Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Gara - gara Iklan


__ADS_3

"Bu.. ibu... "


Fatih dan Mentari langsung segera memakai pakaian nya, saat ada yang memanggilnya, dengan terburu - buru, Mentari langsung memakai kerudung nya.


"Iya bentar. " Ucap Mentari, melihat Fatih yang sudah berpakaian lengkap langsung membuka resleting tenda.


"Ada apa Bu Wati? " Tanya Mentari dengan nafas naik turun.


"Ibu kenapa? sakit. " Tanya kembali Ibu Wati.


"Nggak bu, saya nggak sakit. Saya kaget saja, tadi lagi tidur. "Jawab Mentari bohong.


" Aduh maaf Bu, maaf ganggu ya. "


"Nggak apa - apa kok, ada apa ya Bu? "


"Saya mau bicara sama Ibu, dan Pak Kepsek juga. "


"Oh iya Bu. "


Sedangkan di dalam tenda, Fatih berbaring dengan menahan emosi, yang sedang menikmati puncak harus kandas di tengah jalan. Tubuh nya yang masih menegang, tidak bisa langsung memejamkan mata nya, dan langsung di alih ke ponsel nya.


Mentari masuk kembali kedalam tenda, setelah satu jam keluar, terlihat Fatih tertidur pulas dengan ponsel yang masih menyala. Di matikan nya ponsel milik nya, dan meletakkan di samping Fatih tertidur.


Kecupan bibir dan kening, Mentari daratkan membuat tangan Fatih langsung menarik Mentari kedalam pelukan nya.


"Sudah tidur , jangan berharap kita lanjutkan, Mas udah nggak bisa berdiri. "


"Berdiri apa nya? " Tanya Mentari dengan jahil memegang milik Fatih, dan terus hingga merasakan sangat keras.


"Bukti nya, ini di pegang. "Ucap Mentari kembali.


"Udah dong Yank, tidur yuk. "


"Ya udah. " Mentari memeluk tubuh Fatih, dan memejamkan kedua mata nya.


****


"Kopi." Ucap Fatih sambil menyodorkan satu gelas kopi di tangan kanan nya.


"Makasih ya. " Ucap Gibran menerima segelas kopi dari Fatih, dan langsung meminum nya.


"Tanggal berapa nikah? "


"Tanggal 23 minggu depan. "


"Semoga lancar ya. "


"Amin."


"Maaf ya, kalau saya sudah mengambil milik kamu. " Ucap Fatih.


"Nggak usah minta maaf, mungkin takdir tidak bisa menyatukan kita, tapi memang cara nya seperti ini kalau itu jodoh kita sekarang."


"Iya, kita ini sebenernya, sudah menjaga jodoh orang. "


Mentari datang menghampiri Fatih yang sedang mengobrol bersama Gibran, Fatih dan Gibran langsung menatap Mentari.


"Mas, sarapan dulu yuk. " Ajak Mentari.

__ADS_1


"Gibran, sarapan yuk. " Ajak Fatih.


"Nanti, habisin kopi dulu. " Ucap Gibran.


Tita langsung menghampiri Gubran, dan membawa nasi bungkus untuk calon suaminya .


"Makan Mas. " Ucap Tita.


"Mas, lagi minum kopi. " Ucap Gibran.


Lalu gelas yang ada di samping Gibran, berisi kopi langsung di buang oleh Tita, dan membuka nasi bungkus berisi ayam goreng dan mie goreng.


"Kok di buang, orang masih di minum."


"Kalau kata saya makan ya harus makan, mau sarapan minum kopi. Nanti perut Mas sakit gimana? saya kan yang repot. "


"Tita, itu mubazir, lagian Mas di kasih sama Fatih kok, masa Mas juga emang nggak terlalu suka kopi, orang di tawarin masa nolak."


"Kan udah saya buang, yuk makan. "


Gibran hanya menarik nafas nya dengan kesal dan langsung makan sarapan yang dibawa oleh Tita. Sedangkan Mentari dan Fatih makan satu bungkus bersama, dengan alasan Mentari yang masih kenyang.


"Pak Bu, cepat punya anak, jangan kasih kendor. " Ucap Ibu Wati.


"Kalau itu, jelas Bu, hanya saja banyak gangguannya. " Ucap Fatih.


"Gangguannya apa Pak? "


"Biasa, ada aja iklan nya. " Ucap Fatih yang masih merasakan kesal, karena posisi enak nya terganggu oleh Ibu Wati yang memanggil istri nya.


"Wah, kalau begitu harus cari tempat khusus Pak, biar nggak ada iklan nya. "


"Benar kata Ibu, salah tempat. "


****


Malam terakhir diisi oleh acara api unggun, acara terakhir di tutup dengan Fatih yang menjadi pembina unggun.


Mentari keluar dari barisan memilih duduk di kursi dekat tenda yang di jadikan posko, memegang kaki nya dengan memijat nya.


"Bu, kenapa? " Tanya Bu Halimah juru masak di perkemahan.


"Pegal banget Bu, nggak kuat. " Jawab Mentari.


"Ibu capek ya, kelihatan wajah nya udah pucat."


"Iya, malam terakhir, badan terasa remuk semua. "


"Istirahat Bu, kalau mau ada wedang jahe biar hangat, dan enakan tubuh nya. "


"Boleh Bu. "


Tak lama, Ibu Halimah membawa satu gelas wedang jahe hangat, Fatih yang selesai menjadi pembina unggun di upacara terakhir, berjalan mendekati Mentari yang sedang memijat kedua kaki nya.


"Kenapa Yank? " Tanya Fatih dengan penuh perhatian.


"Badan sakit semua, kaki nya pegal. " Jawab Mentari.


"Kamu pucat Yank, istirahat ya di dalam tenda."

__ADS_1


Mentari Menganggukkan kepala nya, dan Aneke menghampiri Mentari.


"Kamu sakit? Tuh pucat. "


"Mba Aneke, bisa minta tolong ambil kan obat. " Ucap Fatih.


"Nanti saya ambil. "


"Mas, pengen rebahan pijat enak kali ya. "


"Biasa di pijat? "


Mentari menganggukkan kepala nya, Aneke datang membawakan obat dan air putih.


"Minum dulu obat nya. " Ucap Fatih.


"Mentari kenapa Fatih? " Tanya Gibran sedang kan di samping nya Tita menatap malas ke arah Mentari.


"Sakit." Jawab Fatih.


"Istirahat aja, kasihan. " Ucap Gibran.


"Rebahan di dalam ya. " Ucap Fatih, dan di anggukkan oleh Mentari.


****


"Enak nggak? "


"Iya enak banget Mas, punggung nya di pijat begini. "


"Nanti jangan dulu berangkat, istirahat. "


"Besok juga udah enakan Mas. "


Namun saat Fatih terus memijat tubuh Mentari, rasa sesak di bawah sana dan jantung berdegup sangat kencang. Mentari merasakan pijatan Fatih berubah, dan bukan suatu pijatan tapi suatu sentuhan pelan namun membuat tubuh Mentari terasa berbeda.


"Mas."


Fatih malah tangan nya masuk kedalam pakaian yang di kenaikan Mentari. Jemari tangan Fatih, Mentari merasakan turun kebawah balik celana nya hingga berada tepat di bawah dua bongkahan bawah pinggang nya.


"Mas."


"Sssssttttt, Mas nggak tahan Yank, dari kemarin Mas tahan. "


"Tapi Mas. "


Seketika, Fatih membalik tubuh Mentari hingga kini berada di bawah nya, tangan nya langsung memegang satu bulatan kanan milik Mentari, memilin seperti membesarkan volume suara, di cium nya bibir Mentari, dengan lidah berusaha menerobos masuk kedalam nya.


Kedua tangan Mentari, di kalung kan nya pada leher Fatih, saling bermain lidah, bertukar saliva, hingga kini gigitan kecil meninggal kan beberapa jejak di leher nya.


Mentari mencoba menahan sensasi yang luar biasa, dengan menutup mulut nya, saat lidah Fatih bermain di kedua bulatan milik nya.


"Mentari... ini ada salep nyeri , enak loh di pakai buat kaki pegal - pegal, badan nyeri saya tadi pakai ini sudah mendingan." Teriak Aneke dari luar tenda.


"I - iya Aneke, makasih kamu taruh saja di situ nanti saya ambil. " Ucap Mentari, sambil menatap Fatih yang wajahnya penuh kesal.


"Kenapa? kesal ya. Tadi Ibu Wati bilang kan, kalau mau nggak ada iklan di tempat khusus."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2