Mentari Dan Pak Camat

Mentari Dan Pak Camat
Perasaan Tak Tentu


__ADS_3

"Aduh, Pak Camat Panaran. Ini sudah mau jam makan siang, baru datang. " Ucap Mulya, Ajudan Bupati Panaran.


"Maaf, tadi ada halangan, jadi baru bisa datang. Pak Bupati tanyain saya? " Ucap Fatih.


"Malah di absen satu persatu, kamu tahu, Pak Bupati telepon Ayah kamu. "


"Serius? "


"Saya kan Ajudan nya, pasti tahu. "


"Sekarang Pak Bupati kemana? "


"Sedang mengobrol sama Pak Kadis, Syamsudin. "


"Ya sudah, saya gabung sama Camat lain nya."


"Nanti, sesi kedua Bukan Pak Bupati, tapi dari Ketua DPRD. "


"Ok, sip makasih ya, saya kesana. "


Mentari segera berlari masuk kedalam kelas, saat masuk sudah ada Tita yang menggantikan Jam nya. Tita yang sedang menerangkan, langsung berhenti dan berjalan ke arah Mentari.


"Sudah di ganti sama Ibu Tita rupa nya. " Ucap Mentari dengan nafas naik turun.


"Di cari sama Pak Kepsek, sama Pak Kurikulum. " Ucap Tita.


"Pasti cari saya, dari jam pertama sampai ke lima, nggak ada kabar. "


"Iya, kamu temui. "


"Iya, nanti saya kesana. "


Tita langsung kembali ke dalam kelas sedangkan Mentari berjalan ke arah ruang kepala sekolah.


"Yank, dari mana saja? " Tanya Gibran yang baru keluar dari ruang perpustakaan.


"Tadi ada halangan , jadi baru sampai. " Jawab Mentari.


"Temui Bapak Kepsek dulu, tadi cari kamu."


"Kalau begitu, saya kesana dulu ya. "


"Iya."


*****


"Maaf Pak, tadi ada sedikit masalah. Sampai saya lupa kasih kabar. "


"Saya maaf kan Ibu, tadi nanti lain kali kasih kabar ya, biar anak - anak tidak pada keluar kelas. Untung tadi ada beberapa guru Jam kosong, jadi bisa di ganti. " Ucap Kepala Sekolah.


"Terima kasih Pak, sekali lagi saya minta maaf. "


"Kalau begitu, Ibu bisa kembali. Nanti masuk di jam terakhir. "


"Baik Pak, permisi. "


Mentari berjalan ke kelas yang akan berganti jam dengan Tita, setelah Tita keluar Mentari masuk, namun Tita diam tidak menyapa Mentari.


"Itu orang kenapa sih? akhir - akhir ini dia diemin saya. " Ucap Mentari.


"Siang anak - anak, maaf ya Ibu baru masuk." Sapa Mentari.


****


Fatih dan Mentari datang bersamaan, Fatih turun dari mobil nya, sedangkan Mentari turun dari motor matic nya.


"Bisa barengan gini ya? " Ucap Fatih.


"Bawain." Ucap Mentari menunjuk beberapa belanjaan di motor nya. Karena sebelum pulang, Mentari mampir ke pasar untuk belanja sayuran, dan ikan.


"Banyak amat. " Udak Fatih sambil menenteng barang belanjaan.


"Sekalian stok buat satu minggu. "

__ADS_1


"Mas, tolong ya beresin, perut saya mules. "


"Iya, tapi Mas ganti dulu pakaian nya. "


Fatih mengeluarkan barang belanjaan untuk stok satu minggu ke depan, ada sayuran segar, ikan, daging bahkan anek buah - buah an.


"Tari, kamu nggak beli kopi? "


"Nggak, habis ya stok nya? "


"Iya, habis. Nanti lah, Mas aja yang beli. "


"Mas, mau di masakin apa? "


"Ada daging, bikin rendang aja. "


"Ok."


"Tapi bumbu nya jangan kasih bawang merah ya. "


"Nggak enak dong Mas. "


"Mas, nggak doyan kalau tahu masak sendiri."


"Padahal kan, setiap makan diluar, pasti pake bawang. "


"Kan nggak tahu. "


"Aneh ih. "


Mentari pun memotong daging nya, dan memasukan beberapa bumbu untuk di halus kan. Sedangkan Fatih, masih mencuci buah - buah an.


"Kalau kamu, makanan yang paling nggak suka itu apa? "


"Kalau saya itu pemakan segala, alias omnivora. "


Mentari pun memasukkan semua bumbu nya dan lalu daging yang sudah di potong sesuai selera.


"Awwww... "Teriak Mentari.


"Kenapa? " Tanya Fatih panik.


"Ini punggung tangan nya, kena cipratan air dari daging yang mendidih. " Jawab Mentari.


Fatih mengusap dan meniup nya, lalu Fatih segera mengambil salep di kotak obat dan mengoles pada kulit yang terkena.


"Masih perih? " Tanya Fatih sambil meniup nya setelah di oles salep.


"Masih." Jawab Mentari yang melihat kulit nya merah.


"Enak nggak di gini in? " Tanya Fatih sambil mengusap dan meniup nya.


"Enak Mas. " Jawab Mentari.


Mentari menatap Fatih yang terus memegang tangan kanan nya, kini mata mereka saling menatap, dengan jarak yang sangat dekat.


Hembusan nafas mereka, sangat terasa, Fatih masih memegang tangan Mentari. Entah siapa yang mulai mendekat, kini wajah mereka tanpa jarak, hidung dan bibir kini saling menyentuh, namun momen mereka terganggu saat bau gosong.


"Ya Allah, rendang nya Mas. "


***


"Rasa nya, bau asap gosong. " Ucap Mentari sedih sambil makan tak selera karena rasa rendang yang aneh.


"Mubazir kalau di buang. " Ucap Fatih dengan santai masih memakan nya.


"Kamu nggak makan? "


"Nggak, Mas aja yang habis kan."


"Ya sudah, Mas makan semuanya. "


*****

__ADS_1


Mereka berdua duduk berdampingan sambil menonton film, kondisi mereka langsung menjadi salah tingkah, saat kedua pemeran beradegan ciuman, bahkan ciuman yang panas berlanjut adegan ranjang.


"Ekhm.. " Fatih sengaja agar diri nya tidak salah tingkah.


Mentari pun hanya menunduk memainkan ujung hijab nya, tubuh mereka menjadi tegang, dengan segera Mentari mematikan TV nya.


"Lebih baik kita tidur. " Ucap Mentari beranjak bangun dan masuk kedalam kamar nya.


Ponsel Fatih berdering, Neli menghubungi nya dan Fatih langsung segera mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum Yank, kamu kemana aja, kangen. " Ucap Neli dengan suara manja nya.


"Maaf ya, Mas sibuk. "


Sedangkan dari balik pintu Mentari menguping percakapan Fatih, Mentari hanya diam dan tersenyum kecut dan menutup. kembali pintu kamar nya.


*****


"Bu Tita. " Sapa Mentari.


"Ada apa ya? " Tanya Tita.


"Ibu kenapa sih, seperti nya Ibu rada gimana gitu sama saya. " Jawab Mentari.


"Perasaan kamu saja. " Ucap Tita.


"Kita kan akrab, malah sekarang seperti menghindari saya. "


"Maaf ya, saya ada jam. " Ucap Tita langsung meninggal Mentari.


"Kenapa dia? Angkuh banget. " Tanya Aneke.


"Nggak ngerti saya, dia kok beda ya sama saya. " Jawab Mentari.


"Sudahlah, ngapain ngurusin orang begitu."


*****


"Mas, kenapa ya Tita kok, beda sama saya? "


"Perasaan kamu aja, jangan dipikirkan. " Ucap Gibran .


"Nggak ah, pokok nya beda. "


"Yank, anniversary kita , gimana kalau kita rayakan nonton bioskop? "


"Ide bagus tuh, malam minggu besok kan? "


"Iya, mau kan? "


"Mau Mas, nanti Mas yang pesan tiket nya lewat aplikasi aja biar nggak antri panjang. "


"Ok, nanti Mas jemput kamu. "


Saat sedang makan, Mentari dan Gibran melihat Fatih bersama teman - teman nya, mereka mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Gibran dan Mentari.


Fatih terus menatap dan kadang menimpali percakapan, Mentari hanya melemparkan senyum nya, begitu juga Fatih.


"Apa kita pulang saja? " Tanya Gibran.


"Boleh, nggak enak juga. " Jawab Mentari.


"Kalau gitu, Mas ke kasir. "


Saat Gibran ke Kasir, Fatih menghampiri Mentari, dan langsung duduk di depan nya.


"Bisa temani Mas makan sam mereka? "


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2