
Bunyi ponsel yang berbunyi terus menerus membuat Giani memaksakan diri membuka matanya. Tangannya meraba-raba ponselnya yang ternyata ada di atas nakas. Ia melihat nomor kakaknya.
"Hallo, kak."
"Bibi, Gi."
Mata Giani yang terpejam langsung terbuka lebar. "Alexa?"
"Bibi..., hali ini kita jadi pelgi ke apaltemen tante bule kan?"
"Oh, iya. Bibi hampir lupa. Terus Eca berangkatnya sama siapa?"
"Diantal papa."
"Papa nggak masuk kerja?"
"Kata papa hali ini tanggal melah."
Giani menepuk jidatnya. "Bibi lupa. Baiklah. Bibi mandi dulu ya. Nanti kalau bibi sudah siap, bibi telepon Eca dan papa."
"Ok."
Giani turun dari tempat tidur. Badannya terasa sakit semua. Jero sungguh mewujudkan apa yang dikatakannya. Ia melepaskan Giani saat jam sudah menunjukan pukul 4 subuh.
Kemana kak Jero ya?
Mereka bercinta di kamar Jero semalam. Namun pria itu sudah tak ada. Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Giani bergegas ke kamar mandi.
Saat ia selesai mandi, Jero ternyata sudah ada di kamar.
"Dari mana kak?"
"Nge-gym di bawa."
"Tumbem. Biasanya seminggu sekali baru nge-gym." Sindir Giani lalu masuk ke dalam walk in closet.
"Aku biasa nge-gym seminggu dua sampai tiga kali. Nanti akhir-akhir ini jadi agak malas. si bocah itu mengatakan kalau aku bule tua, akan kubuktikan padanya tubuh siapa yang lebih bugar. Dia atau aku?"
Giani terkejut mendengar pengakuan Jero. Rupanya perkataan Dodi sangat mempengaruhinya. Saat Giani keluar dari walk in closet, ia melihat Jero yang sudah membuka kaos olahraganya dan sedang berdiri di depan kaca sambil memperhatikan badannya, kemudian memegang wajahnya.
"Kenapa, kak?" Tanya Giani heran.
"Mengapa bocah itu bilang kalau aku bule tua ya? Wajahku belum ada keriput. Rambutku masih berwarna coklat emas, belum ada ubannya. Badanku masih sispack gini. Memangnya perutku gendut kayak pria berusia 40 tahun? Kau akan lihat ya, Gi. Saat usia 40 tahun pun, aku akan tetap terlihat gagah dan tampan tanpa ada lemak di perut." Kata Jero sambil menempuk perutnya.
"Saat kakak berusia 40 tahun, kita sudah tak bersama, kak. Aku pastinya sudah menikah dengan orang lain." Kata Giani pelan namun sangat menusuk hati Jero.
Jero menatap Giani yang sedang menyisir rambutnya. Gadis itu mengenakan celana jeans ketat dan kemeja tanpa lengan berwarna putih.
"Gi, lain kali jangan berdandan kayak ABG. Penampilanmu yang membuat bocah tengik itu mengira kalau kau masih terlalu muda untuk menjadi istriku."
"Usiaku memang masih muda, kak. Baru 20 tahun. Jadi aku nggak mungkinlah dandan kayak emak-emak berusia 35 tahun."
Jero mendengus kesal. "Mau kemana?"
"Menemui Joana. Aku belum bilang ke kakak ya kalau George meninggal kemarin."
__ADS_1
Jero terpana. "Astaga. Kasihan sekali. Aku boleh ikut nggak?"
"Boleh. Aku tunggu kakak sambil sarapan ya?"
Jero mengangguk. Ia segera masuk ke kamar mandi sementara Giani menuju ke ruang makan. Hari ini, bi Lumi akan kembali ke rumah Geraldo.
"Selamat pagi, non."
"Selamat pagi, bi." Giani langsung menikmati sarapannya dengan lahap membuat bi Lumi tersenyum.
"Tadi malam kerja keras ya, non."
Wajah Giani langsung bersemu merah. "Bibi dengar ya?"
Bi Lumi mengangguk.
Giani ingat kalau semalam, saat turum dari mobil, Jero langsung menyerangnya di ruang tamu. Mereka bercinta di atas sofa lalu pindah le kamar atas.
"Bajunya......."
"Sudah bibi masukan ke keranjang baju kotor. Berserakan di ruang tamu."
Giani mengusap wajahnya malu. "Maaf ya, bi."
"Bibi maklum, kok. Kalian masih sama-sama muda. Oh ya, tuan Jero kenapa ya? Tadi sebelum lari pagi, dia bertanya pada bibi apakah wajahnya kelihatan tua?"
Giani tak dapat menahan tawanya. Apakah perkataan Dodi sangat berpengaruh pada Jero?
"Dia mungkin terbawa suasana semalam, bi." Lalu Giani menceritakan kejadian semalam di club. Bi Lumi pun langsung tertawa mendengarnya.
Tak lama kemudian, Jero sudah selesai mandi. Ia mengenakan juga celana jeans dan kaos putih ketat yang memperlihatkan otot-otot yang ada di badannya. Ia juga mengenakan sepatu kets berwarna putih.
"Benar, bi?" Ujar Jero senang sambil memegang wajahnya.
Giani menahan tawanya. Ia sungguh tak percaya kalau Jero akan sesenang itu dipuji oleh bi Lumi.
"Kamu kenapa sayang? Nggak suka ya?" Jero nampak cemberut.
"Suka. Keren. Namun aku lebih suka melihat kakak berpakaian resmi seperti saat ke kantor. Terlihat sebagai pria mapan, kaya dan...."
"Dan tua!" Sambung Jero membuat tawa Giani benar-benar pecah. Ia langsung berdiri dan melingkarkan tangannya di lengan Jero. "Kau terlihat tampan, kak. Mau pakai model baju apa saja, kakak tetap tampan."
Cup
Jero mencium pipi Giani. "Terima kasih atas pujiannya, cantik."
Giani menatap bi Lumi dengan wajah agak panas karena Jero menciumnya di depan wanita paruh baya itu. "Kami berangkat dulu, bi." Pamit Giani.
Bibi Lumi hanya mengangguk. Oh Gusti, jangan pisahkan mereka. Semoga tuan Jero sadar kalau non Giani adalah pasangan terbaik untuknya.
********
Kehadiran Alexa sepertinya sangat menghibur Joana. Gadis kecil itu berhasil membuat Joana tertawa.
Sore hari mereka bermain di taman. Alexa berlari ke sana kemari dikejar oleh Aldo sementara Joana memberi semangat pada Alexa untuk berlari menghindari papanya.
__ADS_1
Hati Giani bergetar. Ia seperti melihat keluarga yang berbahagia di hadapannya. Andai saja Joana bertemu lebih dulu dengan Aldo sebelum menikahi Finly. Apakah mungkin akan ada benih cinta yang tumbuh diantara mereka?
"Sayang, kok melamun?" Tanya Jero yang duduk di sampingnya.
"Kak Aldo tak pernah keluar bersama kak Finly untuk bermain seperti ini. Lihatlah, Alexa sangat bahagia. Kakakku juga sepertinya bahagia. Andai saja kak Finly mau meluangkan waktu untuk bermain bersama Alexa,gadis kecil itu pasti tak akan pernah kesepian."
Jero merasa hatinya tertusuk mendengar perkataan Giani. Ia merasa sebagai salah satu orang yang sering menyebabkan waktu Finly untuk bersama keluarganya tak ada. Ia ingat bagaimana mereka menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk saling mengumbar napsu di apartemen Jero atau di hotel. Ia bahkan selalu menahan Finly untuk pulang cepat. Setiap waktu libur, Finly justru menghabiskan waktu dari pagi sampai tengah malam bersamanya.
"Kak...!" Giani menyentuh tangan Jero. "Jika kita sudah pisah nanti, aku mohon jangan kembali bersama kak Finly."
Jero menatap Giani. Gadis itu tersenyum lalu memeganh wajah Jero. "Kakak tampan dan sukses. Pasti akan banyak wanita yang ingin bersama kakak. Jangan ganggu rumah tangga kak Finly lagi. Aku tahu kalau kakak mencintai kak Finly, tapi itu sesuatu yang salah. Itu dosa, kak."
Jero memalingkan wajahnya membuat tangan Giani yang masih memegang wajahnya terlepas. Kata-kata Giani sangat menusuk hatinya.
"Uncle Jelo...awas....!" Teriak Alexa.
Buk !!!
Bola yang ditendang seorang anak laki-laki yang bermain di depan mereka mengenai wajah Jero membuat pria itu sedikit merasa pusing dan wajahnya menjadi panas.
Jero akan memarahi anak itu. Namun ia dan temannya langsung lari ketakutan setelah mengambil bola mereka.
"Kak....!" Giani berdiri dan memegang wajah Jero. Pipi kanannya langsung memerah.
"Sakit?" Tanya Giani.
"Sakitlah. Ingin ku jewer telinga anak-anak itu." Jero meringis saat tangan Giani membelai wajahnya.
"Uncle Jelo....!" Alexa mendekat bersama Joana dan Aldo.
"Ya sayang..."
"Kasihan wajah uncle jadi melah. Eh...dahinya jangan belkelut kayak gitu uncle." ujar Alexa. Jero memang mengerutkan dahinya karena menahan rasa sakit.
"Memangnya kenapa kalau uncle mengerutkan dahi?" Tanya Jero heran.
"Uncle kelihatan sepelti om bule yang sudah tua."
"Tua?" Wajah Jero langsung berubah panik. Beberapa detik kemudian, ia langsung memasang wajah manis yang tersenyum.
Giani hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya kalau Jero bisa menjadi sangat kekanakan hanya karena kata 'tua'.
**********
Dalam perjalanan pulang, Jero tiba-tiba menghentikan mobilnya saat melihat sebuah klinik kecantikan.
"Kita mampir ke sini dulu ya?"
"Ngapain sih kak?"
"Perawatanlah supaya kelihatan lebih fresh."
jero sepertinya takut menjadi bule tua
ha...ha...ha...
__ADS_1
siapa punya resep awet muda untuk Jero?
komen ya guys....😉😉