
Sudah 6 bulan, Fatih masih berbaring di atas tempat tidur, Mentari dengan telaten mengurus suami nya. Rinjani yang kini sidak bisa tengkurap, dan di ajak bercanda, membuat hari - hari Fatih tidak terasa jenuh, di saat istri mengajar, Fatih di temani Ibu Mertua nya dan Ibu nya sendiri sambil mengasuh Rinjani.
"Iya kak, Papah belum bisa gendong ya. " Ucap Fatih karena Rinjani terus tengkurap sambil seolah mengajak bicara Papah nya.
"Aduh, anak kamu itu, udah berat sekali. Ibu sama Ibu Mertua kamu udah nggak kuat, gendong lama - lama, yang ada paling juga taruh di stroller. " Ucap Ibu Hasna.
"Rinjani, gemuk gini. Nanti ya Nak, kalau Papah udah sembuh kamu nanti sering papan gendong. "
"Jadwal operasi kamu kedua kapan? "
"Lusa Bu, besok harus sudah ada di rumah sakit. "
"Jam berapa? "
"Masuk sore aja Bu, kalau pagi atau siang jenuh disana ngapain tiduran juga bete, mending disini ada hiburan, bisa main sama Rinjani. "
"Iya Sih, sana sini enak di rumah. "
"Udah di siapkan?"
"Udah Bu, tinggal pergi aja. "
"Semoga Operasi kedua kamu bisa belajar miring, dan duduk. "
"Amin Bu. "
Mentari pulang, langsung menyalami Ibu Nuri dan Ibu Hasna, Rinjani merasakan sangat senang saat melihat Mamah nya datang.
Langsung menggendong, Rinjani tertawa dan menjerit, hingga Mentari ikut tertawa.
"Kangen ya Sama Mamah, tadi mainan apa sama Papah, sama Nenek? " Ucap Mentari sambil menggendong Rinjani, dan menciumi nya.
"Cepat makan dulu, nanti sama Fatih makan." Ucap Ibu Nuri.
"Saya suapin Mas Fatih aja dulu. " Ucap Mentari.
Mentari masuk, dan mencium punggung tangan Fatih, sambil masih menggendong duduk di samping suami nya.
"Makan dulu ya." Ucap Mentari.
"Nggak, kamu dulu yang makan. "
"Mas dulu ya. "
"Makan sama - sama aja, kan biasanya satu piring berdua. "
"Ya udah, ganti baju dulu ya, titip Rinjani."
"Iya."
Mentari mengganti pakaian nya, di depan Fatih. Jiwa lelaki nya keluar saat melihat lekukan tubuh mentari, selama ini Fatih puasa menahan semua nya.
"Kenapa Mas? ngiler ya. " Sindir Mentari dari pantulan kaca, melihat suami nya menatap ke arah nya terus.
"Iya Yank, kalau Mas nggak begini sudah Mas makan. Apalagi puasa habis melahirkan. "
"Kalau Mau juga bisa, tapi kan harus mandi besar, terus saya juga takut tulang belakang nya Mas, geser. "
"Hahahaha... benar - benar, jadi Mas puasa ya."
"Iya, kita sama - sama puasa. "
Rinjani kepala nya terus menyundul di samping perut Papah nya, dengan segera Mentari mengangkat tubuh Rinjani yang sangat berat.
__ADS_1
"Sama nenek dulu ya, Mamah Papah mau makan."
***
"Yank, aduh bawang ini. " Fatih langsung merasakan mual, dan langsung Mentari mengambil tissue untuk sesuatu yang keluar dari mulut nya.
"Ah bawang. "
"Aduh, maaf Yank. Ibu lupa masak nya ada bawang nya, ini kan bawang goreng, sambel goreng nya biar enak suka di taburi bawang goreng, karena udah ke aduk jadi menyatu."
"Iya, minta jeruk aja, buat hilangin enek nya."
Mentari membukakan kulit jeruk untuk Fatih, dan langsung di makan nya, seketika rasa enek nya sedikit hilang. "
"Nggak hilang - hilang ya Phobia bawang. "
"Kalau nggak suka sampai kapan juga tetap Phobia. "
****
"Maaf Ibu lupa. " Ucap Ibu Nuri.
"Nggak apa - apa Bu, Mas Fatih nya aja lebay." Ucap Mentari.
"Hus, nggak boleh bicara begitu. Denger sama Ibu Mertua kamu nanti tersinggung gimana. "
"Ya Maaf Bu. "
"Dah sana, kamu mandi terus Ibu sama Ibu Mertua kamu mau pulang. "
"Ya udah, Mentari mandi dulu. "
Tok.. tok...
"Kemana saja? baru kelihatan. "Tanya Ibu Hasna.
" Iya Bu, setelah Mentari pindah kita jarang ketemu, contact juga jarang. " Jawab Aneke.
"Nanti ya Mentari sedang mandi. " Ucap Ibu Nuri sambil memangku Rinjani.
"Ih.. gemes , pengen cubit. " Ucap Aneke.
"Kapan nikah, cepat. " Ucap Ibu Nuri.
"Kan udah nikah. " Ucap Aneke.
"Kapan? kok nggak kasih kabar. " Ucap Ibu Nuri.
"Iya, kapan nikah nya? tahu - tahu sudah nikah aja. " Ucap Ibu Hasna.
"Udah lama. "
Mentari datang dan langsung bercipika cipiki dengan Aneke.
"Jahat, baru main. " Ucap Mentari langsung mengambil alih Rinjani dari pangkuan Ibu nya.
"Ini saya main. " Ucap Aneke.
"Tari, kami pulang dulu ya. " Ucap Ibu Hasna.
"Iya Bu, makasih banyak. " Mentari bersalaman dengan Ibu dan Ibu mertua nya.
"Aneke, kami pamit. " Ucap Ini Nuri.
__ADS_1
"Oh iya Bu, hati - hati. "
"Eh, kemana aja kamu? " Tanya Mentari.
"Tar, saya itu sengaja menghindari semua nya. " Jawab Aneke.
"Ada apa sih? "
"Ntar dulu, kabar suami kamu gimana? Saya baru tahu dia kecelakaan. "
"Besok Operasi kedua, masih berbaring nggak bisa apa - apa. Cerita, kemana saja. "
"Mentari, jujur saya itu setelah sama Mas Gibran terakhir main, kamu tahu seminggu nya kita nikah. "
"Jangan bercanda. "
"Sumpah, kita nikah siri. "
"Nah, anak nya kan sudah lahir, sudah proses cerai kan? "
"Tita nggak mau cerai, saat anak nya lahir dia nggak mau membesarkan sendiri, Mas Gibran juga lebih banyak waktu sama istri sah nya. "
"Kalian bertiga masih satu sekolah kan? "
"Masih, makan nya saya banyak menghindari itu karena takut ada omongan. "
"Kamu nya lagi, pria beristri malah di pacari, sekarang nikah. Orang itu pikir pakai logika, bisa saja balik lagi. Terus sekarang mau apa coba , sama kenyataan nya. "
"Nggak tahu bingung, saya juga nggak mau di cerai. "
"Jadi kamu kesini, karena galau, bingung. "
"Saya butuh teman bicara. "
"Mas Gibran, kenapa kamu begitu. " Ucap Mentari.
"Menurut kamu, jadi saya gimana? "
"Nggak tahu, kamu sih gimana. Coba kamu di balik, suami kamu nikah lagi, gimana sakit nggak? "
"Katanya mau cerai, saya kan nggak salah. Emang Mas Gibran sudah nggak cocok. Eh saat anak nya lahir, malah balik ke istri nya. "
"Makan nya, pikir pakai otak. "
****
"Apa kabar? lama kita nggak bertemu. "
"Maaf Mas, pagi - pagi saya ingin bertemu sama Mas. "
"Ada masalah apa? "
"Mas kenapa menikahi Aneke? "
"Karena cocok dan cinta. "
"Terus, sekarang balik lagi sama Tita kan? Karena berat sama anak. Yang kemarin bilang nggak cocok gimana? " Ucap Mentari.
"Sampai sekarang juga, masih nggak cocok. "
"Tapi sama Aneke, cocok kan? "
"Iya,melupakan kamu juga, karena Aneke menjadi teman dekat dan teman curhat. "
__ADS_1
"Terus? bukti ny sekarang lupa kan sama dia. Kalau sudah nggak cocok, bilang sama Aneke untuk cerai, kalau sampai tahu, semua guru - guru dan staf Tata Usaha, bagaimana tanggapan nya. "