
"Mas." Mentari duduk di pangkuan Fatih yang sedang mengerjakan laporan di depan laptop nya.
"Ada apa sayang? " Tanya Fatih memeluk tubuh Mentari dengan tangan kiri nya.
"Lagi ngerjain apa sih? sudah malah loh. " Jawab mentari kembali bertanya.
"Ini ada laporan yang harus Mas kerjakan, kenapa? "
"Laper, keluar yuk cari makan. "
"Mau makan apa? "
"Makan nasi pecel. "
"Makan nya, di depan alun - alun mau? "
"Mau banget Mas, disitu ada nasi pecel enak."
"Nanti ya tanggung Mas, selesai kan satu laporan dulu. Siap - siap aja dulu."
"Dandan dulu ya Mas. "
"Iya, yang cantik ya."
"Iya sayang. " Mentari mengecup bibir Fatih, suami nya hanya menggeleng kan kepala nya.
Fatih dan Mentari sudah berada di depan alun - alun kabupaten Panaran, banyak berjejer pedagang makanan dan pengamen jalanan yang menghibur para pengunjung di setiap warung, kaki lima yang hanya beroperasi di malam hari.
"Kenapa pedas ya? " Fatih langsung memberikan air minum pada istri nya.
"Enak Mas, nampol banget. " Udah Mentari, Fatih membersihkan sisa makanan yang menempel pada sudut bibir nya.
"Mas, nambah mendoan dong. "
"Boleh, Bang Mendoan nya ya satu porsi lagi."
Mendoan hangat pun di antar, Mentari dengan lahap makan mendoan tersebut dengan nasi pecel.
"Yank, nasi udah nggak enek lagi? "
"Iya Mas, nggak tahu tiba - tiba pengen makan nasi. Ini malah habis. "
"Alhamdulillah, masuk juga nasi nya. "
******
Mentari duduk dengan mengusap perut nya, karena kekenyangan, Fatih langsung menyuruh Mentari mengganti pakaian nya dengan sebuah daster.
"Ganti dulu, biar nggak sesak. "
Mentari bangun dan mengambil Daster yang di ambilkan oleh suami nya, sedangkan Fatih langsung menyandarkan tubuh nya di kepala tempat tidur.
"Mas, kapan turun nya? "
"Turun apa? "
__ADS_1
"Pengajuan pindah, SK nya kapan turun? "
"Sabar, mana ada SK di jam itu juga turun."
"Mas."
"Kalau Mas, di pindah gimana?"
"Ya Nggak gimana - gimana, masih di dalam kabupaten. "
"Kalau jauh? "
"Bolak balik sayang, kalau misalnya banyak kegiatan, menginap di rumah dinas. "
"Di tinggal - tinggal terus dong. "
Fatih langsung memeluk tubuh istri nya, di cium perut yang kini sudah terlihat membuncit.
"Ditinggal semalam kan nggak apa - apa, Mas kan bukan yang Dinas nya di pindah ke luar kota atau luar pulau. "
"Soalnya lagi pengen manja sama suami."
"Hmm.. dasar, sekarang udah bucin ya tadi sih boro - boro begini. " Sindir Fatih.
"Sama saja, Mas juga begitu. "
Hahahaha...
"Yaudah iya, mas ngaku. "
******
"Bicara apa? "
"Tita, saya hanya ingin kita tidak seperti ini. Sebelum saya pindah, alangkah indah nya kita tidak bermusuhan atau kamu cemburu sama saya. "
"Kamu tahu Mentari, Mas Gibran itu belum seratus persen melupakan kamu. Dan asal kamu tahu, Mas Gibran selalu membandingkan saya sama kamu. Makan nya, saya ingin terlihat berbeda dari kamu, agar Mas Gibran lebih mencintai saya. Kamu tahu, saya rela berdandan cantik, demi dia. Dan kenapa saya seperti ini? Saya ingin berpisah secara baik - baik, dengan memoroti dia, melibatkan orang tua. Kamu tahu, pernah dua malam, mengigau panggil nama kamu, bahkan saat berhubungan juga, pernah sekali sebut nya nama kamu. Apa tidak sakit hati seorang wanita? Kamu pasti bisa merasakan, karena kamu seorang wanita. "
"Makan nya, saya ambil keputusan untuk pindah dari sini. "
"Mas Gibran, akan menceraikan saya, setelah anak ini lahir. Saya siap, sangat siap. Kalau dia memang tidak bisa belajar mencintai saya."
"Tapi Mas Gibran, cerita sama saya malah kebalikan nya. "
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. "
"Saya minta maaf, kalau adanya saya, sangat mengganggu rumah tangga kalian. "
"Bagus lah kalau kamu mau pindah, itu lebih baik. "
"Semoga, dengan tidak ada nya saya nanti, rumah tangga kalian kembali membaik."
"Semoga saja, maaf kalau saya seperti ini. Saya juga sudah tidak tahan punya suami seperti dia. "
"Kamu jangan begitu, kasihan anak kamu nanti. Masih kecil malah kurang kasih sayang."
__ADS_1
"Kata siapa kurang kasih sayang, single parents jangan di anggap tidak bisa member kan kasih sayang, bukti nya banyak yang single parent yang sukses mendidik anak nya sampai sukses, tanpa ada nya seorang pria."
*****
Mentari hanya mengaduk makanan nya, Fatih yang berada di depan istri nya, memegang tangan kiri nya.
"Ada masalah? "
"Nggak ada. "
"Di makan, nanti dingin. "
"Iya." Mentari memakan nya, namun hanya beberapa sendok dan menyudahi nya.
"Yank, cerita sama Mas. Kalau ada masalah."
"Mas, jangan marah ya. "
"Cerita, Mas nggak akan marah. "
"Kata Tita, Mas Gibran masih belum bisa lupa sama Mentari. "
"Sudah lah, jangan di anggap serius. Yang penting Ayank nggak ganggu hubungan mereka. Yang punya masalah kan Gibran, Mas percaya kamu sudah lupa sama dia, kalau masih belum bisa lupa, kamu masih sering kan jalan atau bahkan main belakang. Mas percaya sama Ayank, sekarang jangan pedulikan masalah mereka."
"Tapi Mas, saya kepikiran terus. "
"Sudah ya, jangan di ambil pusing, kasihan sama anak kita di perut. "
*****
"Maaf ya, tadi habis kasih tugas ke anak - anak dulu. " Ucap Gibran saat masuk kedalam mobil milik Fatih.
"Nggak apa - apa, kita cari tempat buat ngopi."
"Boleh."
Mobil pun melaju dengan sedang, dalam perjalanan hanya obrolan yang tidak mengarah serius, hanya obrolan para pria dewasa, yang kadang menimbulkan tawa di antara kedua nya.
Hingga mobil pun sampai, pada sebuah warung kopi dekat dengan persawahan, dan hanya lalu lalang petani membawa hasil panen nya.
"Sering ngopi disini? " Tanya Gibran.
"Sering, disini enak banget buat santai, minum kopi di temani sama rebusan pisang dan ubi goreng. " Jawab Fatih.
"Gibran, maaf sebelumnya . Saya ingin bicara, masalah tentang pasangan kita. "
"Pasangan kita, kenapa? "
"Kita ini pria yang dewasa dan memiliki seorang istri, dan pasti kamu tahu kan. Kita yang sudah berumah tangga itu, memiliki masalah masing - masing, baik masalah kecil maupun masalah besar, tapi ini masalah kamu bukan masalah keluarga saya. Tapi disini, secara tidak langsung, masalah kamu membawa istri saya terlibat. Saya sebagai suami nya, harus bertindak. Bagaimana juga, saya tidak mau, masalah rumah tangga kamu, mengganggu rumah tangga saya. "
"Maaf sebelumnya, kalau ini sangat mengganggu. Saya tidak ada maksud, untuk mengorek terus kisah lama saya, maafkan saya. "
"Sekarang kamu harus jujur sama saya, katakan sejujurnya, biar hari ini jelas, dan kita selesai kan hari ini juga. Saya tidak mau, rumah tangga saya terganggu, apalagi istri saya yang tidak tahu apa - apa. Sekarang kamu jujur, apa kamu masih mencintai Mentari? "
.
__ADS_1
.
.