MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 22.


__ADS_3

...Assalamualaikum...


...****************...


"Mama tahu kan kalau kebutuhan rumah tangga sedang melambung tinggi? Mama tahu kan kalau harga bawang, cabe merah, bensin, garam dan lain sebagainya nggak cukup dengan uang dua juta rupiah itu? Dan selama Mama tinggal dirumah Villia dua bulan kemarin, Mama tahu nggak kalau semua kebutuhan dapur pakai uang Villia di tambah kalian selalu minta untuk keperluan ini dan itu yang sama sekali nggak ada faedahnya. Belum lagi jika ada keperluan mendadak dari Villia ditambah dengan Mama dan Sameya."


Belum selesai Villia bicara, Mama Widya memotong, "Aku memakai uang anakku. Masalah buat mu?"


"Anak Mama suami Villia." jawaban lugas.


"Dia juga punya keluarga dan beban tanggung jawab."


"Kamu tidak bisa mengaturnya!" Mama Widya mulai marah.


"Sebagai istri cukup diam dan menerima apa yang di beri oleh suami! Syukur loh bersuamikan anakku, sudah ganteng, gajih tinggi, ... pokoknya suami idaman bagi wanita."


"Ngaca, udah pernah kelaparan belum?" Sameya ikut ngegas.

__ADS_1


"Mama tidak tahu apa-apa atau sengaja mau menghancurkan rumah tangga Villia?"


"Suka - suka kamu! Emang kami memaksa kamu untuk menikah dengan Varo."


Jawaban dari orang yang tak pantas di sebut Mama.


"Jadi istri harus tahu diri. Kamu hanya ongkang kaki dirumah nggak usah banyak mikir." suara Mama Mas Varo mulai meninggi.


"Aku cuma minta berhenti meminta dari Mas Varo. Sebagai menantu, Villia tidak akan mengurangi jatah belanja bulanan untuk Mama."


"Kamu mengancam Mama?"


"Dasar wanita nggak tau diuntung. Nasibmu baik karena menikah dengan anakku."


"Villia juga tidak ingin memilih suami dari keluarga ini. Tetapi jika Mama mau, Villia akan meninggalkan takdir ini."


"Syukurlah jika kamu tahu diri. Dengan begitu Varo akan lebih mudah untuk menikahi Dhea, wanita cantik, perhatian, dan nggak pernah pelit sama Mama. Apa yang Mama minta dan Sameya selalu di penuhi. Nggak seperti kamu, sudah miskin, banyak maunya, dan nggak bisa kasih Mama keturunan. Apa yang bisa di harapkan dan di banggakan dari menantu macam kamu? Yang ada kamu hanya akan menghabiskan uang anakku saja."

__ADS_1


Satu persatu tetangga kini berdatangan dan menonton pertunjukan mereka secara gratis tanpa dipungut biaya. Tapi, Villia tidak malu untuk itu.


"Dasar menantu nggak tahu diri." Mama Mas Varo ingin memukul Villia, namun pukulan itu berhasil Villia hindari.


"Villia datang untuk bicara baik - baik. Tapi, Mama nggak menerima niat baik Villia. Baiklah." Villia mundur dan merasakan seseorang memegang bahunya, Vilia menoleh dan menepis kasar tangan itu.


"Hari ini cukup sampai disini. Besok Villia datang lagi untuk mengambil piring - piring yang Mama ambil secara paksa tanpa meminta ijin kepada Villia."


Tetangga kini berbisik dari telinga ke telinga. Kemudian Villia kembali menekankan kata - katanya.


"Hari ini cukup sampai disini, besok Villia kembali untuk mengambil piring - piring Villia. Kalau Mama masih nggak mau memberi kan piring - piring Villia, ingat Villia akan mengajak tetangga yang disini untuk membuat kerusuhan dirumah Mama."


...****************...


Kata orang hubungan antara mertua dan menantu tidak akan pernah akur. Awalnya Villia tidak percaya akan hal itu. Sebab, sebelum Villia dan Alvaro memutuskan untuk menikah hubungan Villia dengan Mama mertuanya sangatlah baik. Mereka sering bercengkrama dan pergi berbelanja bersama - sama. Pada masa itu Villia berada di dekat Mama Widya merupakan tempat ternyaman yang pernah ada.


Namun, semuanya nampak berubah dan berbeda ketika Villia dan Alvaro sudah menikah. Entah Kenapa hubungan Villia dan Mama Widya mendadak menegang. Semua berubah menjadi alot. Diantar semua kelelahan dan perihnya hati hati Villia, membuat Villia ingin lari dari Kenyataan hidup ini. Disisi lain, suami yang seharusnya menjaga dan melindungi sedikit pun tidak bisa di harapkan karena semua perkataan Mamanya pasti semua di turuti nya.

__ADS_1


Villia tak pernah habis fikir, mengapa mereka bisa memperlakukan Villia seperti ini. Ucapan yang kerap kali mereka lontarkan kepada Villia mampu menembus jantung. Mereka dengan santai meremehkan Villia tanpa memikirkan perasaannya. Villia yakin semua orang khususnya wanita ingin terlihat sempurna dimata orang dalam artian bisa memberikan keturunan, Villia yakin semua orang menginginkan apa yang mereka inginkan.


Villia hanya bisa tersenyum kecut merenungi nasib yang entah akan kemana, harapan dan cita-cita yang sudah Villia rangkai sedemikian rapi, runtuh seketika ketika orang-orang yang Villia anggap orang tua kedua dan suaminya meremehkan kemampuan Villia, Villia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengehembuskan perlahan menstabilkan kesabaran, yang sebenarnya sudah tak kuat untuk di tahannya.


__ADS_2