Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Masih Mencintai


__ADS_3

"Kamu jujur saja sama saya, nggak apa - apa kamu mau bilang, kamu masih memiliki rasa, saya nggak akan marah. Karena saya, sadar diri, saya orang kedua yang hadir di antara kalian. " Ucap Fatih dengan tenang sambil menyeruput kopi hitam nya.


"Kamu yakin, nggak akan marah? " Tanya Gibran.


"Tidak, saya nggak akan marah. Kita sudah dewasa, dan buat apa marah. Karena saya percaya sama istri saya, dia tidak akan mungkin mengkhianati saya. "Jawab Fatih.


" Jujur, saya masih mencintai istri kamu."


Fatih tersenyum, dengan bahasa tubuh nya yang masih tenang dan santai. Begitu juga Gibran, berkata jujur membuat hati nya semakin lega.


"Saya belajar menerima Tita, tapi yang saya rasakan dia berbeda dengan Mentari. Saya coba untuk terus belajar, tapi bayangan wajah Mentari masih terus membayangi saya. Tita berusaha untuk menjadi istri yang terbaik, tapi saya masih belum bisa, belajar terus belajar, yang saya rasakan tidak seperti yang saya rasakan sama Mentari. Satu sisi yang saya tidak suka, kita sering beda pendapat. Kita banyak perbedaan. Mungkin dari situ, saya sulit mencintai nya. "


"Apa kamu tidak memikirkan anak dalam kandungan kamu? Semakin kamu bertekad ingin berpisah, semakin kamu sebagai orang tua , anak akan kurang kasih sayang. "


"Demi anak akan saya lakukan apapun, tapi saya tidak bisa melanjutkan nya. "


"Tolong, kamu belajar lupakan istri saya, mau lanjut atau tidak pernikahan kalian, yang penting jangan jadikan istri saya sebagai sumber masalah. Yang jadi sumber masalah itu kamu, bukan istri saya. Hanya itu yang saya minta sama kamu, saya tidak marah sama kamu, tapi saya kecewa. "


"Maafkan saya, kalau saya mencintai istri orang. "


"Saya paham, cinta kalian itu sangat kuat, namun hancur karena pernikahan yang bukan keinginan kami di awal, tapi tolong cerita nya sudah berbeda, Mentari juga sudah tidak ada rasa sama kamu, jadi kamu jangan banyak berharap dengan kamu masih mencintai nya, Mentari akan memilih kamu, tidak dia tidak akan kembali ke masa lalu nya, dia akan memilih masa depan nya. Yaitu saya, dan anak yang dia kandung, itu bukti dari bagaimana kami saling mencintai. "


"Iya, saya mengerti. Dan saya pun tidak ada niat mengganggu rumah tangga kalian. Tapi tolong kasih waktu, untuk saya belajar ikhlas dan belajar melupakan. "


"Baik, saya kasih waktu kamu."


*****


"Kamu yakin, suami saya bawa Mas Gibran? " Ucap Mentari.


"Saya lihat sendiri, mereka berdua pergi. " Ucap Aneke.


"Ada apa ya? "


"Jangan - jangan, dia mau bicarakan tentang kamu?"

__ADS_1


"Tentang saya!!! masalah apa? "


"Ah.. iya, seperti nya masalah tentang saya di bawa - bawa dalam masalah rumah tangga nya, dan saya jujur kalau Mas Gibran masih mencintai saya. "


"Aduh, kamu ini gimana. Kalau sampai Pak Fatih marah besar gimana, pantas dia datang kesini, langsung bawa Pak Gibran. " Ucap Aneke.


"Aduh, gimana dong? "


"Kamu hubungi suami kamu. "


Mentari mencoba menghubungi nomer ponsel Fatih, namun tidak di angkat nya, mencoba sekali lagi tidak di angkat juga. Mentari pun mencoba menghubungi Gibran, sama tidak di respon.


"Kok, jadi saya khawatir sama mereka berdua ya. " Ucap Mentari.


"Tenang, mereka dewasa kok, tunggu pasti sebentar lagi pulang. " Ucap Aneke.


Tak lama, movie Fatih berhenti tepat di depan pintu gerbang SMP, Gibran melambaikan tangan nya, saat mobil kembali melaju.


"Mas." Panggil Mentari.


"Mas Fatih, nggak ngapa - ngapain Mas kan?"


"Nggak, tadi kita hanya minum kopi bareng, kenapa? "


"Nggak apa - apa, saya takut nya kalian berantem. "


"Mentari, maaf kan Mas ya. Kalau Mas masih menyimpan rasa sama kamu. Mas tidak ada maksud, kamu terlibat, tapi ternyata salah, ini membuat kamu terlibat secara tidak langsung."


"Mas, kisah cinta kita memang indah. Tapi tidak pantas untuk selalu di ingat, atau terus di bawa kemana - mana. Tolong Mas simpan yang jauh, tidak bisa terlihat bahkan tersentuh. Saya akan pergi, semoga ini cara agar Mas bisa melupakan saya. "


"Iya, Mas yang salah. Tapi Mas berhak menentukan hati ini akan kemana, karena Mas tidak bisa hidup dengan perbedaan yang sama - sama kita tidak bisa menghargai dan mengikuti. Mas capek, mas ingin kebebasan.'


" Ingat anak. "


"Ingat akan terus, tapi tidak bisa bersatu. Terlalu banyak sekali perbedaan, Saya akan menjadi ayah yang bertanggung jawab, tapi tidak bisa untuk bersatu. "

__ADS_1


*****


"Mas, tadi bicara apa saja sama Mas Gibran?"


"Kamu tahu, Mas ke sekolah pergi bersama Gibran? "


"Aneke yang bilang, dan melihat Mas jemput dia. "


"Mas hanya, bertemu bagai pria dewasa, bukan sebagai pria yang masih kanak - kanak."


"Apa Mas, menanyakan tentang hati? "


"Apa salah, seorang suami bertanya pada mantan pacar nya yang masih mencintai istri dari suami yang menanyakan pada mantan nya, apa salah kalau suami kamu, ingin tahu detailnya, apa salah kalau suami kamu meminta untuk jangan libat kan istri nya, apa salah kalau suami kamu, meminta untuk lupakan masa lalu nya. "


"Mas nggak salah, Mas berhak tanya itu. Tadi saya hanya khawatir saja, saya takut Mas sama Mas Gibran berantem, itu saja. Saya takut Mas, takut kalian berdua saling melukai."


"Yank, Mas ini dewasa, mungkin umur Mas lebih dewasa dari Gibran. Tapi Mas ini, hanya ingin meminta kejelasan saja, bukan untuk adu jotos adu kekuatan, dan bukan untuk meluapkan emosi sesaat. Tidak, Mas bukan tipe pria seperti itu. Mas hanya ingin mengingat kan saja, Mas juga berhak melindungi rumah tangga kita, Mas berhak selamat kan pernikahan ini, jangan sampai gara - gara masalah seperti ini, pernikahan kita hancur. Mas takut, takut kamu kembali juga. "


"Mas, katanya Mas percaya, cinta saya sekarang hanya untuk Mas Fatih, tidak lagi untuk Mas Gibran. Masa lalu, dengan Mas Gibran , sudah lama saya buang jauh. Karena saya sudah memilih Mas. "


"Mas tahu itu, makan nya Mas meluruskan. Ini cara Mas, menegur, jujur Mas juga cemburu, Mas cemburu tapi Mas harus dewasa, Mas tidak boleh begitu karena Mas percaya harus percaya. "


Mentari memeluk tubuh Fatih, dan Fatih membalas peluk kan nya, di kecup pucuk kepala nya, kedua nya semakin erat berpelukan.


"Mas takut kehilangan kamu, Mas takut kamu pergi meninggalkan Mas. "


"Saya akan terus berada di sisi Mas, hanya mau yang dapat memisahkan kita.Dalam setiap sujud, berdoa agar kita kelak di surga bersama, tidak hanya di dunia saja. "


"Amin, Mas juga berdoa seperti itu. Hanya maut yang memisahkan kita."


"I love you Mas Fatih. "


"I love you too, sayang. " Fatih mencium bibir Mentari.


.

__ADS_1


.


__ADS_2