Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Memutuskan


__ADS_3

Hiks.. hiks.. hiks..


Mentari menangis menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, Fatih masuk kedalam kamar, dan duduk di samping Mentari.


"Kita sudah salah, salah dalam hubungan ini. Status kita sebagai suami istri, sudah menyalahkan aturan. Benar apa yang di katakan orang tua Gibran, tapi kita seperti ini karena kita memiliki hati yang lain. "


"Saya mencintai nya Mas, dari dulu. Saya ingin perjuangkan hubungan itu, hiks.. hiks.. tapi seperti nya semua nya nggak akan bisa."


"Kamu mencintai nya? "


"Saya mencintai nya Mas, benar - benar mencintai nya. "


"Tapi dia sudah di jodoh kan? "


"Nggak akan mau, pasti dia akan menunggu saya. "


Fatih hanya diam, dan memberikan sebuah sapu tangan pada Mentari.


"Hapus air mata kamu, di luar sana, kamu nggak pantas menangisi pria lain. Kalau memang Gibran jodoh kamu, dia tidak akan pergi jauh. "


"Mas sendiri bagaimana? "


"Kamu jangan bahas tentang masalah saya." Ucap Fatih langsung beranjak pergi meninggalkan Mentari di dalam kamar.


****


Mentari mencari Gibran, namun tidak ada, hingga mencari ke setiap kelas, Aneke langsung keluar dari dalam kelas, dan menghampiri Mentari.


"Kamu cari siapa? "


"Mas Gibran. "


"Kamu tidak tahu? "


"Apa? "


"Saya baru tahu tadi pagi, dari bapak kepala sekolah. Kalau dia nanti malam, akan melamar Tita. "


Mentari langsung diam seribu bahasa, di pegang nya, kalung pemberian dari Gibran. Mentari tersenyum, dan tanpa dirinya sadari, air mata keluar dari sudut kedua mata nya.


"Kamu nangis? "


"Mas Gibran sama Tita. Pantas, Tita sama saya beda. "


"Hapus air mata kamu, tidak pantas kamu menangisi pria lain, kamu itu seorang istri, nggak pantas menangisi seorang pria. "


"Kamu kan tahu cerita nya Aneke. "


"Saya paham, kamu belajar ikhlas, bukan nya impas kan, kamu menikah, Gibran patah hati. Sekarang Gibran tunangan, kamu patah hati juga. "


"Tapi dia akan menunggu saya. "


"Menunggu sampai kapan? Kamu pikir, perceraian gampang gitu. Kalian sudah salah, pernikahan kalian buat main - main. "


*****

__ADS_1


Fatih sampai di rumah, namun Mentari tidak ada, bahkan meja makan pun masih kosong. Fatih mencoba menghubungi Mentari, namun tak juga di angkat.


"Kemana tuh anak, sudah sore malah belum datang. "


Fatih langsung berganti pakaian, dan langsung menuju ke arah dapur, untuk memasak .


"Kemana tuh Mentari, nggak mikirin apa suami lapar begini. " Fatih langsung mengeksekusi sayuran yang ada di dalam kulkas.


Sedangkan di luar sana, Mentari sempat menghubungi Gibran, dimana mereka berdua sekarang telah duduk bersama di sebuah taman.


"Mas kenapa tidak cerita? "


"Maaf kan Mas. "


"Katanya Mas akan menunggu saya, tapi sekarang malah Mas tunangan sama Tita, bagaimana cerita nya? "


"Orang tua Mas menjodohkan Mas sama Tita, dan orang tua Mas tidak merestui hubungan kita. Mas melakukan ini terpaksa. "


"Terus? "


"Kita akhiri saja, percuma Mentari, sebuah pernikahan tidak boleh untuk di permainkan, benar apa kata Bapak, Mas sudah jadi orang ketiga, kita pacaran di atas sebuah janji suci tapi kita nodai. "


Mentari tersenyum sambil mengusap air mata nya, Gibran pun menundukkan kepala nya, hingga sebuah tangan kecil memegang tangan Gibran.


"Jadi kita, belajar untuk hidup bersama pasangan kita, kemarin itu anniversary kita yang terakhir, berarti Mas sudah rencanakan bukan? "


"Maaf."


"Terima kasih untuk 3 tahun bersama, semoga lancar sampai hari pernikahan. "


"Saya pamit Mas, Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."


*****


"Sampai malam begini kemana tuh anak, kalau begini kan jadi khawatir. "


Tak lama, Mentari datang dengan motor nya, Fatih langsung mendekat dan akan menegur nya, saat akan mengucapkan sepatah kata, Mentari langsung lari, dengan wajah nya yang menangis.


"Itu kenapa lagi? dari pagi kerjaan nya nangis terus. " Fatih langsung berjalan menyusul Mentari.


"Kamu kenapa? " Tanya Fatih.


"Nggak apa - apa Mas. " Jawab Mentari.


"Cerita sama saya, siapa tahu saya bisa bantu kamu. "


"Bantu apa Mas, nggak ada yang bisa di bantu. "


"Masalah hubungan kamu? "


"Mas Gibran, malam ini bertunangan, dia tidak akan menunggu saya lagi, dia putuskan mengikuti apa kata orang tua nya, hati saya sakit saat dia bilang sekarang, sahabat an saja. "


Hiks.. hiks.. hiks..

__ADS_1


"Hubungan yang tidak di restui, membuat kita mengikuti apa keinginan orang tua, hidup dengan pilihan masing - masing dari orang tua. "


"Terus, kamu apa ingin lanjut atau sudah sampai disini? " Tanya Fatih.


*****


Gibran memegang cincin yang akan di sematkan di jari manis Tita, beberapa teman mereka berdua dari tempat mengajar nya, menyaksikan acara pertunangan tersebut.


"Mas, ayo pasangkan cincin nya. " Bisik Tita.


Gibran diam, dengan tatapan mata yang terus menatap jemari Tita. Sedangkan yang melihat, sudah mulai berbisik membicarakan Gibran.


"Gibran, cepat pasangkan cincin nya, kamu nggak dengar apa, mereka bicarakan kamu sekarang, jangan buat Bapak malu. " Ucap Pak Harun.


"Hari ini, malam ini, saya sudah memutuskan untuk memilih, mungkin garis takdir saya seperti ini, menerima takdir atas pilihan terbaik, insya Allah saya akan kuat dan ikhlas menerima nya. " Gibran pun menyematkan cincin pada jari manis Tita, terlihat wajah bahagia Tita, saat ini telah resmi menjadi calon istri Gibran.


"Bapak lega sekarang, kamu mengikuti apa kata Bapak. "


*****


"Loh, kamu nggak mengajar? " Tanya Fatih.


"Lagi nggak enak badan. " Jawab Mentari.


Fatih memegang kening Mentari, namun segera menghindar, Mentari langsung menjauh dari Fatih.


"Kening kamu, hangat loh. "


"Nanti juga sembuh. "


"Mas antar kamu ke Dokter ya. "


"Nggak usah, nanti juga sembuh. "


Mentari meletakkan sarapan pagi, di atas meja, dan mengambil kan untuk Fatih sarapan.


"Mas makan ya, saya mau masuk kedalam kamar. "


Fatih saat akan mengucapkan kata - kata, Mentari sudah berjalan masuk kedalam kamar nya. Fatih langsung menyusul, dan melihat Mentari sudah berbaring di atas tempat tidur.


****


Fatih menyelesaikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani, namun pikiran nya masih pada Mentari.


"Mentari gimana ya keadaan nya? Dia lagi patah hati. "


Fatih mencoba menghubungi Mentari namun tak kunjung di angkat, hingga 10 panggilan tak kunjung di angkat juga.


"Kok jadi pikiran begini ya, ah.. itu anak bikin khawatir saja. " Ucap Fatih beranjak bangun dan langsung ke luar dari ruangan nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2