
Hai... Sahabat Puspa.. dimana pun kalian berada, semoga selalu dalam lindungan Tuhan.. Amin... !!!
Di penghujung tahun 2022 ini, 574 hari saya menjadi Author, mengisi waktu kalian untuk sekedar baca di saat santai. Saya ucapkan banyak terima kasih, untuk semua nya. Selalu hadir di setiap karya saya dari Merpati Ku Yang hilang sampai Pak Camat dan Mentari. 18 Karya, itu tidak mudah ya, menarik pembaca agar untuk tetap menjadi pembaca setia saya, ada yang tetap stay, ada yang hanya mampir di beberapa karya, atau sekedar mengintip. Tapi saya ucapkan banyak terima kasih.
Dan tidak mudah, sampai di titik sekarang.Dari dukungan, hujatan, tuduhan plagiat, semua nya menjadi pondasi saya, sebagai seorang penulis novel.
Terima kasih, buat yang sudah menghujat, terima kasih buat yang pernah bilang saya plagiat, Terima kasih banyak nya untuk Sahabat Puspa atas dukungan nya. Dan saya mohon maaf, karena masih belum sempurna untuk memberikan karya yang terbaik, saya juga masih banyak belajar.
I love you...
Salam Sahabat Puspa....
.
.
.
Mentari di temani oleh Ayah nya, menunggu Fatih yang sedang menjalani operasi kedua. Mentari tidak tenang, dan terus mondar mandir di depan pintu ruang operasi.
"Duduk Tari, di dalam Fatih kuat nak." Ucap Pak Slamet.
"Saya nggak tenang Yah, takut banget. "
"Pasti berhasil, operasi kedua semoga Fatih bisa bergerak lagi. "
"Sudah 1 jam Yah, belum juga keluar. "
"Tenang pasti juga keluar. "
Tak lama, pintu kamar operasi terbuka, Dokter pun keluar dan langsung menghampiri Mentari dan Ayah nya.
"Dokter, bagaimana suami saya? " Tanya Mentari dengan jantung berdebar kencang.
"Alhamdulillah, operasi nya lancar. Nanti tinggal operasi ketiga untuk pencabutan pen, insya Allah operasi kedua ada perubahan walau baru sedikit, karena harus bertahap." Jawab Dokter.
"Alhamdulillah." Ucap Pak Slamet dan Mentari.
"Kalau begitu, saya permisi. Dan pasien akan segera langsung di bawa ke kamar observasi."
"Terima kasih Dok."
*****
"Alhamdulillah saya, operasi lancar. "
"Iya sayang, makasih ya. "
"Sama - sama sayang, Rinjani bagaimana?"
"Sama ibu, sekarang Mas jangan banyak bicara, istirahat kan masih pemulihan pasca operasi. "
"Nggak mau, Mas ingin lihat wajah kamu sayang. "
"Ih.. bucin nya ini nggak ketulungan. "
Fatih tersenyum tangan nya membelai pipi Mentari, tangan Mentari memegang tangan suaminya dan mengecup punggung tangan suami nya.
"Saya akan tetap disini, nggak akan bangun dari duduk sebelum Mas itu tidur. "
"Iya Mas tidur, tapi di puk puk ya seperti Rinjani. "
"Ih.. gemes benar punya suami."
*****
"Gimana? sudah ada perkembangan. " Ucap Pak Syahrul.
__ADS_1
"Alhamdulillah Yah sudah bisa sedikit gerak tadi, tapi jangan terlalu banyak gerak, kan takut nya berubah lagi. " Ucap Mentari.
"Dapat salam dari Pak Bupati, beliau belum bisa tengok, karena masih banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan."
"Nggak apa - apa Yah, salam buat Pak Bupati." Ucap Fatih.
"Nanti Ayah sampai kan, Mentari kalau kamu mau istirahat pulang, nggak apa - apa. Ayah kebetulan sudah pulang, nanti Ibu juga mau kesini."
Mentari menatap ke arah Fatih, dan Fatih menganggukkan kepala nya. Mentari pun langsung bersiap - siap untuk segera pulang.
"Mas, kalau gitu saya pulang dulu, nanti kesini lagi. "
"Besok lagi aja, biar kamu nyenyak tidur nya. Kasihan Rinjani, biar Fatih sama Ayah. "
"Makasih Yah, maaf merepotkan."
"Nggak apa - apa. " Ucap Pak Syahrul tersenyum.
*****
Rinjani tidak mau tidur, dan terus bermain. Mentari yang sudah mengantuk, tak kuasa menahan nga. Rinjani memukul wajah Mamah nya, yang tahu mata nya sudah berdaya 3 watt.
"Bobo sayang, Mamah ngantuk. " Ucap Mentari sambil mengusap paha Rinjani yang besar.
"Mam-mama-mamaa."
"Iya, bobo ah ngantuk. "
"Aaaaaaa."Jerit Rinjani dengan suara khas bayi langsung memukul kembali wajah Mamah nya.
" Iya, Mamah bangun. " Mentari langsung duduk dengan wajah kantuk nya.
"Telepon Om Sakti ya, suruh jaga kamu. Mamah udah nggak kuat sayang."
Mentari lalu menghubungi Sakti, untuk datang ke rumah nya, menemani ponakan nya yang belum juga tidur.
"Iya Mba, on the way sekarang."
"Cepat nggak pake lama. "
****
"Ponakan Om, udah malam. Masa jam 12 malam belum bobo, kasihan Mamah capek sayang, habis jagain Papah kamu." Ucap Sakti sambil menggendong Rinjani.
Tak lama Rinjani menangis, hingga membuat Mentari bangun kembali, tangisan Rinjani sangat kencang dan Sakti pun kewalahan karena Rinjani terus menangis.
"Kamu apakan Rinjani sih, masa temani sampai tidur saja nggak bisa. "
"Mba, ini anak nya emang nggak mau tidur. Mungkin tadi tidur sore nya, jadi belum kantuk."
"Dasar nggak bisa. " Mentari langsung menenangkan Rinjani yang tak lama tidur di dalam dekapan nya.
Sakti pun sudah tidak kuat, dan langsung ikut masuk kedalam kamar Rinjani, berbaring di samping ponakan nya.
"Ngapain kamu? " Tanya Mentari.
"Tidur Mba, ngantuk. " Jawab Sakti sambil memeluk tubuh ponakan nya.
"Sana, di kamar Mba aja. Atau kamar tamu."
"Sama Rinjani saja." Akhirnya Mereka bertiga tidur bersama di kamar Rinjani.
*****
Mentari memasak untuk di bawa ke rumah sakit dan makan siang adik nya, Sakti tidur kembali setelah Shalat shubuh bersama Ponakan nya.
Rinjani tidur di atas tubuh Sakti, setelah minta minum susu di botol. Mentari membuka jendela kamar, agar udara pagi masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Sapa salam dari Ibu Nuri.
"Walaikumsalam, Ibu. " Balas Mentari langsung bersalaman dengan mencium punggung tangan nya.
"Masya Allah, anak perjaka jam segini masih tidur. " Ucap Ibu Nuri yang melihat Sakti masih tidur dengan posisi Rinjani berbaring di atas tubuh nya.
"Masih ngantuk Bu, biarkan saja. Saya juga sudah masak untuk Ibu sama Sakti. "
"Ya sudah kamu mandi, biar Rinjani sama Ibu mandi nya. "
"Yaudah bu saya mandi dulu ya. "
*****
"Makan dulu ya Mas. " Mentari menyuapi suami nya.
"Rinjani gimana? "
"Malam nggak tidur - tidur Mas, saya kan ngantuk banget, jadi telepon Sakti. Eh.. tetap saja bisa tidur nya, malah sama Mamah nya. Sama Sakti malah nangis kejer banget."
"Sekarang masih sama Sakti? "
"Masih Mas, malah masih tidur saat saya berangkat. Rinjani tidur di atas tubuh Om nya."
"Pasti berat ya. "
"Tapi mereka sama - sama nyenyak."
"Udah Yank, Mas kenyang."
"Yaudah, Mas mau buah? "
"Nanti Yank, Mas masih kenyang."
Mentari menaruh piring di atas nakas, tak lama Beli datang, dan membuat Mentari merasakan sangat sedikit kesal tapi masih bisa di sembunyikan.
"Hai... gimana kabarnya ? Sudah baikan? " Ucap Neli yang langsung to the point pada Fatih.
"Oh iya, ini bunga tolong pajang di vas ya biar seger, dan ada makanan kesukaan Mas Fatih, bubur Ayam langganan Mas. "
"Seharusnya kamu nggak usah repot - repot, kamu bawa juga Mas Fatih nggak akan makan. Dan itu lagi bunga nya bentar lagi juga, di buang kalau ada Cleaning servis kemari. " Ucap Mentari.
"Makasih ya, sudah datang. Kamu tahu dari siapa saya operasi lagi? "
"Dari anak buah nya Mas, kemarin datang ke Bank. "
"Oh, ini operasi kedua nanti ada yang ketiga."
"Pasti sakit. " Ucap Neli.
"Lebih sakit, kalau kedatangan kamu disini nggak di harapkan. " Celetuk Mentari.
Neli hanya tersenyum kecut, namun tetap santai di depan Fatih dan Mentari. Neli lalu menyentuh tangan Fatih dan berbisik.
"Masa lalu, masih boleh dekat kan. Walau kedekatan kita tidak seperti dulu lagi."
Fatih tersenyum ke arah Neli, dan membuat Mentari sedikit kesal, sambil terus memandang kedua nya sambil menyilangkan kedua tangan nya.
"Boleh dekat, tapi tetap saja ada jarak." Ucap Fatih yang membuat senyum di wajah Neli hilang.
.
.
.
.
__ADS_1