
"Kenapa Yank? " Tanya Fatih saat melihat Mentari sedang memijat kepala nya, didepan tumpukan kertas.
"Pusing aja Mas, tadi lagi koreksi soal, eh.. kepala tiba - tiba pusing begini. " Jawab Mentari.
Fatih membantu memijat kepala istri nya, Mentari sangat menikmati pijatan suami nya, hingga terasa sedikit hilang rasa pusing nya.
"Kalau pusing jangan di paksa, besok lagi."
"Iya Mas, ini tanggung, satu kelas lagi. "
"Dokter kemarin kan bilang, jangan terlalu capek,atau bed rest, masalah nya usia kandungan masih sangat muda. "
"Iya Mas, di sekolah juga kalau nggak kuat nggak lanjut kan paling kasih tugas. "
"Lebih baik begitu, dari pada kenapa - napa, ya kan lebih baik jangan di paksa. "
"Mas, besok ada jadwal arisan, Mentari kan baru ikut. Kalau nggak datang, nggak enak Mas. "
"Datang saja, kalau kondisi nya sehat. "
"Sehat Mas, pusing begini besok juga hilang."
"tempat nya, di kantor kecamatan mana? "
"Kecamatan Ambara. "
"Nanti Mas antar, pulang nya Mas jemput. "
"Perbulan nya 1 juta Mas. "
"Besok Mas, kasih cash. "
*****
"Bu Fatih, itu bagaimana ceritanya kemarin? saya lihat di berita sama di group, ya Allah itu sampai masa nya benar - benar ngeri. " Ucap Ibu Siti, istri Camat Lateh.
"Saya lihat, waktu Pak Fatih ada darah nya di kening nya, ya Allah benar - benar anarkis. " Ucap Ibu sandi, istri Camat Wiara.
"Alhamdulillah, Allah masih melindungi kita Ibu - Ibu, suami saya nggak salah, hanya ada orang yang tidak suka sana suami saya saja." Ucap Mentari.
"Tega banget itu orang ya, semoga nanti dapat hukuman yang berat. " Ucap Ibu Sandi.
"Iya, saya juga nggak menyangka kalau yang melakukan nya itu orang terdekat nya. " Ucap Mentari.
"Bu Fatih, maaf ya sebelum nya. Apa benar pelaku nya, ibu dari mantan nya Pak Fatih? " Tanya Ibu Selfi, istri Camat Kiara.
"Nah, betul nggak tuh, soalnya di group Suami heboh nya begitu. " Timpal Ibu Siti.
"Benar Bu, dia seperti ini karena masih tidak terima, kalau Bapak nikah sama saya. " Ucap Mentari.
"Ya Allah, itu orang. Nggak terima sih nggak terima, tapi jangan seperti ini, jadi nya kan merugikan orang lain. " Ucap Ibu Selfi.
"Kalau sampai Pak Fatih sampai kenapa - napa , hukuman berat itu. " Ucap Ibu Siti.
"Ini saja sudah berat, sampai bawa masa ribuan. Benar - benar stress itu orang. " Ucap Ibu Sandi.
__ADS_1
"Suami memaafkan, tapi hukum tetap berjalan."
"Iya betul, hukum harus tetap berjalan. " Ucap Ibu Sandi.
*****
"Maaf kan Tante. " Ucap Ibu Lika.
"Saya maaf kan Tante, tapi maaf Tan, hukum masih terus berjalan. Dan Tante juga, mendapatkan kencaman dari warga. " Ucap Fatih.
"Tante salah, karena Tante tidak rela Neli di sakiti. "
"Saya tahu Tan, tapi cara Tante salah, memang saya juga salah. Tapi tidak harus seperti ini, kalau sampai kemarin saya merenggang nyawa bagaimana, karena ulah Tante. Dan satu, akibat orang suruhan Tante, saya hampir kehilangan nyawa anak saya. "
"Maaf, maaf Fatih. "
"Semoga Tante bisa belajar, dari masalah ini. Besok adalah keputusan pengadilan nya. "
*****
"Besok Mas, keputusan pengadilan? "
"Iya, besok keputusan nya. "
"Apa, Mas tetap membiarkan vonis pada Tante Lika? "
"Iya, dia saja tidak memikirkan tentang Mas, saat bertindak. "
"Tapi Mas, memaafkan kan? "
******
"Pengadilan Negeri Panaran, Memutuskan saudari Lika Antika, atas kasus pencemaran nama baik, dan menyebarkan berita hoaks, atas tuduhan pada Camat Panaran, tentang kasus korupsi dana perbaikan jalan. Adalah tidak benar, maka dari itu, memutuskan Saudari Lika, di jatuhi hukuman selama 10 tahun penjara. " Ucap Hakim.
Ibu Lika hanya bisa tertunduk lesu, sedangkan Neli hanya bisa terisak. Fatih diam dengan mimik wajah, yang masih menyimpan rasa kesal dan kecewa.
Mentari mengusap lengan Fatih, yang masih diam menatap ke arah mantan calon mertua nya.
"Mas,apa tidak mau bertemu dengan Tante Lika? "
Fatih langsung berdiri,dan menggandeng tangan Mentari berjalan bersama ke arah Ibu Lika dan Neli yang sedang berpelukan.
"Tante."
"Fatih, maaf kan Tante. "
"Fatih juga minta maaf, kalau saya melakukan tindakan tegas seperti ini. " Ucap Fatih.
"Mas, apa kamu tidak memikirkan lagi. Wanita seperti Bunda, 10 tahun hukuman nya, apa mas tidak kasihan. " Ucap Neli .
"Maaf kan saya, tapi nyawa dan nama baik saya kemarin itu sudah tercoreng. ini adil buat saya, dan Bunda. Apa yang di lakukan oleh Bunda kamu, itu pantas mendapat kan nya. "
"Hiks.. hiks... kamu jahat Mas, jahat. "
"Neli, Bunda terima, ini pantas di dapat kan Bunda. "
__ADS_1
"Tapi Bund, 10 tahun. "
"Nggak apa - apa, Bunda ikhlas menjalani nya."
*****
"Mas, Neli benci ya sama Mas? "
"Biarkan saja, lagian dia bukan apa - apa nya Mas. "
"Memang hukum harus adil, kalau tidak adil orang akan seenak nya sendiri. "
"Ini sebagai pembelajaran kita, kalau melakukan sesuatu harus memikirkan lagi, segala resiko nya. "
Mentari memeluk tubuh Fatih, jari nya memainkan dada bidang nya yang terbungkus kaos.
"Mas."
"Hem."
"Si dedek lama, nggak di tengok sama Papah nya. "
"Si dedek apa mamah nya? "
"Dua - dua nya, kapan di tengok? "
"Mau nya kapan? "
"Sekarang dong, udah kangen. "
Fatih langsung membaringkan tubuh Mentari di sofa, menindih dengan bibir sudah berada di leher Mentari. Memberikan sentuhan dengan sebuah ciuman, membuat Mentari seperti tersengat listrik.
Mentari memegang wajah Fatih, mencium bibir nya, hingga lidah mereka saling beradu. Tanga Mentari dengan cekatan, mengangkat kaos yang di pakai Fatih, hingga kini bertelanjang dada.
Fatih membantu melepaskan pakaian Mentari, hingga kini hanya menyisakan pakaian dalam nya.
Tangan Fatih, meraba ke setiap celah, membuat sentuhan hingga Mentari merasakan terbang melayang. Fatih dengan segera melepaskan celana nya, kini tak pakai sehelai benang, begitu juga Mentari yang tidak pakai sehelai benang juga.
*****
"Awwww."
"Sakit? "
"Tadi Mas, kencang banget. "
"Maaf sayang, habis kamu bilang nya enak - enak aja. "
"Enak juga, harus pelan dong. Ingat sama anak di dalam perut. "
"Ya Maaf sayang. "Ucap Fatih panik sambil mengusap pelan perut istri nya, sedangkan Mentari menatap kesal ke arah suami nya.
.
.
__ADS_1
.