
"Ayah, Ibu, maaf kalau kami sudah kecewakan kalian. Kami memang salah, kami memang telah permainkan pernikahan suci ini. Kami sekali lagi minta maaf. " Ucap Fatih.
"Mentari juga, minta maaf. Kalau Mentari, sebagai seorang perempuan sudah melakukan dosa besar, sudah bersuami tapi bersama pria lain. Mentari tahu, kalian seperti ini untuk kebaikan dan kebahagiaan kita berdua, mungkin karena ego kita, yang mempertahankan apa yang harus kita miliki. Tapi takdir mungkin berkata lain, Allah tidak merestui kita. Ini mungkin jalan takdir, yang harus kita lalui. Sekali lagi maafkan kami, berdua. " Ucap Mentari.
"Tolong, Ayah Ibu. Untuk hari ini dan seterusnya, jangan pisahkan kami, saya dan Mentari akan belajar saling menerima dan mencintai. "
Pak Syahrul, Pak Slamet, Ibu Nuri dan Ibu Hasna menatap kedua nya, sedangkan Fatih di depan mereka terus menggenggam erat tangan Mentari.
"Akting kalian bagus, sangat bagus. Sampai Ayah bingung, mau kasih kalian nilai berapa." Ucap Pak Slamet.
"Kami tidak akting, ini murni kesadaran kami berdua, kami janji tidak akan ulangi lagi, mungkin urusan Mentari sudah selesai, tinggal saya, bersama Neli. Tapi detik ini, kalian harus percaya, kalau kami sudah memutuskan. " Ucap Fatih.
"Baik, kami akan melihat perkembangan kalian. Tapi bila, suatu saat mendengar atau melihat kejadian seperti tadi, jangan harap maaf dari kami. " Ancam Pak Syahrul.
"Ingat Fatih, Mentari, dosa besar kalian itu. Bertobat lah dan segera meminta ampun, atas kesalahan kalian. Jangan sampai azab, mengenai kalian. Apa kalian tidak takut neraka? " Ucap Ibu Nuri.
"Kami takut neraka, apalagi saya sebagai seorang suami, yang memberikan ijin istri sendiri untuk bersama pria lain, begitu juga saya. " Ucap Fatih.
"Mintalah ampun, orang tua tidak ingin anak nya masuk kedalam jurang itu. " Ucap Ibu Nuri.
"Mungkin, kami sebagai orang tua salah, tapi jangan kalian nodai pernikahan. Sakit hati orang tua, melihat kelakuan anak nya.Tapi kami lega, kalau kalian sadar, semoga kalian cepat lupa dengan orang yang pernah dekat dengan kalian. " Ucap Ibu Hasna.
*****
"Maaf kan Ayah, tapi menampar kamu." Ucap Pak Slamet.
"Ayah nggak harus minta maaf, ini salah Mentari. "
"Ayah sama Ibu, hanya ingin kamu bahagia, Fatih itu anak yang baik, keluarga nya juga sayang sama kamu sejak kecil. Bukan berarti Gibran itu tidak baik, dia anak yang baik, tapi kami lebih suka kamu menikah dengan Fatih. Bukan karena pangkat, atau melihat background orang tua nya, tapi dia itu pantas sama kamu. "
*****
Mentari dan Fatih kini kembali ke rumah, Mentari langsung masuk kedalam kamar nya, begitu juga Fatih. Mereka saling diam, dan merasa sangat canggung.
"Ehm.. Mas mau apa? " Tanya Mentari.
"A - anu itu, mau ganti pakaian. " Jawab Fatih.
"Oh." Ucap Mentari singkat.
"Ka - kamu, nggak mandi? "
__ADS_1
"Mas, dulu aja, mau ganti pakaian sekalian mandi kan? "
"Iya."
"Saya siapkan air panas ya, ini sudah malam."
"Iya." Ucap Fatih tersenyum.
Fatih menatap punggung Mentari, dengan senyum mengembang, memulai hidup baru menjadi pasangan suami istri.
"Kamu, istri saya sekarang. Kemarin, dia apanya kamu Fatih. "
Aaaaaaaaaaaa
"Mas......!!!! " Teriak Mentari dari dalam kamar mandi.
"Tari....!!! " Fatih langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, melihat Mentari berada di bawah shower yang mengalir kan air yang membasahi tubuh nya.
"Macet Mas tadi, malah sekarang air nya keluar nggak bisa di matiin. "
Fatih mencoba mematikan air nya, namun tak kunjung berhenti, Fatih mencoba berusaha mematikan keran nya, hingga tubuh nya ikut basah.
Air pun berhasil berhenti, dan Fatih mencoba menjalankan lagi, lalu mematikan nya kembali. Fatih melihat Mentari yang basah kuyup, begitu juga Mentari melihat Fatih yang basah kuyup juga.
"Iya, kalau nggak ada Mas, mungkin akan terus keluar air nya. "
Kini kedua nya saling menatap, tubuh mereka sangat dekat, tangan Fatih di angkat nya ke arah kepala Mentari. Terasa tangan turun untuk melepaskan, jarum yang menancap di hijab sebagai pengait nya, Fatih melepaskan nya.
Mentari hanya diam, saat merasakan hijab yang dirinya kenakan lepas, terlihat leher Mentari yang putih, bahkan kini hijab nya terlepas sempurna. Rambut mentari yang di cempol, Fatih lepas, tergerai rambut basah Mentari.
Tangan Fatih membelai pipi mulus istri nya, Mentari hanya memejamkan kedua mata nya, saat jemari Fatih terus meraba wajah dan leher nya.
Sebuah kecupan di bibir, membuat Mentari membuka kedua mata nya, Fatih yang terlihat memejamkan kedua matanya, terus mengecup bibir tipis Mentari.
Tangan Mentari, meraih tangan Fatih yang sedang memegang pipi nya, Fatih membuka mata nya. Kini tatapan kedua nya sama - sama saling menatap mata.
"Mas."
"Mas, dari kemarin memiliki perasaan sama kamu, kenapa Mas memilih hidup sama kamu. Mungkin, karena memiliki rasa. "
"Mas, menaruh hati sama saya? "
__ADS_1
"Iya, tapi Mas tepis. "
"Lantas sekarang? "
"Mas ungkapkan dengan cara ini. "
"Mas, sedang tidak mempermainkan saya kan? "
"Lantas, bahasa tubuh kamu? "
"Hadir nya Mas itu, membuat rasa berbeda, tapi saya tidak ingin merasakan nya. Tapi tubuh saya tidak bisa menolak, saat Mas perlakukan tadi. "
"Berarti, kamu siap kan? "
"Siap menerima takdir cinta yang sekarang. "
Fatih tersenyum, tangan nya menarik tengkuk leher Mentari, di cium kembali bibir nya. Namun Mentari tidak ada pergerakan, Fatih paham ini adalah pertama bagi istri nya, Fatih terus berusaha *******, hingga sedikit demi sedikit ada balasan ciuman dari Mentari.
Kini bibir mereka saling membalas, ******* bahkan lidah mereka saling membelit, hingga kini ciuman Fatih turun ke leher Mentari, dengan meninggal kan jejak, yang membuat Mentari merasakan rasa yang baru dia rasakan.
Tangan Fatih, meraba punggung nya, tangan nya menurunkan resleting gamis yang Mentari pakaian, hingga pundak putih mulus kini terlihat sangat jelas.
Dering ponsel berbunyi berkali-kali, hingga membuat gerakan Fatih terhenti, dengan ekspresi kesal Fatih meninggal kan Mentari di dalam kamar mandi dengan pakaian nya, yang sudah terlepas setengah badan.
Mentari masih shock, pertama apa yang dirinya rasakan, terlihat di bagian dada nya, banyak tanda merah.
"Tari, kamu mandi besar ya, Mas ada tamu di luar. "
"I - iya Mas. " Ucap Mentari.
"Mandi besar, saya sama Mas Fatih, tadi itu apa ini awal mulai nya melakukan hubungan suami istri nanti nya, kalau tidak ada gangguan tadi. " Ucap polos Mentari.
*****
"Maaf Pak, malam - malam begini kemari, karena ada hal mendadak. " Ucap Pak Ruli.
"Nggak apa - apa, kalau memang harus di selesai kan malam ini juga. " Ucap Fatih.
"Saya kemari, karena Bapak harus malam ini datang ke desa Pesare, karena disana ada masa yang ingin membakar balai desa. "
.
__ADS_1
.
.