
Hampir 2 bulan waktu berlalu. Joana sudah bisa menerima kenyataan tentang kematian George. Ia sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Tiap weekend, Alexa selalu diajak oleh Giani untuk ketemu dengan Joana. Gadis kecil itu selalu bersemangat saat bersama Joana. Dia bahkan semakin lancar berbicara dalam bahasa Inggris.
Sedangkan Jeronimo, dibalik semua kesibukannya, ia selalu mencari alasan untuk bersama Giani. Ia bahkan hampir setiap hari meminta Giani untuk datang ke kantornya.
Seperti juga siang ini. Giani datang ke kantor Jero sambil membawa pesanan kopi sebanyak 100 cup karena perusahaan Jero meraih keuntungan besar di bulan ini.
Ketika semua menikmati kopi dan kue, Giani dan Jero pun makan siang bersama di kantin kantor. Sebenarnya Jero ingin makan di restoran mewah namun Giani memaksa ingin menikmati makanan yang ada di kantin kantor yang menurut para kariawan makanannya cukup enak. Ini adalah pertama kalinya mereka makan di sana dan semua mata tertuju pada pasangan suami istri itu karena Jero dengan manjanya meminta Giani menyuapinya sampai makanan Jero habis.
Selesai makan, Giani dan Jero kembali ke ruangan pertemuan karena beberapa pelayan restoran akan menjemput tempat kue yang tadi di bawa oleh Giani.
"Semuanya suka dengan kopi dan kue nya nyonya." Kata Selly kepada Giani.
"Syukurlah kalau kalian memang suka."Kata Giani dengan wajah berseri. Minggu ini pesanan kopi sangat meningkat.
Jero yang melihat istrinya tersenyum senang, langsung mendekat. "Pembayarannya sudah ditransfer oleh bendahara kantor, sayang."
"Terima kasih, ya."
Jero melingkarkan tangannya di bahu istrinya. "Terima kasihnya tidak boleh hanya dengan kata-kata. Harus dengan tindakan yang mesra"
Giani menatap Jero tajam. Mereka masih ada dalam ruangan pertemuan dan Jero mengucapkan semua itu dengan suara yang cukup keras membuat Selly menjadi malu saat mendengarnya.
"Kak...!" Giani mencubit pinggang Jero dengan gemas membuat pria itu meringis.
"Sakit sayang....!"
"Makanya jangan mesum!" Bisik Giani lalu segera melangkah keluar dari ruangan. Jero langsung mengejarnya istrinya.
"Ke ruanganku!" Jero langsung menarik tangan Giani memasuki lift.
"Kak, aku harus kembali ke restoran. Aku dan kak Beryl janjian mau mencari lokasi pembangunan restoran yang baru."
"Beryl sudah datang?"
"Iya. Tadi malam."
Aneh si Beryl. Biasanya juga telepon aku untuk memberitahukan tentang kedatangannya. Mengapa sekarang justru Giani yang lebih tahu?
Pintu lift terbuka. Jero langsung meraih tangan Giani.Di genggamnya erat lalu melangkah menuju ke ruangannya.
Saat pintu terbuka dan ditutup kembali, Jero langsung menarik Giani dan memeluknya erat.
"Kak, apa kakak lupa kalau aku sedang datang bulan?" Giani mengingatkan karena ia tahu kalau Jero sudah berhasrat sangat sulit untuk dihentikan.
"Aku tahu. Tapi perasaan ini sudah hari kelima." Kata Jero sambil terus memeluk Giani. Ia selalu suka mencium harum rambut Giani dan harum tubuh wanita itu.
Giani hanya terkekeh. Sebenarnya ia sudah selesai datang bulannya. Namun dia ingin melihat seberapa kuat Jero bisa tahan tak menyentuhnya bahkan Giani tak mengijinkan Jero menciumnya.
Ponsel Giani berbunyi. Ia melepaskan tangan Jero yang ada di pinggangnya. "Sebentar kak."
Giani mengambil ponselnya yang ada dalam tas tangannya yang ia letakan di atas meja kerja Jero saat masuk ke ruangan ini.
"Hallo kak Beryl?"
Jero yang akan duduk di balik meja kerjanya segera mendekati Giani lagi menerima telepon.
Ia memeluk Giani dan ikut menempelkan tinganya diponsel Giani.
"Kak...!" Giani heran melihat tingkah Jero.
"Biar saja. Aku mau dengar." kata Jero pelan.
Giani memasang speaker ponselnya sehingga Jero bisa mendengarkan percakapan mereka.
"Hallo, Gi. Apakah kau mendengarkan aku?" terdengar suara Beryl.
"Aku dengar, kak."
"Jadi, jam berapa kita bisa mengecek lokasi pembangunan cafe yang baru?" Tanya Beryl.
Giani menatap arlojinya. "Jam 2 boleh nggak? Aku sekarang masih di kantor kak Jero."
"Wah, kebetulan aku sudah ada di lobby kantor. Aku ke atas aja ya, sekalian aku sudah membawa beberapa gambar lokasi yang mungkin kamu sukai."
"Baiklah, kak. Aku ada di ruangan kak Jero."
Giani menatap Jero. "Kak, boleh kan pinjam ruanganmu untuk berbicara dengan kak Beryl kan?"
__ADS_1
"Ya. Lebih baik bicara di sini dari pada di belakang aku."
"Maksudnya?"
"Nggak." Jero langsung duduk di kursi kerjanya. Ia pura-pura membuka laptopnya.
Tak lama kemudian Beryl masuk sambil memasang wajah manisnya. Jero tahu senyum maut Beryl itu banyak membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya. Makanya Jero terus mengawasi saat Jero dan Giani sedang bercakap-cakap.
"Dari 3 lokasi itu, mana yang kamu mau, Gi?" Tanya Beryl ia mengeser tempat duduknya agak mendekat ke arah Giani sambil membuka beberapa gambar yang dibawahnya. Dada Jero sesak melihatnya. Ia buru-buru berdiri dan ikut bergabung bersama mereka. Jero dengan santainya mengambil tempat duduk diantara Giani dan Beryl, membuat Beryl harus sedikit menggeser tubuhnya karena posisi duduk Jero sangat berdempetan dengannya.
"Aku boleh ikut lihat lokasinya, nggak?" Tanya Jero sambil menatap Giani dan Beryl yang menatapnya dengan pandangan protes.
"Loe kenapa sih?" Beryl kesal melihat tingkah Jero.
"Pingin lihat aja. Siapa tahu bisa memberi masukan yang membantu." ujar Jero dengan wajah sok polosnya.
"Menurut aku lokasi yang ada di pusat perbelanjaan ini sangat bagus. Sewanya mahal ya, kak?" Ujar Giani.
"Kita coba aja selama satu tahun."Imbuh Beryl.
"Kalau butuh modal, gue bisa memberikan tambahan modal." Ucap Jero sambil memandang Giani.
"Modal gue lebih dari cukup." Cicit Beryl masih dengan nada kesal.
"Kalau melihat gedungnya, kita nggak butuh waktu lama untuk menyiapkan pembukaannya. Siapa tahu pas ulang tahunmu, pembukaan cafenya bisa dilangsungkan." Lanjut Beryl. Ia sengaja memajukan tubuhnya sedikit agar bisa langsung berinteraksi dengan Giani. Tak peduli dengan Jero yang melotot ke arahnya.
"Kakak tahu ulang tahun aku dari mana?" Tanya Giani penasaran.
"Dari KTP mu saat kita mengurus ijin usaha ini pertama kali. Bulan depan kamu ulang tahun kan?"
Jero merasa bodoh. Giani adalah istrinya namun Beryl yang lebih tahu ulang tahunnya.
"Kita langsung ke sana aja, kak." Giani langsung berdiri.
"Ayo!"
"Kak Jero, kami pergi dulu ya?" pamit Giani.
Jero hanya mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia ingin ikut dengan mereka. Sebab ia tak rela membiarkan Beryl berduaan dengan istrinya. Namun 1 jam lagi, ia harus ke kantor papa Denny.
Setelah mereka pergi, Jero kembali duduk di depan meja kerjanya. Matanya menatap. Kalender meja yang ada di depannya.
Kami menikah tanggal 17 Juli dan sekarang sudah tanggal 17 Mei. Ya Tuhan, aku sudah 10 bulan menikah dengan Giani. Dan itu berarti pernikahan kami tinggal 2 bulan lagi? Mengapa semuanya terasa sangat cepat ya?
*********
Saat Giani sampai di rumah, ia terkejut melihat mobil Jero sudah berada di garasi. Pada hal sekarang baru pukul 5 sore. Biasanya Jero akan tiba jam 6 sore.
Begitu pintu depan dibuka, Giani langsung mencium bau makanan. Keningnya berkerut. Siapa yang memasak?
Langkah Giani diarahkan ke dapur. Ia terkejut melihat Jero yang sedang memasak. Ia masih memakai baju kerjanya. Ada apron yang membungkus kekar Jero.
"Kak...!" Panggil Giani.
Jero menoleh. "Wah, kamu sudah pulang ya? Istirahat saja. Masakanku akan siap 1 jam lagi."
" Aku bantu ya kak?"
"Jangan! Pokoknya kali ini biarkan aku memasak. Please...!"
"Ok. Aku istirahat di kamar bawa saja ya? Supaya kalau kakak tiba-tiba memerlukan bantuanku, dekat panggilnya."
"Ok baby!"
Giani segera menuju ke kamar. Ia membuka baju kerjanya dan segera ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi, Giani memilih tidur karena memang ia sangat lelah.
Jam 7 lewat 35 menit, Giani terbangun dari tidurnya. Ia segera turun dari tempat tidur, mencuci wajahnya sebentar lalu segera keluar kamar. Ruang tamu sepi begitu juga dapur.
"Kemana kak Jero ya? Aku kayaknya lapar." Guman Giani.
"Hai sayang, kau sudah bangun?" Tanya Jero yang baru muncul dari teras samping. Pria bule itu berpakaian cukup rapih. Celana jeans dan kemeja tangan panjang yang digulung sampai batas lengan.
"Sudah. Tadi kakak masak kan? Mana masakannya? Aku sangat lapar."
Jero tersenyum. Ia mendekati Giani lalu berdiri di belakang istrinya. Tangannya menutup mata Giani.
"Kak, mau apa?"
__ADS_1
"Jalan saja!"
Giani pun melangkah dengan mata yang masih ditutupi dengan tangan Jero.
Saat Giani sudah merasa kalau mereka ada di luar rumah, Jero melepaskan tangannya yang menutupi mata Giani.
"Waw....!" guman Giani sambil menatap apa yang ada di depannya. Ada meja makan bulat, di atasnya sudah ada beberapa jenis makanan, ada lilin, botol sampanye yang diletakan didalam wada yang ada es batu, dan ada buket bunga mawar dan sebuah kotak hadiah berwarna merah.
"Kak ada acara apa?" Tanya Giani bingung.
Jero mengambil bunga mawar itu dan menyerahkannya pada Giani
"Happy 10th month anniversary, baby!" Ucapnya manis.
"Kak, dimana-mana yang dirayain 1 tahun atau 2 tahun atau 25 tahun pernikahan. Aku tak pernah mendengar ada yang merayakan ulang tahun pernikahannya dalam hitungan bulan." Giani ingin tertawa namun dia ingat pesan Joana. Jika Jero melakukan sesuatu yang menunjukan bahwa dia mencintaimu, hargailah.
"Tapi aku suka..!" Imbuh Giani lalu memeluk Jero membuat pria bule itu langsung tersenyum senang.
"Terima kasih sayang!" Kata Jero saat pelukan mereka terurai. Ia lalu mencium dahi Giani dengan lembut.
" Ayo duduk!" Jero menarik kursi dan mempersilahkan Giani duduk.
"Kak, tahu begini aku pakai gaun yang bagus. Kakak pakai baju rapih, aku hanya pakai daster corak hello kitty." Giani sedikit protes. Belum lagi rambutnya yang hanya diikat sembarangan ke atas.
"Kamu tetap cantik."
Giani tersenyum. Jero membuka kotak hadiah yang ada di atas meja. Sebuah kalung emas dengan liontin huruf J.
"Untukku?" Tanya Giani sambil menunjuk dadanya.
"Ya."
"Kok huruf J?"
"Huruf G nya habis. Jadi aku ambil saja huruf J. Supaya setiap ada yang bertanya, kok huruf J? Namamu kan diawali dengan huruf G? Kamu akan bilang karena suamiku bernama Jeronimo." Kata Jero lalu memakaikan kalung itu di leher Giani.
"Makasi, kak." Giani tahu, itu hanya modus saja saat Jero bilang kalau huruf G nya habis.
"Sekarang, ayo kita makan!" Kata Jero sambil membuka penutup makanannya.
Mereka pun makan malam dengan sangat romantis. "Makanannya enak." Puji Giani.
"Tapi nggak seenak makanan buatanmu. Aku tadi telepon mama Sinta untuk tanya resep ini dan itu. Sebenarnya mama mau datang ke sini untuk membantuku namun aku bilang ke mama kalau aku ingin menyiapkan sendiri."
"Kok tiba-tiba menjadi romantis, kak?"
"Suka aja."
"Coba dari awal-awal nikah sudah kayak gini. Pasti kita akan punya banyak kenangan manis."
"Kontraknya boleh ditambah dikit nggak? " Tanya Jero.
Giani tertawa. "Kakak sudah jatuh cinta sama aku, ya?
"Bu-bukan.." Jero buru-buru menggelengkan kepalanya. "Maksud aku, boleh nggak selama 2 bulan yang tersisah ini, kita menjadi suami istri yang sebenarnya tanpa ada embel-embel kontrak 1 tahun. Aku ingin kamu panggil aku sayang tanpa ada sebutan kakak. Kita bisa melakukan hal romantis bersama dan tiap libur kerja kita jalan-jalan ke luar kota atau kalau kamu mau kita bisa ke luar negeri. Bagaimana?"
"Boleh."
"Benarkah?" Wajah Jero langsung berseri. Matanya berbinar.
"Aku siap melakukan hal paling romantis bersama kakak, asalkan kakak penuhi persyaratanku."
"Apa persyaratanmu?" Tanya Jero sangat antusias.
"Jangan pernah bertemu kak Finly lagi."
"Kamu kan tahu sejak peristiwa di club malam itu, aku tak pernah bertemu Finly lagi."
"Blokir nomor kak Finly sekarang juga. Namun sebelum blokir, kak Jero harus mengirim pesan yang isinya 'jangan ganggu aku lagi. Aku tak mencintaimu lagi."
"Apa?" Jero terkejut.
Jero mau nggak ya???
Dukung terus cerita ini ya? komennya jangan hanya "lanjut" he....he.....
Jangan lupa juga vote nya ya....
__ADS_1
siapa tahu bisa masuk rangking 10 besar 🤭🤭🤭