Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Menghibur Mu


__ADS_3

Fatih turun dari mobil nya, berlari masuk kedalam rumah, nafas yang naik turun dan jantung berdegup kencang, saat pikiran tertuju pada istri nya.


"Ya Allah Mentari. " Ucap Fatih saat melihat Mentari sedang mengemil banyak makanan, dan berserakan di atas meja.


"Saya dari kantor ke sini pikiran kamu, tahu begini ada telepon dari saya kamu angkat dong. Jangan buat saya khawatir. "


"Kenapa sih? repot banget mikirin hidup orang. "


"Eh.. Mentari, kamu ini istri saya, anak orang. Kalau tahu kamu berbuat nekad bagaimana? Tetap saja kan saya yang repot. "


"Kalau saya meninggal kan, bukan Mas yang akan mengubur saya, kan ada petugas nya. "


"Kamu ada niat? "


"Emang boleh? "


"Boleh, asal jangan di rumah saya. "


Fatih lalu duduk samping Mentari, mengambil cemilan yang ada di tangan Mentari, dan memakan nya.


"Kamu kalah stress begini ya? "


"Iya."


"Masih sakit? "


"Hati yang sakit. "


Fatih memegang kening Mentari, suhu nya sudah menurun tidak seperti tadi pagi, Fatih pegang.


"Mau jalan nggak? "


"Jalan kemana? "


"Terserah, biar kamu nggak stress, biar kamu senyum. "


"Malas ah. "


"Ayolah, mumpung suami kamu lagi baik. "


"Kemana? "


"Ya terserah mau kemana. "


"Ngajak, malah suruh kemana mau nya, aneh."


"Kamu ganti baju, Mas juga mau ganti seragam nya. "


"Mas bolos? "


"Tenang, jangan pikirkan Mas. " Ucap Fatih tersenyum.


*****


Mentari berlari kecil di tepi pantai, dengan pasir yang putih, deburan ombak dan semilir angin laut membuat hijab nya ikut terbawa angin.


Fatih mengambil kedua ujung hijab nya, dan mengikat kebelakang, dengan tersenyum Fatih melihat wajah Mentari yang cantik, dengan balutan gamis.


"Makasih."


"Mas senang lihat cara berpakaian kamu, Mas berharap kamu tetap begini, dan hanya akan di tunjukkan pada pria yang tepat. "


Mentari tersenyum, dengan jahil, Mentari memercikkan air ke wajah Fatih, Mentari tertawa dan langsung berlari.


"Tari.... basah tahu, awas ya Mas kejar kamu. " Ucap Fatih langsung berlari mengejar Mentari.


"Kejar Mas, kalau bisa. " Ucap Mentari sambil menjulurkan lidah nya.


"Sini kamu, Mas balas kamu. " Ucap Fatih mengambil kepalan pasir lalu melemparkan nya pada Mentari.


"Nggak kena. "


"Awas ya.. "


Fatih terus melemparkan kepalan pasir, hingga mengenai punggung Mentari. Mentari pun lalu membalas nya, hingga sama - sama memercikkan air ke arah masing - masing.


"Ampun.. Mas.. ampun.. cukup..!!! " Ucap lantang Mentari, Fatih yang terus memercikkan air.

__ADS_1


"Nyerah hah..!!! " Ucap Fatih sambil berkacak pinggang.


"Basah Mas, tuh kena gamis, jiplak begini. "


Fatih menurunkan hijab yang dia ikat kebelakang, untuk menutupi bagian dada yang basah.


"Tuh udah nggak kelihatan. "


"Kita ke sana Mas, haus."


"Yuk."


Fatih memesan dua kelapa muda, Mentari langsung meminum nya, begitu juga Fatih rasa segar menjelajahi tenggorokan mereka.


"Senang kan, di ajak Mas kesini? "


"Mas, sering bawa Neli kesini ya? "


"Nggak, dia tidak suka pantai. Katanya Panas, dan kita belum pernah sekali kesini. "


"Saya suka pantai Mas, hamparan lautan, membuat suasana hati berubah, bahkan pikiran pun tenang, luas. Malah, dulu saya sering berlama - lama disini, sambil menikmati matahari tenggelam. "


"Kamu mau rumah pinggir pantai? "


"Mau banget lah Mas, mendengar suara deburan ombak, melihat matahari terbit, bahkan terbenam. "


"Di sini ada kotech, kita menginap malam ini mau? "


"Saya nggak bawa ganti Mas? "


"Kita beli, gimana?"


"Emang ada Mall atau butik disini? "


"Ada, kita cari. "


Fatih dan Mentari memesan sebuah kotech, dan di kotech kebetulan ada butik pakaian, Mentari pun memilih satu gamis untuk pulang besok.


"Mas, tidur nya masa pakai gamis. "


"Lengan nya pendek. "


"Gimana dong, ya sudah mau gimana lagi. Kan di dalam kamar, nggak ada yang lihat rambut kamu. "


"Ada , mas yang lihat. "


Fatih menggaruk kepala nya yang tidak gatal, dan Fatih langsung memiliki ide cemerlang.


"Ada hodie tuh. "


Mentari mengambil hodie warna pink, dan memasukkan ke keranjang belanja.


*****


"Mas."Panggil Mentari yang memperlihatkan kepala nya saja tertutup penutup kepala hodie.


" Kenapa? "


"Pantat nya kelihatan. "


"Kelihatan bagaimana? kamu kan pakai celana Mentari. "


"Lekuk tubuh nya. "


"Astagfirullah, saya kan suami kamu. "


"Bukan muhrim. "


"Bukan muhrim bagaimana? saya halal buat kamu, dan kamu tidak haram di depan saya."


"Tapi kan, kita tidak saling mencintai Mas. "


"Kamu ribet banget Mentari, di depan suami kamu. Kecuali di depan pria lain. "


"Mas sih ngajak nginep segala. "


Fatih berjalan mendekati Mentari, dan menarik tangan Mentari, namun Mentari menepis nya.

__ADS_1


"Keluar."


Mentari menggelengkan kepala nya, dan tetap berada di dalam kamar mandi.


"Ya sudah, Mas ambil bantal dan selimut kamu tidur di dalam kamar mandi. "


Mentari pun akhirnya keluar, dengan wajah menunduk langsung berjalan ke arah tempat tidur dan menutup dengan selimut.


"Kamu nggak ingin kita jalan - jalan atau Makan? "


"Lapar Mas. "


"Nanti Mas pesan, kita makan dimana?"


"Disini saja. "


"Tunggu ya. "


Mentari duduk dengan menutup sebagian tubuh nya dengan selimut dan kepala nya tertutup kepala Hodie.


Fatih pun datang, dengan pelayan yang membawa makanan di troli food. Setelah pelayan kotech pergi, Fatih mendorong troli food ke arah tempat tidur.


"Mau makan apa nih? Mas pesan banyak. "


"Saya ambil sendiri, awas jangan lihat lekuk tubuh saya."


"Iya, duh ribet banget. "


*****


Fatih duduk di teras kotech di malam hari, terdengar suara deburan ombak, menemani malam yang sunyi.


Ponsel Fatih berdering, terlihat nama Neli memanggil, namun tak di hiraukan oleh Fatih. Hingga sebuah chat masuk, Fatih pun mengabaikan nya.


"Mas." Panggil Mentari.


"Kamu kok belum tidur? " Tanya Fatih sambil menoleh ke belakang.


"Disini dingin, tidur di dalam. " Jawab Mentari.


"Nggak apa - apa, Mas tidur disini saja. "


"Masuk Mas, kita boleh berbagi. "


"Nggak apa. "


Mentari menarik tangan Fatih masuk dengan paksa, Fatih seperti kerbau yang di tusuk hidung nya menurut dan mengikuti langkah kaki Mentari hingga sampai di tempat tidur.


"Tidur Mas, kita berbagi. " Ucap Mentari langsung naik ke atas tempat tidur.


Fatih dengan ragu naik ke atas tempat tidur, dan berbagi selimut.


"Kamu yakin, kita tidak terjadi apa - apa? " Ucap Fatih.


"Mas, otak nya ke sana terus ya? Berapa lama nggak di kasih jatah sama Neli? "


"Kamu tuh, kalau ngomong nggak pernah di saring ya, kamu pikir Mas itu sudah melakukan hubungan suami istri. "


"Memang nya Mas belum? "


"Sudah ah, jangan bahas itu, mau tidur ngantuk. "Ucap Fatih langsung memunggungi Mentari.


" Selamat tidur. " Ucap Mentari yang juga memunggungi punggung Fatih.


Fatih tersenyum sambil membetulkan posisi kepala nya, lalu memejamkan kedua mata nya.


"Selamat tidur juga, semoga mimpi indah. "


.


.


.


yang pernah baca ( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu sang pemimpin, sekarang ada versi audiobook nya loh.. kalian mampir ya.. jadikan favorit...


__ADS_1


__ADS_2