
"Mentari."
"Hem."
"Kamu sudah tidur? "
"Belum, kenapa? " Tanya Mentari yang memunggungi Fatih yang sedang berbaring di atas karpet bulu sedangkan Mentari berbaring di atas tempat tidur.
"Saya mau tanya, kamu benar yang tadi itu ciuman pertama? " Tanya kembali Fatih.
"Kenapa tanya itu? " Tanya kembali Mentari.
"Ya Nggak apa - apa sih, tapi kan saya yang pertama bukan Gibran. "Jawab Fatih.
" Terus? "
"Ya kamu nggak apa - apa gitu? "
"Kita kan halal, terus mau protes bagaimana?"
"Jadi kamu bisa kan buka hijab kamu saat tidur. "
Mentari bangun dan duduk dengan menatap tajam ke arah Fatih, Fatih pun ikut bangun dan duduk menatap ke arah Mentari.
"Biasa aja kali, tatapan nya kayak mau menerkam. "
"Tadi ngomong apa? "
"Hijab kamu buka aja, tidur tuh. Beda nya apa sih, saya kan suami kamu, tadi sudah cium pipi kamu. Terus ngapain kamu masih pakai hijab pas tidur, rambut kamu juga perlu udara. Saya ini bukan orang lain. "
"Tapi pernikahan kita hanya di atas kertas, kita ini hanya sandiwara. Mas minta saya buka hijab, terus habis itu Mas minta saya buka pakaian,memang nya saya ini Neli apa, enak saja. "
"Kamu pikir, saya sama Neli sudah tidur sama - sama ya? "
"Mana saya percaya, cewek sih kelihatan kalau udah nggak perawan, nah cowok bedain nya susah. Terus, kemarin saat malam pertama kita, Mas nggak pulang, terus baru pulang pagi, nih di leher ada tanda merah. "
"Iya ngaku, kalau gaya pacaran kita itu bagaimana, tapi kita nggak sampai tidur bareng. Makan nya, ada pria yang benar - benar jaga wanita nya. "
"Nggak peduli tuh, lagian kita ini memiliki pasangan masing - masing, mau Mas tidur bareng, mau mas hamili Neli nggak perduli."
"Jujur, Neli pernah ingin menyerah kan nya sama saya saat itu kami memang di luar batas, tapi saya tidak mau saat sadar. Karena saya tidak mau merusak wanita, apalagi tanpa ikatan, takut takdir berkata lain. Takut menyesal di kemudian hari. "
"Curhat nih? "
"Kamu berbeda, tapi Neli memiliki kelebihan, dia percaya sama pasangan nya, dia malah percaya kalau kita tidak melakukan hal yang di luar pikiran orang, dia itu sabar, dia itu nggak pernah marah, selama hubungan dia tidak pernah meminta ini itu, atau memanfaatkan kekasih nya yang memiliki pangkat. Tapi entah, orang tua tidak merestui kami. "
"Mas Gibran pria baik, pertama dia datang Ayah yang tidak suka. Entah kenapa alasan nya, mungkin karena rencana orang tua kita. Dia cinta pertama saya Mas, dia baik, perhatian, dia tidak pernah sekalipun marah, walau dia benar, dia yang akan minta maaf, sabar nya, perhatian nya yang membuat saya tetap bertahan. "
"Terus? "
"Ya tidak tahu, bagaimana cara kita untuk bisa berpisah sedang kan melihat kedua orang tua mas tadi saja, saya merasakan bersalah. "
*****
Mentari melihat Gibran bersama Tita duduk berdua, Mentari datang menghampiri mereka yang terlihat berbicara serius.
__ADS_1
"Mas." Sapa Mentari.
"Mentari." Ucap Gibran langsung berdiri.
Tita tersenyum dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua, Mentari pun duduk dan Gibran duduk kembali.
"Tumben ngobrol sama Bu Tita? "
"Kenapa? Cemburu. "
"Serius amat. "
"Ada yang Mas obrolin penting. "
"Tapi kenapa langsung pergi, nggak senyum lagi, nggak biasa nya. "
"Perasaan kamu aja, kemarin mertua kamu nggak tanya apa - apa kan? "
"Nggak, malah datang - datang, dimasakin."
"Sayang banget ya? "
"Iya Mas. "
"Mas, ada sesuatu buat kamu. Mumpung ingat. "
Gibran merogoh saku celana nya, dan memberikan sebuah kalung emas, berwarna putih dengan liontin hati.
"Buat kamu. "
"Mas ingin kasih kemarin, eh lupa di jaket."
"Mentari Pakai ya. " Udah Mentari lalu memakai nya.
"Bagus, makasih. "
*****
"Pak, ada yang mau minta tanda tangan untuk Ke Korpri. " Ucap Pak Marwan sebagai sekretaris Korpri kecamatan.
"Pak Marwan, nanti kalau lewat di ruangan nya Halwa, tolong suruh kesini bawa berkas yang perlu di tanda tangan, dan legalisir an, soalnya saya mau ada rapat di kabupaten." Ucap Fatih.
"Baik Pak. " Ucap Pak Marwan sambil membawa berkas nya kembali.
Pintu pun di ketika, dan Halwa masuk dengan membawa berkas yang di minta Fatih.
"Pak, besok ada yang mau ketemu sama Bapak? "
"Siapa? "Tanya Fatih sambil menanda tangani berkas.
" Biasa Wartawan, tadi saya bilang Bapak sedang Briefing. "
"Besok saya ada rapat di kabupaten mendadak, nanti suruh Pak Sekmat Masduki saja yang temui. Wartawan yang biasa kan? "
"Iya, yang hampir setiap bulan datang. "
__ADS_1
"Temui Pak Sekmat aja, sekarang mau Rapat di Kabupaten, besok Rapat lagi disana. "
"Tolong kamu, buat kan SPPD nya buat saya dua hari, yang besok itu mendadak masih satu acara sama sekarang. "
"Surat masuk nya Pak, maaf? "
"Nanti saya kirimkan lewat chat. "
"Baik Pak. "
Fatih keluar dari ruangan nya, dan Neli langsung memeluk Fatih yang sedang fokus pada ponsel nya.
"Ya Allah Neli. " Fatih langsung menarik tangan Neli masuk ke ruangan nya, dan melihat para staf mengetahui kedatangan Neli ke kantor kecamatan.
"Kamu mau ngapain kesini? "
"Mampir bentar, nih buat Mas. " Ucap Neli sambil menyerahkan makan siang.
"Mas mau rapat, mau jalan. Terus jangan pernah datang ke kantor, mereka tahu siapa kamu, kalau ada yang laporkan bagaimana, kalau sampai tahu wartawan bagaimana. "
"Kok Mas, batasi kita sih? "
"Yank, kita ketemu nya di luar saja, jangan di disini. Kalau disini mereka tahu saya ini sudah menjadi suami nya Mentari. "
"Maaf deh, terus bagaimana? "
"Nanti Mas, yang atasi. Sekarang pulang ya, Mas mau keluar. "
"Ok deh, tapi di makan ya. '
" Iya sayang, makasih ya. "
Neli pun keluar, dengan segera Fatih memanggil para staf yang melihat nya, bahkan Satpol PP yang sedang berjaga pun di panggil nya.
"Saya mau minta maaf pada kalian semua, tadi apa yang kalian lihat. Saya minta tolong, untuk diam dan tidak bicara pada siapa pun. "
Semua hanya diam, dan menatap ke arah Fatih, dan Fatih merasa bingung harus menjelaskan bagaimana lagi.
"Pak, maaf kami juga tidak ikut campur masalah pribadi Pak Camat, kami juga tidak akan bicara panjang lebar di luar. " Ucap Pak Sekmat.
"Makasih Pak, tadi itu tidak sengaja kesini, hanya mengantarkan makanan saja. Dan tadi itu terakhir kali nya, datang kesini. "
*****
Mentari bercermin dengan memperlihatkan kalung yang menghiasi leher putih jenjang nya, rambut panjang nya di biarkan tergerai. Sambil tersenyum, dan memegang liontin hati dari Gibran.
"Makasih sayang, kamu itu Mas romantis banget kasih kalung. " Ucap Mentari, tanpa sadar Fatih yang baru sampai dan membuka pintu kamar, melihat Mentari yang tidak memakai hijab.
Dari cermin terlihat wajah Mentari yang tidak mengenakan hijab nya, wajahnya yang natural terlihat tampak semakin cantik, yang membuat Fatih semakin salah tingkah.
"Mas...!!! "
.
.
__ADS_1
.