
"Mas lihat tuh, anak kecil lucu ya. " Tunjuk Mentari pada anak kecil laki - laki yang sedang bermain pasir.
"Mau ya? " Tanya Fatih.
"Mau lah Mas, lucu banget. " Jawab Mentari.
"Kalau mau, balik ke hotel yuk, kita buat dedek bayi. "
"Ih... mau nya, tadi setelah Shalat Shubuh aja kita buat Mas, mandi kita buat, tadi malam dus kali Mas minta. Adonan gimana mau jadi, lagi - lagi adonan mentah datang. "
"Yank, belum tentu dong, adonan matang di dalam di itu jadi, masa baru sekali jadi. "
"Bisa aja Mas, nggak mungkin nggak bisa. "
"Yuk ah, balik lagi ke hotel. "
"Nggak akh, di dalam kamar aja mumet kepala, pengen yang lihat seger - seger, tuh banyak bule pada berjemur, sedap benar dah lihat nya. "
"Suami kamu nggak enak apa di pandang nya? "
Mentari menoleh ke arah Fatih, lalu mengalihkan padangan nya pada pria bule yang sedang berjemur.
"Nggak."
Aaaaawwwww
"Sakit Mas. "
"Sekali lagi bilang begitu, Mas gempur kamu sampai nggak bisa jalan. "
"Sadis."
"Biarin sadis juga, itu hukuman buat istri yang menghina suami. "
"Ih... siapa yang menghina, nggak menghina kok."
"Tadi, katanya lebih sedap lihat tuh cowok bule, bukan nya itu penghinaan, ada pasal nya loh. "
"Jadi mau penjara kan saya Mas nya? Silahkan kalau berani. "
"Berani lah, kan penjara di kamar, Mas ikat kamu biar di kamar terus. "
"Jahat."
"Biarin, mending jahat sama istri dari pada sama orang. "
"Ih.. ada pasal nya juga, pasal KDRT. "
"Sok tahu, kayak tahun bunyi pasal - pasal. "
"Tahu lah. "
"Coba apa bunyi nya? "
"Cari aja di mesin pintar. "
"Sama aja nggak tahu. "
*******
"Mau kemana Yank?"
"Mandi Mas, gerah tahu habis jalan - jalan."
__ADS_1
Fatih mendorong tubuh Mentari kedalam kamar mandi lalu mengunci nya, dan menyalakan shower hingga kedua nya basah.
"Mas."
"Kita mandi sama - sama. " Fatih langsung melahap bibir tipis Mentari, ciuman panas, Fatih daratkan di sekujur leher nya, hingga meninggalkan jejak.
Kedua tangan mereka saling membantu melepaskan pakaian, yang melekat pada tubuh mereka. Kini tubuh mereka tanpa sehelai benang, dengan air yang membasahi kedua nya. Fatih memutar tubuh Mentari, hingga kini menghadap ke arah dinding tembok, dari arah belakang, Fatih mencoba menerobos masuk milik nya.
Kedua tangan Mentari, bertumpu pada korslet, hingga kedua milik nya bergelantungan bergerak, mengikuti irama hentakan yang di lakukan oleh Fatih.
Suara kedua nya menghiasai kamar mandi, jeritan nikmat yang di rasakan Mentari, membuat Fatih terus semangat mengeluarkan hasrat nya.
"Mas.... enak banget...!!! "
"Enak mana sayang, depan atau belakang? "
"Enak semua Mas. "
Fatih terus menghentak kan milik nya, hingga kini berganti Mentari yang berada di atas pangkuan Fatih.
Pinggul Mentari di goyang , hingga membuat Fatih menikmati sensasi yang luar biasa nikmat nya, kedua bagian dada milik Mentari naik turun, saat hentakan demi hentakan yang di lakukan Mentari, yang kini memimpin permainan.
"Mas... mau keluar...!!! "
"Keluarin aja sayang, Mas masih lama. "
Mentari memegang kepala Fatih, yang di tempel kan di dada nya, kedutan pun di rasakan Fatih, saat Mentari mencapai puncak.
Kini posisi, dirubah kembali, Fatih beralih posisi dalam permainan, kembali masuk dari arah belakang, hingga tubuh istri nya maju mundur , dengan kedua tangan bermain di kedua benda seperti squishy dan memilin bulatan warna pink seperti memutar volume.
"Mas, mau keluar lagi. "
"Bareng sayang. "
"Enak nggak? "
"Puas Mas. "
Fatih mencium punggung Mentari, dan masih merasakan bekas ****** ***** yang masih menempel.
*****
"Yank, kamu mau makan apa? " Tanya Fatih yang sudah mengenakan kaos dan celana pendek, sedang kan Mentari baru selesai mandi, dan masih mengenakan handuk yang menutupi tubuh nya.
"Makan apa saja Mas, terserah Mas. " Ucap Mentari sambil mengering kan rambut nya yang basah.
"Ikan bakar mau? "
"Boleh, tapi kalau ada yang asam manis. "
"Dua ya, Mas bakar kamu asam manis. "
"Terserah Mas saja. "
"Mau makan di luar atau disini? "
"Sini aja lah, lagi malas keluar. "
"Yaudah Mas, telepon dulu ya. "
Setelah menunggu hampir 30 menit makanan pun datang, Mentari dan Fatih makan sesuai pesanan mereka.
"Besok kita jam berapa Mas pulang? "
__ADS_1
"Jam 7 aja ya, nanti langsung kondangan ke Gibran. "
"Oh ya udah. "
"Kamu nggak beli kado gitu buat Gibran dan Tita? "
"Cukup amplop aja Mas, ngapain kado yang ada nanti di ingat - ingat terus. Kalau uang kan, bisa di pake langsung habis. "
"Ya udah kalau kamu ingin nya begitu. "
"Mas, ganti nomer ponsel yuk. "
"Buat apa? "
"Ya ganti aja, nomer ponsel kita itu mengingat kan pada mantan. "
"Tapi nomer nya Mas, banyak nomer orang penting, sampe ada nomer Bupati juga. "
"Kan bisa di kasih tahu, sama Bupati nya kan dekat. Masa sih, nggak mau save nomer baru nya Mas. "
"Ya udah, nanti kita ganti ya. "
"Tapi jangan kasih tahu Neli. "
"Iya, nggak akan kok. "
Ponsel Fatih kembali berdering, terlihat nama Neli memanggil, Mentari menatap kesal saat tahu Neli yang menelepon.
"Baru saja di bicarakan, sudah nongol saja. "
"Kamu yang angkat. " Fatih menyerah kan ponsel nya pada Mentari.
"Hallo, ada apa Neli? " Ucap Mentari dengan nada kesal.
"Mana Mas Fatih, saya mau bicara. " Ucap Neli dari seberang.
"Mas Fatih lagi tidur, kecapekan dia, maklum pengantin baru, soalnya kita main sampe 5 ronde, banyak terkuras tenaga. Ini juga kita berdua masih tidak pakai apa - apa, tuh di pegang saja punya dia diri lagi."
Fatih langsung menatap tajam ke arah istri nya, sedang kan Mentari menahan tawa, Fatih meminta ponsel nya dari tangan Mentari namun di singkirkan tangan Fatih.
"Aduh, sudah ya Nel, ini Mas Fatih minta lagi. Ah.. Mas sabar dong, jangan buru - buru kita slow main nya. "
Mentari langsung mematikan ponsel nya, dan memblokir nomer Neli dari ponsel Fatih.
"Parah nih, punya istri. "
"Biarin tahu rasa, panas - panas tuh orang, paling sekarang lagi nangis - nangis. "
"Apa kata kamu saja Yank, urusan Neli Mas serahkan sama kamu. "
"Nomer nya sudah saya blokir. "
*****
Hiks... hiks... hiks...
"Mas Fatih... kamu jahat Mas... kamu jahat, kenapa harus memilih hidup dengan wanita yang baru saja kamu kenal, sedangkan saya sudah bertahun-tahun sama kamu. Jahat kamu Mas jangat, hiks.. hiks... " Neli langsung menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis sekeras-kerasnya.
"Mentari awas kamu ya....!!! "
.
.
__ADS_1
.