Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Tragedi Hotel


__ADS_3

Mentari menghadiri pertemuan dengan Ibu Gubernur, beberapa para istri Camat, menghadiri undangan khusus dari Gubernur. Mentari tampak akrab, karena beberapa dari mereka di kenal Mentari.


"Ibu rajin hadir, jangan seperti istri Camat Cikupa, nggak pernah hadir, sekali saja nggak." Ucap Ibu Nilam, istri Camat Pamayan.


"Benar, pernah di undang juga nggak datang, nggak kayak Pak Camat nya, rajin aktif, pasti Pak Fatih tahu. " Ucap Ibu Septi, istri Camat Pamelar.


"Kalau suami saya, nggak pernah cerita sih Bu. Kecuali saya yang cerita, terus saya sih sama suami dia suruh aktif, dan dukung kegiatan suami. Namanya juga, istri seorang pemimpin di tingkat kecamatan, yang harus aktif dan dekat dengan bawahan, kalau nggak begini bagaimana bawahan akan hormati kita, benar nggak Bu? " Ucap Mentari.


"Iya betul, ini baru namanya istri Camat. " Ucap Ibu Nilam.


"Ssttt jangan gosip terus, dengar kan apa yang di katakan Ibu Gubernur. " Tegur Ibu Sri, istri Camat Kenari.


*****


"Gimana, tadi apa yang di dapat dari Ibu Gubernur? "


"Ya hanya sebatas menjelaskan peran istri sebagai istri dari seorang pemimpin. "


"Mas senang, kamu kan jadi nya bisa kenal dan akrab sama yang lain nya. "


"Mas, katanya istri Camat Cikupa nggak pernah aktif sekali pun ya? "


"Kalau Pak Camat nya sih aktif, kenapa? "


"Tadi ada yang bilang sama Mentari, katanya nggak seperti Ibu Camat Cikupa, yang tidak pernah aktif. "


"Terus jawab apa? " Tanya Fatih sambil mengusap punggung tangan Mentari.


"Ya saya jawab, kalau jadi istri seorang pemimpin ya harus dukung segala kegiatan suami, dan harus aktif, dekat sama bawahan."


"Pintar, ini baru istri Mas. "


"Nanti malam ada kegiatan apa? "


"Jamuan makan malam bersama, besok kita pulang. "


"Lah katanya 3 hari an? "


"Nggak lah, besok pulang. "


"Mas."


"Iya."


"Mau main nggak? "


"Main apa hah..? " Tanya Fatih sambil mencubit bibir Mentari.


"Main yang panas - panas. " Jawab Mentari.


"Sekarang nakal ya, minta yang begini."


"Kan Mas yang ajarin. "


"Enak saja Mas, kalau ngomong tuh ya. " Ucap Fatih sambil mengecup bibir Mentari.


"Tuh kan, sudah nyosor duluan. "

__ADS_1


"Kan katanya main yang panas - panas. "


"Kompor ya Mas. "


Fatih langsung menindih tubun Mentari, di cium nya leher Mentari, hingga beberapa jejak merah sudah terlihat. Mentari langsung melahap bibir Fatih, dan mendorong pelan tubuh nya, kini Mentari yang mengambil alih.


"Kalau begini, kamu terlihat seksi sayang. " Udak Fatih sambil terlentang di atas sofa.


Mentari membuka sabuk, dan resleting celana nya, di pegang pelan, hingga Fatih menggigit bibir bawah nya, saat sentuhan nya terkena langsung pada milik nya.


Milik Fatih sudah terlihat tegak, Mentari memainkan dengan jemari nya, mengurut hingga Fatih merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


Fatih menatap takjub, saat Mentari mengulum nya dengan lidah menjilat seperti es krim. Fatih menjambak rambut Mentari, saat milik nya di kulum dan di sedot nya. Hingga terasa, di ujung yang sangat penuh, ****** ***** milik nya menyembur hingga kerongkongan Mentari.


"Wow.. kamu belajar dari mana? " Tanya Fatih dengan nafas naik turun.


"Ada deh, kan ini juga cara memuaskan suami ." Jawab Mentari yang kini melepaskan pakaian nya sendiri, di depan Fatih.


Saat sudah tak memakai sehelai benang, Fatih langsung mengangkat tubuh Mentari, ke atas tempat tidur dan di baringkan nya.


Fatih kini beralih, yang memimpin permainan hingga Mentari mengangkat pinggul nya, saat lidah Fatih menyapu area inti.


Mentari meremas sprei, hingga berteriak merasakan sensasi yang membuat nya terbang melayang.


Fatih kini beralih bermain di sekitar dada nya, memilin dan memutar seperti membesarkan volume suara, hingga memegang seperti bermain squishy.


"Mas, ingin keluar, aaaaaaaaa...!!! " Mentari mengeluarkan ****** ***** pertama nya, hingga terlihat lemas.


Kini Fatih mengarahkan senjatanya, hentakan demi hentakan membuat tubuh Mentari dan Fatih merasakan nikmat tiada tara, bahkan seperti melayang sampai ke langit ke tujuh.


*****


Jamuan makan malam, dengan iringan musik Jazz yang menambah suasana malam semakin akrab.


Mentari dan Fatih makan dengan lahap, dan duduk menyepi berdua. Fatih hingga merasakan sangat lapar, bahkan meminta Mentari untuk menambah kan pada piring nya.


"Mas, sudah tiga piring loh, apa itu perut masih kuat? Saya aja cukup dua piring. "


"Lapar Yank, benar - benar tadi menguras tenaga. "


"Tapi kelakuan kita ini memalukan. "


"Nggak ada yang tahu, mereka sibuk makan semua. "


"Mas, coba lihat ke arah jam 12, Pak Camat Kurnia tersenyum terus ke arah kita. "


Fatih menoleh dan menganggukkan kepalanya, pada Pak Kurnia Camat, Walantaka.


"Kayak nya, dia ingin tertawa melihat cara makan Mas, seperti orang nggak makan satu minggu. "


"Kamu tahu, Mas begini karena kamu itu hot banget tadi, sampai ingin berkali-kali naikin kamu. "


"Sssstttt nggak boleh bicara begitu disini,nanti ada yang dengar. "


*****


Fatih langsung membaringkan tubuh nya, dan membuka pakai nya kini hanya bertelanjang dada sambil mengusap perut nya.

__ADS_1


"kenapa? " Tanya Mentari .


"Kekenyangan." Jawab Fatih.


"Saya kan bilang, jangan kayak orang kesetanan makan, kayak nggak makan satu minggu. "


"Aduh Yank, ini kencang banget perut nya. "


"Terus gimana? "


"Gimana kek caranya, ini terasa penuh. "


"Makan nya, jangan lagi - lagi. "


"Aduh Yank, usapin dong. "


Mentari mendekat dan mengusap perut Fatih, hingga Fatih merasakan kantuk yang sangat berat.


"Yah.. tidur, di usapin malah tidur, kayak bayi Ya Mas. "


******


" Nanti jangan lupa,minggu depan arisan pertama lagi. " Ucap Ibu Nilam.


"Nanti di ingat kan lagi di group, takut saya nya lupa. " Ucap Mentari.


Sedangkan Fatih bercengkrama di lobi hotel, bersama Camat lain nya, dan saling bernostalgia saat Fatih bertemu Camat yang satu angkatan saat pendidikan, yang berasal dari Kabupaten lain.


"Saya kira kamu sudah punya anak? " Tanya Andi, Camat dari kabupaten Pamelang.


"Baru saja nikah kemarin, belum lama." Jawab Fatih.


"Kapan - kapan, kita reuni lah. "


"Hayu, kita atur waktu nya. "


"Kita kan sudah bertukar nomer ponsel nih, nanti sering berkabar lah, kalau nggak seperti ini kita nggak akan bertemu."


"Benar banget, kalau nggak begini kita nggak akan bisa bertemu. Dan lama juga ya sudah 10 tahun an lebih. " Ucap Fatih.


"Mas, masih lama ya? " Tanya Mentari.


"Nggak juga sih Yank, bisa nya sudah datang tuh. " Jawab Fatih sambil menunjuk ke arah Bis yang akan membawa mereka pulang.


"Terus nunggu apa? "


"Biasa, kita banyak ketemu sama alumni, satu angkatan bahkan kakak tingkat. "


"Oh, cerita nya perpisahan dulu ya. "


"Iya, ketemu lagi nya kan nggak mungkin bisa setiap hari atau selalu ada acara seperti ini."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2