
Hari ini, Giani akan menjemput Alexa di sekolahnya. Mereka janjian akan makan es cream di tempat faforit keduanya. Letaknya tak jauh dari sekolah Alexa.
"Sayang, kamu jadi pergi dengan Alexa?" Tanya Jero sambil membereskan meja makan.
"Iya. Jam 12 aku akan menjemputnya ke sekolah."
"Apakah tidak sebaiknya diantar oleh sopirku? Nanti kamu capek menyetir sendiri." Kata Jero sambil menghentikan kegiatannya mencuci piring dan menatap Giani yang masih duduk di meja makan. Jero memang tak mengijinkan Giani bekerja. Semuanya dilakukan oleh Jero. Hari minggu kemarin, saat Giani bangun sore, ia terkejut melihat Jero sedang menyapu halaman. Ruang tamu bahkan sudah rapih karena dibersihkan oleh Jero.
"Jarak dari rumah kita ke sekolah Alexa kan hanya 30 menit saja. Nggak akan membuatku capek."
Jero melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia mengeringkan tangannya, lalu duduk di samping istrinya.
"Gi, diantar paman Budi saja, ya? Nanti jam 11 aku akan menyuruhnya ke sini sehingga kalian bisa tiba di sekolah tepat waktu."
Giani menarik napas panjang. Ia sebenarnya kangen membawa kendaraan sendiri. Jero seperti terlalu overload protection. Dan dia tak ingin dibantah.
"Ok deh, aku tunggu paman Budi."
Jero tersenyum senang. Ia berdiri dan bermaksud akan ke kamar untuk bersiap ke kantor. Namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu.
"Gi, sesuai tanggal datang bulanmu, seharusnya hari ini kamu dapatkan?" Tanya Jero.
Giani membuka kalender siklus haidnya yang sudah dikirim oleh dokter. "Seharusnya memang hari ini atau besok. Kenapa memangnya?"
"Apakah sebaiknya kita beli tespack saja?"
"Jangan dulu. Nantilah kalau sudah lewat seminggu. Kan yang lalu juga sudah lewat 4 hari namun nggak jadi."
Jero menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum. "Sudah nggak sabar ingin tahu hasilnya. Aku mandi dulu ya?" Jero pun segera menaiki tangga.
Giani memejamkan matanya. Ada sesuatu yang menusuk hatinya. Bagaimana jika dia memang hamil? Haruskah mereka berpisah?
********
Jam 11, Budi sudah menjemput Giani. Pukul 11.25, mereka sudah menuju ke sekolah Alexa. Sekolah Alexa adalah salah satu TK terbaik di kota ini. Sistem keamanannya juga sangat baik karena anak hanya dapat dijemput oleh orang tua. Orang lain bisa menjemput jika ada ijin dari orang tua.
Aldo sudah mengirimkan foto Giani ke aplikasi khusus yang dibuat oleh sekolah. Satpam akan mengijinkan Giani untuk menjemput Alexa dengan pengenalan foto dan kartu identitas.
Mereka tiba di sekolah tepat di saat anak-anak TK sudah pulang.
Saat Giani baru saja akan menaiki tangga menuju ke gerbang sekolah, dilihatnya Finly yang menarik tangan Alexa. Finly tentu saja diijinkan masuk karena ia adalah ibu Alexa. Mungkin Aldo belum memberitahu pihak sekolah kalau hak asuh Alexa sudah ada padanya.
"Bibi....!" Alexa langsung menarik tangannya dari genggaman Finly dan berlari ke arah Giani.
"Ada apa, Eca?" Tanya Giani saat Alexa justru bersembunyi dibalik tubuhnya.
Finly mendekat. "Aku hanya ingin mengajak Alexa makan siang."
"Apakah sudah minta ijin pada kak Aldo?" Tanya Giani sementara tangannya menarik Alexa untuk ada di depan.
"Haruskah minta ijin untuk makan bersama anakku?" Pekik Finly marah.
"Kak, bukankah hak asuh anak ada pada kak Aldo. Kakak memang mamanya Alexa, tapi kalian sudah cerai." Giani berusaha menjelaskan secara lembut pada Finly. Ia tak ingin Alexa melihat mereka bertengkar.
"Eca, mama hanya ingin makan siang dengan Eca. Kita pergi kemana saja yang Alexa mau." Finly melembut. Ia mengulurkan tangannya pada Alexa.
__ADS_1
"Nggak mau. Eca mau pergi makan es cream dengan bibi." Alexa menggeleng.
"Nanti mama ajak Eca makan es cream setelah makan siang." Bujuk Finly.
"Nggak mau. Eca maunya sama bibi..." Alexa menggengam tangan Giani erat.
"Eca, ayo! Mama kan kangen dengan Alexa!" Finly memegang tangan Alexa namun gadis kecil itu justru menarik tangannya. Ia bahkan berlari menuruni sisa anak tangga dan menyeberang jalan.
"Alexa....!" teriak Giani panik, ia pun mengejar Alexa namun yang terjadi adalah, sebuah mobil yang melaju kencang di jalan itu secara cepat menabrak tubuh mungil Alexa. Anak itu terlempar ke atas dan akhirnya jatuh dengan kepala membentur trotoar.
"Ah........!" Teriak Giani dengan rasa takut yang dalam saat melihat tubuh ponakannya itu berlumuran darah. "Eca.....!" pekiknya dalam sambil mendekap tubuh Alexa.
***********
Geraldo Purwanto, duda keren yang begitu mempesona banyak wanita, seakan tak memperdulikan rambutnya yang acak dan wajahnya yang panik saat memasuki ruangan rumah sakit ini.
Air matanya tak bisa ditahannya lagi. Rasa takut akan kehilangan anaknya membuat Aldo langsung meninggalkan ruang rapat dan langsung ke rumah sakit saat Budi meneleponnya.
Setelah bertanya, Aldo segera menuju ke ruangan UGD.
Terlihat di depan ruangan Giani yang menangis dalam pelukan Jero, Finly yang duduk di kursi tunggu seperti orang yang kehilangan nyawa, Di sebelahnya ada Budi.
Jero sebenarnya ikut menyusul ke sekolah Alexa. Ia ingin memberikan suprise dengan ikut bergabung untuk makan es cream. Jero tiba, tepat di saat mobil itu menabrak Alexa. Jero yang menghentikan sopir itu yang akan lari dengan menariknya ke luar dari mobilnya.
Setelah petugas keamanan sekolah menahan sopir itu sampai nantinya polisi tiba, Jero juga yang mengangkat tubuh Alexa untuk dibawa ke rumah sakit.
"Kak....!" Giani langsung melepaskan diri dari pelukan Jero dan berlari memeluk kakaknya.
"Bagaimana keadaan anakku? Di mana dia?" Teriak Aldo frustasi.
"Aku ingin masuk!"
"Sabar kak. Nanti mereka akan mengijinkan kita melihat Alexa."
Pintu ruang UGD terbuka. Dokter Clara sendiri yang keluar
"Syukurlah kau sudah datang, Aldo. Kami akan segera mengoperasi Alexa. Ada gumpalan darah di otaknya. Dan aku ingin kau tahu kalau Alexa sangat kritis."
Air mata Aldo langsung jatuh.
Dua orang perawat mendorong tempat tidur Alexa menuju ke ruang operasi.
Hati Aldo hancur melihat keadaan putrinya. "Alexa.....jangan tinggalkan papa, nak." Ujar Aldo saat ia tak diijinkan untuk masuk ke ruang operasi.
Begitu pintu ruang operasi tertutup, Aldo menatap Jero dan Finly secara bergantian. "Kalian berdua, pergi dari sini!"
"Aldo, Alexa juga anakku." Kata Finly sambil menangis.
"Anakmu? Sejak kapan kau menganggap Eca anakmu? Bukankah kau lebih suka menghabiskan waktumu bersama lelaki bule ini di tempat tidur? Pergi kalian berdua dari sini! Pergi...!" Aldo mendorong tubuh Finly. Ia juga mendorong Jero agar menjauh.
Jero sebenarnya tak mau pergi. Namun Giani memintanya dengan tatapan mata, sehingga akhirnya Jero pun melangkah pergi. Namun Finly tidak pergi. Ia duduk agak jauh sambil terus menangis. Pagi ini, entah kenapa ia ingin bertemu Alexa, makanya ia datang ke sekolah anaknya. Penolakan Alexa ternyata sangat melukai hatinya. Finly baru tahu kalau ia sangat mencintai putrinya itu.
Gi, aku meninggalkan makan siang di mobil
Paman Budi masih menunggumu.
__ADS_1
Giani membaca pesan yang dikirimkan Jero padanya. Perutnya memang sudah bergerak minta di isi, namun selera makannya hilang saat membayangkan apa yang menimpa Alexa.
Selama 3 jam lebih menunggu di depan ruang operasi akhirnya dokter Clara keluar.
"Bagaimana anakku, Clara?" Tanya Aldo tak sabar. Tepat di saat itu Joana datang.
Clara, yang adalah istri Dion itu menggeleng. Matanya pun nampak berkaca-kaca.
"Kami sudah berusaha. Gumpalan darahnya sudah dibersihkan. Namun Alexa masih kritis. Kemungkinnya untuk hidup hanya 15% saja. Hanya keajaiban yang dapat membuat Alexa membuka matanya."
"Tidak....! Tidak....!" Aldo memukul dinding yang ada di depannya. Joana langsung mendekat. Memeluk pria itu sambil mengusap punggungnya. Aldo mendapatkan kekuatan dalam pelukan Joana.
"Kau harus kuat, Aldo. Kita akan berjuang bersama untuk keajaiban yang akan diterima oleh Alexa." Kata Joana.
Finly terpana melihat pemandangan itu. Ia tak menyangka kalau ada perempuan yang sangat dekat dengan mantan suaminya. Bule lagi.
***********
Giani tiba di rumah saat jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Alexa masih diruang perawatan khusus. Mereka tak boleh menjenguknya. Hanya bisa melihatnya dari kaca.
Aldo memilih untuk menyewa pavilum yang ada di lantai paling atas rumah sakit. Pavilium itu dikhususkan untuk keluarga pasien. Finly sudah pulang juga. Budi dan paman Leo menemani Aldo di sana. Giani pun memilih pulang karena ia merasa lelah dan bajunya masih baju yang sama saat dipakainya menemui Alexa di sekolah. Beberapa bagian baju itu ada bercak darah Alexa.
Jero yang membukakan pintu untuknya. Ia langsung memeluk Giani dan tangis Giani pecah kembali.
"Bagaimana Eca?" Tanya Jero.
"Masih kritis. Dokter mengatakan kemungkinan Eca untuk hidup hanya 15%. Aku nggak mau kehilangan Eca. Aku menyayanginya."
Jero menghapus air mata istrinya. "Tenangkan dirimu. Kita akan berdoa bersama meminta Tuhan menolong Alexa."
"Aku mau mandi!" Giani melepaskan pelukannya. Ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamar.
Saat ia selesai mandi, dilihatnya Jero sudah menyiapkan makan malam dan segelas susu.
"Aku nggak lapar." Kata Giani. Ia hanya meminum susunya sampai habis lalu naik ke tempat tidur. Tubuh dan pikirannya sangatlah lelah.
"Kamu nggak makan, sayang?" Tanya Jero.
"Aku mengantuk!" Kata Giani lalu segera membaringkan tubuhnya.
Keesokan paginya, Giani bangun dengan tubuh yang masih lelah dan perutnya terasa agak nyeri.
"Ada apa, Gi?" Tanya Jero melihat Giani yang meringis.
"Perutku sakit. Kayaknya aku mau datang bulan." Sambil berkata demikian, Giani merasa ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya.
Giani mengangkat gaun tidur. Ia menoleh ke arah celana dalamnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Jero sambil berpakain.
"Aku berdarah. Sepertinya aku sudah haid."
Dasi yang ada di tangan Jero langsung jatuh....
Tisue...mana tisue...
__ADS_1
jangan lupa dukung emak ya......