat baiknya itu.
"Menangislah, Jo."
Alexa dan Aldo yang memperhatikan kedua perempuan itu hanya duduk tanpa bicara.
Saat tangis Joana mulai redah, Alexa turun dari pangkuan ayahnya. Ia mendekati sofa tempat Giani dan Joana duduk.
"Tante bule, jangan menangis!" tangan mungil Alexa menghapus air mata Joana. "Kalau sedih tante bule beldoa saja. Itu yang selalu bibi Giani ajalkan pada Eca."
Joana merasa hatinya menjadi hangat karena sentuhan tangan mungil Alexa di pipinya.
"Terima kasih, sayang." Kata Joana.
"Tante mau eca beldoa untuk tante?"
Joana mengangguk.
Alexa meraih kedua tangan Joana dan menggenggamnya erat. "Tuhan, tolong hibul tante bule. Jangan bialkan tante bule menangis. Soalnya kalau tante bule menangis, tante bule nggak cantik lagi. Amin."
Joana langsung memeluk Alexa saat gadis kecil itu selesai berdoa. Sungguh, Joana merasa sangat terhibur.
__ADS_1
Aldo menatap putrinya dengan sangat bangga. Walaupun usia Alexa baru saja genap 5 tahun tapi ia merasa sangat bersyukur Alexa sangat dewasa pemikirannya. Ia percaya kalau itu semua berkat ajaran Giani pada Alexa.
"Gi, kakak pergi dulu ya. Ada urusan penting. Nanti 2 jam lagi kakak akan jemput kalian di sini. Kakak titip Eca dulu ya?"
Giani mengangguk.
"Yang kuat ya, Joana." Kata Aldo sambil menepuk bahu Joana.
"Terima kasih, Aldo."
Setelah Aldo pergi, Giani pun membuatkan makanan untuk Joana. Ia tahu kalau Joana belumlah makan.
"Jo, makanlah dulu." Kata Giani sambil mendekati Joana yang sedang tidur di atas sofa.
"Aku nggak lapar, Gi."
Alexa yang sedang menonton TV, menoleh ke arah Giani dan Joana. Ia turun dari kursinya dan mendekati mereka.
"Tante bule, mau Eca suapin?"
Menatap wajah polos Alexa, namun sorot matanya penuh dengan ketulusan membuat Joana seolah mendapatkan lagi kekuatannya.
"Eca mau suapin tante? Kenapa?"
"Supaya tante makannya banyak. Eca juga kalau menangis selalu disuapin bibi Giani atau bi Lumi."
Joana tersenyum. Ia mengangguk. Tangan mungil Alexa pun meraih sendok dan mulai menyuapi Joana.
Sungguh, Giani tak dapat menahan air matanya. Ia bangga kalau Alexa bisa membuat Joana tersenyum.
Selesai menyuapi Joana, kini giliran Alexa yang disuapi oleh Joana. Keduanya bahkan sesekali tertawa bersama.
Aldo yang sudah datang menjemputpun tak membuat Alexa pergi meninggalkan apartemen itu.
"Papa, apa boleh eca menginap di sini?" Tanya Alexa.
Aldo menjadi bingung. Haruskah ia mengijinkan?
"Eca sayang, sekarang Eca ikut papa dulu ya nak? Nanti Eca boleh datang lagi." Kata Joana.
"Benar Eca boleh lagi datang ke sini?"
Joana mengangguk.
Aldo dan Alexa pun pergi namun Giani memilih tinggal.
"Apakah kau akan ke Amerika?"
Joana menggeleng. "Aku di sini saja. Aku sungguh tak tahan jika harus melihat apartemen kami di sana."
"Kau harus kuat, Jo. Aku yakin misalnya George ada di sini, ia juga tak mau sampai kau terpuruk."
Joana memeluk Giani dengan air mata yang mengalir kembali. Ia senang karena Giani memperhatikannya. Ia bangga memiliki sahabat seperti Giani.
********
Jam 10 malam, Giani tiba di rumah. Namun Jero belum juga pulang. Giani memeriksa ponselnya. Gps yang ada di mobil Jero menunjukan kalau ia ada di club. Mobil Finly pun ada di sana.
"Pak Leo, tolong antarkan aku ke club!"
Apa yg terjadi selanjutnya?
jangan lupa like, komen dan vote ya
__ADS_1