Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Jalan Takdir


__ADS_3

Fatih bangun dari tidur nya, saat mendengar suara adzan subuh, mata Fatih langsung terbuka lebar, saat tutup kepala hodie Mentari lepas, hingga rambut nya yang hitam tergerai indah di atas bantal, bahkan sebagian menutup mata.


Fatih merapikan anak rambut yang menutupi wajah nya, senyum Fatih terus mengembang saat melihat wajah cantik Mentari.


"Astagfirullah." Fatih langsung memalingkan wajah nya, dan segera turun dari atas tempat tidur.


Fatih kembali dari kamar mandi setelah bersih kan badan dan berwudhu. Fatih berjalan mendekat dengan memanggil Mentari secara pelan.


"Mentari, Mentari bangun. "


"Mentari, bangun Mentari. " Panggil kembali Fatih.


Mentari menggeliat kan tubuh nya, dan langsung bangun bersandar di kepala ranjang, dan belum menyadari rambut nya terlihat sempurna di depan Fatih.


"Cuci muka, ambil wudhu, Mas tunggu kita shalat berjamaah sama - sama. "


"Iya." Ucap malas Mentari.


Saat melewati cermin, Mentari menatap tajam ke arah cermin, dan mengucak mata nya, dan langsung menutup kepala nya dengan tutup hodie.


"Mas.... kenapa kamu biarkan rambut saya terlihat sama kamu. " Bentak Mentari.


"Kamu muhrim saya, nggak harus nya kamu marah begitu. "


"Kita bukan muhrim, kita nggak ada cinta. "


"Tapi kita punya ikatan. "


"Aaahhhhhh nyebelin. " Ucap Mentari langsung berlari dalam kamar mandi.


*****


"Ya Allah, berilah hambamu ini, suatu pilihan yang tepat, agar hamba bisa keluar dari masalah ini. Jadikan hamba kelak, seorang imam yang bisa membimbing nya ke surga. Amin..!! "


Fatih langsung bangun dan melipat sajadah nya, begitu juga Mentari melipat mukena nya, Mentari menatap ke arah Fatih yang masih mengenakan pakaian koko, sarung dan peci.


Hati Mentari tersenyum, melihat suami nya yang tampak begitu tampan dengan pakaian nya.


"Apa di setiap doa Mas, seperti itu? "


"Iya, Mas masih belum menjadi pria yang baik, Mas banyak dosa, hati Mas, jujur tak tenang. "


"Kita memiliki hati yang sama, dosa kita banyak, tapi kita harus segera keluar dari ladang dosa ini. "


"Caranya? "


"Kita harus akhiri. "


"Kenapa? "


"Mas memiliki pilihan, sedangkan saya tidak ada yang lagi untuk di pilih. Hanya bisa pasrah, dan menerima kata talak. " Ucap Mentari tersenyum.


"Kita siap - siap pulang, jam 7 kan harus sudah sampai kantor. "


*****


"Mentari...!! " Panggil Tita, Mentari pun menoleh ke arah Tita yang memanggilnya.


"Ada Ta? "


"Makasih ya, sudah menjaga jodoh saya. "


"Selamat ya, semoga lancar sampai hari H. "


"Saya minta, setelah ini kamu jaga jarak sama Mas Gibran. "


"Tenang saja, saya bukan termasuk perebut milik orang, tapi bila kembali ke takdir dan jodoh, mau menolak kita nggak bisa. "


Tita langsung pergi meninggalkan Mentari, Aneke lalu datang, menepuk pundak Mentari. Mentari tersenyum ke arah Aneke, begitu juga Aneke.

__ADS_1


"Kuat ya, kamu yang kuat. "


"Iya, insya Allah saya kuat. "


*****


"Bu Ina, tolong berkas nya kasih ke Pak Kasi Yanmas." Pintar Fatih pada salah satu staf nya.


"Baik Pak, ada lagi? " Ucap Ibu Ina.


"Nggak usah, makasih bu. "


Ibu Ina pun pamit keluar ruangan, ponsel Fatih kembali berdering. Fatih mengangkat nya, saat Neli menghubungi nya.


"Hallo sayang, ada apa? "


"Mas, kita keluar yuk? Ajak Neli.


" Mas nggak bisa, maaf ya. "


"Mas, kita jarang keluar loh, kalau nggak begini saja, saya ke rumah ya. "


"Jangan, Mas bilang jangan ke rumah. "


"Kan ada Mentari."


"Walau ada Mentari juga, Mas nggak mau kita ketemu di rumah. "


"Terus dimana? "


"Ya udah, nanti jam makan siang, kita ketemu di tempat biasa. "


*****


"Kamu nggak makan? " Tanya Aneke.


"Nggak akh, saya mau desert aja. " Jawab Mentari.


"Baik mba, di total dulu nanti kami antar pesanan nya. "Ucap pelayan restoran cepat saji .


" Mba, pesan chicken katsu, sama ayam saus keju satu. " Ucap wanita di sebelah Mentari.


"Neli." Sapa Mentari.


"Hey, kamu sama siapa? " Tanya Neli.


"Berdua sama teman. " Jawab Mentari.


Aneke tersenyum pada Neli, Fatih pun datang dan melihat Mentari.


"Ada disini? " Tanya Fatih pada Mentari.


"Iya Mas, makan siang juga. " Jawab Mentari.


"Bayar belum? nanti Mas yang bayarin. "


"Nggak usah Mas, kita udah bayar kok." Ucap Mentari lalu menarik pelan tangan Aneke untuk segera menjauh dari Fatih dan Neli.


"Kamu diam aja, suami sama perempuan lain." Ucap Aneke.


"Dia aja diam saja, saya sama Mas Gibran."


"Lihat deh, mereka bagai pasangan yang tidak bisa di Pisahkan. "


"Emang, mereka kan saling mencintai dan menyayangi, sedangkan saya sama dia, pasangan apa? hanya sebatas ikatan di atas kertas. "


"Ikatan di atas kertas juga, lama - lama pasti bisa jatuh cinta. "


"Nggak akan. "

__ADS_1


"Nggak jamin, lihat saja nanti. "


Sedangkan Fatih dan Neli sedang makan siang, Fatih dari jauh melihat Mentari tersenyum bersama teman nya, tawa nya terlihat akan lupa dengan beban.


"Pacar nya nggak ikut. " Ucap Neli.


"Putus."


"Apa putus...!!! "


"Pacar nya tunangan sama teman sekantor, dan akan menikah. "


"Nggak, ini nggak boleh terjadi. "


"Nggak boleh gimana? "


"Kalau Mentari putus, bisa - bisa Mas sama Mentari? "


"Makan, Mas jam 1 harus sudah balik ke kantor. "


Neli pun diam, dan memakan apa yang dia pesan, sedangkan Fatih sesekali melirik ke arah Mentari.


Mentari dan Aneke, pergi meninggalkan restoran cepat saji, Fatih pun segera menghabiskan makan nya.


"Sudah yuk. "


"Cepat banget Mas, ini belum turun semua. "


"Bungkus aja, bawa ke bank. "


"Bawa ke bank, emang nya kalau sudah masuk saya bebas makan Mas. "


"Yuk buruan. " Fatih langsung mengajak Neli untuk bangun dan meninggal kan tempat.


*****


"Mentari."


Mentari menoleh ke arah suara, Gibran mendekat dan saling tersenyum. Mereka pun lalu duduk di kursi depan mereka berdua.


"Mas dari mana? dari pagi baru lihat. "


"Habis dari kantor Dinas, ada rapat. "


"Oh."


"Gimana pernah perasaan kamu? "


"Sakit, Mas pasti sakit saat itu. "


"Iya, sakit kita sama. "


"Semoga Mas bahagia. "


"Kamu juga. "


"Jodoh tidak ada yang tahu Mas, kita juga tidak tahu ke depan nya seperti apa. "


"Apa kamu berharap, kita bisa bersatu? "


Mentari menatap Gibran dengan tersenyum, dan kembali menundukkan kepala nya, Gibran pun tersenyum dan menatap lurus ke arah lapangan.


"Mungkin, harapan kita sama. Tapi kita berada di tepi jurang yang sangat sempit. Mungkin ini jalan takdir kita, memang kita tidak berjodoh. "


"Esok, kita tidak akan bisa seperti ini lagi Mas, mungkin ini kita sekarang bisa duduk seperti ini adalah yang terakhir buat kita. " Mentari kedua tangan nya masuk kedalam balik hijab nya, dan melepaskan kalung pemberian dari Gibran.


"Saya kembalikan Mas. "Mentari menaruh kalung nya di tangan Gibran.


" Kenapa di kembalikan? "

__ADS_1


"Saya tidak pantas, pakai ini lagi. "


__ADS_2