MERTUA DAN IPAR TOXIC

MERTUA DAN IPAR TOXIC
Bagian 48.


__ADS_3

"Alasannya adalah karena kamu terlalu baik denganku, jadi aku anggap kamu sebagai teman ku saja."


Bian sedikit kecewa dengan ucapan Villia, tapi dia pun harus menghormati keputusan Villia lagi pula Villia sudah menjadi milik orang lain.


...💜💜💜💜💜...


Dikantor.


Varo teringat pertanyaan Villia tentang gelang semalam. Varo kemudian menghubungi Dhea, sementara Dhea sendiri telah siap berangkat kekantor.


"Apa yang kamu lakukan sekarang?"


"Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor."


"Apakah kamu akan pergi bekerja hari ini?"


"Ya, kenapa kamu menelepon ku pada jam segini?"


"Gelang yang ku berikan padamu sebagai hadiah, apa saat ini kamu masih memakainya?"


Dhea berbohong, "Tentu saja aku memakainya setiap hari karena aku menyukai gelang itu. Aku juga memakainya sekarang."


Varo mengulang kalimat Dhea, "Kamu memakainya sekarang?"


"Ya, aku memakainya. Apa ingin ku fotokan sebagai buktinya?"


"Tidak, tidak apa - apa. Baiklah kalau begitu. Silahkan nikmati perjalananmu."


Varo menutup panggilan nya. Dhea terdiam. Dia tahu, Villia mulai mencurigai dirinya.


Selepas dari rumah sakit, Bian menyempatkan singgah di PT VCL. Setelah tiba disana, Bian segera menuju ruangan pak direktur yang tak lain adalah adik kandung nya sendiri.


Tok ... tok ...


"Masuk?" perintah dari dalam.


"Ceklek." pintu di bukan kemudian di tutup kembali.


Varo mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang.


"Hai, ada angin apa membawamu bisa sampai masuk keruangan ku?"


Bian berjalan masuk lebih kedalam lagi.


"Aku hanya kebetulan lewat saja. so aku mampir dulu deh."


"Apakah hanya itu alasanmu?"


"Hmmmmm." kemudian Bian duduk di sofa yang ada didalam ruangan itu.


Varo berdiri dari kursi kebangsaan nya, kemudian duduk di sofa yang sama dengan kakaknya itu.


"Dengar - dengar kamu makin sukses aja ya sekarang?" ucap Varo.

__ADS_1


"Itu tidak apa - apa nya di bandingkan dengan mu."


"Kamu paling bisa merendah."


"Itu kenyataannya."


"Mau minum apa?" ucap Varo menawarkan.


"Tidak perlu, aku sudah mau pergi."


"Baiklah, hati - hati dijalan."


Setelah menemui sang adik, Bian memutuskan untuk menemui Nyonya Divya dikediaman nya.


"Saya sangat mengucapkan terimakasih kepada anda yang selalu membantu saya selama ini hingga dapat menyelesaikan studi dengan baik. Terimakasih."


"Gunakan sebaik mungkin ilmu yang kamu dapatkan untuk membantu orang. Lalu kapan kamu akan kembali aktif di perusahaan?"


"Saya belum tahu kapan bisa ikut gabung. Untuk saat ini saya masih belum bisa lari dari tanggung jawab dokter itu."


Setelah menemui Nyonya Divya, Bian segera memutuskan untuk pulang.


...💜💜💜💜💜...


Di kantor.


Ponsel Varo tiba - tiba berdering. Telepon dari Villia yang memintanya untuk bertemu sekaligus makan siang bersama. Varo saat ini sudah berada di restoran yang terletak di lantai dasar gedung.


Cukup lama dia menunggu. Hingga akhirnya yang di tunggupun tiba.


"Apa yang merasuki mu? Kamu tidak pernah keluar ketika aku memintamu."


Kata - kata Varo tak di gubris Villia, Villia sibuk dengan stek yang sudah terhidang kan di atas meja.


"Aku suka steak, tapi aku makan sesuai dengan seleramu hingga aku lupa kalau aku suka dengan daging." ucap Villia sembari memakan potongan - potongan steak nya.


"Benarkah? Aku sangat menyesal untuk itu." ucap Varo yang menyesalkan dirinya.


"Aku akan makan apa yang aku inginkan dan kenakan mulai sekarang."


"Ok, lakukan semua yang kamu inginkan mulai sekarang."


"Bagaimana denganmu? Apa kamu akan melakukan apapun dengan hidupmu?"


"Yah, semacam itu."


"Apa mungkin ada yang kamu sembunyikan sesuatu dari ku?"


"Sembunyikan dari mu?"


"Aku penasaran, aku merasa ada sesuatu yang tak aku ketahui tentang dirimu. Dan kadang - kadang aku bertanya - tanya apa aku sedang berhalusinasi? Apa kamu punya rahasia yang tidak aku ketahui?"


Varo terdiam. Lalu dia berfikir sejenak, sebelum mengatakan bahwa dia punya rahasia. Villia tegang.

__ADS_1


"Aku sungguh sangat mencintaimu, selama bertahun - tahun apa yang telah aku tunjukkan padamu belum seberapa."


Pembicaraan mereka terhenti karena telepon Varo berbunyi.


"Ya apa kamu sudah memeriksa nya?


"Ya bos."


"Atur pertemuan darurat."


Lalu Varo pamit kepada Villia, "Maaf, ada sesuatu yang mendesak jadi aku harus pergi. Aku merasa tidak enak karena sudah merusak makan siang kita."


"Tidak apa - apa, pergilah!"


"Kalau begitu makanan lah banyak lalu pulang kerumah dengan selamat."


Varo pergi.


Selepas Varo pergi, Villia mendadak kesal. Dia tidak percaya dengan perkataan Varo tadi soal perasaan Varo kepada Villia.


Dhea didepan jendelanya, Dhea menghubungi seseorang.


"Aku punya pekerjaan untukmu?"


Di rumah Villia sedang gelisah, Hari sudah larut malam tapi dia masih memikirkan perselingkuhan suaminya dengan mantan kekasihnya.


"Apakah aku harus merelekan dan menyerah atas pernikahan ini?" ucap Villia dalam hati.


Tidak lama kemudian Villia mengalihkan pandangannya ke arah Poto pernikahan nya yang tertempel dengan cantik didinding kamarnya.


Pagi pun datang, dan Villia tidak sedikitpun memejamkan matanya. Dia masih duduk di sofa dengan pemikirannya.


Villia pun memutuskan untuk menemui Dhea saat ini juga.


Dhea terkejut melihat Villia datang pagi - pagi ke apartemen nya.


"Ada apa berkunjung sepagi ini?"


"Biarkan aku masuk sejenak." pinta Villia.


Dhea mempersilahkan Villia masuk kedalam apartemen nya. Villia memperhatikan sekeliling rumah Dhea. Dia melihat ada beberapa pena dan kertas tergeletak diatas meja.


"Apa ada yang salah?" tanya Dhea.


"Bisakah kamu membuatkan aku secangkir kopi?"


Dhea pun langsung menuju dapur. Saat Dhea pergi kedapur, Villia meminta ijin untuk menggunakan kamar mandi.


"Aku keluar buru - buru, jadi aku bahkan tidak sempat mengenakan riasan."


"Tentu saja, gunakan dengan bebas."


Tapi sebelum kekamar mandi, Villia memeriksa kamar Dhea terlebih dahulu tanpa Villia sadari jika kelakuannya itu di perhatikan oleh Dhea.

__ADS_1


Dhea menghubungi seseorang dan memintanya untuk datang ke apartemen sekarang juga untuk membantu mengelabui Villia agar seolah - olah, dia dan suaminya murni sudah tidak memiliki hubungan apa - apa.


Sementara itu, Villia menemukan parfum yang biasa Varo gunakan diatas meja rias Dhea.


__ADS_2