
"Tolong nanti di jaga, kandungan nya. Jangan sampai terulang seperti tadi. "
"Iya Dok, saya memang ceroboh. " Ucap Mentari.
"Nanti, jangan dulu beraktivitas, sementara bad rest dulu. "
"Iya, dok. "
"Tapi hari ini, apa sudah boleh pulang? " Tanya Fatih.
"Sudah Pak, nanti saya siapkan dulu resep obat untuk di rumah. "
Fatih mengusap punggung istri nya, sambil suster melepaskan jarum infus nya. Mentari hanya diam, dan masih sedikit lemas.
"Tunggu ya bu, untuk bapak nya. Mohon untuk mengurus administrasi nya terlebih dahulu. "
"Baik Sus, nanti saya akan selesaikan segera." Ucap Fatih.
"Kalau begitu, saya pamit. "
"Makasih Sus. "
"Sama - sama. "
Fatih pun mengambil dompet nya, untuk mengurus administrasi rumah sakit, Mentari pun turun dari tempat tidur, Fatih refleks mendekat dan membantu istri nya.
"Mau kemana? "
"Mau ke kamar mandi. "
"Mas bantu. " Fatih menuntun Mentari masuk kedalam kamar mandi, lalu menunggu nya di depan pintu kamar mandi.
"Mas."
"Ya sayang. "
"Tolong Mas, pakai kan celana nya, sakit buat jongkok nya. "
Fatih pun masuk, dan membantu memakai celana milik Mentari, dan kembali menuntun Mentari keluar dari kamar mandi.
"Mas tinggal dulu, mau mengurus administrasi nya. "
"Iya Mas. "
Saat akan membuka pintu, Ibu Nuri masuk. Fatih langsung menyalami ibu mertua nya.
"Mau mengurus administrasi rumah sakit dulu. "
"Ya sudah, ada Ibu kok yang tunggu Mentari."
Ibu Nuri lalu mendekati putri nya, yang masih terlihat pucat. Bahkan terlihat masih sedikit merasakan sakit.
"Ada masalah? "
"Nggak ada Bu, mungkin bekas nya saja. Ini juga sama Dokter di suruh bed rest. "
"Iya bed rest aja dulu, takut nya terjadi kenapa - napa lagi. "
"Yank, udah selesai. Kita bisa pulang, obat nya juga udah dapat nih. " Ucap Fatih.
"Fatih, ibu boleh kan menginap di rumah kamu, ibu khawatir sama Mentari. " Ucap Ibu Nuri.
__ADS_1
"Boleh Bu, Fatih juga besok mau langsung berangkat, mau menyelesaikan masalah yang kemarin. "
"Memang nya siapa Mas? dari kemarin Mas itu belum cerita. "
"Tante Lika, dia dalang semua nya. "
"Ya Allah, jahat sekali dia. "
"Ibu juga geram banget sama itu nenek - nenek, otak nya di taruh di mana. Kalau sampai Fatih merenggang nyawa, dia mau apa coba, kabur yang jelas hidup nya tidak akan tenang. "
"Yang penting, sekarang Fatih sama Mentari selamat Bu. "
*****
"Mas, masih sakit nggak? " Mentari memegang luka di kening Fatih.
"Nggak apa - apa, luka nya Mas tidak separah kamu sayang. "
"Mereka jahat, Tante Lika jahat. "
"Hukum sudah bertindak tegas, semoga Tante Lika sadar. "
"Saya sudah membayangkan Mas, kalau memang berbuat jahat , bagaimana nasib kita.Melihat nya saja kemarin sudah ngeri banget Mas. "
"Mas, menjadi Camat itu berat, berat nya mengemban tugas besar. Kelak suatu saat di akhirat akan di pertanggung jawabkan. "
"Mas yang amanah ya, saya percaya kok Mas itu pemimpin yang bertanggung jawab dan tidak akan pernah makan uang rakyat atau menggunakan jabatan untuk keuntungan. pribadi. "
"Makasih sayang, kamu sudah menjadi pendamping istri buat Mas, selalu mendukung Mas. Orang tua mengenalkan kita itu tidak salah, pilihan orang tua itu ternyata terbaik buat kita. "
"Benar Mas, ini cara kita bertemu. "
*****
"Ngapain dia kemari? "
"Sebaiknya Bapak temui saja dulu. "
Fatih lalu keluar dari ruangan nya, Neli bangun dari duduk nya saat Fatih datang menghampiri nya.
"Mas."
"Kelakuan Bunda kamu, buat saya sama istri mati di hajar masa. Cara berfikir Bunda itu cetek banget sih, kamu sebagai anak nya bagaimana sih hah..!! "
"Maaf kan saya Mas, saya tidak tahu. Mungkin Bunda kecewa, jadi seperti ini."
"Kecewa, kecewa karena tidak jadi menantu. Tapi bukan begini cara nya, tiba - tiba masa datang menuduh saya korupsi, kalau sampai Masa tidak bisa di kendalikan bagaimana? kalau saya sampai mati, apa Bunda tidak takut dosa lebih besar lagi. Kamu sebagai anak nya, mau gimana hah.. "
"Saya minta maaf, minta maaf Mas. "
"Saya maafkan, tapi hukum tetap berlanjut. "
"Saya mohon Mas, lihat Bunda Mas, apa Mas tidak ingat bagaimana Bunda sayang sama Mas, dan Mas pun sayang sama Bunda. "
"Apa Bunda, melakukan tindakan kemarin tidak ingat saya itu siapa, tidak ingat bagaimana dekat nya saya sama dia. Apa Bunda kamu ingat, Tante Lika itu tidak akan ingat saya siapa, yang hanya ingat dendam dan amarah. "
"Maaf kan saya Mas. "
"Sampai bertemu di ruang sidang. "
*****
__ADS_1
"Neli."
"Mentari, maafkan saya. Maaf kan Bunda. "
"Minta maaf lah sama Mas Fatih, jangan minta maaf sama saya. "
"Sudah, tapi dia tetap berlanjut hukum nya. "
"Bagaimana juga, tindakan Tante Lika itu sudah keterlaluan, bahkan melibatkan warga. Mereka juga pasti marah. "
"Jadi saya harus bagaimana? "
"Harus menerima, kalau Tante Lika itu salah."
*****
"Biar Mas aja yang buka seragam nya. " Tolak Fatih.
"Nggak apa - apa, kan hanya bantu buka kancing seragam aja bukan masak."
"Tapi kamu harus bed rest yank. "
"Kan diam berdiri aja Mas. "
Fatih memeluk pinggang Mentari, yang sambil membuka kancing seragam nya. Sesekali Fatih mengecup kening istri nya.
"Neli tadi ke rumah. "
"Ngapain, minta maaf. "
"Apa tadi Neli ke kantor? "
"Iya, dia minta maaf meminta agar Tante Lika tidak di hukum. Tapi Mas tetap bilang hukum akan terus berjalan. "
"Saya bilang, minta maaf lah sama Mas Fatih. Bukan minta maaf sama saya, mungkin. karena Mas Fatih jawaban nya begitu. Jadi datang kesini, siapa tahu saya bisa bantu. Tapi saya nggak akan bantu, karena kemarin mengancam nyawa. "
"Semoga Tante Lika itu sadar, apa yang sudah di lakukan nya. "
*****
"Maaf Bunda, Neli tidak bisa bantu. Maaf kan Neli Bunda. "
"Tak apa, memang Bunda yang salah. Bunda terlalu marah dan dendam sama Fatih. Bunda tidak terima anak Bunda di campakkan. "
"Neli ikhlas Bunda, walau pertama sakit rasanya, tapi Neli harus terima kenyataan. Bunda pun harus terima kenyataan nya, kami tidak bisa bersatu, lihat Neli Bunda, lihat. Neli sekarang bukan sedih karena pria, sedih melihat Bunda, harus mendekam di penjara. Bunda akan tidur, di lantai yang dingin, udara yang kurang bahkan harus berbagi dengan para tahanan lain nya. Neli nggak kuat Bund, nggak kuat bayangkan nya. "
"Bunda, terima nak, apapun yang Bunda lakukan, Bunda menerima nya. Ini pantas Bunda dapat kan. "
"Maaf kan Neli Bund, maaf kan, Neli tidak bisa bantu Bunda keluar dari sini. "
"Iya tidak apa - apa Nak, Bunda ikhlas, mendapatkan hukuman ini. Karena Bunda yang salah. "
"Neli akan setiap hari kesini, Bunda jangan menangis terus ya, kalau menangis begini Neli jadi sedih. "
.
.
.
.
__ADS_1