Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Tak Betah


__ADS_3

Sebuah kepercayaan itu sangat mahal harganya, jadi jangan sepelekan sebuah arti kepercayaan itu sendiri, ketika orang percaya akan kita, sebagai manusia, jagalah kepercayaan itu.


...( Fatih dan Mentari)...


.


.


.


.


Pernah saling menatap


Lalu memilih langkah saling bersimpang


Menemukan kebahagiaan masing-masing


Mencoba mencari hujan yang lebih menyejukan


Mencoba mencari pelindung lain


Kita sepakat untuk tidak lagi sepaket


Kita mendekati jalan-jalan yang membawa kita kepada jarak yang semakin jauh


Rindu hanyalah kata-kata kosong belaka


Kita merasa tak lagi saling menginginkan


Meski mungkin saja dalam hati terdalam masih ada getar


Aku berdamai dengan diriku yang kalah dalam pertarungan mempertahankan mu


Aku menjadi pejalan yang pulang bukan lagi menujumu


Kau terlalu liar untuk ku taklukkan


Kita tak menemukan ujung yang sama


Kita terlalu keras kepala untuk tetap memilih jalan yang berbeda.


Sudahkah kau merasa tenang


Setelah tak lagi memperjuangkan semua yang pernah kita tuju


...( NRFF)...


.


.


.


.


"Mas, udah 2 bulan belum turun aja SK nih? Sampai kandungan mau masuk 4 bulan. " Ucap Mentari sambil mengusap pelan perut nya.


"Sabar Yank, nanti juga kalau udah waktunya turun pasti langsung pindah. "


"Udah nggak nyaman Mas, benar - benar nggak nyaman. "


"Jadi maunya gimana? "


"Ya Mau nya pengen cepat keluar dari sana. '


" Nggak nyaman nya? Gibran atau Tita ganggu Ayank. "


"Nggak juga sih Mas, tap rasanya beda aja. Mas kan tahu, Tita masih cemburu, walau Mas Gibran udah menjauh, ngobrol kalau ada perlu nya aja. "


"Sabar ya, jangan suka dan ladenin kalau Tita ngomong apa - apa, misal mereka berantem, itu bukan salah Ayank kok. "


"Tahu ah Mas, pokoknya nggak nyaman. "


*****


"Ayah bisa bantu, bicara sama kepala Dinas Pendidikan? "


"Ayah, nggak terlalu kenal sih, tapi seperti nya Malik kenal. " Ucap Pak Syahrul.

__ADS_1


"Kenapa Om? " Tanya Malik.


"Kamu kenal dekat sama, Pak Hasbi kepala Dinas Pendidikan? " Tanya Fatih.


"Kenal, banget saya kan di inspektorat, gimana emangnya? " Jawab Malik kembali bertanya.


"Kamu kan sepupu saya, bantu lah istri saya. "


"Mentari yang pindah itu ya, kemarin gimana?"


"Saya yang maju langsung, itu juga di antar sama teman nya Mentari. Katanya tunggu, nggak lama. Hanya saja, istri saya sudah minta pindah katanya nggak nyaman."


"Nanti besok di tanyakan lagi ya, takut nya kan lupa atau keselip. "


"Makasih loh, nanti kabari ya. "


"Siap, nanti besok langsung di kabari. "


"Makasih loh. "


"Sama - sama. "


"Mentari, kenapa nggak nyaman nya? " Tanya Pak Syahrul.


"Mungkin ingin suasana baru, Mentari ingin mengajar nya dekat sama kantor nya Fatih." Jawab Fatih.


"Anak itu gimana, kamu pindah tetap saja nggak dekat lagi malah jauh. "


"Saya juga kan, pindah nya juga nggak tahu Yah, masih di percaya kali ya. "


****"


"Om Syahrul bahkan orang tua nya, nggak tahu kalau istri kamu ada masalah dengan mantan nya? " Tanya Malik penasaran.


"Iya, kalau tahu bisa berabe lah. Mentari juga kalau cerita tentang saya, pasti sama. Kan pernah sekali, ketahuan kedua orang tua kita marah besar. "


"Tapi akhirnya, kalian malah saling mencintai sekarang, bagaimana juga jodoh itu, hal yang tidak terduga. "


"Masalah nya, istri saya itu tidak gimana - gimana sama mantan nya, bahkan sama istri nya juga. Tapi namanya mantan nya, pantas tidak bisa melupakan istri saya, pasangan yang sekarang berbeda jauh, banyak ketidak cocokan. "


"Untung kamu dewasa, kalau pria lain sih, sudah hajar tuh cowok. "


"Benar kata kamu. " Ucap Malik.


*****


"Yank, nanti Malik bantu tanyakan, tentang SK kamu ya. "


"Oh iya, Mas Malik kan di inspektorat ya, dekat sama kantor dinas pendidikan , pasti kenal ya."


"Iya, sabar ya sedang di usaha kan, tunggu aja. "


"Iya Mas. "


"Yank , kalau nanti Mas pindah tugas nya gimana? "


"Ya nggak gimana - gimana Mas, yang penting nggak bareng sama mereka aja. "


"Ya udah kirain Mas pindah, ikut pindah. "


"Memangnya, yang punya wewenang, orang tua kita. "


Fatih tersenyum langsung memeluk tubuh Mentari, dan di ciumi nya seluruh wajah Mentari.


"Ih... Mas, rese ya. "


"Habis, gemes banget lihat kamu. "


"Mas."


"Kenapa? "


"Kok perut tambah buncit sih? " Ucap Mentari sambil memegang perut Fatih.


"Ah masa yank? " Ucap Fatih sambil meraba perut nya.


"Beneran, kok bisa buncit. "


"Mas, akhir - akhir ini jarang olahraga, makan nya timbun lemak. "

__ADS_1


"Tapi biar begini aja, kayak Om - Om nggak ada yang naksir. "


"Dari kemarin juga nggak ada yang naksir Mas, soalnya gimana main naksir, istri nya galak. "


"Biarin galak, biar nggak ada yang berani dekati Mas. "


" Jahat."


"Biarin."


*****


"Tita,kamu kenapa ?" Tanya Mentari saat melihat Tita meremas perut nya.


"Ngapain kamu perhatian sama saya? " Tanya kembali Tita.


"Ya Allah Tita, saya kan tanya baik - baik, sama kamu. Masa saya lihat kamu kesakitan begini,saya diam saja. "


"Mending urus aja masalah kamu."


"Eh Tita, kamu itu ya, masih mending Mentari baik sama kamu, dia nggak dendam sama kamu. Terus kamu itu ya, marah nggak jelas tahu." Tegur Aneke.


"Jujur An, ini yang buat saya nggak betah, dan pengen cepat - cepat pindah. Marah kesal sama suami kamu, pelampiasan nya sama saya. " Ucap Mentari.


"Kalau nggak terima bilang, saya benci sama kamu. " Ucap Tita pada Mentari.


"Sudah lah, nggak jelas dia. " Ucap Aneke.


*****


"Rizal, kata Ibu saya gemuk kan, benar nggak?"


"Benar Pak, sekarang tambah gemuk. " Jawab Rizal.


"Sekarang jarang olah raga, malas aja, bawa rasanya. "


"Dari perut aja, kelihatan buncit dikit. "


"Aduh, gimana nih? nanti di kira Om - Om lagi."


"Fitnes Pak, saya sekarang juga rajin Fitnes."


"Di rumah ada sih, nggak tahu semenjak istri hamil, badan kok melar ya, ikutan sama ibu."


"Berarti bapak senang namanya. "


"Alhamdulillah, memang benar Rizal, saya itu Bahagia terus, sama Ibu. Tidak pernah marah, jarang marah besar, ya walau ada saja dalam rumah tangga, pasti ada pertengkaran. Kamu juga Pasti paham, ini benar - benar kesamping , lihat jelek ya." Ucap Fatih sambil bercermin.


.


.


.


.


Untuk malam ini kau boleh cemburu atau marah padaku


Mungkin kau merasa terabaikan


Jangan memamerkan wajah masam,perempuanku


Sebab,untuk saat ini aku memilih bercumbu dengan secangkir kopi pilihan


Rindu terlalu sakral seperti di ujung sakaratul


Sayang,janganlah mendidihkan amarah


Karena bagaimanapun kau yang terindah


Berikan sejenak waktu,biarkan malam ini aku mercercap hitam


Pahitnya setelah kesekian ribu detik lidah kehilangan kental rasa


Janganlah merasa kau tak kupahami


Maafkan aku,tak mengencani hati


...( NRFF) ...

__ADS_1


__ADS_2