
Ruang apartemennya menjadi semakin sepi saat Finly melangkah masuk ke dalam. Tak ada satu pun yang menyambutnya ketika ia pulang. Finly membuka sepatunya, lalu meletakan kunci mobil dan tasnya di atas meja. Ia duduk di atas sofa sambil menatap sekeliling ruangan.
Bayangan pesta bersatunya kembali Jero dan Giani kembali bermain dalam kepalanya. Bagaimana senyum kebahagiaan keduanya saat janji suci itu kembali terucap. Finly senang, tulus dalam hatinya ia berdoa agar Jero dan Giani bahagia dengan anak-anak mereka kelak.
Sesaat, kenangannya bersama Jero kembali mengusik hatinya. Waktu itu, Finly baru saja putus dengan pacarnya. Pacar yang sangat dicintainya sampai membuat ia rela menyerahkan kesuciannya. Nama lelaki itu adalah Juan. Lelaki tampan keturunan Sunda-Spanyol. Juan adalah kakak tingkatnya saat kuliah.
Sebagai salah satu bintang kampus, Juan dan Finly dianggap sebagai pasangan yang serasi karena Finly yang cantik seperti model, sangat cocok Juan yang tampan seperti bintang telenovela. Finly sangat bangga menjadi pacar Juan. Hingga akhirnya suatu malam, diulang tahun Juan yang ke-22, Finly terbuai dalam rayuan Juan dan rela menyerahkan kesucian dirinya.
Ternyata, apa yang Finly harapkan untuk bisa menikah dengan Juan tak terjadi. Tiba-tiba saja Juan pindah ke Spanyol dengan kedua orang tuanya. Juan memutuskan hubungan mereka karena tak percaya dengan hubungan jarak jauh. Finly hancur saat Juan pergi. Ia begitu patah hati malam itu. Jeronimo yang melihatnya langsung menghibur Finly. Ia selalu membuat Finly tertawa, mengajak Finly jalan ke mall atau nonton berdua. Kehadiran Jero membuat luka hati Finly perlahan sembuh. Finly belajar melupakan Juan. Finly jadi terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang yang Jero berikan.
Sebagai perempuan yang lebih dewasa dari Jero, Finly tahu kalau Jero menyukainya bukan sebagai kakak namun sebagai lelaki kepada perempuan. Tatapan mata Jero dengan sangat jelas menyampaikan isi hatinya ketika ia melihat Finly.
Selama berbulan-bulan Finly berusaha meyakinkan perasaannya kalau Jero adalah adiknya. Namun perasaan itu akhirnya tumbuh menjadi cinta. Ketika Jero berusia ke-19, Finly membawakan kue ulang tahun ke kamar Jero. Setelah meniup lilin dan menyanyikan lagu ulang tahun bersama, entah siapa yang memulai, keduanya saling berciuman. Bukan hanya ciuman biasa tapi ciuman penuh hasrat yang membuat Finly jatuh pada pesona ketampanan Jero. Ia menyerahkan dirinya pada Jero. Percintaan yang jauh lebih indah dibandingkan saat ia bersama Juan. Karena Jero begitu memujanya, begitu mengangumi dan Jero mengucapkan terima kasih karena ia boleh melewati saat pertamanya dengan orang yang dia sayangi.
"Aku mencintaimu, Finly. Aku sangat memujamu. Walaupun aku tahu kalau aku bukan yang pertama untukmu, namun aku tak memperdulikannya." Itu yang Jero katakan saat pertama kali mereka bercinta.
Hari-hari selanjutnya, Jero dan Giani semakin dekat. Jika papa Denny dan mama Sinta tak ada di rumah, keduanya sering tidur di kamar yang sama. Cinta dan napsu telah membutakan mata dan hati mereka. Finly lupa kalau sejak kecil, ia sudah dijodohkan dengan Aldo.
Ketika Aldo sudah menjadi pimpinan perusahaan keluarganya, ia langsung datang menemui keluarga Finly. Sekalipun orang tua Aldo sudah meninggal, namun papa Denny adalah orang yang sangat menepati janji. Sekuat apapun Finly menolak pernikahan itu, papa Denny tetap menerima lamaran Aldo.
Finly tahu kalau Aldo adalah pria yang banyak dincar oleh gadis-gadis. Finly juga tahu kalau Aldo tak pernah dekat dengan gadis manapun. Sifat Aldo yang lembut dan penurut, tak mampu menggoyahkan hati Finly untuk bisa mencintainya.
Sebulan sebelum pernikahan Finly dan Aldo, Finly sudah nekat untuk mengajak Jero lari ke London. Jero awalnya setuju. Namun saat papa Denny memintanya untuk melepaskan Finly, Jero akhirnya mengalah. Jero tak mampu menyakiti papa Denny apalagi mama Sinta.
Saat itu Finly sangat frustasi. Namun ia juga tak mau menyakiti orang tuanya. Jero dan Finly pun membuat perjanjian. Biarlah Finly menikah dengan Aldo, demi cinta yang mereka miliki, mereka akan tetap saling berhubungan.
Seminggu sebelum pernikahannya, Finly berterus terang pada Aldo mengenai hubungannya dengan Jero. Namun Aldo menerima Finly apa adanya. Pernikahan itu pun berlangsung. Malam pertama tak dapat Finly lalui bersama Aldo, karena sepanjang malam Finly hanya menangis.
Sehari setelah pernikahannya, Finly semakin sedih karena Jero terbang ke Sidney. Hati Finly semakin hancur karena Jero mengatakan bahwa keberangkatannya ke Sidney karena ingin menjauhi Finly. Ia pun kembali patah hati. Dalam keadaan sedih, Finly pun jatuh dalam pelukan Aldo. Finly berusaha menerima pernikahannya dengan Aldo. Ia bahkan mau hamil. Sayangnya, kehadiran Alexa, tak juga membuat Finly mampu mencintai Aldo. Makanya, saat mendengar Jero kembali setelah 3 tahun berpisah, Finly langsung menemui Jero. Hubungan mereka kembali terjalin. Cinta mereka semakin bergelora. Tak peduli lagi dengan status Finly yang sudah menikah, mereka membenarkan perzinahan atas nama cinta.
Finly menarik napas panjang sambil menekan rasa sakit di hatinya. Ingatan masa lalunya begitu menyiksa batinnya. Jero, lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta, kini menolak dirinya. Jero telah melupakan bagaimana besarnya cinta mereka. Jero memilih hidup baru dengan cinta yang besar untuk Giani.
__ADS_1
Ya Tuhan, mengapa tak Kau hilangkan perasaan ini untuk Jero? Mengapa rasa ini tetap ada? Aku bukan pelakor! Aku hanya wanita yang berusaha memperjuangkan pria yang aku cintai. Namun aku akhirnya kalah. Dan ketika aku mencoba untuk memperbaiki hubunganku dengan Aldo, dia pun sudah menemukan wanita baik dalam hidupnya.
Tangis Finly pecah. Ia memeluk bantal kursi sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Tanpa ia sadari, penyakit itu sudah mengancam dirinya. Semuanya terjadi bagaikan hukuman yang harus di jalaninya.
Ketika Finly selesai menjenguk mama Sinta yang waktu itu masih koma, ia mendapati kalau dirinya mimisan. Ini bukan pertama ia alami. Sejak ia kuliah, Finly sudah sering mengalami mimisan. Kulitnya sering memar tanpa ada sebabnya. Namun Finly sering mengabaikannya.
Saat berjalan keluar dari ruangan mamanya, Finly tiba-tiba pingsan saat ia berpapasan dengan seorang dokter. Ketika ia bangun, ia sudah berada di ruang UGD dengan seorang dokter yang tadi berpapasan dengannya.
Dokter itu bernama dokter Alan. Seorang dokter ahli dalam. Ia langsung meminta Finly untuk segera memeriksakan diri karena dokter melihat ada tanda-tanda Leukemia pada diri Finly. Merasa penasaran dengan analisa dokter, secara diam-diam Finly melakukan pemeriksaan. Finly juga meminta dokter Alan untuk merahasiakan dari dokter Clara yang adalah kakak ipar Finly.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Finly pun menghadap dokter Alan untuk mengetahui hasilnya.
"Kamu memang mengidap leukemia, stadium 4. Saya berharap agar segera dilakukan pengobatan."
"Berapa lama lagi waktu saya untuk hidup? Saya tahu kemungkinan untuk sembuh di stadium 4 ini sangat kecil kemungkinannya."
"Maaf. Saya hanya dokter. Saya tidak bisa menentukan usiamu. Saya berharap agar kamu bisa kuat menghadapi semua. Salah satu yang menyebabkan pasien sembuh adalah selalu memiliki pengharapan dan hati yang selalu bersukacita."
Sejak saat itu, Finly pun melakukan berbagai macam pengobatan. Kepergiannya ke Amerika pun sebenarnya bukan untuk bekerja namun ia memeriksakan diri ke rumah sakit khusus penderita kanker di sana.
Dokter Alan sangat membantunya. Ia terus memberikan Finly semangat untuk berobat. Finly ingin hidup lebih lama bukan karena ingin bersama Jero. Bukan juga untuk merebut Aldo dari Joana. Finly hanya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk bersama Alexa.
*********
Aldo yang baru saja selesai rapat, terkejut melihat Finly yang sedang menunggu di depan ruangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Aldo sedikit ketus. Joana sebentar lagi datang, dan Aldo tak ingin tunangannya itu salah sangka dengan kehadiran Finly. Karena 2 bulan lagi mereka akan menikah.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar. Apakah boleh?" Tanya Finly dengan wajah penuh permohonan. Tak ada lagi Finly yang selalu berbicara keras pada Aldo. Wanita itu kelihatan begitu rapuh dan tak berdaya.
__ADS_1
Aldo sebenarnya malas untuk berbicara dengan Finly namun ia tersentuh juga melihat wajah sedih Finly.
"Baiklah. Waktumu hanya 10 menit." Aldo langsung membuka pintu ruangannya sementara Finly mengikutinya dari belakang. Pintu ruangan Aldo dibiarkan Finly terbuka sedikit.
"Katakan ada apa?" Tanya Aldo saat ia sudah duduk dibalik meja kerjanya. Finly berdiri di depan Aldo.
"Bolehkah setiap malam minggu Alexa menginap di apartemenku? Aku sudah bertanya pada Alexa. Dia mau asalkan kau mengijinkannya."
"Tidak! Terakhir kau memaksa Alexa untuk pergi bersamamu, Alexa justru mengalami kecelakaan. Aku ijinkan kau menemui Alexa di rumah dan tidak lebih dari 1 jam."
Finly berusaha menahan air matanya namun ia tak bisa. "Aldo, aku mohon. Berikanlah 1 hari setiap minggu agar Alexa bisa bersamaku. Aku ingin punya lebih banyak waktu bersamanya sebelum aku mati."
"Apa?"
"Aku mengidap kanker darah stadium 4. Sudah hampir 4 bulan ini aku menjalani kemoterapi. Aku mengatakan ini bukan supaya kamu mengasihani aku. Namun aku hanya meminta waktu bersama Alexa. Tidak banyak. Hanya sehari dalam seminggu. Aku mohon!"
Aldo menatap mantan istrinya itu dengan seksama. Mencoba mencari kejujuran di mata Finly. Namun badan Finly yang semakin kurus, garis hitam yang ada di bawah matanya serta kulitnya yang terlihat kusam, rambutnya yang terlihat menepis, membuat Aldo yakin kalau Finly memang sakit.
"Sudah stadium berapa?"
Air mata Finly semakin deras mengalir. Tatapan mata Aldo menjadi lembut.
"Stadium 4."
Hati Aldo sakit mendengarnya. Walaupun kini ia sudah mencintai Joana, namun ia tak bisa memungkiri kalau hatinya ternyata peduli dengan sakitnya Finly.
"Baiklah. Jika Eca mau, dia boleh ada di apartemenmu setiap malam minggu."
"Terima kasih. Dan aku mohon padamu, jangan katakan pada siapapun tentang sakitku ini." Finly sangat senang karena Aldo akhirnya mendukung keinginannya.
Tanpa mereka sadari, Joana ada di balik pintu. Ia mendengar semua percakapan itu.
__ADS_1
Nah, apa yang akan dilakukan oleh Joana dan Aldo setelah mendengar pengakuan Finly.
dukung emaknya....