
...Assalamualaikum...
...****************...
Villia tidak menemukan alasan yang jelas dari sang Papa, dia pun meninggalkan sang Papa sendirian menuju kamarnya lalu berganti pakaian.
Selepas Villia pergi, Papa Ibrahim kemudian mengirim pesan keseseorang untuk datang hari ini kerumahnya.
Sesaat kemudian, Villia telah selesai berganti baju dan memoles sedikit make up diwajahnya. Dia pun segera kembali menemui sang Papa yang ada di teras depan menikmati udara pagi.
Setelah tiba di halaman depan, Villia sedikit kaget tatkala melihat disana ada seseorang yang telah menghilang sejak dua tahun yang lalu dan hanya mendengar kabarnya lewat udara tanpa harus mengetahui keberadaannya.
"Bian." ucap Villia lirih.
Bian merupakan Kakak dari Alvaro yang memutuskan pergi dari keluarga nya karena kecewa lantaran wanita pujaan hati dinikahi sang Adik. Bian memiliki watak yang berbeda dari Mama Widya, Varo dan Sameya.
Selama pemulihan kekecewaan, Bian bersama Papa Ibrahim dan menjadi tangan kanan serta kepercayaan Papa Ibrahim tanpa sepengetahuan Villia dan mempercayakan salah satu perusahaan yang ada dikota lain untuk di kelola Bian. Dan hari ini Bian diminta kembali untuk menemani Villia untuk mengawasi pergerakan sang adik dalam mengelola PT VCI.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Bian menundukkan kepalanya sebagai isyarat simbol penghormatan.
"Mulai hari ini Bian akan menjadi supir sekaligus asisten pribadi mu?"
"Apa ini tidak berlebihan?" protes Villia.
__ADS_1
"Ini tidak berlebihan, bukankah ini sudah sesuai dengan posisi mu di perusahaan saat ini. Sudah saatnya kamu memiliki supir dan asisten untuk membantu mu dalam meringankan pekerjaan mu."
"Villia masih bisa melakukannya sendiri. Suruh dia pergi Pah? Villia bisa sendiri pergi kekantor."
Namun, Bian tetap diam pada tempatnya. Ibrahim sudah memerintahkannya untuk mengantar jemput Villia kekantor. Bukan Villia jika dia menyerah begitu saja. Villia segera mengambil ancang-ancang untuk kabur dari sana, dan Bian mampu menangkap nya.
"Tolong ijinkan aku pergi sendirian. Aku bukan anak kecil yang perlu penjagaan, aku masih mampu menyetir mobil, aku sudah terbiasa melakukan nya sendirian."
Bian pun melepaskan tangan Villia.
"Maaf."
Villia melangkah pergi, Bian mengekor dibelakang Villia.
Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Villia pergi kekantor sendirian.
...****************...
Dikantor, asisten baru untuk Varo sudah tiba dan sudah berkeliling untuk melihat suasana kantor.
"Kantor mu sangat luas ya?" ucap Dhea sembari mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan yang ada disana.
"Seperti yang kamu lihat."
"Apa Villia sudah tau kalau aku yang akan menduduki posisi asisten untuk direktur utama?"
__ADS_1
"Belum."
"Aku mau lihat bagaimana reaksinya jika dia tahu asisten suaminya adalah mantannya sendiri."
Villia tiba di lobi kantor hampir bersamaan dengan Bian. Villia pun segera masuk kedalam dan berpapasan dengan Varo dan Dhea.
Ini bukan kali pertama Villia dan Dhea bertemu, tapi ini sudah yang kesekian kalinya. Villia menatap Dhea begitu pula sebaliknya.
"Saya rasa kalian sudah kenal, dan tidak harus diperkenalkan kembali." ucap Varo, kemudian menatap laki - laki yang berdiri tak jauh dari Villia.
"Kapan kamu datang dari luar negeri?" tanya Varo yang mengira jika kakaknya itu tinggal di luar negeri selama ini.
"Baru satu minggu yang lalu?"
"Sudah bertemu dengan Mama?"
"Belum."
"Kapan kamu akan berkunjung kesana?"
"Akhir pekan."
"Kedepan nya kita akan sering bertemu." ucap Dhea sembari berlalu pergi diiringi Varo dibelakangnya.
Selepas mereka pergi, Villia dan Bian pun pergi dari sana menuju ruangan baru mereka yang terletak di lantai 10.
__ADS_1