
"Hallo cantik....!" kata salah satu dari keenam pria itu. Alexa mengerti bahasa Jepang. Karena gadis ini memang menguasai 4 bahasa sekaligus. Ia belajar dari bibinya Giani.
Apakah aku mampu menghadapi mereka semua? Sekalipun aku memegang ban hitam dalam taekwondo namun mereka terlihat bukan lelaki sembarangan. Apakah mereka adalah mafia yang menguasai daerah ini sepertinya yang pernah Inaya katakan? Tenang Alexa, mami bule selalu ajarkan agar tidak panik dalam dalam situasi apapun. Selalu mencari cela sekecil apapun disaat yang paling sulit, itu adalah ajaran bibi Giani.
Tangan Alexa terkepal saat 2 orang mulai maju dan menyentuh tangannya.
Buk....
kaki kanan Alexa dengan gerakan memutar langsung mengenai pinggang salah satu dari kedua pria itu. Saat yang satu jatuh, yang satu lagi berusaha menyerang namun Alexa dengan cepat membalas pukulan lelaki itu.
"Waw, wonder woman!" Puji salah satu dari mereka. Keenam lelaki itu saling berpandangan dan langsung menyerang Alexa bersamaan. Alexa mulai kewalahan. Ia bahkan sudah dua kali terjatuh. Salah satu diantara mereka mengeluarkan pisau lipatnya.
Saat Alexa akhirnya berhasil ditangkap, seseorang datang dan membantunya. Terjadilah perkelahian yang sengit sampai akhirnya orang itu berhasil menarik tangan Alexa, dan mengajaknya lari secepat mungkin sampai akhirnya mereka masuk ke sebuah mobil yang sudah menunggu di depan gang.
"Kamu tak apa-apa?"
Alexa yang masih sock menoleh dengan kaget. "Oliver?"
"Hai, sayang.....!"
"Ini pasti rencana kamu kan? Kamu pasti yang menyewa para berandalan itu untuk menakuti aku dan datang sebagai pahlawan. Ah, aku tak akan terkesan dengan aksi penyelamatanmu." Alexa langsung menyerang Oliver dengan membabi buta.
"Alexa.... stop...aow...Eca....please....sakit....!"
Tangan Alexa terhenti saat melihat kemeja putih yang dipakai Oliver berlumuran darah di bagian pinggang sebelah kanan.
"Oliver....!" Alexa menarik kemeja itu dan mengangkatnya ke atas. Ia terkejut melihat ada luka bekas sayatan yang cukup besar dan dalam.
"Kau terluka?"
Sopir yang membawa kendaraan itu berhenti dan menoleh ke belakang. Saat melihat wajah Oliver yang pucat, sang sopir langsung tegang.
"Pasti pisau yang mereka gunakan ada racunnya. Tuan harus segera dibawa ke rumah pamanku. Dia pasti punya penawarnya. Nona tolong tekan lukanya agar darahnya tak banyak keluar."
Tangan Alexa sedikit gemetar saat ia menekan luka di perut Oliver.
Sang sopir membawa mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju ke arah luar kota.
Mereka tiba di sebuah rumah yang letaknya agak jauh dari rumah yang lain. Banyak sekali tanaman yang ada di halaman rumah itu.
Seorang pria tua yang sudah agak bungkuk langsung membuka pintu saat melihat Oliver yang dipapah oleh ponakannya dan Alexa.
Oliver dibaringkan di atas dipan. Alexa terkejut saat membuka kemeja Oliver, kulit disekitar lukanya sudah menjadi biru.
Sopir itu yang bernama Yutaka langsung membantu pamannya menyiapkan lilin dan obat-obat yang diperlukan.
Saat ia mengisap luka Oliver untuk mengeluarkan racunnya, Oliver berteriak kesakitan membuat Alexa tak tega melihatnya. Entah dorongan dari mana, Alexa memegang tangan Oliver dan membiarkan Oliver memegang tangannya dengan kuat setiap kali pria tua itu mengisap bisa di lukanya.
"Untung saja racunnya tidak banyak. Beristirahatlah. 2 hari lagi dia pasti akan pulih." kata pak tua itu lalu membungkus luka Oliver dengan dedaunan. Oliver langsung tertidur karena kelelahan.
"Yakuta, bagaimana kalian bisa menemukanku di sana?" tanya Alexa saat keduanya sedang menikmati teh di beranda depan.
"Saya melihat nona naik taxi. Tuan meminta saya untuk mengawasi nona. Setelah nona naik taxi, tuan meminta saya mengikuti nona sementara tuan naik taxi yang lain karena tak ingin kalau saya sampai kehilangan jejak nona. Saat saya melihat nona turun di daerah itu saya sedikit takut karena mengenal tempat itu sebagai tempat para mafia. Tuan tiba saat nona dihadang oleh mereka. Selanjutnya, nona tahu sendiri ceritanya."
"Orang-orang itu bukan suruhan Oliver kan?"
"Mana mungkin mereka akan menyakiti tuan kalau mereka hanyalah orang suruhan. Tuan bisa mati jika terlambat diberi obat, nona."
Alexa mengabiskan kopinya. Ibu Indah sudah 5 kali menghubunginya. Sekarang sudah jam setengah satu tengah malam dan subuh jam 5 mereka harus berada di bandara.
"Yakuta, aku mau pulang. Aku akan kembali terbang pagi-pagi sekali. Apakah aku dapat menemukan taxi di sini?"
"Saya akan mengantar nona. Lagi pula tuan pasti akan tertidur sampai pagi."
Alexa mengangguk. Ia sebenarnya tak tega meninggalkan Oliver namun ia juga memikirkan pekerjaannya. Ia percaya Oliver aman di sini.
********
Alexa hanya tidur sebentar. Ibu Indah membangunkannya jam 4 subuh. Saat pulang, Alexa mengarang cerita kalau ia ada di rumah temannya. Untunglah ibu Indah tak banyak bertanya.
Sesampai di bandara dan melapor untuk dokumen penerbangan, Alexa pun naik ke atas pesawat, menyiapkan semuanya sebelum penumpang akan naik.
Ia memang merasa sangat mengantuk. Ibu Indah memberikannya vitamin agar ia bisa kuat menjalani penerbangan.
Alexa kembali bertugas di kelas satu. Satu persatu penumpang kelas satu masuk. Dan Alexa hampir kembali menjerit saat melihat siapa penumpang yang masuk disaat pintu pesawat hampir di tutup. Oliver masuk dengan wajah sedikit pucat.
"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kamu...." Alexa tak jadi meneruskan kalimatnya karena Oliver sudah tersenyum dan duduk sambil menggunakan sabuk pengamannya. Ia memasangnya agak longgar karena luka di perutnya.
Alexa pun memeriksa semua penutup bagasi yang ada di kelas satu ini. Setelah memastikan semua penumpang sudah duduk sambil menggunakan sabuk pengaman, Alexa pun menuju ke belakang untuk duduk di kursinya.
Pesawat berhasil take off dengan baik. Alexa pun segera menyiapkan sarapan untuk para penumpang. Kali ini penumpang kelas satu berjumlah 8 orang. Dan Oliver memilih duduk di deretan kursi paling belakang. Alexa pun melayani Oliver terlebih dahulu.
"Mau sarapan apa?" Tanya Alexa. Jujur, ia agak khawatir melihat Oliver memegang perutnya.
"Apa saja, asalkan itu bisa membuatku kenyang. Jujur saja, aku sangat lapar."
__ADS_1
Alexa memberikan kentang, roti coklat, ayam panggang dan susu hangat untuk Oliver..
"Makanlah. Aku mau melayani penumpang yang lain." Kata Alexa lalu segera mendorong kembali kereta makanan itu.
Indah datang membantunya. Setelah semua terlayani, Indah meminta Alexa untuk istirahat saja. Tapi saat menyadari kalau di sana ada Oliver, wanita itu hanya tersenyum sambil berbisik, " Dia sepertinya bucin padamu."
Alexa mendekati Oliver sementara makan. "Kenapa kamu nekat naik pesawat ini. Memangnya ada urusan apa kamu ke Hongkong?"
"Mencari seseorang yang tidak tahu berterima kasih. Sudah ku tolong, eh malah pergi." sindir Okan.
"Aku kan kerja, Oliver."
"Ya aku temani."
"Memangnya kamu nggak punya pekerjaan lain selain mengikuti aku?"
"Ada."
"Makanya kerja sana jangan cuma menyusahkan hidupku."
"Kamu nggak mau tahu kerjaku apa?"
"Nggak penting." Alexa bermaksud akan pergi, namun Oliver menahan tangan Alexa.
"Oliver, bersikap sopanlah. Kita ada di pesawat." tegur Alexa sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Pekerjaanku sekarang ini adalah ingin memenangkan hatimu." Kata Oliver dengan gaya manis yang menggoda.
"Itu namanya pekerjaan orang gila. Asal kamu tahu saja, ya. Aku nggak suka cowok bule. Aku lebih suka cowok Asia. Apalagi pria Indonesia. Ketampanan mereka alami. Wajahnya mereka selalu menyenangkan untuk dilihat."
"Memangnya aku tidak tampan alami? Aku sama sekali belum pernah operasi plastik. Apakah aku perlu bertanya pada semua perempuan yang ada dalam pesawat ini kalau wajahku membosankan atau menyenangkan untuk dilihat?" Oliver semakin kuat menarik tangan Alexa membuat Alexa akhirnya memilih duduk di sampingnya karena tak ingin menarik perhatian penumpang yang lain.
"Oliver. Aku harus bekerja. Mungkin penumpang yang lain sudah selesai makan."
"Aku masih membutuhkanmu di sini, pramugari ku."
"Apalagi?"
"Temani aku ngobrol sehingga aku punya selera untuk makan."
"Lepaskan dulu tanganku."
Oliver melepaskan tangan Alexa.
"Makanlah!" Perintah Alexa sambil mengurut tangannya yang agak merah.
"Kenapa?"
"Lukanya masih sakit. Terasa agak peri karena aku banyak bergerak."
Alexa melihat kalau bagian kemeja yang menutupi perut Oliver agak basah. "Apakah perbannya terbuka?"
"Nggak tahu."
"Mari aku periksa." Alexa berdiri. Ia mengambil dulu tempat makanan Oliver dan membawanya ke galley. Setelah itu ia kembali. Ia duduk kembali di samping Oliver sambil membuka kemeja cowok itu.
"Oliver, kain penutup lukanya agak longgar. Ini sudah basah dan harus diganti. Aku periksa dulu kalau di kotak P3K ada kain khas atau tidak."
"Eca, di dalam tasku ada." Oliver menunjuk tas punggung yang dibawanya yang diletakan dibawa tempat duduknya. "Pak tua itu mengatakan kalau setiap 2 jam sekali aku harus mengganti daunnya."
"Kenapa pak tua itu mengijinkan kamu pergi pada hal lukamu belum sembuh?"
"Aku katakan kalau aku harus memenangkan hatimu. Dia mengijinkan. Untunglah aku tiba tepat waktu."
"Dasar gila!" Alexa mencibir namun tangannya terus membuka perban Oliver untuk diganti.
Ia juga mengambil tissue dan membersihkan keringat di wajah Oliver. "Kenapa kamu berkeringat seperti ini?"
"Lukanya masih sakit, Eca."
"Sakit sekali?"
"Lumayan sakitnya. Namun aku bisa tahan karena ada kamu di sampingku."
"Lebay!" Alexa memperbaiki letak kemeja Oliver lalu. Lalu ia berdiri, membuang kain khas bekas dan daun yang menutupi luka Oliver. Gadis itu mencari obat penghilang rasa sakit, dan membaca batas kadaluarsanya. Di bawanya obat itu pada Oliver.
"Minumlah obat penghilang rasa nyeri ini."
Oliver menatap Alexa. "Ini bukan obat perangsang kan?"
"Kau ini. Memangnya otakku seperti otakmu yang isinya hanya sex melulu? Ayo minum dan istirahatlah. Sebelum pesawat mendarat, daun yang menutupi lukamu harus diganti lagi. Aku mau melayani penumpang yang lain dulu untuk mengambil tempat makanan yang kosong."
Oliver meminumnya. "Terima kasih, Eca sayang."
"Panggil saja aku Alexa." ujar Alexa sebelum meninggalkan Oliver.
__ADS_1
Pria bule itu tersenyum. Entah mengapa hatinya senang setiap kali melihat wajah Alexa yang cemberut. Ingin rasanya ia mencubit pipi mulus Alexa atau mencium bibir tipisnya.
*********
Alexa kembali lagi mengganti daun yang menutupi luka Oliver saat pesawat akan mendarat 30 menit lagi. Setelah pesawat berhasil lending dengan mulus di bandara Hongkong, Alexa pun bernapas lega. Mereka hanya akan istirahat selama 2 jam di sini dan akan kembali terbang menuju ke Jakarta.
"Apakah ada orang yang akan menjemputmu?" tanya Alexa.
"Nggak. Aku nggak akan turun di sini. Aku akan turun di Jakarta. Aku satu-satunya penumpang yang transit di sini."
"Bagaimana bisa?"
Oliver tersenyum sedikit merasa sombong. "Kalau uang dan nama besar yang berbicara maka semuanya menjadi mungkin."
Alexa ingin menumpahkan rasa kesal nya namun ia berusaha menahannya. Ingin rasanya ia mengerjai Oliver namun ia tak tega karena cowok itu terluka karena menolongnya.
Sambil menunggu keberangkatan, petugas kebersihan langsung membersihkan pesawat. Alexa melihat kalau Oliver kembali tertidur membuatnya bergabung dengan para kru yang lain.
"Tuan Pregonas itu benar-benar nekat ya? Dia ada dalam pesawat ini karena ingin menemanimu bekerja di hari pertama kau ada di maskapai ini. Romantis." Kata Indah.
Alexa sudah malas untuk menjelaskan kalau pria itu bukanlah kekasihnya. Ia hanya membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya. Ia ingin pulang ke rumah dan menghabiskan waktu off nya untuk tidur.
********
Perjalanan dari Hongkong ke Jakarta akhirnya selesai. Oliver pun terlihat lebih segar walau ia nampak masih menahan sakit.
Ia turun bersama para penumpang yang lain. Katanya, sopirnya sudah menunggu. Namun, saat Alexa akan keluar dari bandara, ia dikejutkan dengan kerumunan orang. Ternyata Oliver pingsan.
"Ya Tuhan, Oliver." Alexa langsung menerobos kerumunan orang itu.
"Oliver....! Kenapa kamu belum pulang?" Alexa menepuk pipi Oliver. Cowok itu membuka matanya. "Aku menunggu kamu."
Alexa ingin rasanya memukul Oliver. Namun ia tak enak dengan orang banyak. Dengan bantuan seorang pria, cowok itu pun dipapah menuju ke mobil yang sudah menunggunya.
"Eca, maukah kau menemani aku di apartemenku sebentar saja? Aku sendirian di sana. Kevin masih di Madrid."
Alexa sebenarnya ingin menolak. Namun atas dasar rasa kemanusiaan, ia akhirnya mengangguk.
Apartemen Oliver berada di salah satu kawasan apartemen mewah yang ternyata tak jauh dari kantor pusat maskapai. Setiap lantai apartemen ini hanya berisi 4 unit.
Saat keduanya sudah berada di dalam apartemen, Oliver meminta Alexa mengantarnya ke kamar.
"Aku ingin ganti baju, Eca. Bisa tolong ambilkan kaos dan celana pendekku di lemari?"
Alexa mengangguk. Ia membuka lemari walk on closet nya Oliver. Mencari kaos rumah yang nyaman dan sebuah celana rumah.
"Aku tunggu di luar ya?" Kata Alexa.
"Mengapa harus malu? Kamu kan sudah pernah melihat aku tanpa pakaian?"
Wajah Alexa menjadi merah. "Dasar mesum!" ujarnya lalu membanting pintu kamar Oliver dengan kesal.
Ia menuju ke dapur, membuka kulkas Oliver yang hanya berisi beberapa minuman dan kue.
Saat Oliver sudah selesai ganti pakaian, ia keluar dari kamar dan melihat kalau Alexa sudah mengganti seragam pramugari nya dengan baju santai.
"Oliver, kamu kan sudah berada di rumah dengan selamat, sekarang aku mau pulang, ya? Aku capek banget. Pingin tidur."
"Tidur saja di kamarku atau di kamar tamu."
"Dan dijebak lagi olehmu? Aku nggak mau."
"Eca, aku nggak akan menjebakmu lagi dengan apapun. Aku serius saat mengatakan kalau aku ingin memenangkan hatimu. Dengan cara yang baik."
"Oliver, aku nggak akan pernah suka padamu. Karena sesungguhnya aku masih mencintai kapten Haris." Alexa berbohong untuk menghentikan kegilaan Oliver.
"Aku akan operasi plastik agar wajahku mirip kapten Haris."
Alexa tak dapat menahan tawanya. "Dasar gila."
"Lebih tepatnya tergila-gila padamu."
"Sudahlah, Oliver. Sekarang aku pulang dulu ya?"
"Biarkan sopirku mengantarmu."
"Ok." Alexa menarik kopernya. "Aku harap kita tak akan ketemu lagi." Katanya sebelum menghilang dari balik pintu.
Oliver tersenyum. Mungkin dengan bersikap sebagai cowok lebay, maka aku bisa membuatmu jatuh dalam pelukanku. Alexa, kau adalah obsesi terbesar dalam hidupku saat ini.
******"
Pembaca, maunya siapa yang bucin duluan. Alexa atau Oliver?
Berikan komentar dan dukunganmu ya?
__ADS_1
Votenya mana??? 😍😍😍