
"Pak Bu, bayi nya besar 4.5 kilo. " Ucap Dokter langsung memberikan pada suster untuk di bersih kan.
"Alhamdulillah yank, anak kita lahir selamat. " Ucap Fatih.
"Selamat Ya bu, hebat bisa normal. 4.5 kilo besar, perempuan lagi. "
Mentari tersenyum dengan tubuh yang masih merasakan lemas, Fatih tak henti - henti nya bersyukur atas kelahiran putri pertama nya.
Sedangkan di luar, Para kakek dan Nenek sedang berbahagia setelah mendapat kabar, cucu pertama mereka lahir.
"Alhamdulillah ya Allah, cucu kita lahir selamat. " Ucap Ibu Nuri.
Ibu Hasna pun langsung memeluk besan nya, begitu juga Pak Syahril dan Pak Slamet berpelukan atas kebahagiaan yang sedang mereka rasakan.
Fatih pertama kali menggendong tubuh Putri ya yang sangat gemuk, dan langsung melantunkan Adzan di telinga kanan nya.
Mentari menangis terharu, melihat putri nya yang lucu , tangan nya membelai lembut pipi tembem nya.
"Lihat Yank, anak kita lucu ya. "
"Matanya, hidung nya seperti kamu mas. "
"Tapi bibir nya seperti mamah nya. "
"Aduh, cucu Nenek, gemesin banget. " Ucap Ibu Hasna langsung meminta menggendong cucu nya, yang berat.
"Aduh, sampai berat begini, ini baru usia satu hari loh gimana nanti kalau satu bulan."
"Ini baru bibit unggul, siapa dulu bibit nya. " Ucap Pak Syahril.
"Bibit nya jelas Fatih Yah. " Ucap Fatih.
"Tetap aja, keturunan Ayah. " Ucap Pak Syahril yang tidak mau kalah.
"Sekarang namanya siapa? " Tanya Pak Slamet.
"Alenka Rinjani Almahera. " Jawab Fatih.
******
Mentari menyusui Rinjani dari botol, karena Asi nya yang masih belum keluar, sedangkan Fatih membereskan pampers yang baru saja di ganti nya.
"Anak Papah, gemes udah kenyang ya. " Fatih mengambil Rinjani dari Mentari dan di alihkan ke box bayi.
"Pengen besok cepat pulang Mas, pengen langsung tidur sama Rinjani di kamar serba pink nya. "
"Kok bobo nya sama Rinjani, terus Mas nya? "
"Ya di kamar, mulai sekarang kan Mamah tidur nya sama Rinjani. "
"Yah, jadi Papah sendirian dong. "
"Masa, Rinjani tidur sendiri di kamar. Ya nggak bisa gitu dong Pah. "
"Ya deh, tapi nanti kalau Papah mau, Mamah pindah kamar ya. "
"Iya, tapi lagi di perboden . "
"Iya ya. " Fatih langsung menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
*****
__ADS_1
"Welcome baby Rinjani. " Ucap Mentari di kamar serba warna pink.
"Sini Mah, biar Papah yang gendong baby ndut nya. "
Mentari yang masih merasakan sakit setelah melahirkan menyerahkan pada Fatih, sedang kan kedua orang tua mereka sedang sibuk menemui keluarga besar yang datang menyambut kedatangan Baby Rinjani.
Fatih membawa Rinjani, bertemu dengan keluarga besar, banyak yang merasakan gemas dengan bayi perempuan anak Fatih dan Mentari.
"Berat nya berapa Fatih? " Tanya Tante Ayu.
"4.5 kilo. " Jawab Fatih.
"Besar ya, normal lagi. " Ucap Tante Ayu.
"Si Febi, cesar karena anak nya besar kayak. anak nya Fatih. Dia nggak kuat mengejan nya." Ucap Tante Widuri.
"Mentari, kamu duduk aja di sofa. Jangan banyak jalan dulu. Biar Rinjani ada Papah nya." Ucap Ibu Nuri.
*****
"Mas, ini Asi nya keluar, gimana nih? "
"Di kasih kain dulu, biar nggak netes terus."
"Rinjani tidur ya Mas. "
"Iya baru aja minum susu. "
"Pompa aja Mas, nanti masukan ke kantong asi. "
"Ya nanti Mas ambil ya." Tak lama terdengar suara Rinjani menangis. Mentari pun langsung berjalan ke arah kamar, dan langsung memberikan Asi nya untuk Rinjani.
"Yank, pampers nya tembus. Padahal baru di ganti. " Ucap Fatih memeriksa sprei nya.
"Di baringkan, nanti Mas ganti. "
Rinjani di baringkan di atas tempat tidur, sementara Mentari tetap memberikan Asi nya. Fatih mengganti Pampers putri nya, dengan yang baru. Tak lama Rinjani tertidur pulas lagi.
"Yank, kamu ngantuk ya? "
"Iya Mas, saya tidur disini aja. "
"Mas, tidur di kamar sebelah ya. "
"Iya."
"Nasib - nasib, lagi puasa tidur terpisah. " Ucap Fatih berjalan masuk ke dalam kamar nya.
*****
"Ih... baby nya lucu banget, saya ingin punya anak cewek, tapi suami tugas nya jauh terus, sampe sekarang belum di kasih lagi. " Ucap Irene saat menengok putri pertama Fatih dan Mentari.
"Nanti juga,kalau istri saya sudah fit mau buat lagi.Kalau bisa cowok, kalau cewek lagi ya nggak apa - apa rejeki. " Ucap Fatih.
"Buat lagi,yang ada Mas enak istri yang tersiksa." Ucap Mentari.
"Tersiksa gimana? "
"Mas nggak hamil, saya yang hamil 9 bulan,melahirkan.Apa nggak kasihan sama Rinjani,anak baru lahir sudah minta buat lagi."
Irene hanya terkekeh geli mendengar nya,sambil memainkan jemari Rinjani.
__ADS_1
*****
"Ih.. gemes banget, jadi pengen punya baby deh. " Ucap Aneke yang datang bersama Gibran.
"Cepat nikah makan nya, jangan jomblo terus." Ucap Mentari.
"Iya nih, lagi nunggu proses. "
"Tunggu, jadi udah punya calon suami? "
"Mas, bilang. " Bisik Aneke pada Gibran.
"Saya akan menikahi Aneke setelah proses cerai sama Tita. " Ucap Gibran, sedangkan Mentari dan Fatih tersenyum kecut.
"Apa sudah nggak bisa? maaf ya. " Ucap Mentari.
"Nggak." Ucap Gibran.
Saat berada di dapur Aneke dan Mentari membuat makan malam untuk dua lelaki yang sedang menonton televisi sambil menemani Rinjani.
"Aneke, kamu nggak salah pilih dan masih waras kan? "
"Nggak, kita jalani aja. "
"Kamu kan nggak cinta sama Mas Gibran, kenapa tiba - tiba mau menikah? "
"Setelah kamu pindah, Mas Gibran banyak cerita sama saya, mungkin dari sini tumbuh rasa cinta nya. "
"Tapi masih suami sah nya Tita loh, kalau berubah pikiran bagaimana, setelah anak nya lahir. Kamu pikir itu. "
"Kalau begitu, saya terima kenyataan. "
"Saran saya, jangan banyak berharap sama Mas Gibran. "
"Terus, saya ini di PHP? "
"Bukan begitu, ini namanya selingkuh. Suami orang loh, kamu datang disaat rumah tangga nya sedang hancur, kamu malah datang."
"Tapi bukan salah saya loh, kita jalan juga sekarang. "
"Terserah kamu deh, itu saran saya."
****
Rinjani menangis saat akan di tinggal Papah nya berangkat dinas, setelah 3 hari mengambil cuti. Seakan sudah mengerti, saat tubuh nya di pindahkan ke gendongan Mamah nya.
Owa... owa....
"Sayang, jangan nangis ya, Papah mau dinas sayang. Cari uang buat Rinjani, sama Mamah dulu ya. " Ucap Fatih.
"Rinjani mengerti, takut Papah nya macam - macam. "
"Ah.. masa, anak bayi insting nya seperti Mamah nya. Ini sih Mamah nya yang curiga."
"Ini anak nya masih nangis, tanggung jawab. "
"Mamah nya dong, nenangin. Jangan di biarkan nangis, masa suami mau cari rejeki di larang. "
"Iya Papah sayang, bercanda. Udah ya nak, jangan nangis nanti sore Papah pulang." Ucap Mentari.
.
__ADS_1
.
.