Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Siuman


__ADS_3

"Rinjani, ya Allah Ibu kenapa di bawa ke rumah sakit? " Ucap Mentari sambil mengambil alih gendongan nya.


Pak Slamet dan Ibu Nuri datang, membawa Rinjani, atas ijin masuk penjaga rumah sakit, dengan menggunakan berbagai alasan.


"Siapa tahu, Fatih cepat sadar, kalau ada Rinjani. Kamu kan tahu, waktu mau kejadian Rinjani nangis terus. " Ucap Ibu Nuri.


"Benar nak, sapa tahu dengan suara anak nya dia bangun. " Ucap Pak Slamet.


"Iya Ayah, Ibu saya bawa Rinjani. "


Mentari masuk, di dalam ada Pak syahrul dan Ibu Hasna, Mentari menidurkan tubuh Rinjani di samping tubuh Fatih.


"Mas, ada Rinjani. Mas bangun ya. "


Fatih tetap tertidur, Rinjani menangis saat di baring kan di samping tubuh Papah nya, Mentari pun menangis melihat Fatih tidak juga membuka mata nya.


Ibu Hasna tak kuasa menahan tangis, begitu juga Ibu Nuri.


"Hiks... hiks... Ayah, Fatih Yah. " Ucap Ibu Hasna.


"Kita berdoa ya Bu, semoga Fatih cepat sadar." Ucap Pak Syahrul.


"Mas, bangun Mas. Apa Mas tidak kangen sama kita berdua, bangun Mas.. hiks.. hiks.. hiks.."


Mentari merasakan pergerakan tangan Fatih, dan langsung membalas respon an tangan suami nya.


"Mas."


Kedua mata Fatih membuka perlahan, tangisan Rinjani begitu sangat kencang. Mentari langsung memeluk tubuh kedua nya.


"Alhamdulillah,Mas."


"Alhamdulillah." Ucap Kedua orang tua mereka.


"Mas, ini Rinjani, datang nengok Papah nya. "


Fatih memaksa untuk tersenyum, dan tangan nya, berusaha untuk menyentuh tubuh putri nya.


"Yank."


"Ya Mas. "


"Mas haus. "


Ibu Nuri mengangkat tubuh Rinjani, dan Mentari mengambil kan air minum lalu dengan pipet Mentari mencoba, membantu Fatih minum.


"Mas, mau apa lagi? "


"Mau Mamah jangan jauh - jauh ya. "

__ADS_1


"Iya, Mamah nggak akan jauh dari Papah."


Ibu Hasna merasakan lega, putra nya telah siuman, Fatih tersenyum bisa melihat lagi putri yang gemas, bahkan istri nya tidak melepaskan genggaman tangan nya.


"Mas, mau makan? "


Fatih menggeleng kan kepala nya, hanya terus menatap istri nya. Mentari membelai pipi nya, dan Fatih terus menatap istri nya yang terlihat sangat lelah.


"Makasih, sudah jaga Mas. "


"Mas tahu, saya nggak akan tidur, kalau Mas belum bangun juga, sekarang saya bisa tidur tenang melihat Mas sudah bangun. "


"Mas takut, nggak bisa lihat kamu lagi. "


"Sama Mas, saya juga takut, nggak bisa melihat Mas lagi, tidak bisa menggenggam erat tangan lagi. "


Kedua orang tua mereka tersenyum, melihat anak mereka bahagia, Rinjani pun seakan mengerti Papah nya sudah siuman, baby giant Fatih dan Mentari terasa begitu sangat anteng.


*****


Mentari tertidur pulas di sofa panjang, Fatih yang sudah lebih baik namun hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.


"Istri kamu, tidak mau tidur. Makan nya, dia baru bisa tidur setelah kamu sadar. " Ucap Ibu Hasna.


"Bu, saya bersyukur masih selamat, masih bisa lihat Ayah sama Ibu, anak dan istri. Fatih bersyukur, bisa selamat dari maut. Walau sekarang Fatih tidak bisa apa - apa. "


"Kamu akan sembuh, butuh proses, untuk kembali seperti dulu. Jadi kamu sabar ya. "


"Rinjani, sama Nenek nya. Kamu jangan khawatir, anak kamu nggak rewel. "


"Fatih tenang bu, maaf sudah merepotkan semua nya. "


"Nggak sayang, nggak kok. Ini kan musibah, siapa sih yang mau kena musibah. "


****


"Ya Ampun Mas, saya dapat kabar kamu kecelakaan, saya tidak bisa tidur. " Ucap Neli saat menjenguk Fatih.


"kamu tahu dari siapa? " Tanya Fatih.


"Tahu dari teman, kan kecelakaan kamu kemarin masuk berita di TV bahkan tersebar di sosmed. " Jawab Neli.


"Terima kasih ya sudah menengok suami saya. " Ucap Mentari.


"Sama - sama, dan maaf saya hanya bawa buah saja sama bucket bunga. "


"Terima kasih, kami terima ya. " Ucap Mentari.


Setelah Neli pulang, Mentari langsung menyingkirkan bucket bunga di samping pintu. Fatih hanya tersenyum melihat istri nya yang sedang cemburu.

__ADS_1


"Kenapa senyum - senyum? "


"Lucu kalau lihat kamu sedang marah yank."


"Nengok kasih bunga, alergi tahu bau bunga."


"Tuh, buah nya nggak sekalian di singkirkan sama bunganya. "


"Buahnya saya yang makan, Mas nggak boleh makan."


"Yang seperti ini nih, bikin Mas kangen."


Mentari mendekat dan duduk di samping Fatih yang sedang berbaring, lalu memiringkan tubuh nya, berbaring di samping Fatih.


"Kondisi seperti ini saja, masih ada ya yang suka? "


"Jelas dong, gimana kondisi Mas kan tetap tampan. "


"Ih.. nyebelin nya nih begini, sakit juga masih aja sok kepedean. "


"Hahahaha... emang fakta Mas kan tampan, gimana nggak pada bucin, istri sendiri aja bucin. "


"Ih.... Mas. " Mentari memeluk tubuh Fatih, sangat kencang hingga Fatih sedikit merintih kesakitan. "


"Sssss... sakit yank. "


"Maaf."


******


"Kondisi Pak Fatih udah pulih, tinggal nanti menunggu operasi kedua. " Ucap Dokter.


"Jadi saya, hanya bisa berbaring belum bisa miring atau duduk. " Ucap Fatih.


"Benar Pak, nanti setelah operasi kedua, bisa belajar memiringkan tubuh,kalau sekarang masih belum bisa. "


"Sabar Ya Mas. " Ucap Fatih sambil mengusap lengan nya.


Staf kecamatan panaran, datang menjenguk Fatih di rumah sakit, hingga semuanya mengantri di luar karena harus bergantian untuk masuk.


"Saya tuh Pak, sedang video call an sama Istri saya, pas hujan deras itu. Kan pulang dari kantor Gubernur malam, di tol bab bocor, nggak bawa ban serep, bengkel jauh, dari pada istri khawatir, saya kabari kan, sedang enak ngobrol sambil lihat anak, dari belakang mobil truk besar oleng tabrak mobil saya dari belakang, udah saat menghantam mobil saya, nggak sadar nggak tahu, udah nggak ingat apa - apa. " Cerita Fatih.


"Alhamdulillah ya Pak, masih selamat, walau kondisi Bapak begini. " Ucap Pak Masduki.


"Iya Pak, saya masih selamat dari maut. Masih bisa bertemu anak sama istri, orang tua dan sama kalian semua. "


"Anak juga, nangis terus waktu saya mau pergi, seperti ada firasat. "Ucap Fatih kembali.


"Benar Pak, nangis terus. Suami sadar juga Rinjani di bawa sama nenek nya kesini, benar - benar anak memiliki ikatan batin." Ucap Mentari.

__ADS_1


"Benar Bu, Pak, anak kalau anak itu dekat sama Ibu nya atau Ayah nya pasti erat banget ikatan batin nya, seperti anak saya yang kedua, kalau Bapak nya itu ada masalah, anak tuh tanya terus, bunda, Ayah mana? Bunda Ayah kenapa ya, nggak pulang - pulang, Bunda Ayah, mana Bunda, Ade kangen Ayah. Dia tahu kalau Ayah nya punya masalah atau kenapa - napa pasti bilang nya kangen." Ucap Susi.


"Benar ya bu, fakta. " Ucap Mentari.


__ADS_2