Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Masih Main Belakang


__ADS_3

Gibran tersenyum pada Fatih yang sedang duduk bersama Mentari, Fatih dan Gibran bersalaman.


"Mentari pulang sama saya, dia harus temani saya makan sama teman - teman." Ucap Fatih.


"Oh iya, silahkan. " Ucap Gibran.


"Maaf ya Mas Gibran. " Ucap Mentari.


"Nggak apa - apa kok, lagian kita kan sudah selesai. " Ucap Gibran.


"Yuk, kita kesana. " Ajak Fatih.


"Kalau begitu saya pamit. " Ucap Gibran.


"Hati - hati Mas di jalan. "


Gibran tersenyum, dan langsung berjalan keluar dari rumah makan, sedangkan Mentari menatap punggung kekasih nya hingga tidak terlihat.


Mentari dan Fatih berjalan ke arah meja, dimana teman - teman Fatih sedang melihat buku menu.


"Kenalkan ini istri saya, Mentari. " Ucap Fatih pada teman - teman nya.


"Salam kenal ya. " Ucap Salah satu teman Fatih.


Mentari tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, Fatih lalu memberikan buku menu pada Mentari.


"Mas, saya kenyang tadi habis makan. " Bisik Mentari.


"Kamu pilih, nanti kita makan satu piring. " Ucap Fatih.


"Tapi kenyang Mas. "


"Iya, makan nya kita satu piring, hormati mereka. Kamu pesan apa, kamu yang pilih. Asal jangan yang pedas. "


"Iya, nanti saya pilih. "


Fatih pun kembali bercengkrama bersama teman - teman nya, tangan Fatih berada di belakang kursi Mentari, dan sesekali tangan nya mengusap pundak Mentari.


"Saya pesan ini. " Ucap Mentari dan Fatih langsung meminta pelayan mencatat nya.


"Yank, mereka ini teman waktu di IPDN loh, itu Aji dia sebagai Kadis Dinas PU, Bowo, Camat Selok Angke, kamu pasti kenal kan sama Mulya Ajudan Bupati kita. Waktu kita masih pendidikan, kita ini satu Gank lah istilah nya. " Ucap Fatih menjelaskan.


"Jadi cerita nya sekarang reuni ya? "


"Iya Mentari, tapi kami kira, Fatih nikah nya sama Neli, padahal kalau kita bawa pasangan semua, Neli yang di ajak, tapi malah nikah nya sama orang lain. " Ucap Bowo.


"Kita juga nggak tahu ya, kaget saat pas di undangan, dan Pas banget kita bertiga sedang ada acara dinas luar. " Ucap Aji.


"Nggak apa - apa, kalau ada tugas masa harus di tinggal demi kepentingan pribadi. " Ucap Fatih.


Makanan pun datang, sesuai pesanan Mentari dan Fatih makan satu piring berdua, Mentari yang masih terasa kenyang, hanya makan sedikit.


"Nggak menyangka, kalian itu romantis. " Ucap Mulya melihat kedekatan Fatih dan Mentari.


"Ya harus begini sama istri, biar kalian percaya, cinta saya sama istri itu besar. " Ucap Fatih.


"Mas."


"Kenapa? "


"Perut saya kenyang, ini sesak banget. " Bisik Mentari.


"Mas bantu kamu longgarin rok kamu ya, biar lega di buka resleting nya. " Bisik kembali Fatih.


"Nggak akh, kayak nggak cara lain apa. " Ucap Mentari kaget.


"Mau duduk posisi perut kekenyangan. "


Mentari akhirnya pasrah, karena posisi mereka berdua di ujung dan tak terlihat oleh pengunjung lain, tangan Fatih mulai masuk di balik seragam Mentari, tangan nya mencapai pengait rok nya dan di lepaskan nya.

__ADS_1


"Enak kan? "


"Iya."


Fatih dan teman - teman nya saling berbagi cerita, Mentari hanya diam mendengarkan. Saat tangan kiri Mentari berasal dekat dengan tangan kanan Fatih, entah sengaja atau tidak, Fatih memegang tangan nya dengan mengusap punggung tangan.


Mentari hanya diam sambil menatap ke arah nya, Fatih tersenyum ke arah Mentari saat tahu istri nya sedang menatap nya.


****


"Ih..... dasar cari kesempatan dalam kesempitan. " Mentari memukul punggung Fatih yang sedang tengkurap.


"Ampun Tari, ampun... " Idak Fatih yang terus di pukul oleh Mentari.


"Dasar, otak mesum. "


Buuuggghhhhh


Buuuuhhhhhhh


"Ampun.... Mentari... ampun....!!! "


Tok... tok....


"Awas ya, sekarang selamat karena ada ketukan pintu. " Ucap Mentari langsung berjalan ke arah pintu depan.


"Hi.. Mentari. " Sapa Neli.


"Hi.. juga, masuk. " Ucap Mentari.


"Mas Fatih ada kan? Mobil nya di lihat ada."


"Ada, duduk aja dulu. "


Mentari berjalan ke arah kamar, dan Fatih sedang mengaca punggung nya, setelah kena pukulan Mentari.


"Hah, Neli. "


"Sana, temuin. "


Fatih merapikan kaos nya, dan berjalan ke luar kamar. Terlihat Neli tengah duduk, dan langsung melemparkan senyum nya.


"Mas, kamu kemana aja? saya kangen tahu." Ucap Neli sambil memeluk lengan Fatih.


"Mas bilang, jangan ke rumah. "


"Saya kan kangen kamu Mas, masa nggak boleh kesini. Lewat telepon nggak asik, biasa nya kamu ke rumah, sekarang tidak. Biasanya kamu sering chat sekarang tidak, kenapa sih?"


"Mas, kan sibuk, terus lagi nggak ada banyak waktu. "


"Mas, kita nikah aja yuk, nggak apa - apa sekarang jadi yang kedua dulu. "


"Nggak bisa Neli, Mas nggak bisa. Tunggu semua nya beres semua, Mas sama Mentari juga sedang mencari cara, bagaimana bisa berpisah. "


"Tapi lama. "


"Sabar ya. "


Sedangkan di dalam kamar, Mentari sedang berbalas chat dengan Gibran, hingga Mentari tertawa cekikikan di dalam kamar.


Pintu kamar terbuka, Fatih mengambil kaos dan celana jeans dari dalam lemari nya, dan masuk kedalam kamar mandi.


"Mas, kamu mau keluar? "


"Iya, kenapa? " Ucap Fatih dari dalam kamar mandi.


"Pulang malam ya?"


"Kenapa memang nya? " Tanya Fatih yang sudah rapih.

__ADS_1


"Malam ini, saya menginap di rumah orang tua saya ya. " Jawab Mentari meminta ijin.


"Iya, besok saya berangkat dari sana. "


"Iya."


"Makasih Mas. "


Fatih bersama Neli pun pergi, Mentari mengintip dari jendela kamar nya, Mentari hanya tersenyum kecut saat mereka berdua masuk kedalam mobil.


*****


"Suami kamu kok nggak ikut? " Tanya Ibu Nuri.


"Dia sedang sibuk Bu, jadi saya aja yang menginap disini. " Jawab Mentari.


"Kamu tidak lagi bertengkar kan? "


"Nggak Bu, nggak. Kita baik - baik saja kok."


"Syukurlah, ibu senang dengar nya. "


"Ayah mana Bu? "


"Biasa di belakang, lagi sama Ayam - ayam nya. "


"Eh, anak Ayah. " Ucap Pak Slamet.


"Apa kabar anak Ayah? "


"Alhamdulillah baik Ayah. " Ucap Mentari sambil memeluk tubuh Ayah nya.


"Fatih mana? "


"Mas Fatih sibuk, Mentari sendirian kesini tapi sudah ijin kok. "


"Kamu , sedang tidak lagi berantem kan? "


"Nggak, saya tidak lagi berantem Yah. "


"Ayah takut nya, kamu kesini malah kabur. "


*****


"Jam segini dari man kamu baru pulang? " Tanya Mentari pada Sakti adik lelaki satu - satu nya.


"Biasa habis kerja di cafe. " Jawab Sakti.


"Kamu kerja di cafe? " Tanya kembali Mentari.


"Sebagai penyanyi Mba, sama band nya Sakti. Lumayan lah buat jajan. " Jawab Sakti.


"Kuliah kamu gimana? "


"Alhamdulillah lancar, sedang susun skripsi."


"Mba senang dengar nya, kalau kamu sudah mau lulus. Jangan kecewakan, Ibu sama Ayah, bagaimana Ayah bekerja keras buat kita berdua. "


"Iya mba, tapi mba juga sudah kecewakan Ayah sama Ibu. Mba masih berhubungan dengan Mas Gibran. "


"Mba masih mencintai nya Sakti. "


"Kalau ibu sama Ayah tahu, pasti kecewa. "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2