Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Menangis Terus


__ADS_3

Rinjani terus menangis saat Papah nya, akan berangkat dinas luar kota, tangisan nya tambah keras membuat kedua nya bingung.


"Kenapa Mah? kok nangis nya kejer begini. " Fatih menggendong Rinjani , namun tak berhenti menangis.


"Nggak tahu Pah, bingung. Padahal udah di kasih Asi, pampers nya nggak bocor, suhu tubuh nya normal. "


"Kenapa sayang, cup ah jangan nangis terus. Papah nya jadi bingung nih mau berangkat juga. "


"Sini, Rinjani sama Mamah lagi. Papah pergi aja ya. "


"Tapi Yank, jadi kepikiran begini. "


"Udah nggak apa - apa, berangkat aja. Nanti juga diem. "


"Ya udah, berangkat dulu ya." Fatih mencium kening dan pipi Rinjani, lanjut mengecup kening dan bibir Mentari.


"Jangan nangis terus sayang, Papah berangkat ya. "


Owaaaaa.... Owaaaaa... Owaaaaa...


Tangisan Rinjani , semakin keras hingga mobil melaju, sampai tak terlihat.


"Bu Tari, kenapa si dedek nya? " Tanya Ibu Seto, tetangga seberang rumah.


"Lagi rewel aja bu. " Jawab Mentari.


"Oh, sakit ya? "


"Nggak bu, biasa ngerti kalau Papah nya berangkat Dinas. "


"Uwalah, masih bayi tapi udah peka perasaan nya. "


"Iya bu. " Ucap Mentari sambil tersenyum.


Sedangkan Fatih mengemudi kan mobil nya sendiri, lewat jalur tol membuat Fatih lebih cepat sampai. Mobil melaju sedang, telepon pun berdering, dengan hanya menekan tombol dan berbicara melalui earphones nya.


"Hallo, Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam, Bapak maaf apa sudah sampai di kantor Pak Gubernur? " Tanya Sekmat, Pak Masduki.


"Baru masuk tol Pak kenapa? "


"Begini Pak, ada beberapa berkas yang tertinggal, gimana ya Pak? "


"Tolong minta, sama karin. Buka Laptop saya di ruangan, dia tahu Pasword nya, cari File Rapat Gubernur, kirim ke saya. Biar nanti saya print di kantor Gubernur. "


"Baik Pak, untuk stempel nya Bapak gimana? "


"Saya punya, biar kurang nya nanti saya atur, karena kan saya yang buat. Di situ minta kirim semua aja, di laptop saya yang di bawa sekarang nggak ada file nya, ini laptop punya istri, biasa buat pake mengajar. "

__ADS_1


"Baik Pak, nanti saya cari karin nya. "


"Cepat ya, 15 menit lagi saya keluar tol."


"Siap Pak. "


"Ada - ada aja ketinggalan tuh, saya kira berkas kemarin sudah masuk ke dalam tas."


*****


"Rinjani kenapa? " Tanya Ibu Nuri yang langsung datang karena Rinjani terus menangis.


"Nggak tahu bu, saya jadi nya bingung gini." Jawab Mentari.


"Rinjani jatuh, atau gimana? "


"Nggak jatuh, orang di tengah kok. Mas Fatih mau berangkat aja di tangisin, waktu pertama berangkat Dinas yang begini. "


"Yaudah, mungkin nggak mau sama Papah nya. "


"Tapi kemarin sih langsung diam bu, sekarang nggak diam - diam. "


"Yaudah, sama Ibu tak ajak keliling komplek ya. "


"Pakai Stroller aja bu, jangan di gendong terus berat. "


"Iya, nanti Ibu bawa stroller. "


*****


Setelah seharian menangis, Rinjani tertidur pulas, dan Ibu Nuri sudah pulang pukul 4 sore. Sambil menunggu suami pulang, dan Rinjani tidur, Mentari menyempatkan dirinya untuk memasak.


"Mas Fatih kok belum pulang ya, apa habis maghrib. " Ucap Mentari sambil melihat ke arah jam.


Mentari menunggu suami nya pulang, hingga jam menunjukkan pukul 7 malam, Rinjani pun sudah bangun dan mandi, kini sedang berada dalam gedongan Mentari.


Hujan mulai turun deras, dengan angin yang sangat kencang, Mentari terus menengok ke arah luar jendela, berharap suami nya datang.


"Ya Allah Mas, kamu sudah pulang belum dari sana nya, mau telepon takut ganggu. Kamu sudah sampai mana sekarang? Hujan deras sekali, sampai petir nya menggelegar besar suara nya.


Sedangkan Fatih, masih dalam perjalanan, hujan deras membuat dirinya mengemudi kan mobil dengan sangat hati - hati.


Namun tiba - tiba, ban mobil nya terasa goyang dan langsung menepi ke sisi jalan. Fatih dengan mengambil payung dari belakang kursi lalu keluar memeriksa kondisi ban mobil nya.


" Aduh, bocor lagi. Sudah nggak bawa ban serep lagi, tambal ban nggak ada. Gimana ini?" Fatih merasakan sangat bingung, petir terus menggelegar, hingga angin yang begitu sangat kencang. Fatih pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil nya.


"Mentari pasti khawatir, jam segini belum juga pulang. "


Fatih langsung menghubungi istri nya, dan panggilan pun langsung tersambung, dan di angkat .

__ADS_1


"Mas, kamu dimana? "


"Mas masih di tol Yank, ban nya bocor. Mas nggak bawa ban serep, ini mas ada di dalam mobil. "


"Aduh, jadi gimana? " Tanya Mentari semakin khawatir.


"Nanti kalau sudah agak reda, Mas hubungi derek lah biar di derek mobil nya. "


"Saya nunggu Mas loh, dari tadi. Nggak ada kabar, kan khawatir. "


"Maaf, Mas tadi nggak terlalu fokus ke ponsel. Karena ada berkas yang tertinggal jadi Mas susun kembali. Rinjani gimana Yank?"


"Siang saya telepon ibu, di bawa keliling komplek terus pulang - pulang tidur seharian, mungkin capek ya Mas."


"Sekarang anak nya sedang apa? "


"Belum tidur, nih lagi nunggu Papah nya. "


"Sabar ya, mungkin pulang agak malam an, Mas di dalam mobil ini, hujan nya deras banget. "


Panggilan pun beralih video call, terlihat Rinjani yang sedang berbaring, Fatih menyapanya, seakan sudah mengerti Rinjani tersenyum.


"Papah kangen kamu sayang, seharian nggak ketemu sama Rinjani. "


"Papah... cepat pulang, Rinjani tunggu ya di rumah. " Ucap Mentari dengan menirukan suara seperti anak kecil.


Tiba - tiba Rinjani kembali menangis, terlihat Mentari memberikan asi dalam botol, namun Rinjani menolak nya, Fatih hanya terus memperhatikan putri nya yang sedang rewel.


"Mulai lagi Mas, kangen papah nya nih. "


"Nanti sayang, kalau udah reda ya, Papah nanti pulang. "


"Ini Papah sayang, tuh Papah. Cup ah.. jangan nangis terus, tuh Papah nya lambai tangan, Papah Rinjani kangen sama Papah, Rinjani tunggu Papah pulang.Papah... Papah... " Mentari terus menghibur putri mereka hingga Rinjani terdiam dan camera video call terus di arah kan pada Rinjani, hingga Rinjani tenang saat Fatih bersuara kembali.


Braaaaaakkkkkk


Mentari melihat dari panggilan Video, suatu suara yang sangat keras, dan mendengar suara erangan dari suami nya.


Mentari terdiam, dan langsung mencoba menghubungi suami nya , panggilan video call nya yang terputus kini tidak bisa di hubungi lagi.


"Ya Allah Mas...!!! "


Mentari dengan segera menggendong Rinjani, dan menghubungi kedua orang tua nya.


"Ayah, tolong Ayah. Kita tolong Mas Fatih, hiks.. hiks.. "


"Fatih kenapa? "


"Hiks.. hiks.. hiks.. saya sedang komunikasi sama Mas Fatih, hiks.. hiks.. dia seperti nya mobil nya di tabrak. "

__ADS_1


"Tenang, nanti Ayah cari informasi. " Ucap Pak Slamet.


"Iya Ayah, tolong Mas Fatih. Sekarang Tari siap - siap. "


__ADS_2