Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Rinjani


__ADS_3

4 Tahun Kemudian


Rinjani yang memakai pakaian nya serba pink sedang memoles wajah nya di depan cermin, layak ny wanita dewasa.


Balita berumur 4 tahun itu berjalan dengan berlenggak lenggok pantatnya , badan yang gemuk, dan rambut di kepang dua.


"Eh... bidadari nya Papah, sini sayang." Ucap Fatih yang sedang membaca koran, mengehentikan membaca nya.


"Mamah, kenapa perfume Rinjani habis? kemarin kan sudah bilang, kalau perfume Rinjani habis, Rinjani nggak mau keluar rumah main sama teman - teman. "


"Aduh sayang, maaf ya. Mamah kemarin lupa." Ucap Mentari yang sedang memeriksa soal hasil ulangan murid nya.


"Rinjani perfume nya merk apa? nanti Papah belikan. "


"Secret Lady Pah. "


"Perfume apaan Mah? "


"Mamah nggak pernah belikan kamu perfume itu deh. " Ucap Mentari.


"Ini loh. " Tunjuk Rinjani.


"Itu kan Perfume punya Mamah sayang, kamu kan punya sendiri. "


"No, Mamah. Kalau perfume ini wangi nya itu bisa sampai jarak 1 kilometer. "


"Hahahahaha... kata siapa nak? 1 kilometer masih ke cium. " Ucap Fatih.


"Ini, Mamah pakai. "


"Mah, apa nggak sadar, anak kita ambil perfume kamu tuh? "


"Mamah nggak sadar Pah, kan tahu sendiri di meja ada 50 merk perfume. "


"Pakai perfume punya Rinjani ya, anak kecil jangan pakai perfume orang dewasa."


"No Papah, wangi nya kurang. "


"Sayang, mau beli sepatu baru lagi nggak? " Ucap Fatih merayu.


"Ok, tapi nanti Mamah belikan ya. "


"Ok sayang. "


Rinjani kembali ke kamar nya, Fatih menatap ke arah istri nya, dan Mentari menatap kembali suami nya, seolah bertanya ada apa.


"Ajaran kamu, dari mulai dalam orok."


"Ajaran apa? nggak sesat. "


"Gayanya, melebihi orang dewasa. No Papah, nggak ada perfume nggak mau main. Itu anak gaya nya, teman - teman sebaya nya nggak ganjen begitu. "


"Ya itu bukan Mamah loh."


*****

__ADS_1


"Om Sakti, bau ketek banget sih. Jangan dekat - dekat sama Rinjani, nanti ikut ketularan bau ketek lagi. "


Sakti langsung mencium kedua ketek nya , tapi memang sedikit bau karena baru saja olahraga lari, dari rumah nya sampai ke rumah kakak nya.


"Sorry say, keringatan."


"Sana, jangan dekat - dekat. Alergi nanti."


"Ya Amplop , punya ponakan kalau ngomong nusuk sampai ke pantat. Eh.. gemoy dari kamu masih dalam perut, Mamah kamu kalau ada apa - apa minta tolong nya sama Om loh, kamu itu dari kecil paling suka cium ketek nya Om. Tanya saja sama Mamah Papah kamu. "


"Ih.... jijay.. bohong, huaaaaaaaaaa.... Mamah... Papah.... " Teriak Rinjani menangis keras hingga Fatih dan Mentari keluar dari dalam rumah, melihat kedua nya yang sedang duduk berdua di teras depan rumah.


"Kamu apakan Sakti? ponakan kamu sampai nangis begitu. " Ucap Fatih.


"Hiks... hiks... kata Om Sakti, Rinjani waktu masih kecil suka banget cium ketek nya Om Sakti, huaaaaaaaaa... hiks.. hiks.. " Fatih menahan tawa, hingga Mentari langsung menjewer adik nya.


"Kamu seperti nggak mengerti watak ponakan, udah tahu kalau lebay nya nggak bisa ke tolong kayak apa. " Tegur Mentari.


"Ya itu, efek salah ngidam." Ucap Sakti.


"Enak saja, kalau ngomong." Ucap Mentari.


******


Fatih membawa Rinjani ke tempat dinas nya, Rinjani yang memakai pakaian yang serba Pink, dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat anak buah Papah nya tak henti mencubit pipi nya.


Sampai di dalam ruangan Papah nya, Rinjani kembali memoles wajah nya dengan bedak, dan menyemprotkan tubuh nya dengan minyak wangi anak. Yang membuat, Fatih bersin, karena ruangan ber AC ditambah Rinjani terus menyemprotkan kan tubuh nya sampai satu botol habis.


"Nak, kamu itu sedang pakai perfume atau pakai disinfektan sih? itu aduh bau nya, Papah buka pintu nya. " Fatih langsung membuka pintu ruangan nya, hingga udara segar masuk.


"Nak, baru saja sampai. Tadi kamu sebelum kesini sarapan dulu, nasi goreng 2 piring. Sekarang sudah lapar lagi? "


"Rinjani mau mie rebus yang super jumbo sama telor nya 2."


"Siang ya, kasihan tuh perut udah besar gitu."


"Sekarang Papah. "


"No."


"Please Papah, lapar. Perjalanan dari rumah ke kantor Papah itu jauh. "


"Jauh apanya, hanya 2 kilo, naik mobil nggak jalan kaki. "


"Lapar." Rinjani mengusap perut nya.


"Ok, Papah pesan kan." Ucap Fatih dengan melihat kasihan putri nya.


*****


"Yank, buat dedek yuk." Ajak Fatih sambil mencium tengkuk leher istri nya.


"Pakai pengaman ya. " Ucap Mentari.


"Nggak mau, Papah mau adik buat Rinjani."

__ADS_1


"Mas, nanti lah kalau Rinjani sudah umur 7 tahun."


"Nggak mau, sekarang. "


"Mas kira, bikin anak itu di adonin masukan kedalam oven langsung jadi apa. "


"Rinjani butuh teman main sayang, ayolah kita buat adek nya Rinjani. Mas nggak mau pakai pengaman, dan kamu nggak boleh pakai pil KB lagi. "


"Nggak mau sekarang. "


"Sekarang." Fatih langsung menindih tubuh Mentari, dan saat akan mencium bibir Mentari, Fatih tersentak kaget saat melihat Rinjani sedang tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi nya yang banyak berlubang.


"Astagfirullah." Fatih langsung bangun dari tubuh Mentari, dan Mentari tanpa sengaja menendang tubuh Fatih hingga terjungkal, karena melihat Rinjani berada di dalam kamar mereka yang terkunci.


Buuugghhh


Awwwwww


"Rinjani."


"Aduh... Mah, kenapa tendang Papah. Ini pantat nya sakit. " Ucap Fatih sambil mengusap pantat nya.


"Hehehehe.... No adik, Rinjani bahagia sendiri. Kalau ada adik , nanti kasih sayang nya berkurang."Ucap Rinjani.


"Kamu nguping? " Ucap Mentari.


Fatih bangun, sambil mengusap pantat nya yang sakit, sedangkan Rinjani tertawa terbahak - bahak melihat Papah nya yang kesakitan.


"Kamu kapan masuk nya sih? " Tanya Fatih.


"Waktu Papah sama Mamah mau masuk, Rinjani udah masuk duluan, terus masuk kedalam kolong tempat tidur. " Jawab Rinjani langsung naik ke atas tempat tidur, sambil minum susu di botol, tangan nya mengambil remote TV dan menyalakan nya.


"Tidur nya di kamar sendiri, kalau kamu disini sesak. " Tegur Fatih.


"No, Rinjani mau tidur sama Mamah Papah, biar nggak ada pembuatan adik. "


Seketika Mentari dan Fatih salah tingkah, tanpa banyak bicara Fatih mengambil bantal dan selimut tidur di sofa yang masih berada di dalam kamar nya.


"Kalau gitu, tidur ya. Jangan lihat TV terus, mamah matikan. " Ucap Mentari sambil mematikan televisi nya


Rinjani pun memejamkan matanya sambil meminum susu dari botol, tangan nya terus menggenggam erat tangan Mentari.


"Mah, mah. " Panggil Fatih pelan.


"Ssssttt.. jangan berisik, nanti bangun." Ucap Mentari.


"Mah, mah, sini. " Panggil kembali Fatih.


"Anak nya nanti bangun." Ucap Mentari mengingat kan.


"Mah."


"Papah....!!! tidur berisik. " Tegur Rinjani sambil memiringkan tubuh nya menghadap ke arah Papah nya. Mentari terkekeh, dan Fatih langsung menarik selimut nya hingga menutupi seluruh tubuh nya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2