Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Terkuak


__ADS_3

Mentari berjalan masuk kedalam rumah kedua orang tua nya, setelah di hubungi oleh Sakti. Terlihat saat sampai di dalam rumah, Kedua orang tua nya menatap tajam ke arah Mentari, bahkan Sakti pun tak berani menatap.


"Mana suami kamu? " Tanya Pak Slamet.


"Sedang keluar, ke balai desa. " Jawab Mentari.


"Apa kamu, jarang mendampingi suami kamu setiap ada kegiatan? " Tanya kembali Ibu Nuri.


"Jarang Bu, Ayah. "


Tak lama, Fatih pun datang, dan langsung menyalami kedua mertua nya, Mentari seakan menatap penuh tanya kepada suami nya.


"Mas kok kesini? "


"Sakti telepon Mas, untuk kesini. "


"Ibu sama Ayah, ada apa sih panggil kami berdua? "


Lalu terdengar suara langkah kaki, dan masuk lah Pak Syahrul dan Ibu Hasna, kedua nya langsung duduk dan menatap ke arah kedua nya.


"Kok Ayah sama Ibu juga kesini? "Tanya Fatih bingung.


Pak Slamet lalu berdiri dan menatap tajam ke arah Mentari, sebuah tamparan keras, melayang mengenai pipi Mentari hingga memerah.


Plaaaaakkkk


" Ayah. " Ucap Mentari.


"Ayah." Ucap Fatih kaget.


"Dasar anak durhaka kamu, neraka buat kamu membohongi orang tua, dan mempermainkan suatu pernikahan..!! " Bentak Pak Slamet.


"Maksud Ayah gimana? " Tanya Mentari sambil memegang pipi nya.


"Lihat ini apa...!! " Pak Slamet melemparkan beberapa photo, dirinya dan Gibran. Dan Pak Slamet pun melemparkan kembali ke arah Fatih.


Fatih memungut nya, terlihat beberapa photo dirinya dan Neli. Pak Syahrul langsung menarik tubuh Fatih hingga terjatuh dari sofa.


Plaaaakkk


Buuuhhhhhhggggg


"Ampun Ayah, jangan pukul Fatih. " Ucap Fatih saat Pak Syahrul memukul tubuh nya.


"Ayah sama Ibu tidak mendidik kamu, menjadi pria yang menodai suatu pernikahan. Kamu tahu Fatih, pernikahan itu bukan untuk main - main, maksud nya apa? kalian jalan bersama orang lain yang jelas bukan pasangan sah, kamu jalan sama Neli, dan kamu Mentari jalan sama Gibran. "Ucap Pak Syahrul.


" Kalian itu, buat kami kecewa. " Ucap Ibu Hasna.

__ADS_1


"Mentari, Ibu malu. Punya anak seperti kamu, apalagi ada orang yang melihat nya bahkan photo ini bisa saja di sebarluaskan, dan menjatuhkan kalian. " Ucap Ibu Nuri.


"Maaf Bu, Ayah, saya tidak mencintai Mas Fatih. " Ucap Mentari jujur.


"Kamu Mentari, apa kurang nya Fatih. Dia lebih baik dari Gibran, Ayah sama Ibu memilih kan jodoh yang terbaik buat kamu. " Bentak Pak Slamet.


"Tapi saya tak cinta, begitu juga Mas Fatih. Malah kami, sedang berpikir bagaimana cara kami agar bercerai. " Ucap Mentari lantang.


Plaaaakkk


Plaaaakkk


"Ayah...!!! " Ucap Ibu Nuri saat melihat putri nya di tampar hingga tersungkur.


Fatih segera membantu Mentari bangun, terlihat darah di sudut bibir Mentari.


"Pukul lagi Ayah... pukul.. saya rela, tubuh saya ini di lukai sama Ayah, saya akan memperjuangkan perasaan saya. "


"Cukup...!! " Ucap Fatih.


"Kami memang, mencintai pasangan kami masing - masing, terbaik kata kalian, tapi tidak terbaik buat kami. Kami memang salah, tapi tolong restui pilihan kami berdua. " Ucap Fatih.


"Baik kalau kalian ingin pisah, tapi perpisahan kalian tidak untuk restu pada pilihan kalian." Ucap Pak Syahrul.


"Ayah akan usulkan kamu, agar pindah tugas dari sini yang jauh, dan Ayah juga akan usulkan Mentari untuk menjadi guru yang jauh juga. Tinggal pilih mana. " Ucap Pak Syahrul.


"Orang tua itu, ingin yang terbaik buat anak nya, tapi malah kalian buat kami kecewa. "Ucap Ibu Nuri.


" Sekarang, kamu ambil pakaian kamu dari rumah Fatih, Ayah tidak sudi kalian satu atap, dan Ayah ingin kalian merenungi kesalahan kalian. Kalau kalian, sudah mau memutuskan menurut apa kata kami, kalian boleh tinggal satu atap lagi. "


*****


"Pasti, kalian berdua sedang di marahi oleh kedua orang tua kalian, tapi tidak sia - sia kerja dari kamu, dan saya tambahkan komisi nya. " Ucap Tita.


"Saya akan sebarkan, dan agar orang atas tahu. "


"Cukup, cukup orang tua nya tahu saja. Sebelum saya menjadi istri sah dari Gibran, saya ingin melihat sandiwara terbaik mereka."


"Ok, kalau begitu saya pamit, kalau ada sesuatu lagi dan perlu bantuan saya, siap untuk menjalan kan mandat dari Ibu Tita. "


*****


Sakti mengobati luka di sudut bibir kakak nya, sedangkan Fatih masih terus di cecar oleh kedua orang tua nya, terdengar Pak Syahrul tak henti membentak Fatih.


"Kenapa bisa tahu? siapa yang kirim photo itu? " Tanya Mentari.


"Saya tidak kasih tahu mereka Kak. " Jawab Sakti.

__ADS_1


"Berarti, selama ini ada yang mengikuti Kakak sama Mas Fatih. "


"Bisa jadi. "


"Tapi siapa ya? "


"Mungkin, orang terdekat Kakak dan Mas Fatih, atau yang hanya ingin uang dan jual berita nya, lalu sebagai awal rencana, dengan ancaman photo."


"Tapi, Mas Fatih tidak ada telepon yang meminta uang. "


*****


Fatih duduk berdua di dalam kamar Mentari, Fatih mengusap pelan luka di sudut bibir nya, Mentari hanya menundukkan wajah nya.


"Mas, kalau mau ambil keputusan saya siap, perjuangan kan cinta Mas. Kita percuma Mas, pertahankan juga, hati Mas kan hanya untuk Neli, sedangkan saya perjuangkan bagaimana."


"Kita jalani, kita ikuti apa kata mereka. Kita belajar untuk saling mencintai. "


Mentari menatap ke arah Fatih begitu juga Fatih menatap lekat kedua mata Mentari. Tangan Fatih, memegang tangan Mentari dengan ibu jari mengusap punggung tangan nya.


"Kita terima takdir, kita jalani takdir yang sekarang, mungkin benar, orang tua ingin yang terbaik buat anak - anak nya, mungkin Mas jodoh terbaik buat kamu, dan kamu jodoh terbaik buat Mas. "


"Saya tidak mau menyakiti hati Neli Mas, dia baik. "


"Mas dengan berat hati, harus melepaskan Neli, dari pada kita nanti berjauhan, tapi status masih melekat pada kita. Lebih baik, ambil keputusan jalan tengah, kita belajar untuk saling mencintai. "


"Tapi Mas. "


Fatih memegang kedua pipi Mentari, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan hembusan nafas mereka saling terasa.


"Mulai sekarang, kita adalah suami istri yang sesungguhnya, kita harus belajar saling menerima, saling menerima kekurangan dan kelebihan kita masing - masing. Detik ini jam ini, kita adalah pasangan suami istri, bukan sebatas di atas kertas, kita bersama - sama mengarungi bahtera rumah tangga. Mau ya, kamu mau kan? "


Mentari menganggukkan kepala nya, Fatih tersenyum dan mencium kening Mentari, di peluk nya tubuh Mentari, kedua tangan Mentari membalas pelukan hangat Fatih.


Saat melintas, Ibu Nuri melihat pemandangan yang membuat kedua mata nya berkedip - kedip, dan langsung melambaikan tangan pada Ibu Hasna yang sedang berada tidak jauh dari nya.


"Lihat mereka. " Tunjuk Ibu Nuri.


"Mereka tidak sedang akting kan? " Ucap Ibu Hasna.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2