
Semua siswa berangkat ke tempat perkemahan dengan menunggangi truk Tentara, yang membawa mereka. Sedangkan Mentari, Aneke, Gibran, Tita, Kepala sekolah dan Ibu Wati berada dalam satu mobil. Sedang kan lain nya bersama para siswa di truk.
"Bu Mentari, Bapak nya gimana ditinggal kemah? " Tanya Pak Kepala sekolah.
"Katanya sih, nanti menyusul Pak, mau ikut gabung. " Jawab Mentari.
"Pak Camat, jadi mau ikut berkemah sama kita? " Ucap Ibu Wati.
"Iya Bu, tapi nggak tahu kapan, datang sore atau besok, bilang nya sih besok. "
"Padahal, kalau lagi nggak sibuk, bisa berangkat sama - sama. " Ucap Ibu Wati.
"Masih ada kerjaan sih Bu, soalnya kasus korupsi kepala desa itu. "
"Oh iya ya, gimana itu? Sudah di proses. "
"Sudah, makan nya Mas Fatih, sering bolak balik ke Polsek. "
"Belum di pindah ke Polres bu? "Tanya Kepala Sekolah.
"Belum kemarin sih, nggak tahu sekarang. Soalnya jarang tanya. " Jawab Mentari.
"Jarang tanya, orang hubungan nggak akur. " Celetuk Tita, dan langsung mendapatkan tatapan dari Gibran, dari arah kaca spion nya.
*****
Mentari dan Aneke, membantu juru masak membereskan sayuran dan ikan, sedangkan para siswa sedang memasang sebuah tenda.
"Saya kok enek ya, lihat muka si Tita. Lihat tuh, nempel terus sama Gibran, takut di culik sama kamu tuh Tar. " Ucap Aneke.
"Saya culik beneran, seperti nya asik juga ya." Ucap Mentari meledek.
"Masukin aja tuh si Gibran ke dalam karung, paling yang ada kebakaran jenggot. "
"Tita seperti itu pantas, ada mantan nya. Tapi saya juga sadar, sekarang kan punya suami."
"Kamu sama Pak Fatih, sudah? "
"Kita belajar untuk saling mencintai , menerima. Makan nya dia mau kesini itu, karena kita sudah sepakat, kalau kita masih fokus sama pacar - pacar kita, ngapain Kesini."
"Alhamdulillah, kalau begitu. Semoga awet ya, biasa nya , kalau orang tua yang memilih itu, awet sampai punya anak cucu. "
"Amin, semoga ya Allah. "
*****
Kabut pun sudah mulai turun, udara pun semakin dingin, pukul menunjukkan jam 3 sore, anak - anak sedang beristirahat dan menunggu waktu ashar tiba.
Mentari menatap sosok yang sedang berjalan, kemudian di sambut oleh Bapak kepala sekolah dan Ibu Wati.
"Mas Fatih, Aneke. " Ucap Mentari langsung bangun dari duduk nya dan berjalan ke arah Fatih.
"Bu Mentari, Bapak nya datang nih. " Ucap Ibu Wati.
Fatih bersalaman dengan semua panitia perkemahan, saat bersalaman dengan Gibran, senyum kedua nya terlihat sangat enak di pandang.
"Saya tuh, tadi nya mau besok. Tapi kebetulan besok libur, hari sabtu. Dan nggak ada kegiatan , ya sudah sekarang saja lah menyusul kesini. " Ucap Fatih.
"Nanti, pas acara api unggun Pak Fatih bisa jadi pembina unggun. " Ucap Kepala Sekolah.
__ADS_1
"Insya Allah. "
Mentari dan Fatih masuk kedalam tenda, menaruh tas milik dirinya dan Fatih, tangan kekar itu langsung memeluk tubuh Mentari yang sedang membenarkan posisi bantal dan alas tidur nya.
"Mas, jangan begini. Saya masih harus selesai kan pekerjaan. "
"Dingin Yank. "
"Dingin apanya, belum terlalu. "
"DP dulu dong. "
"Ih, DP - DP an, kayak orang mau kredit saja. "
"Kiss atau apalah. "
Cup
Mentari mengecup bibir Fatih, sedangkan Fatih cemberut saat satu kecupan saja. Mentari yang tahu, langsung ******* bibir Fatih, dan tangan Fatih langsung menangkap dua bukit kembar milik Mentari.
"Mas, kamu ini. " Mentari langsung menurunkan tangan Fatih, sedangkan Fatih hanya terkekeh.
"Sudah ah, saya mau gabung sama lain nya."
"Mas, istirahat dulu ya. "
"Iya." Mentari pun keluar dari dalam tenda, dan bergabung dengan yang lain nya.
*****
Acara malam hari , di isi kegiatan perlombaan kreasi seni para siswa, mulai dari drama, baca puisi, menyanyi dan kreasi senin lain nya.
"Pak Camat, tidak cemburu istri nya masih satu kantor sama mantan nya? " Ucap Tita.
"Saya percaya sama dia. " Ucap Fatih.
"Kepercayaan, bisa saja membohongi. Lihat, interaksi nya. " Ucap Tita saat melihat Gibran dan Mentari sedang mengisi acara.
"Itu kan suatu profesionalisme, kenapa? kamu nggak bisa bedakan. Mungkin kamu terlalu cemburu, mereka kan sudah dewasa."
Fatih langsung berdiri meninggal kan Tita, dan ikut bergabung memeriahkan acara.
"Malam semua. " Sapa Fatih tiba - tiba, Mentari langsung menoleh ke arah Fatih.
"Bapak, malam ini ingin memberikan kalian hiburan, biar malam ini jadi sangat spesial, kalian tahu kan siapa Bapak? "
"Pak Camat Fatih. " Ucap salah satu siswa laki - laki.
"Ya benar, sini nak Bapak kasih uang jajan buat kamu. "
Siswa laki - laki itu langsung berjalan ke arah Fatih, membuka dompet nya dan menyerah kan lembaran warna merah.
"Terima kasih Pak. "
"Sama - sama, nama kamu siapa? "
"Anwar Pak. "
"Cita - cita kamu, mau jadi apa? "
__ADS_1
"Insinyur Pak. "
"Keren, rajin belajar ya. "
Mentari mendekati Fatih, dan memegang lengan nya, berbisik ke telinga suami nya dengan berjinjit, karena Fatih bertubuh tinggi.
"Mau apa maju? "
"Mas, ingin memberikan sesuatu yang spesial. "
"Jangan yang aneh - aneh. "
"Nggak lah. "
Fatih lalu mengambil gitar, dari salah satu siswa, dan menarik tangan Mentari untuk duduk bersama di samping Fatih.
"Malam ini, saya ingin membawa kan sebuah puisi cinta, puisi ini spesial untuk wanita yang ada di samping saya. "
Suiiitt... suiiiiittttt
Dan membuat suara riuh tepuk tangan, dan suara - suara para siswa hingga pelatih dan guru - guru lain nya, yang membuat suasana menjadi ramai.
Gibran hanya bisa tersenyum, namun hati nya sangat sakit, kedua mata nya berkaca - kaca, Pak Heru, langsung mengusap punggung Gibran.
"Saya kuat Pak. " Ucap Gibran.
Alunan petikan gitar, membuat suasana menjadi sangat romantis, Mentari terus menatap ke arah Fatih yang menatap nya juga sambil memetik gitar.
Kamu tahu tidak, bagaimana rasa nya jantung saya?
Kamu harus tahu, kalau jantung saya itu berdegup sangat kencang, bila di dekat kamu.
Kamu tahu tidak, bagaimana gelisah nya, tubuh ini, kalau sedang jauh sama kamu.
Saya jatuh cinta, itu yang sedang dirasakan.
Jatuh nya, nggak sakit, malah membuat ingin selalu jatuh cinta terus sama kamu.
Cinta ini, tulus seratus persen pakai pengawet, bahkan cinta ini seratus persen hak milik kamu, dari pria yang mewariskan seluruh jiwa raga nya, halal buat kamu.
"Kamu, adalah wanita terakhir, yang akan bersama saya, berjalan menuju surga. "
Mentari sangat terharu, Fatih mencium punggung tangan Mentari, hingga kedua air mata nya jatuh.
"Amin, I love you. " Ucap pelan Mentari.
"I love you too. "
*****
Fatih dan Mentari saling berciuman, bahkan ciuman mereka lebih sangat panas, bibir Fatih menyentuh setiap lekuk tubuh Mentari, hingga tak tahan, dan agar tidak mengeluarkan suara, Mentari mencengkam punggung Fatih, kadang menekan kepala Fatih, pada titik yang membuat Mentari terbang melayang.
Kini tangan mereka, saling membantu melepaskan semua yang menutupi tubuh mereka. Mentari membusungkan dada nya, saat Fatih bermain di area sensitif milik Mentari, bahkan kedua tangan kekar itu, kini bermain di dua bulatan milik Mentari. Hingga rasa yang tak tertahan ingin meledak, Mentari memeluk erat tubuh Fatih.
.
.
.
__ADS_1
.