Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Main Hakim


__ADS_3

Fatih turun dari mobil nya, saat banyak para pendemo yang berada di depan kantor kecamatan, semua nya langsung meneriaki pertanggung jawaban dirinya.


Fatih segera di aman kan oleh beberapa Satpol PP, hingga ada para pendemo yang melemparnya dengan sebuah telur busuk.


"Turunkan Camat Panaran...!!! Teriak salah satu pendemo.


" Mana tanggung jawab kamu, dasar Camat nggak tahu diri. " Teriak pendemo. Hingga polisi dan Tentara di turun kan, karena masa yang datang secara tiba - tiba.


"Ini ada apa? " Tanya Fatih..


"Mereka menuduh Bapak korupsi atas dana , yang seharusnya di alirkan ke desa - desa untuk pembangunan fasilitas jalan. " Jawab Pak Sekmat, Masduki.


"Jalan, korupsi gimana? dana saja belum turun. Kalau pun cair, anggaran juga langsung terjun ke proyek nya, saya hanya menerima data tahu totalnya, uang segitu langsung di alirkan pada proyek nya, ini sudah termasuk pencemaran nama baik, sudah main lempar telur busuk lagi. " Ucap Fatih dengan kesal sambil membuka seragam nya, dan hanya mengenakan kaos dalaman nya saja tanpa lengan.


Rizal memberikan pakaian batik kepada Fatih, yang di ambil dari mobil nya, Fatih langsung berjalan keluar ruangan nya namun langsung di halangi oleh Rizal.


"Pak, jangan. Kalau Bapak keluar nanti, masa semakin mengamuk. " Larang Rizal.


"Saya, kalau tidak temui mereka, pasti mereka akan semakin mengamuk. Saya ini tidak salah, pasti ada provokator nya, kenapa bisa seperti ini. " Ucap Fatih.


"Tapi Pak, saya takut Bapak terluka. "


"Benar Pak, biar saya yang hadapi mereka. "


"Lebih baik saya mati, di depan mereka dari pada saya mati di belakang mereka yang tidak tahu fakta sebenarnya. "


*****


"Ya Allah, saya harus ke kantor kecamatan." Ucap Mentari langsung bersiap - siap saat tahu kabar, bahwa Fatih di demo masa, atas kasus korupsi.


"Bu, lebih baik jangan kesana. Bisa - bisa ibu kena serangan masa. " Ucap Pak Kepala sekolah.


"Benar Bu, bahaya apalagi sedang hamil besar. " Ucap Ibu Wati.


"Benar Tar, jangan. " Ucap Aneke.


"Saya harus kesana, suami saya sedang dalam masalah. Saya harus bantu dia, kalau Mas Fatih itu tidak bersalah. "Ucap Mentari.


" Jangan, biar pihak sana yang akan menyelesaikan nya, suami kamu akan cepat mengatasi nya karena dia tidak bersalah."

__ADS_1


"Nggak, saya harus kesana. "


"Mas, antar. " Ucap Gibran.


Mentari menoleh ke arah Tita, dan Tita tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.


"Nggak, makasih. " Ucap Mentari menolak.


"Kamu kesana sendiri an, bahaya. Mas antar sampai masuk kedalam. "


"Nggak Mas, makasih. Saya takut, Mas melindungi saya, Mas ikut terluka karena masa yang sedang panas. "


"Kamu wanita, Fatih tidak mungkin akan keluar menyelamatkan kamu atau menjemput kamu di tempat yang jauh dari lokasi, yang ada Fatih akan terluka terlebih dahulu. "


"Nggak Mas, makasih. " Mentari langsung berjalan keluar dari ruang guru langsung berlari menggunakan motor nya.


*****


Fatih keluar, masa yang main hakim sendiri langsung melempari Fatih dengan batu, bahkan banyak telur busuk yang di lempar. Hingga polisi kewalahan karena Masa yang semakin banyak, hingga tembakan gas air mata pun di letuskan ke atas, bahkan air pun yang di semprot kan dari mobil Polisi ke arah Masa, sedikit mundur.


"Stop..!!! "


Fatih memegang kening nya hingga berdarah, karena terkena lemparan baru besar, suara tembakan pun terjadi hingga masa pun mundur.


"Kalian jangan main hakim sendiri, negara kita ini negara hukum. Saya di sini berdiri, tidak tahu apa - apa masalah dana untuk perbaikan jalan. "


"Eh... kamu jangan mentang - mentang, anak orang berpangkat, jangan berlindung di belakang Ayah kamu, bahkan Bupati pun menutupi kasus kamu. Kalau korupsi mengaku saja, jangan makan uang negara. " Celetuk salah satu seorang pria.


"Kamu maju kemari, bicara di depan saya sekarang. "


"Sini kamu. " Panggil Pak Kapolsek, dengan nada tinggi.


Beberapa Polisi langsung menyeret pria tersebut, dan langsung berhadapan dengan Fatih. Tatapan marah Fatih, membuat pria tersebut menunduk.


"Tatap mata saya. " Bentak Fatih.


Pria tersebut menatap Fatih, dengan seolah menantang, kedua tangan Fatih mengepal seakan ingin memukul nya.


"Kamu punya bukti apa, kalau saya korupsi? " Bentak Fatih.

__ADS_1


Masa yang tadi nya bersuara, kini terdiam. Pria tersebut pun langsung ciut, saat melihat Camat muda itu dalam keadaan marah.


"Siapa tadi melemparkan batu ke arah kening saya, maju sekarang. Kalau tidak, tembakan para Anggota Polisi akan menembus jantung kalian satu - satu. " Ancam Fatih.


"Kami tidak takut. " Teriak seorang pendemo.


"Iya, itu hanya gertakan. " Teriak seorang lagi.


"Pak Kapolsek, Pak Danramil tolong anak buah nya untuk seret dua pria itu. Biar mereka melukai saya dari dekat. "


Langsung Anggota Polisi dan Tentara turun, kedua nya langsung lari, namun dengan sigap langsung di bekuk.


"Saya jelaskan pada kalian, berita yang kalian dapat itu hoaks, saya di fitnah dan kalian juga. Kalian kesini, atas omongan orang, dari mulut ke mulut, bahkan ada masa bayaran nya, termasuk ketiga ini. Mana bukti nya, saya minta bukti, kalau saya korupsi. "


Mentari sampai, namun masa begitu sangat banyak, hingga membuat macet dan tidak bisa menerobos masuk. Terdengar suara, lantang Fatih, yang marah dan sedang membela dirinya sendiri.


Mentari mencoba berjalan menerobos masa, rasa sesak, bahkan banyak masa yang membawa senjata tajam.


"Itu Ibu Camat, kita ringkus dia. " Teriak salah satu pendemo.


"Saya nggak salah, suami saya nggak salah. " Teriak Mentari.


Fatih melihat Mentari yang sedang diseret masa, Fatih langsung lari menerobos masa, namun masa malah memukul Fatih.


"Mas...!!! " Teriak Mentari.


Polis dan Tentara langsung menyelamatkan Fatih, dan menangkap masa yang main hakim sendiri, Mentari terdorong saat beberapa orang mencoba lari dari Polisi dan Tentara yang akan menangkap mereka.


"Aaaaaawwwwww.. " Teriak Mentari, sambil memegang perut nya.


"Tari...!!! " Fatih langsung berlari ke arah Mentari yang tersungkur di jalanan aspal.


"Aaaaaawwwww, sakit Mas. " Teriak Mentari memegang perut nya.


"Kalian semua jahat... kalian telah melukai istri saya, kalian itu seperti hewan, yang main hakim sendiri. Saya tidak bersalah, istri saya pun tidak bersalah, kami berdua tidak tahu akan dana korupsi, kalian yang ikut , tidak tahu fakta nya. Dan kalian itu sudah membuat kami rugi, kalau sampai kandungan istri saya, kenapa - napa saya akan tuntut kalian. " Ucap Fatih marah, dan masa pun diam.


Beberapa orang berhasil di ringkus, Fatih segera menggendong Mentari, darah segar terus mengalir di kening Fatih, Mentari semakin menangis kesakitan, saat perut nya terasa mulas yang sangat luar biasa.


"Antar ke mobil , bawa Pak Camat dan Bu Camat ke rumah sakit, kawal mobil nya. " Perintah Pak Danramil.

__ADS_1


__ADS_2