Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Hampir Kehilangan


__ADS_3

"Ya Allah.. Mas...!!! " Mentari berlari ke arah mobil milik Fatih yang sudah rusak parah akibat sebuah truk menghantam mobil nya sangat kencang.


Mobil milik Fatih terlihat terhimpit oleh mobil truk besar, yang menghimpit nya ke pembatasan jalan.


Terlihat tubuh Fatih tergencet, hingga darah banyak yang mengalir keluar dari kepala dan mulut nya.


"Mas.... hiks... hiks.. hiks... Mas.. Fatih....!! " Tangis Mentari berteriak histeris.


Pak Slamet, dan Pak Syahrul berada di lokasi, sedangkan istri mereka menjaga Rinjani.


"Hiks... hiks... tolong cepat keluarkan Mas Fatih..!!! "


Hiks.. hiks.. hiks..


pihak kepolisian, dan pengendara lain nya, menolong Fatih, hingga alat berat pun di kerahkan, untuk membantu mengangkat tubuh Fatih.


Mentari memeluk tubuh Ayah nya, saat alat berat berusaha mengeluarkan tubuh suami nya, saat berhasil di keluarkan Mentari langsung berlari memeluk tubuh suami nya yang sudah tidak berdaya.


"Hiks.. hiks... Mas... bangun Mas... jangan tinggalkan Mentari sama Rinjani, hiks.. hiks..bangun Mas... bangun...!!! "


"Nak, lepaskan tubuh Fatih, harus segera di larikan ke rumah sakit. " Ucap Pak Slamet.


Fatih pun di bawa oleh mobil ambulance, dan Mentari ikut masuk kedalam nya, tak henti Mentari menangis sambil menggenggam erat tangan suami nya.


"Mas, sadar Mas.. sadar.. hiks.. hiks.. "


****


Ibu Hasna terus menangis sambil memeluk tubuh suami nya, sedangkan Mentari duduk dengan tubuh yang lemas, selalu Pak Slamet terus menguatkan putri nya.


"Keluarga Fatih. "


"Kami Dokter, saya istri nya. " Ucap Mentari.


"Bu, Pak Fatih mengalami patah tulang belakang, dan untuk sementara Pak Fatih tidak bisa bergerak, dan hanya berbaring. Kami sudah mengoperasi nya, dan nanti bila kondisi Pak Fatih sudah stabil, akan ada tahap selanjutnya untuk di operasi. Patah nya, karena benturan yang sangat keras, dan Pak Fatih banyak mengeluarkan darah. "


"Apa suami saya akan lumpuh? "


"kami sudah menyambung tulang yang patah, hanya sementara kondisi nya akan terus berbaring di tempat tidur, karena proses yang lama, untuk penyembuhan nya. "


"Dokter, kami minta yang terbaik buat anak saya. " Ucap Pak Syahrul.


"Pasti Pak, sekarang Pak Fatih sudah di pindah kan ke kamar rawat, tapi kondisi nya masih kritis. "


Mentari menangis di depan tubuh suami nya, tangan Mentari terus membelai wajah suami nya, yang kini masih belum sadarkan diri.


"Tari, kamu makan dulu ya? Dari tadi kamu belum makan. "


"Nggak bu, saya nggak lapar. "


"Benar kata Ibu makan dulu. Kalau nggak biar kami yang jaga Fatih, kamu pulang kasihan Rinjani. " Ucap Pak Syahrul.


"Nggak, saya nggak mau ninggalin Mas Fatih."


"Rinjani butuh kamu, kalau ada apa - apa, nanti Ayah atau Ibu kabari kamu."

__ADS_1


"Tolong sering berkabar Ya bu Ayah. "


*****


"Sayang, kemarin kamu nangis, pasti punya firasat nggak enak ya, pantas kamu nangis dari papah kamu pergi hingga siang, ternyata Papah kecelakaan. "


Mentari memeluk tubuh Rinjani, air mata nya terus mengalir membasahi kedua pipi nya.


"Nak, kamu kalau nggak bisa tidur, memikirkan Fatih. Biar Rinjani sama Ibu, stok Asi kamu kan banyak, kamu pergi saja. Nanti gampang besok lagi, kamu pulang sekalian pompa asi lagi. "


"Nggak apa - apa bu? "


"Nggak apa - apa, ibu tahu kamu pasti kepikiran sama Fatih, kalau Rinjani di bawa ke rumah sakit kan nggak mungkin, kamu pergi saja kesana. "


"Makasih bu, titip. Rinjani ya. "


*****


"Ayah ibu, Mas Fatih kenapa? " Tanya Mentari panik. "


"Fatih kejang - kejang nak. " Jawab Ibu Hasna.


"Ya Allah, semoga Mas Fatih nggak kenapa - napa. "Ucap Mentari sambil menangis.


" Istri Pak Fatih Mana? " Tanya Dokter.


"Saya Dok. " Jawab Mentari mendekat.


"Suami ibu panggil nama itu tadi, Ibu jangan jauh - jauh ya, baca Ayat suci Al - Qur'an yang ibu hafal. "


"Iya Dok. "


"Mas."


"Yank, Rinjani. "


"Ada sama ibu, Mas cepat sembuh ya. Biar Mas bermain lagi sama Rinjani."


"Iya sayang, jangan nangis. " Ucap Fatih dengan suara pelan.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Saya takut Mas, takut kehilangan kamu. Hiks.. hiks.. hiks.. Mas harus sembuh. "


"Iya, Mas akan sembuh. Tapi Mas nggak bisa apa - apa lagi. "


"Mas harus kuat, harus sembuh. Saya takut kehilangan Mas. " Mentari memeluk tubuh Fatih.


"Yank, Mas ingin tidur. "


"Nggak, jangan tidur Mas. Kalau Mas tidur, saya takut Mas. "


"Mas capek, Mas lemas, Mas mengantuk. "


"Nggak Mas, jangan Mas, jangan. "

__ADS_1


"Maaf Yank. " Fatih memejamkan kedua mata nya, Mentari semakin terisak.


"Ayah, Ibu, Dokter suami saya. "


"Sabar bu, tenang ya. Kondisi Bapak masih kritis, kita tidak bisa melarang nya. " Ucap Dokter.


"Dokter, tolong suami saya, agar dia bisa melewati masa kritis nya. "


"Baik Bu, kami sudah melakukan yang terbaik buat suami Ibu. Sekarang Ibu, berdoa dan ingat pesan saya tadi. "


Mentari tetap berada di samping Fatih, tangan nya tidak mau lepas, hingga rasa kantuk melanda Mentari tetap bertahan agar tetap terjaga.


"Nak, tidur ya.. udah jam 3 pagi, biar Ayah yang jaga Fatih. " Ucap Pak Syahrul.


"Nggak Ayah, Mentari harus tetap terjaga, biar tahu kalau Mas Fatih kenapa - napa. "


"Insya Allah nggak akan, percaya sama Ayah."


"Nggak Ayah, Mentari takut Mas Fatih nggak bangun lagi. "


"Fatih masih ada nafas nya, tubuh nya normal suhu nya. "


"Nggak Ayah, Mentari lebih baik begini. "


"Ya sudah, nanti kamu bangun kan Ayah, kalau sudah mengantuk sekali. "


"Iya Ayah. "


Mentari mengusap pipi Fatih, dan membenarkan selimut nya. Tangan nya lalu kembali memegang tangan Fatih.


"Saya akan tetap memegang tangan Mas, sampai Mas pagi nanti bangun. Dan Mas tersenyum menyapa saya, seperti setiap pagi Mas selalu menyapa yang pertama saat pagi hari. "


Mentari mengecup punggung tangan Fatih, di usap nya punggung tangan nya, terasa hangat genggaman tangan Mentari untuk Fatih.


"Mas pasti sekarang sedang mimpi, tertidur sangat nyenyak. Saya akan tetap begini, sampai Mas bangun. Kalau Mas udah bangun, baru saya akan tidur nyenyak. "


****


Hingga pukul 12 siang, Fatih belum juga bangun, hingga terlihat lingkaran hitam di bawah mata Mentari.


"Nak, tidur ya kamu belum tidur. "


"Nggak bu, Mas Fatih belum juga bangun. Saya akan baru tidur saat Mas Fatih bangun."


Ibu Hasna melirik ke arah suami nya, dan suami nya tidak bisa berbuat apa - apa.


"Kalau begitu, makan ya. "Tawar ibu Hasna.


" Saya akan makan dan tidur, kalau Mas Fatih bangun. "


"Fatih pasti bangun, jangan siksa kamu seperti ini. Kamu nanti sakit nak, sekarang makan ya sedikit saja. "


"Nggak Bu, saya nggak mau. Biarkan saya tetap begini, sampai Mas Fatih bangun."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2