
Dengan segera Mentari mengambil hijab nya dan memakai nya, Fatih salah tingkah, Mentari langsung menghampiri Fatih yang masih berdiri di depan pintu.
"Mas nggak sopan. " Tegur Mentari.
"Maaf, tadi nggak sengaja, mau masuk pintu nggak di kunci, kirain kamu nggak ada di dalam kamar. " Ucap Fatih.
"Seharusnya, tahu ada saya Mas tutup kembali pintu nya, bukan malah lihatin begitu saja, nggak sopan tahu. "
"Maaf ya, saya kaget lihat kamu lepas hijab."
"Awas aja kalau tahu mengintip lagi. " Ucap Mentari langsung keluar dari kamar nya.
Fatih mengusap dada nya, terasa detak jantung yang berdetak sangat kencang, dan langsung menutup pintu kamar nya.
Sambil membuka seragam nya, Fatih masih mengingat Mentari, rambut panjang terurai, wajah cantik nya yang natural.
"Loh.. loh.. kenapa jadi bayangin tuh cewek, ingat Fatih ada Neli, bukan Mentari. "
****
"Kok makan sendiri? Punya saya nya mana? " Tanya Fatih yang melihat Mentari sedang makan.
"Pesan aja sendiri. " Jawab Mentari.
"Kok pesan, memang nya kamu nggak masak? "
"Masak!!! Sejak kapan saya jadi pembantu Mas, kita kan sepakat mengurus diri sendiri walau satu atap. "
"Ya tapi kan kamu cewek di rumah ini, tinggal di sini setidak nya masakin saya gitu, hitung - hitung gotong royong. "
"Mas sadar nggak? Pertama saya masuk rumah ini sebagai istri. Dimana - dimana suami kasih duit sama istri nya, jangan enak nya saja nama saya di masukin ke daftar gaji dong, kalau mau di masakin, bagi sini duit nya. " Ucap Mentari sambil membuka telapak tangan nya.
"Astagfirullah, kenapa saya lupa ya. "
"Astagfirullah, kenapa saya lupa ya, dasar aneh. "
"Sumpah Mas lupa, kasih ATM ke kamu." Ucap Fatih langsung masuk kembali kedalam kamar nya, dan keluar sambil membawa kartu ATM.
"Nih, ATM gaji saya. Pin nya tanggal jadian saya sama Neli. " Ucap Fatih pelan.
"Berapa tanggal jadian juga, emang nya saya tahu. "
"150519."
"Iya, nanti saya tarik. "
"Terserah kamu mau ambil berapa, itu hak kamu. "
"Iya."
Fatih mengambil piring di depan Mentari, dan memakan yang apa sedang di makan Mentari.
"Ih... Mas, kok di ambil sih, orang Saya sedang makan."
"Lapar, jadi setengah an. "
"Ah... Mas, nggak ah sini. "
"Perut nya udah keroncongan, lama kalau pesan. "
"Nggak - nggak, beli aja sana. "
****
__ADS_1
Mentari sibuk mengoreksi hasil ulangan tadi siang, hingga pukul 11 malam masih berkutik pada kertas yang menumpuk.
Fatih melirik Mentari yang sedang sibuk setelah isya tadi, Fatih berjalan mendekat ke arah Mentari dan duduk di samping nya.
"Kamu belum mengantuk? "
"Belum."
"Udah malam loh, sebaik nya istirahat. "
"Tanggung satu kelas lagi. "
"Kenapa nggak di cicil koreksinya? "
"Hari ini hampir jadwal setiap kelas ada, sekalian capek nya. "
"Saya tidur duluan ya. "
"Hem."
Fatih masuk kedalam kamarnya, menata karpet bulu nya, dan bantal di atas lantai, lalu segera membaringkan tubuh nya sambil menatap langit - langit kamar.
*
*
*
Fatih terbangun, saat terasa dirinya ingin buang air kecil, saat bangun Mentari tidak ada di atas tempat tidur nya. Fatih segera keluar dari kamar nya, dan melihat Mentari yang tertidur, dengan kepala di atas meja yang menjadi bantalan nya.
"Mentari, bangun. " Ucap Fatih sambil menepuk pulang punggung Mentari.
"Mentari, bangun. "
Mentari menggeliatkan tubuh nya, sambil mengucak mata nya, dengan padangan masih buram, Mentari melihat Fatih berdiri di samping nya.
"Jam 3 pagi, kamu pindah ke kamar. " Jawab Fatih.
"Bentar lagi shubuh ya, tadi batu tidur jam 2."
"Sekarang kamu pindah, sakit tahu leher nya tidur seperti tadi. "
"Nanti shubuh bangunin. "
"Iya."
Mentari segera bangun namun kaki nya tidak sengaja, tersandung kaki meja, hingga mendorong tubuh Fatih.
Fatih pun terjatuh, reflek kedua tangan nya menarik pinggang Mentari, hingga tubuh Mentari berada di atas tubuh Fatih, dengan bibir saling bersentuhan.
Fatih dan Mentari diam seakan tubuh mereka kaku, Fatih yang masih memeluk erat tubuh Mentari, lampu tiba - tiba padam, Mentari reflek berteriak dengan memeluk erat tubuh Fatih, dengan wajah nya menelusup di leher Fatih.
Fatih merasakan hembusan nafas Mentari, tangan Fatih membalas memeluk erat tubuh Mentari. Hingga menit ke 5 menit, Fatih menepuk tubuh Mentari.
"Bangun, saya kram. "
Reflek Mentari bangun dari tubuh Fatih, lampu masih padam, dengan kikuk mereka berdua merapikan pakaian nya.
Mentari dan Fatih berdiri dengan perasaan yang bercampur aduk, kedua nya pun melangkah kan kaki namun bertabrakan , Mentari ke kiri, Fatih ke kiri, Fatih ke kanan Mentari ke kanan.
"Mas ini mau kemana sih? "
"Mas ingin ke kamar mandi, tapi tiba - tiba sudah hilang pengen buang air kecil nya. "
__ADS_1
"Ya sudah sana, saya mau masuk kedalam kamar. " Ucap Mentari sambil menatap ke arah kamar yang gelap dan menyeramkan.
Mentari menoleh Fatih Yang sudah tidak ada, Mentari merasakan sangat takut gelap, dengan gemetar Mentari mencari Fatih.
"Mas, Mas Fatih...!! "
"Mas...!! "
"Mas....!! " Ucap Mentari kaget, melihat Fatih membawa lilin yang cahaya lilin nya menyoroti wajah nya.
"Apa? "
"Jangan jauh, jauh saya takut. "
"Yuk tidur lagi. "
Mentari berjalan di belakang Fatih, dengan memegang ujung pakaian Fatih, Mentari pun naik di atas tempat tidur, sedangkan Fatih kembali memejamkan kedua mata nya.
"Mas."
"Apa sih Mentari, kamu dari tadi panggil Mas - mas terus. "
"Mas di atas dong, saya takut gelap Mas. "
"Kita ini kan di larang tidur satu kasur, kamu lupa. "
"Darurat Mas, nanti di batas sama guling. "
Fatih pun bangun dan pindah ke atas tempat tidur, bantal guling jadi pemisah mereka, Mentari dan Fatih berbaring bersama dengan cahaya lilin yang remang - remang.
Kedua mata mereka tidak terpejam, seakan rasa kantuk hilang, hingga lama - kelamaan mata mereka kembali berat.
***
Suara kicauan burung, cahaya matahari yang masuk melalui celah kamar, tidak membuat kedua insan itu bangun. Mentari yang tidur memeluk Fatih, dengan bantalan dada nya, begitu juga Fatih yang memeluk nya seperti bantal.
Suara dering telepon berdering, membangun kan mereka berdua, dengan rasa terkejut mereka saling melepaskan dan menjauh.
"Mas kenapa main peluk saya. "
"Kamu yang kenapa peluk saya. "
"Itu bantal guling kenapa pada jatuh? " Tunjuk Mentari.
"Mana Mas tahu. "
"Mas, cari kesempatan dalam kesempitan ya?"
"Enak saja, kalau ngomong sembarangan.Kamu kali cari kesempatan. "
Ponsel kedua nya berdering dan langsung mengambil ponsel masing - masing, dan mengangkat panggilan yang sejak tadi berdering.
"Apa....!! " Ucap kedua nya bersama, saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul 10 siang.
"Saya segera datang. " Ucap Fatih langsung berlari ke arah kamar mandi, begitu juga Mentari, mereka bersamaan masuk kedalam kamar mandi.
"Mas, kamu ngapain? "
"Lah kamu ngapain, sana keluar. "
"Mas yang keluar, saya mau mandi, ini telat banget. "
"Saya juga mau mandi, telat ada rapat. "
__ADS_1
"Mas pakai kamar mandi yang di luar. "
Akhirnya Fatih mengalah, dan langsung berjalan ke arah kamar mandi yang berada dekat dengan dapur.