
...Assalamualaikum...
...****************...
"Dia? Dia siapa Mah?"
"Dia, teman wanitanya dulu si Varo. Dia wanita sukses dan seorang anak yang konglomerat. Hartanya nggak akan habis hingga tujuh turunan. Dia dulu sangat tergila-gila sama Varo. Kalau saja dia yang menjadi menantuku, pasti hidupku dan Sameya bakalan enak. Punya menantu kaya, nggak perhitungan kayak kamu. Belum nikah aja aku dan Sameya sering dibelikan barang - barang mahal, bagaimana kalau sudah menjadi menantu pasti semua yang aku inginkan dan Sameya dibelikan. Ini baru juga makanan sudah ribut seperti ini. Dasar menantu sialan, mau mengatur - ngatur anakku seenaknya."
"Oh ya, ngatur gimana ya maksudnya?"
"Ngatur uang gajih Varo dan melarang Varo buat beliin ini dan itu buat Sameya, harusnya kamu itu sadar, anak laki-laki itu harus berbakti kepada orangtuanya."
💝💝💝
Entah jam berapa Mas Varo pulang semalam. Karena Villia tidur dikamar tamu semalam. Dan saat bangun Villia menemukan Varo sedang mempersiapkan sarapan.
Mengambil gelas dan menuang air putih dan menenggak sampai habis. Setelah itu Villia bersiap - siap untuk kembali kekamar.
"Sarapan dulu!"
Namun, Villia tidak menjawab dan tidak pula menghentikan langkahnya. Melihat wajahnya bikin Villia kesal.
__ADS_1
Belum lama Villia menarik selimut, suara Mas Varo terdengar dari luar menyuruh Villia keluar kamar karena Mama mertua dan adik iparnya sudah menunggunya dimeja makan.
Villia tidak memperdulikan apa ucapan sang suami. Emosi Villia semakin menggebu tatkala melihat kedua wajah manusia tidak tau diri itu.
"Ibu cuman mau tanya?" ucap Mama mertua tanpa tau berbasa - basi dan taunya cuman menyindir.
"Sameya sudah harus mengumpulkan tugas - tugas kuliahnya. Sudah saatnya Sameya untuk membeli laptop baru."
Dia bahkan tidak perlu tahu, atau setidaknya canggung untuk meminta itu semua.
"Maaf Mah, Villia juga seorang sarjana, tapi tanpa benda itu Villia tetap lulus kok dengan nilai terbaik. Walaupun Sameya sangat butuh, tidak bisakah memintanya pada Mas Bian." ucap Villia tanpa basa basi.
Mas Varo berdehem tandanya dia sedang marah. Villia tau kalau Varo marah dengan jawaban Villia, tetapi Varo berusaha tenang dihadapan keluarganya.
Villia keberatan, "Tidak bisa Mas, aku juga butuh uang itu."
Raut wajah Mama Widya mendadak berubah, Nampaknya beliau mulai marah.
"Tidak apa - apa, walaupun akhirnya Sameya harus berhenti kuliah itu tidak masalah."
"Sameya tetap akan kuliah Mah." MAs Varo menahan Mamanya.
__ADS_1
Mama mertuaku bersiap pergi, "Kamu urus aja istrimu!"
Ingin sekali Villia membuka mata hati sang Mama mertua.
"Maaf Mah, Villia nggak pernah sedikitpun marah saat Mas Varo membantu Mama asalkan dia tau bertanggung jawab."
"Kamu istri nggak tahu diri dan istri nggak tau diuntung."
Kalimat yang sangat menohok dan bukan pada tempatnya.
"Mama menghinaku?"
"Villia." Mas Varo menatap tajam kearah Istrinya itu.
"Aku mengatakan yang sebenarnya." tatapan murka dilayangkan sang Mama mertua.
"Kalau begitu, ambil kembali anak Mama. Biarkan dia menjadi milik Mama seutuhnya sampai mati."
"Lama - kelamaan Mama tinggal disini yang ada Mama akan jadi gila akibat menantu nggak tau diuntung ini. Ya sudahlah Mama mau pulang kerumah Mama aja." ucap Mama Widya seraya berdiri tapi sebelum melangkah pergi.
"Sameya, bereskan piring - piring hias yang ada dilemari ruang tamu." setelah berucap seperti itu Mama Widya pun meninggal meja makan menuju ruang tamu."
__ADS_1
"TERIMAKASIH"