
Mentari langsung lari kedalam kamar mandi, memuntahkan semua isi perut nya, Fatih langsung menaruh barang - barang milik nya dan Mentari, yang di bawa kemah tadi.
Fatih langsung memijat tengkuk leher mentari, hingga semua nya keluar dan dan langsung lemas.
"Ke Dokter ya? "
"Nanti Mas, nggak kuat pengen istirahat. "
Mentari langsung melepaskan hijab nya, dan mengganti pakaian dengan kaos lengan pendek dan celana selutut, kebiasaan pakai serba pendek saat di dalam kamar, setelah Mentari memperlihatkan tubuh nya pada Fatih.
"Ac nya mau di matikan? "
"Volume sedang aja. "
Fatih pun menyelimuti Mentari, hingga sebatas perut, bahkan saat mengecek suhu tubuh istri nya yang demam.
"Yank, ke dokter ya. "
"Nanti Mas, mau tidur dulu. "
"Ya udah, Mas mau taruh pakaian kotor dulu."Ucap Fatih yang di anggukkan oleh Mentari.
Tok... tok...
Fatih mendengar suara ketukan pintu, dan langsung membuka nya, Fatih kaget saat yang datang itu Ibu Lika, Bunda nya Neli. Belum juga di suruh masuk, Ibu Lika langsung masuk dan duduk di sofa.
" Tante, kok nggak kasih kabar dulu, kalau mau kesini. "
"Ngapain kasih kabar segala, bukan nya kamu itu calon menantu saya. " Ucap Ibu Lika ketus.
"Maaf Tante, seperti nya Neli belum cerita ya?"
"Sudah, tapi kamu akan tetap menjadi calon mantu saya. "
"Maaf Tante, saya tidak bisa. "
"Kamu ini, sudah menyakiti hati anak saya, kamu tidak ingat seberapa lama hubungan kamu sama Neli, kamu begitu saja melupakan Neli. "
"Maaf kan saya Tante, saya memang salah, tapi saya tidak bisa melanjutkan kan nya. "
"Nggak bisa, kamu nggak bisa putus kan Neli begitu saja. Kamu tahu sekarang, Neli setiap malam menangisi kamu, dia beberapa hari ini tidak makan, bahkan lebih sering menyendiri di kamar nya. "
"Tapi saya sudah memilih Tante, saya memilih istri saya. Maaf kan saya Tante, dan saya sudah mencintai nya. "
"Kamu jahat Fatih, kamu jahat. Kamu tidak memperdulikan perasaan Neli, kamu malah menyakiti hati dia. "
"Maaf kan saya Tante, saya memang salah, tapi saya tidak bisa. Tolong sampai kan pada Neli, lupakan saya. "
"Saya jamin, kalian tidak akan bahagia." Ibu Lika langsung pergi meninggalkan rumah Fatih dengan rasa kecewa.
Fatih melihat Mentari yang sudah berdiri , dengan menatap seakan penuh pertanyaan.
"Yank, katanya tidur? "
"Mas akan kembali sama Neli? "
"Kata siapa? Mas tidak akan kembali sama Neli. "
__ADS_1
"Mendengar apa yang di katakan ibu nya, Neli sangat sedih. "
"Nanti juga dia akan terbiasa. "
"Mas."
"Ada lagi? " Tanya Fatih sambil membelai wajah Mentari.
"Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan saya."
"Mas tidak akan tinggal kan kamu. "
****
"Nggak apa - apa, hanya kecapean saja. Nanti istirahat yang cukup. " ucap Dokter Rika.
"Saya takut sekali Dok, saat baru pulang kemah, muntah - muntah apalagi pas malam terakhir udah pucat, sama semua badan nya nyeri. " Ucap Fatih menjelaskan.
"Iya Pak, nggak apa - apa, ini kecapean saja. Nanti saya siapkan resep obatnya, tapi ada satu yang harus di tebus di apotek. "
"Baik Dok. "
*****
Mentari terus menyandarkan kepala nya di kursi penumpang, sambil menunggu Fatih yang sedang mengantri obat. Hampir 20 menit Fatih mengantri, dan baru kembali.
"Lama ya. " Ucap Fatih sambil menutup Mobil nya.
"Tadi di apotek satu nya lagi Mas, disini mah penuh terus, sama lama. Disana sih penuh juga nggak lama. "
"Kan Apotek ini yang pertama kita lihat, terus juga nggak nyebrang jalan. "
*****
"Makan dulu. "
"Nggak nafsu makan Mas. "
"Kalau nggak nafsu makan, gimana mau sembuh, gimana nanti kita main kuda - kudaan. "
"Hah.. apa Mas, tadi bilang apa? "
"Nggak bilang apa - apa. " Ucap Fatih langsung memaksa memasukan sendok berisi bubur kedalam mulut Fatih.
"Mas, ih.. kasar banget. "
"Habis di suruh makan saja susah, minum obat susah. "
"Itu obat nya banyak banget Mas, ada 5,kan pahit. "
"Manja banget sih, kamu manja ya kalau sakit." Fatih mencubit hidung Mentari, dan langsung memukul lengan Fatih sangat keras.
"Sakit Yank. "
"Sama sakit juga. " Ucap Mentari memegang hidung nya.
*****
__ADS_1
"Lah kok masak?" Fatih melihat di meja makan penuh dengan lauk pauk.
"Makan Mas. "
"Boleh, tapi kita makan satu piring berdua ya."
"Seneng banget sih, makan satu piring berdua."
"Kan, biar romantis. " Fatih memeluk tubuh Mentari dari belakang, yang sedang menaruh nasi dan lauk nya di atas piring.
"Mau pakai sambal nggak? "
"Nggak, kamu kan baru sembuh. "
"Kan Mas yang makan, bukan saya. "
"Kita kan makan satu piring, tetap aja nanti sambal di colet. "
"Iya deh, nurut sama Pak Camat. "
Mentari menyuapi Fatih makan, lalu dirinya, sambil melihat acara TV, sesekali Fatih mengusap bibir Mentari yang selalu ada jejak nasi menempel di bibir nya.
"Jorok makan nya, kayak anak kecil. " Tegur Fatih.
"Laper Mas. "
"Laper juga jangan bar - bar makan nya. "
"Mas Fatih. "
Fatih dan Mentari di buat kaget, dengan Neli yang kini sudah berdiri di depan mereka, dengan kedua mata yang sembab.
"Neli." Ucap Fatih.
"Mas, hiks.. hiks... tolong jangan lepas kan saya. " Isak Neli.
Seketika, selera makan mereka berdua hilang, Mentari langsung menaruh piring nya di atas meja.
"Mas, selesai kan masalah kamu sama Neli."
"Nggak, kamu tetap disini. "Ucap Fatih.
"Nel, kemarin kan saya sudah jelaskan, kamu lihat saya sudah bahagia dengan Mentari. Tolong kamu ikhlas kan saya, kita tidak bisa seperti dulu lagi. "
"Hiks.. hiks... nggak Mas, saya nggak mau."
"Neli, maaf kan saya. Kalau saya menjadi orang ketiga di antara hubungan kalian, tapi ikatan pernikahan kita yang harus bersatu, belajar mencintai, belajar saling mencintai, tolong jangan rusak kebahagiaan kami saat ini. "
"Kamu bilang, jangan rusak kebahagiaan kami, apa kamu tidak ingat, hubungan kami rusak karena pernikahan kamu sama pacar saya, coba kamu jadi saya, bagaimana perasaannya, hancur Mentari, sakit Mentari. Kamu juga seorang wanita, seharusnya kamu berfikir bagaimana bila kamu di posisi saya. "
"Cukup Nel, tolong pergi dari kehidupan saya. Dan saya pun sudah membuang jauh kamu, dari kehidupan dan hati saya. " Ucap Fatih.
"Kamu jahat, kamu jahat Fatih, saya benci kamu. Sangat benci kamu. " Bentak Neli sambil terisak menangis.
"Mentari, kamu lihat saja, kamu tidak akan bahagia bersama Fatih, ingat itu. " Neli pun pergi meninggalkan rumah Fatih, dengan membanting pintu rumah nya.
Mentari hanya diam, dengan mata yang berkaca - kaca. Dengan segera Mentari pergi ke arah dapur sambil membawa piring , yang masih ada sisa lauk nya.
__ADS_1
"Yank..!!! "