
Fatih masuk kedalam kamar nya, melihat istri nya tengah tertidur lelap, Fatih pun segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan nya, yang seharian beraktivitas.
Fatih keluar dari kamar mandi, langsung naik ke atas tempat tidur. Di peluk nya Mentari, di cium nya bibir dan dahi nya, hingga Mentari bangun.
"Keganggu ya? " Ucap Fatih sambil menyembunyikan wajah nya di dada Mentari.
"Mas, berat , ih sana risih tahu. " Mentari langsung memiringkan tubuh nya, Fatih pun merapikan selimut Mentari.
"Yank, capek ya? " Tanya Fatih namun tak di jawab oleh Mentari, dan akhirnya Fatih memejamkan kedua mata nya.
****
"Yank, suapin dong. " Ucap manja Fatih.
"Makan aja sendiri. " Ucap Mentari dengan wajahnya yang kesal.
Fatih pun makan, dengan sarapan yang di buatkan oleh Mentari, omelet dan kornet. Fatih menatap istri nya yang hanya diam, tak bicara sepatah kata pun.
"Yank, kamu kenapa sih? "
"Nggak apa - apa. "
"Mas, punya salah ya sama kamu? "
"Tahu dah. "
"Bilang dong, kalau Mas punya salah, Mas minta maaf. "
Mentari menaruh sendok nya di atas piring, dan membawa nya ke wastafel, Fatih pun tak berselera makan, dan beranjak bangun berjalan mendekati Mentari yang sedang mencuci piring.
Tangan kekar nya memeluk tubuh istri nya, dengan dagu yang di sandarkan pada pundak Mentari.
"Bilang dong sama Mas, kalau Mas salah, atau kamu ada sesuatu. Mas nggak mau, kalau hanya diam, ini tidak akan menyelesaikan suatu masalah. "
"Sampai kapan,Mas akan sama Neli? "
"Oh, masalah itu. Mas sudah memutuskan, memilih kamu. "
"Memilih saya, tanpa memutuskan dia. "
"Mas sudah putus sama Neli. "
"Bohong."
"Ya sudah kalau nggak percaya. "
Mentari memutar tubuh nya, hingga kini tubuh mereka saling berhadapan, Fatih menarik pinggang Mentari. Di kecup kening nya, dan turun ke bibir.
"Mulai sekarang, hanya ada satu wanita. Hanya kamu, kita kan sudah memutuskan untuk saling menerima, belajar mencintai. Kamu cemburu kan? "
"Nggak, pede banget kalau ngomong."
"Bukti nya, barusan apa itu? "
"Itu apa? "
"Tadi diemin Mas. "
"Malas aja ngobrol sama Mas. "
"Alasannya? "
"Ya males. "
Cup
"Ih... Mas, dari tadi kecup bibir terus, lipstik saya jadi rusak. "
"Makan nya, beli yang anti luntur. "
__ADS_1
"Enak aja luntur. "
"Jangan marah lagi ya, Mas sedih kalau lihat kamu marah, apalagi kalau marah diemin kayak tadi. "
"Janji ya, kalau dekat lagi sama Neli. "
"Nggak akan sayang, tenang aja. "
"Awas aja kalau bohong. "
"Nggak akan. "
*****
"Neli, sayang kamu nggak berangkat kerja nak? "
Tok.. tok...
"Neli, buka pintu nya nak." Ucap Ibu Lika.
Dengan mata yang sembab, Neli membuka pintu kamar nya, Neli langsung memeluk tubuh Bunda nya.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Nak, kamu kenapa? " Tanya Ibu Lika panik.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Mas Fatih, hiks.. hiks.. " Jawab Neli.
"Iya, Mas Fatih nya kenapa? "
"Dia mutusin Neli, hiks.. hiks.. "
"Kamu bercanda, pasti bercanda. "
"Nggak Bund, Neli nggak bohong. Mas Fatih putusin Neli. "
"Mas Fatih, memilih istri yang di jodoh kan nya. "
"Istri, maksudnya gimana? "
"Mas Fatih, sebenarnya, sudah menikah Bund, menikah sejak beberapa bulan yang lalu, tapi dia nggak cinta sama istri nya, begitu juga istri nya sama. Kita memiliki pacar masing - masing, dan mencintai pacar masing-masing, tapi dia tiba - tiba, lebih memilih istri yang di jodoh kan nya. "
"Nggak bisa, kamu itu yang di cintai Fatih, nggak mungkin Fatih memilih dia, yang jelas - jelas mereka tidak saling mencintai. "
Hiks.. hiks.. hiks...
"Bunda, saya tidak mau berpisah sama Mas Fatih. "
******
"Kalian sudah siapkan semua nya kan? perlengkapan buat besok, jangan sampai lupa atau ketinggalan, karena kita akan kemah di daerah pegunungan, kita kemah di hutan lindung, ingat cek lagi, barang bawaan nya. " Ucap Mentari dengan suara lantang.
"Bu Mentari, kita kan disana masak, saya sama ibu di percaya untuk belanja sayuran dan ikan. " Ucap Aneke.
"Berarti, jadi kita kan yang masak untuk panitia dan para siswa, dan tukang masak nya sudah ada kan Bu? "
"Sudah, ada satu orang, nanti di bantu kita."
Tita berjalan mendekati Mentari, dan memberikan sebuah Map warna merah pada Mentari.
"Surat ijin buat Pak Camat, kalau sekolah kita mengadakan perkemahan, ke polsek sudah, dinas sudah, ini buat di kantor kecamatan. "
"Makasih, nanti saya sampaikan. " Ucap Mentari, Tita pun langsung pergi meninggalkan Mentari dan Aneke.
"Sumpah, itu orang, pengen saya patahkan tuh kedua kaki nya. " Ucap Aneke kesal.
"Udah ah, jangan urus orang kayak dia. "
__ADS_1
****
"Jadi besok berangkat? "
"Iya, Mas nggak apa - apa kan, di tinggal? "
"Mas kan dari dulu sendiri, kenapa khawatir? "
"Takut nya, Mas macam - macam. "
Aaaaaaaa
"Mas." Mentari memukul pelan dada Fatih, saat menarik tubuh Mentari hingga kini duduk di atas pangkuan nya.
"Mas, nanti nyusul kesana. "
"Ngapain? "
"Kan malam minggu sayang, masa mas bobo sendiri, kamu nggak dingin nanti tidur disana?"
"Kan ada selimut, tidur ada Aneke, sama teman guru perempuan lain nya. "
"Nanti Mas nyusul, Mas pesan tenda khusus disana, kita pelukan tidur nya, mantap tahu Yank, dingin - dingin gitu. "
"Otak tuh ngeres aja, kerjaan nya. "
"Kan sama istri sendiri. "
"Pasti sama Mantan gitu. "
"Nggak lah, baru sama kamu yank. "
"Nggak percaya. "
Aaaaaaaa
"Mas....!!! "
Fatih menciumi perut Mentari, hingga Mentari tertawa keras, dan langsung Fatih menyumpal mulut Mentari dengan sebuah ciuman.
"Diem nggak, Mas mau ngajak main serius."
"Geli tahu. "
"Enak tahu nanti nya. "
"Tuh kan, Mas udah pernah sama Mantan. "
Fatih bangun dari atas tubuh Mentari, dengan wajah kesal Fatih keluar kamar dan membanting pintu.
"Mas...!!! "
Mentari keluar menyusul Fatih, yang kini sedang berada di tepi kolam ikan.
"Mas, maaf ya. "
"Kamu rusak mood aja. "
"Maaf, kalau tersinggung. "
"Mas, itu memang bebas sama Neli, tapi nggak sampai sejauh itu, dulu kan pernah Mas katakan. Kamu masih nggak percaya, kalau masih penasaran kita bisa ke dokter dan cek Mas masih perjaka atau tidak. "
"Maaf ya Mas, maaf. "
"Iya."
"Jangan marah lagi dong, senyum."
Fatih memaksa kan tersenyum di depan Mentari, dan memalingkan wajahnya lagi ke arah kolam.
__ADS_1
Mentari menaruh kepala nya di salah satu paham Fatih, tangan nya, memainkan jemari suami nya. Fatih hanya diam tidak merespon, namun dalam hati Fatih tertawa.
"Sekali - kali, Mas kerjain kamu. Biar nggak sering bicara seperti itu. "