Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Anak Kedua


__ADS_3

Mentari memegang perut nya, saat sedang mengajar. Hingga rasa mual tidak tertahan lagi. Mentari pun langsung berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perut nya.


Hoek... hoek...


Mentari hingga lemas tubuh nya tidak bisa menompang, hingga keluar dari kamar mandi langsung duduk di kursi depan kelas, dirinya mengajar hari ini.


"Bu, apa ibu sakit? " Tanya Janny, saat menghampiri Mentari.


"Janny, tolong ya kamu kasih tugas dari halaman 21 sampai 22,di rangkum ya. " Jawab Mentari.


"Baik Bu, saya sampai kan sama teman - teman. "


"Terima kasih. "


Mentari lalu kembali masuk kedalam ruang guru, dan langsung menghirup minyak kayu putih, hingga rasa mual sedikit hilang.


"Kenapa Bu? " Tanya Ibu Hani.


"Mual Bu, perut nya rasanya seperti di aduk - aduk. " Jawab Mentari.


"Jangan - jangan ngisi lagi Bu. "


"Hah.. apa iya ya Bu. "


******


Mentari melihat garis dua pada alat testpack nya, Mentari lalu berjalan ke arah Fatih yang sedang menonton televisi.


"Mas." Ucap Mentari sambil menaruh alat nya di depan Fatih.


"Apa ini? " Fatih langsung melihat hasil positif dan langsung memeluk tubuh Mentari.


"Kamu hamil sayang, Rinjani mau punya adik."


"Iya Mas, kita mau punya anak dua."

__ADS_1


"Sudah telat berapa minggu? "


"Nggak haid itu telat sebulan tapi nanti di cek saja ke Dokter kandungan. "


"Iya sayang, Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, akhirnya di kasih rejeki lagi. "


"Mas, hamil kedua ini kan terlalu cepat kan? "


"Kenapa? "


"Masalah nya, Rinjani saja masih manja. "


"Sayang, ini rejeki. Jangan di tolak, ini rejeki kita, masih di percaya untuk punya anak satu lagi. Rinjani pasti senang, dia mau punya adik. Mamah senang kan? "


"Senang Pah, akhirnya masih di kasih kesempatan hamil lagi. "


*****


"Alhamdulillah, Yah kita mau punya cucu satu lagi. " Ucap Ibu Hasna.


"Terima kasih Yah. " Ucap Mentari.


"Cucu kedua sedang otw, tinggal satu nya nih sedang persiapan anak pertama, cucu ketiga." Ucap Ibu Nuri.


"Ibu, nikah saja belum. Baru mau, ya nggak Yah. " Ucap Sakti.


"Iya, Ayah sebagai orang tua hanya bisa berdoa semoga lancar, sampai lahiran, dan Sakti lancar sampai pelaminan. " Ucap Pak Slamet.


"Amin...!!! Ucap Semua nya.


*****


" Adik nya Rinjani mana? " Tanya Rinjani.


"Nih, ada didalam perut. " Jawab Mentari sambil menunjuk ke arah perut nya.

__ADS_1


"Di dalam perut? " Tanya Rinjani polos.


"Iya sayang, di dalam perut. " Jawab Mentari.


"Sekarang, Rinjani itu paling tertua. Karena sebentar lagi di panggil kakak. " Ucap Fatih dan membuat Rinjani tersenyum.


"Nanti di panggil nya, kakak Rinjani ya Mah Pah. "


"Benar sayang, nanti yang sayang sama Adik ya, sekarang Rinjani jangan nakal, masa mau punya adik masih nakal. "


"Rinjani mulai sekarang, nggak boleh cengeng, nggak boleh nakal. Rinjani janji Mas Pah. "


"Bagus, itu baru namanya anak Papah, yang sudah dewasa. "


Rinjani langsung memeluk tubuh Mentari, di usap nya perut Mamah nya, dan sesekali mengajak ngobrol calon adiknya.


"Dek, jangan rewel ya, jangan buat Mamah sakit, soal nya tadi lihat Mamah muntah - muntah, adik yang sehat ya di dalam perut. " Rinjani mencium nya, dan mengusap nya kembali.


"Nanti adik nya laki - laki atau perempuan Mah Pah? "


"Apa yang Allah kasih, kita terima mau laki - laki atau perempuan. " Ucap Fatih sambil memangku Rinjani.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2