Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Mantan Calon Mertua


__ADS_3

"Pak, maaf ada tamu. " Ucap Rizal.


"Tamu siapa? " Tanya Fatih.


"Tante Fatih. " Jawab Tante Lika langsung masuk kedalam ruangan Fatih.


"Maaf, Tante ada perlu apa ya? "


"Neli di rumah sakit, dia kecelakaan. "


"Kapan Tante? "


"Kemarin pulang kerja, di tertabrak mobil. Kaki nya patah, lengan sama wajah nya lecet. Kamu tengok dia ya. "


"Nanti saya tengok Tante, kalau sekarang saya masih sibuk. "


"Tante tunggu kamu, soalnya nomer ponsel kamu tidak aktif, jadi Tante kesini. "


"Maaf Tante, sampai kan saja salam buat Neli. "


"Pasti Tante sampai kan, tolong ya nanti datang. "


"Insya Allah.


******


" Jadi Mas, mau nengok Neli?"


"Iya, nggak enak, Tante Lika datang ke kantor."


"Terus, sampe sana mau apa? Mau kasih perhatian. " Ucap Mentari kesal.


"Makan nya, Mas ajak kamu. Soalnya Mas nggak mau nanti , kamu berpikir macam - macam. "


"Nggak usah kesana lagi. "


"Ya udah, kalau itu kata kamu Yank. Mas nurut aja kok. "


"Awas aja, kalau sampai tahu, nengok di jam kerja. "


"Iya, nggak akan kok. "


******


"Bunda, sedang menunggu siapa? " Tanya Neli.


"Bunda tunggu Fatih, Bunda kasih tahu kamu kecelakaan. " Jawab Ibu Lika.


"Ngapain Bund, kasih tahu segala. Dia nggak akan datang. "


"Kalau dia datang, berarti masih perhatian sama kamu. "


"Tapi bukti nya, sekarang udah maghrib bund, nggak akan datang. "


"Bunda ingin mengetes, dia itu kalau kesini berarti masih memiliki rasa sama kamu."


"Dia sudah memilih Mentari, seharusnya saya Bund yang ada di sisinya, bukan dia. "


"Sabar ya nak, apa yang menjadi hak kamu, suatu saat akan kembali."


******


"Mas, ini ponsel kenapa sih? " Mentari menyerah kan ponsel nya pada Fatih.


"Layar nya ini rusak, tadi kenapa? " Ucap Fatih.


"Kayak nya keteken Pas tidur siang, nggak sengaja. "

__ADS_1


"Besok beli lagi aja, nanti Mas antar. "


"Di servis aja ya, sayang ponsel kesayangan ini."


"Terus, nggak apa - apa beberapa hari nggak pakai ponsel? "


"Pakai punya Mas dulu boleh nggak? "


"Sini kartu nya, nanti di SIM 2 aja ya. "


"Ponsel nya, di pegang sama Mentari ya. "


"Iya, pakai aja. Nanti kalau ada berita penting, kasih tahu Mas di nomer kantor kecamatan."


"Ok."


*****


Di saat sedang mengajar, ponsel nya berdering. Mentari melihat panggilan tanpa nomer di nomer ponsel milik Fatih, Mentari pun mengangkat nya.


"Fatih, kamu sekarang ke rumah sakit, tolong Tante kamu tengok Neli, sekali saja. "


Mentari mematikan secara sepihak, dan mematikan total ponsel tersebut.


"Tahu dari mana, nomer baru suami saya? "


Fatih sudah berada di depan gerbang sekolah, Mentari langsung masuk kedalam pintu mobil.


"Balik ke kantor aja ya, nanti sama Mas pulang ke rumah nya. "


"Hem." Ucap Mentari sambil makan pentol sapi yang di belikan oleh Fatih.


"Tadi ada telepon nggak? atau pesan penting."


"Ada dari mantan calon mertua. "


Mobil mengerem mendadak hingga pentol sapi yang sedang di makan oleh Mentari jatuh.


"Dapat nomer nya Mas dari siapa ya? "


"Mana saya tahu , Mas kali kasih tahu. "


"Sumpah nggak Yank, bukan Mas. Tante Lika ngomong apa aja dia? "


"Suruh ke rumah sakit. "


"Emang parah apa, sampai Mas suruh kesana."


"Ya mungkin, kalau Mas kesana sembuh. "


"Udah lah, masa bodoh. "Ucap Fatih melanjutkan perjalanan nya.


" Blokir aja Yank, biar nggak hubungi Mas lagi."


"Ganti nomer lagi. "


"Masa ganti lagi sih Yank? "


"Kalau nggak mau di telepon, ya ganti lagi. "


"Kamu aja yang belikan nomer nya, Mas udah malas. "


"Sekalian saja, jangan punya ponsel. "


"Nah itu lebih baik. "


******

__ADS_1


"Gimana Bund? "


"Belum datang juga. "


"Sudahlah Bund, jangan buang tenaga. Nggak usah capek - capek hubungi Fatih, kita memang nggak jodoh. "


"Bunda masih penasaran. "


"Sini Bund, nomer nya mana?"


Ibu Lika memberi kan ponsel nya pada Neli, saat mencoba menghubungi nya namun nomer ponsel Fatih tidak bisa di hubungi.


"Nomer nya sudah nggak aktif lagi. "


"Lah, kenapa? Tadi masih nyambung. "


"Nomer Bunda, di blok. "


"Tega banget dia, sampai blokir nomer Bunda. Dia nggak ingat dulu apa, sekarang malah nggak sopan. "


"Bunda, sekarang sudah beda. Mas Fatih benar - benar, sudah melupakan saya. Jadi kita nggak usah ganggu rumah tangga dia, Neli akan belajar Ikhlas. "


"Nggak Sayang, Fatih itu milik kamu, bukan milik guru itu. Kamu yang pantas menjadi Ibu Camat, bukan kamu. "


"Sudah Bund, saya capek. "


*****


Mentari berjalan di koridor rumah sakit, mencari nomer kamar dimana Neli di rawat. Tanpa sepengetahuan Fatih, Mentari menemui Neli.


"Assalamu'alaikum." Sapa Mentari saat menemukan kamar rawat Neli.


"Walaikumsalam." Balas Ibu Lika dan Neli.


"Mana Fatih? " Tanya Ibu Lika.


Mentari meletakkan, keranjang buah di atas nakas samping ranjang.


"Mas Fatih sibuk, jadi suruh saya yang nengok. " Ucap Mentari, dan membuat Ibu Lika dan neli kecewa.


"Kamu sudah baik kan? nggak ada keluhan sakit kan? "


"Alhamdulillah, baik. Besok katanya boleh pulang. "


"Syukur lah, untung nggak parah. " Ucap Mentari sambil tersenyum.


"Kami berharap, Fatih yang datang menjenguk, bukan perwakilan nya. " Celetuk Ibu Lika.


"Sama saja Tante, uang buat beli buah itu dari Mas Fatih. Jadi di wakil kan sama buah saja. "


"Sampai kan salam buat Mas Fatih, terima kasih. " Ucap Neli.


"Saya akan sampai kan, tenang saja. " Ucap Mentari dalam hati kesal.


"Saya mau bilang, dan maaf sebelumnya. Untuk Tante, nggak usah menyuruh anak Tante untuk menjadi perusak rumah tangga orang, jodoh memang sudah di atur. Mas Fatih itu bukan jodoh nya sama Neli, tapi sama saya. Dan Kamu Neli, tolong hargai saya sebagai seorang perempuan. Dan Tante, memiliki anak perempuan, bagaimana kalau suami Neli di begitu kan. Apa Tante rela? tentu saja tidak kan? Sama dengan saya juga nggak akan rela, tolong jangan ganggu rumah tangga kami. Mas Fatih tidak kemari, berarti itu jawaban nya, dia sudah melupakan masa lalu nya. Dan memilih saya, untuk menjadi pendamping hidup sampai mati. "


"Maaf kan saya Tari, saya salah. " Ucap Neli.


"Nggak, kamu nggak boleh minta maaf. Kamu nggak boleh mundur, dia yang harus mundur. Gara - gara dia, hubungan kamu jadi hancur. " Bentak Ibu Lika sampai menunjuk ke arah Mentari.


"Bunda, tolong stop. Jangan terus kan, benar apa yang di katakan Mentari. Saya capek Bunda, saya capek. Tolong Bund, jangan memaksa saya. Karena yang menjalani itu saya, bukan Bunda. "


"Tapi kamu itu pantas, menjadi istri Camat, bukan Mentari. Kamu tahu, bagaimana rasanya menjadi pendamping hidup seorang pemimpin, kamu akan di hargai. "


"Bunda seperti ini, apa karena pangkat Mas Fatih? "


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2