Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Memandang Mu


__ADS_3

"Mba, itu seperti suara Mas Fatih deh. " Ucap Sakti saat mendengar suara percakapan antara Ibu dan Ayah nya.


"Masa sih? " Ucap Mentari tajam kan pendengaran nya.


"Iya, itu Mas Fatih. Ngapain dia kesini?"


"Nyusul istri nya mungkin. "


Mentari keluar dari kamar Sakti, dan melihat Fatih yang sedang mengobrol bersama kedua Mertua nya.


"Mas." Sapa Mentari.


"Tuh, suami kamu menyusul. " Ucap Ibu Nuri.


"Ayah Ibu percaya kan, kalau kami nggak lagi bertengkar? " Ucap Mentari.


"Iya, percaya, itu suami kamu makan malam dulu kamu siapkan. " Ucap Ibu Nuri.


"Iya, kasihan. Kamu kan dari sore di sini. " Ucap Pak Slamet.


"Nggak usah, sudah makan masih kenyang." Ucap Fatih.


"Makan sama Neli ya? "Bisik Mentari.


" Iya, makan sama dia. " Bisik Fatih.


"Fatih, Mentari, kalian jangan lama - lama berdua, cepat kasih cucu buat kami. " Ucap Pak Slamet.


"Ayah, nanti juga kalau sudah waktu nya pasti di kasih. " Ucap Mentari.


"Kalau saya nya sih Ayah, pengen cepat, tapi Mentari nya. " Ucap Fatih langsung mendapatkan cubitan kecil di pinggang nya.


****


"Mas, ngapain sih menyusul kesini? "


"Kenapa? Nggak boleh. "


"Kan besok juga pulang, saya nggak kabur. "


"Kamu punya pikiran nggak sih? Kalau Saya tidak kesini, bagaimana tanggapan Ayah sama Ibu. Tadi nyata kan, disangka kita berantem. "


"Iya sih. "


"Makan nya, kalau apa - apa itu pikir pakai otak. "


"Mas, langsung kesini ya? "


"Iya , Mas langsung kesini. "


"Mentari." Ucap Fatih.


"Kenapa Mas?"


"Neli minta nikah siri sama Mas. "


Mentari diam dan hanya menundukkan kepala nya sambil memainkan ujung hijab nya.


"Terus Mas bilang apa? "


"Tunggu."


"Saya bingung, bagaimana mulai nya. Orang tua kita bahagia dengan pernikahan ini, bagaimana jadi nya kalau sampai tahu, kita ini pura - pura bahagia. "


"Mas juga bingung. "


"Kita sudah menyakiti mereka Mas. "


"Iya, kamu benar. Mas nggak tega, nggak tega kalau memang terjadi. "

__ADS_1


"Tapi, kalau Mas memang mencintai Neli. Mas boleh perjuangan kan cinta Mas, tapi bila berat dengan orang tua, kita perjuangan kan dan sama - sama menerima. "


"Mas tidak bisa memilih, karena berat semua. Kamu sendiri? "


"Sama Mas, saya berat semua. "


"Kita tidak mungkin untuk menikah lagi, selagi masih ada ikatan, diantara kita. "


"Saya tahu Mas. "


"Fatih... kita main catur. " Teriak Pak Slamet dari luar.


"Ayah Mas, ajak main catur. " Ucap Mentari.


"Mas, keluar kamar dulu ya. "


Fatih keluar dari kamar nya, saat keluar ponsel milik Fatih berdering, terlihat nama Neli, dan terus berdering. Mentari dengan berani mengangkat panggilan ponsel itu.


"Sayang, gimana nih? Bunda selalu tanya kapan nikah? Sedangkan sepupu saya mau nikah, yang pacaran baru 2 bulan. Kita pacaran saja, sudah 3 tahun, kapan kamu lamar, kita nikah siri juga nggak apa - apa, atau Mas talak Mentari. "


Hati Mentari tiba - tiba begitu sangat sakit, kedua mata nya berkaca - kaca, dengan kuat Mentari agar tidak menangis.


"Mas, kok kamu diem sih? Gimana, cepat ambil keputusan. "


Mentari langsung mematikan ponsel nya, dan dengan segera menghapus riwayat panggilan masuk nya.


"Kenapa saya begini? Saya kan punya Mas Gibran, kita ini nggak saling cinta. Tapi kok dengar nya sakit banget. "


****


Fatih masuk kedalam kamar, Mentari tengah tertidur lelap, Fatih mengambil selimut yang terjatuh dan memakai kan nya pada Mentari.


Fatih tersenyum saat melihat wajah Mentari yang sangat natural, di pandang nya sangat lama, tangan nya reflek mengangkat ke arah wajah Mentari.


Di belai nya dengan lembut, hingga turun ke bibir tipis nya, mata Mentari terbuka dan langsung berteriak dan dengan refleks menendang tubuh Fatih hingga terjungkal.


Aaawwww


"Mas...!!! "


"Aduh.. sakit Tari..!! " Ucap Fatih sambil memegang pinggang nya sakit.


Tok... tok...


"Mba... mba..., mba.. tidak apa - apa? " Tanya Sakti mengetuk pintu.


"Nggak apa - apa Sakti, Mas Fatih jatuh. Tapi nggak apa - apa. " Jawab Mentari.


Lalu tidak terdengar suara lagi dari luar, Fatih bangun dengan mengusap pinggang nya yang sakit.


"Mas jadi mau per****sa saya ya? " Tanya Mentari dengan tatapan tajam.


"Enak aja, per****sa kamu. " Jawab Fatih duduk di tepi tempat tidur.


"Atau jangan - jangan, mau pegang dada saya ya? "


"Ih... sorry dada kecil aja, pede banget. "


Mentari cemberut, dan langsung merapikan selimut nya yang tidak rapih, sedang kan Fatih masih merasakan sangat sakit.


"Terus tadi Mas ngapain? Pegang - pegang pipi sama bibir saya? "


"Si - siapa yang pegang, kamu kali mimpi jorok. "


Mentari menggaruk kepalanya dan langsung membaringkan tubuh nya kembali, sedangkan Fatih masih merasakan sakit di pinggang nya.


"Mas, tidur sana di bawah. Nih bantal sama guling nya. " Ucap Mentari.


Fatih mengambil bantal dan guling, dengan menggelar selimut tebal di lantai, namun bukan nya merasa nyaman, tapi merasakan sangat sakti.

__ADS_1


"Aduh, aaarrggghhh. "


"Mas, kamu nggak apa - apa? " Tanya Mentari melongok ke kebawah.


"Sakit tahu, kamu tendang nya keras banget. " Jawab Fatih.


"Maaf , habis refleks. Jadi gimana dong? "


"Ini harus di urut, sakit banget. "


"Mau panggil tukang urut? "


"Tukang urut mana, jam 12 malam masih buka. "


"Terus gimana?"


"Ya tunggu besok. "


"Berbaring deh, biar saya pijat. "


"Nggak akh, nanti bisa - bisa besok jalan nya miring lagi. "


"Udah nurut aja, pasti besok enakan. "


"Nggak."


"Buruan ih...!! " Mentari membaringkan tubuh Fatih dengan paksa, dan lalu Fatih menelungkupkan tubuh nya.


Dengan mata yang mengantuk, Mentari memijat pinggang Fatih, pijatan yang membuat rasa sakit pada pinggang nya membuat sedikit membaik.


"Gimana Mas, enak? "


"Ya mendingan, ini disini yang kerasa lagi. " Tunjuk Fatih.


Mentari terus memijat nya, hingga Fatih mengubah posisi tubuh nya, dan memegang tangan Mentari.


"Kenapa Mas? "


Fatih hanya terus menatap wajah Mentari, dan menarik tangan nya hingga kedua tangan Mentari bertumpu pada dada Fatih.


"Makasih ya. "


"I - iya. "


"Mas, boleh kah tidur disini? soalnya kalau di bawah sakit. "


"I - iya boleh. " Ucap Mentari langsung melepaskan tangan Fatih dan beralih ke samping.


Fatih sudah memejamkan mata nya, terdengar dengkuran halus, Mentari menatap wajah Fatih yang kini tertidur lelap. Senyum Mentari, menatap wajah suami nya dari jarak yang sangat dekat.


"Astagfirullah, kenapa saya jadi begini. " Ucap Mentari langsung memunggungi Fatih.


*****


"Kamu kenapa? " Tanya Pak Slamet,melihat Fatih berjalan sambil mengusap pinggang nya.


"Ini Yah, tadi malam jatuh dari tempat tidur. " Jawab Fatih.


"Terus, sekarang masih sakit? " Tanya kembali Pak Slamet khawatir.


"Sudah mendingan, tadi malam di pijat sama Mentari. " Jawab Fatih.


"Duh, ada - ada saja, nanti di oles salep anti nyeri nya. " Ucap Ibu Nuri.


"Nanti Mentari beli bu. " Ucap Mentari.


"Mas, mau makan sama apa? " Tanya Mentari.


"Ayam sama tempe goreng aja. " Jawab Fatih.

__ADS_1


__ADS_2