
Mentari dan Fatih sampai di pesta pernikahan Gibran dan Tita, terlihat teman - teman nya masih berada di lokasi, bahkan Bapak kepala sekolah serta Istri langsung berdiri bersalaman dengan dengan Mentari dan Fatih.
"Saya kira Ibu tidak datang. "
"Datang Pak, kami dari luar kota, belum sempat pulang , kita langsung kesini ya kan Mas. "
"Benar Pak, jadi kita sampe nya siang. " Ucap Fatih.
"Hi... kirain nggak datang. " Sapa Aneke.
"Datang lah, kita baru sampai dari luar kota. Ini juga sengaja langsung kesini. " Ucap Mentari.
Kamu temui Gibran dulu, soalnya tadi dia juga chat sama saya. " Bisik Aneke.
"Kalau begitu, kita ke sana dulu ya. " Ucap Mentari langsung menggandeng tangan Fatih.
Gibran tersenyum saat Mentari datang bersama Fatih, tidak dengan Tita dan Ayah Gibran Pak Harun.
"Selamat Mas. " Ucap Mentari bersalaman dengan Gibran.
"Makasih Tar, kamu sudah datang. Mas kira kamu tidak datang. " Ucap Gibran dengan mata berkaca - kaca.
"Selamat Tita, semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. " Ucap Mentari, sambil bersalaman dengan Mentari.
"Makasih ya. " Ucap Tita singkat.
"Selamat ya. " Ucap Fatih menyalami Tita dan Gibran.
"Fatih." Ucap Gibran sambil memegang tangan Fatih.
"Iya."
"Boleh saya pinjam Mentari sebentar saja. "
"Boleh." Ucap Fatih sambil tersenyum.
Mentari menatap ke arah Fatih , dan Fatih tersenyum sambil menganggukkan kepala nya. Tidak dengan Tita, tapi Fatih menggeleng kan kepala nya, agar memberikan ijin pada mereka.
Gibran membawa Mentari menjauh, dan duduk di salah satu kursi, dimana para tamu undangan, tatapan mata mereka beralih pada kedua nya.
"Mentari, terima kasih ya untuk hari - hari indah selama 3 tahun, sekarang kita memiliki kehidupan sendiri, kamu sama pasangan kamu, saya dengan pasangan saya. Biarlah cerita kita, hanyut dalam lautan kehidupan, terlupakan untuk tidak di kenang. "
"Mas, saya sudah bahagia dengan Mas Fatih. Mas Gibran juga harus bahagia dengan Tita. Bagaimana juga, Tita sekarang istri nya Mas."
"Iya, kita sama - sama menjaga jodoh orang. Mas hanya ingin, kita masih tetap berteman, walau beda status. Mas ingin mulai detik ini, kita lupakan semua nya. "
"Mas bahagia kan? "
__ADS_1
"Saya harus bahagia, kamu juga bahagia dengan Fatih. "
"Mas, kalau Mas tidak bahagia kenapa lanjutkan, tapi ini sudah terlambat. Mas harus belajar menerima Tita, sekarang Tita istri Mas, cintai dia seperti Mas mencintai saya. Bukan melihat saya bahagia, Mas harus di paksa bahagia. Mas, percaya dengan seiring waktu Mas akan mencintai dan menyayangi Tita. "
"Ini yang Mas suka dari kamu, tapi kamu memang bukan jodohnya Mas. Fatih beruntung memiliki istri seperti kamu, Mas bahagia kalau memang kamu bahagia dengan pernikahan yang awal nya terpaksa sekarang menjadi suatu pernikahan yang sangat luar biasa bahagia nya. "
"Iya Mas, saya bahagia lahir batin sekarang. "
Fatih datang menghampiri Mentari dan Gibran yang sedang duduk berdua. Mentari dengan segera bangun dan menggandeng lengan Fatih.
"Jaga dia, jangan sakiti dia. " Ucap Gibran.
"Saya akan menjaga nya, mencintai nya hingga batas waktu saya habis. Terima kasih, selama ini kamu sudah menjaga jodoh saya, semoga pernikahan kamu bahagia dunia akhirat. "
"Amin, Amin makasih. "
Gibran tersenyum dan kembali ke atas pelaminan, sedangkan Mentari tersenyum haru bahagia hingga kedua mata nya berkaca - kaca.
"Jangan nangis, masa tangisi suami orang." Ucap pelan Fatih sambil mengusap sedikit air mata Mentari.
"Bukan menangisi suami orang tapi, kata - kata Mas Gibran bikin saya melow Mas. "
"Mas ngerti kok, sekarang mau langsung pulang atau gabung sama teman - teman lain nya. "
"Gabung saja Mas, nggak enak juga kalau langsung pulang. "
Sedangkan Tita diam, sambil menatap ke arah Mentari yang sedang tertawa bersama teman - teman mengajar nya, Gibran memegang tangan Tita sehingga pemilik tangan menoleh ke arah nya.
"Kamu jangan cemburu sama Mentari, dia sudah bahagia bersama suami nya. Mas mulai detik ini, akan belajar mencintai kamu. Dan kamu jangan berburuk sangka kalau Mas akan main belakang. "
"Makasih Mas, sudah mau belajar untuk menerima saya dan mencintai saya.Saya janji, akan menjadi wanita sholehah nya Mas, belajar jadi istri yang bisa membahagiakan Mas. "
"Terima kasih ya, kita sekarang harus belajar saling terbuka. "
Dari jauh Mentari tersenyum, saat melihat Gibran memegang tangan Tita. Senyum bahagia, melihat Gibran menerima takdir seperti Mentari.
"Mas harus yakin, dan saya pun yakin. Allah memberikan pasangan yang terbaik, karena Allah tidak pernah salah memilih kan kita jodoh. " Ucap Mentari dalam hati.
"Kamu adalah jodoh saya, jodoh yang sebenarnya. Saya yakin, dia adalah yang terbaik, walau jalan takdir nya harus seperti ini. " ucap Gibran dalam hati nya.
*****
"Mas ini ada surat undangan Dinas . " Ucap Mentari sambil menyerah kan surat undangan Dinas.
"Tumben, di kirim ke rumah. " Fatih langsung membuka surat undangan Dinas tersebut.
"Dari mana Mas? "
__ADS_1
"Yank, ini undangan dari Pak Gubernur, Mas harus hadir lusa nanti. Acara nya 3 hari. "
"Oh, ya harus datang Mas, itu undangan nya langsung dari provinsi. "
"Iya, khusus para camat. "
"Kamu mau ikut? "
"Mas ini bagaimana, masa saya di ajak. "
"Disini ada acara ramah tamah di malam terakhir, boleh bawa istri. Masa Mas datang sendiri. "
"Ya udah, nanti harus siapkan pakaian apa saja? "
"Pakai kebaya Yank, ini ada dress code nya."
"Kebaya ya. "
"Kenapa, nggak punya? "
"Ada punya, nanti saya siapkan. "
"Iya sayang, makasih ya sudah mau dampingi suami. "
"Sama - sama sayang. "
Fatih langsung menelepon Pak Sekmat, dan panggilan nya pun langsung tersambung.
"Assalamu'alaikum Bapak. " Soal Fatih.
"Walaikumsalam Pak Fatih, bagaimana Pak? " Ucap Pak Sekmat.
"Pak, lusa saya ada undangan dari Pak Gubernur, sama istri saya harus datang. Tolong ya Pak, kalau ada apa - apa saya serahkan pada Bapak dulu. "
"Siap Pak, siap itu undangan langsung ke rumah ya? "
"Seperti nya begitu, lewat kurir. Undangan nya mendadak. "
"Berarti ada acara rapat dengan perangkat desa kita pending? "
"Nggak, kita majukan besok saja, tolong sebar kan ke group saja. Jam 10 siang acara nya. "
"Siap Pak, saya akan share di group. "
"Terima kasih Pak, maaf saya merepotkan Bapak. "
"Nggak apa - apa Pak, saya kan bawahan nya Pak Fatih, walau usia lebih tua saya, tapi saya harus hormati pimpinan. "
__ADS_1