
"Mentari." Sapa Tita.
"Tita, kenapa? "
"Maafkan saya ya, kalau saya kemarin diamkan kamu. "
Mentari tersenyum dan mengusap pundak Tita, begitu pun juga Tita yang tersenyum ke arah nya.
"Saya tidak pernah marah, atau dendam sama kamu. Kemarin pun saya anggap biasa saja. "
"Saya, saya cemburu. Saya takut Mas Gibran tidak bisa mencintai saya, kamu tahu, saya itu suka sama dia sejak dulu. Tapi karena dia itu pacar kamu, saya hanya pendam rasa ini. Dan saat tahu, saya di jodohkan sama dia, saya bahagia sekali mendengar nya. Mulai awal itu, saya takut kehilangan dia, walau cinta saya belum terbalas. "
"Sekarang, sudah terbalas kan? "
"Sudah, cinta saya sudah terbalas. "
"Kamu jangan takut, saya akan merebut nya kembali. Saya mencintai suami, dia sekarang Imam saya, bagaimana cara kita bertemu, memang saat itu menyakitkan, kita harus menikah sedangkan di sana, ada yang sedang tersiksa. Tapi kami sadar, mungkin cara kita memang seperti ini, bertemu jodoh, pendamping hidup dunia akhirat. "
*****
"Loh, kok nggak bilang - bilang datang ke kantor, kalau bilang kan Mas jemput. " Ucap Fatih, saat Mentari datang ke kantor kecamatan.
"Kesini, nggak ada niat Mas, tadi saya habis dari SMP negeri 3 , Panaran. Mau balik lagi ke sekolah, tanggung sebentar lagi pulang, ya udah kesini aja, terus nggak ada Jam mengajar. "
"Sudah makan? " Tanya Fatih mengusap pelan kepala Mentari.
"Sarapan saja tuh pagi, Mas mau makan siang? " Jawab Mentari kembali bertanya.
"Mau makan nggak? Nanti suruh Rizal beli."
"Mau Mas, apa saja yang penting kenyang."
Fatih keluar mencari Rizal, yang seorang Satpol PP di kantor kecamatan, Fatih lalu mendekati Rizal yang sedang duduk di Pos.
"Rizal."
"Ada apa Pak? "
"Tolong belikan nasi bungkus, buat saya sama Ibu, kamu makan siang belum? "
"Belum Pak. "
"Sekalian buat kamu juga. "
"Oh iya Pak baik, saya jalan dulu. "
Fatih pun kembali kedalam ruangan nya, melihat Mentari sedang membuka ponsel milik suaminya.
"Cek apa sih Yank? " Tanya Fatih sambil menempelkan dagu nya di bahu Mentari.
"Cuman lihat aja. " Jawab Mentari sambil membuka isi chat suami nya.
"Nggak ada yang aneh - aneh loh, kan nomer nya sudah ganti. "
"Takut nya. "
Cup
Fatih mengecup bibir Mentari, lalu Mentari membalas mengecup bibir nya. Pintu pun di ketu, Fatih lalu berdiri dan membuka pintu ruangan nya.
"Ini Pak pesanan nya. "
"Makasih ya, ini kembalian nya buat kamu."
"udah Pak jangan, tadi saya beli nasi bungkus juga. "
__ADS_1
"Ambil aja. "
"Makasih banyak Pak. "
"Sama - sama. "
Fatih menutup pintu nya kembali dan meletakkan nasi bungkus nya di atas meja lalu membuka nya.
"Beli nya dimana? kok cepat. "
"Beli di depan, ada warung nasi di situ enak masakan nya. "Udah Fatih sambil membuka nasi bungkus nya.
" Aduh Yank, ini ada taburan bawang goreng nya. "
"Sini, buat saya aja. "
"Kamu aja yang ambil, pegang aja enek. "
"Apa beli lagi aja? "
"Nggak, jangan. Singkirkan saja. "
Mentari menyingkirkan bawang goreng di atas lauk yang ada di nasi bungkus nya, Fatih pun makan namun dengan sedikit tidak berselera.
"Mas sih gitu, udah jangan di makan lagi. Nanti saya belikan nasi yang bungkus. "
"Nggak usah, nggak enak kalau di lihat saja Rizal. "
"Di makan nggak, mubazir. "
"Iya, ini di makan. "
"Di paksa, ini bawang goreng nya sudah sama saya masih aja makan nya kayak orang jijik."
*****
"Masih ingat sama bawang goreng. "
"Ya Allah Mas, jangan lebay deh. Makan nya tadi siang, sampe malam belum bisa move on sama bawang goreng. "
"Kamu kan tahu Yank, nggak suka bawang enek - enek an. "
"Makan jeruk, biar nggak enek. Bawang nya aja nggak di makan, malah lihat nya aja begini, apalagi di makan."
"Bukain dong jeruk nya. "
Mentari membuka kulit jeruk dan menyuapi pada Fatih, rasa sedikit asam membuat lebih baik dan tidak enek lagi.
"Bawang itu enak Mas, padahal masakan itu selalu ada bumbu dasar nya bawang, nggak enek Mas tuh tapi kenapa kalau lihat langsung enek? "
"Nggak tahu nggak suka aja, kalau sudah tercampur sih nggak enek, tapi kalau lihat enek nya minta ampun. "
"Tapi kalau Mas enek begitu , harus di latih makan bawang loh, pasti nggak. "
"Udah pernah coba tapi tetap aja nggak bisa, malah muntah - muntah. "
*****
"Nih, tak bawakan bekel. "
Fatih menerima luch box yang sudah di siapkan oleh istri nya, di buka nya berisi Bistik Daging dan sambal goreng kentang.
"Makasih sayang. "
"Sama - sama, tanpa bawang. "
__ADS_1
"Makasih, yuk berangkat. "
Mentari di antar oleh Fatih ke tempat mengajar nya, saat di jalan melihat Neli mengendarai motor nya.
"Mas, mantan tuh. " Ucapan Mentari.
"Biarin saja. "
"Sapa tuh, klakson. "
"Apaan sih Yank, jangan buat gara - gara deh."
Tin.. tin...
"Yank, apaan sih? " Tegur Fatih, saat Mentari menekan klakson mobil.
Neli menepi sedikit, Mentari membuka kaca mobil nya, dan tersenyum sambil melambaikan tangan nya. Terlihat dari kaca spion, Fatih melihat Neli hanya diam dan pelan kan motor nya.
"Cuek sih. "
"Kamu nya lagi, orang di jalan. "
"Kalau lagi nggak di jalan sih pasti nyapa ya?"
"Nggak tahu. "
****
Fatih membuka bekel yang di buatkan oleh istri nya, saat belum jam makan siang, perut Fatih merasakan lapar.
Fatih makan dengan lahap nya, menikmati masakan istri nya. Namun saat santapan terakhir, baru sadar ada taburan bawang goreng. Dan langsung saja mengambil minum dan menegak nya sampai habis.
"Kamu sengaja Yank, sudah tahu suami nggak suka bawang goreng malah di tabur juga. "
Tapi aneh nya Fatih tidak merasakan enek lagi, seperti kemarin. Entah karena lapar atau tidak tahu, hingga rasa nya biasa saja.
****
"Jahat ya sama suami, prank kasih bawang goreng. " Fatih terus menggelitik perut Mentari saat sudah sampai di rumah nya.
"Hahahahahah.. tapi kan gak enek kan. "
"Iya, tapi jahat kelakuan kamu Yank, nggak lucu. "
"Habis, Mas itu lebay sama lucu. "
"Orang nggak suka gimana sih. "
"Ampun Mas, sudah ih.. jangan di gelitiki terus. "
"Nggak bisa, harus Mas kasih hukuman."
"Hukuman apa? "
"Kita bikin dedek yuk. "
"Itu sih bukan hukuman Mas. "
"Mau nggak? "
"Mau."
.
.
__ADS_1
.
.