
...Assalamualaikum...
...****************...
Mama Divya menghubungi Villia. Bian sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Villia menjawab telepon dari ibunya.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa kamu pulang lebih awal tanpa sepatah kata pun?"
"Maaf Mah. Villia sedikit flu dan kurang enak badan."
"Seberapa parah sakit mu?"
Tak mau di tanya - tanya, Villia segera menyudahi panggilannya dengan Ibunya.
"Mah sudah dulu ya, Villia ada urusan. Nanti Villia telepon kembali."
Mama Divya heran sendiri, Villia memutus sambungan telepon nya begitu saja.
...****************...
Villia menemui Varo di ruangannya.
"Aku ingin kita mengakhiri semuanya cukup sampai disini. Aku ingin kita bercerai."
"Kita tidak akan pernah bercerai."
"Yang akan kamu lakukan bukan hanya tentang perceraian kita, tapi kamu juga harus menyerahkan kursi mu sebagai direktur VCI."
"VCI tidak akan pernah tumbuh sebaik ini tanpa usahaku. Aku bukan lagi seseorang yang dengan mudahnya kalian pecat. Lagi pula siapa dirimu?"
"Kamu akhirnya telah menampakkan sisi dirimu yang sebenarnya."
"Keluarga kita dan posisi ku sebagai direktur, aku tidak akan pernah menyerah."
"Sayang sekali, aku harus membawanya ke pengadilan."
"Itu akan hancur, VCI dan keluarga kita. Itu akan terbelah dan hancur berkeping - keping. Jika kamu sampai membawanya ke pengadilan. Itu akan menjadi aib yang menjijikan. Semua orang akan tahu hal yang paling memalukan dalam keluarga kita. Kita akan menjadi bahan tertawaan dan lelucon. Orang - orang akan berkata "Villia yang berpura - pura memiliki kehidupan paling bahagia, pada akhirnya memiliki jendela pertunjukkan" Bahwa itu hanya kebohongan yang di bungkus pura - pura bahagia."
Varo berdiri dan mendekati Villia, "Orang - orang akan mengejek dan mengolok - olok kita, apa itu yang kamu inginkan?"
Villia menatap Varo dengan tatapan menjijikan.
"Aku benci pernah mencintai orang seperti mu." Villia beranjak pergi.
Varo berdiri dan menatap jendela. Dia memikirkan kata - kata Villia.
"Tidak hanya perceraian tapi kamu juga harus menyerahkan kursi mu sebagai direktur."
"Langkahi dulu mayatku." ucap Varo lirih.
...****************...
...Dokter Adrian😂...
Adrian dan Bian tak menyangka akan bertemu saat makan siang di restoran yang sama.
"Bagaimana kabar mu? Lama tak jumpa." ucap Adrian sembari mengulurkan tangannya dan Bian pun menyambut nya.
"Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat."
__ADS_1
"Masih betah sendiri?" tanya Bian.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Masih mencari - cari yang cocok."
"Semoga segera mendapatkan wanita yang sesuai dengan kriteria mu."
Tiba - tiba, Dhea muncul di hadapan mereka berdua. Bian memperkenalkan Dhea kepada Adrian. Kemudian Dhea duduk.
"Kenapa kamu tidak menikahi Villia?" Adrian kaget dengan pertanyaan Dhea.
"Aku hanya bisa berharap Villia bahagia dengan pria pilihan nya."
"Lalu bagaimana jika Villia tidak bahagia, apa kamu akan memperjuangkan cinta yang dulu sempat tertunda?"
Bian menegur Dhea.
"Husttttt...."
Adrian tak menggubris pertanyaan Dhea.
"Senang bertemu dengan mu." Adrian meninggalkan mereka berdua.
❤️❤️❤️❤️❤️
Selesai makan, Bian mengajak Dhea pergi jalan - jalan menghirup udara segar ke pantai.
"Dhea." mereka pun berhenti berjalan.
Bian ragu untuk mengatakannya tapi jika tidak mencoba bagaimana dia tahu hasilnya. Dengan sekuat tenaga Bian memberanikan diri untuk mengungkapkannya perasaannya jika seiring berjalannya waktu dia mulai menyukai Dhea.
"Aku menyukaimu, dan aku bermaksud ingin melamar mu dan sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat." ucap Bian sembari memegangi kotak cincin yang sudah lama dia siapkan.
Dhea terkejut.
Bian lantas berlutut dan menyodorkan cincin pada Dhea.
"Maukah kamu menikah dengan ku?"
Dhea terdiam.
"Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan mencintaimu dan menyayangi mu dengan segenap jiwa ragaku. Aku akan membuat mu tak menyesal karena telah memilih aku sebagai pendamping hidup mu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu."
Dhea menatap cincin itu.
"Cincin ini cantik, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya."
Dhea ingin beranjak pergi tapi Bian menahannya.
"Aku mencintai orang lain. Aku mencintainya lebih dari hidupku."
"Apakah aku?"
"Aku mendekatimu hanya karena strategi untuk mendapatkan simpatik nya kembali."
"Berhenti bercanda!"
"Ini bukan lelucon. Aku memanfaatkan mu untuk mendapatkan orang yang aku cintai lagi. Aku memberikan perhatian lebih kepada mu untuk membuat dia cemburu. Mari kita berhenti sampai disini."
Dhea mau pergi tapi lagi - lagi Bian menahannya.
"Jangan lakukan ini kepada ku!"
__ADS_1
"Kamu harus sadar sekarang, aku tidak pernah mencintaimu sedikit pun. Harus kah aku mengatakannya lagi. Aku tidak mencintaimu."
Dhea pun pergi.
Bian kini sadar siapa pria yang di cintai Dhea. Bian mengejar Dhea.
"Jangan bilang padaku ... orang yang kamu cintai adalah Varo."
Dhea terkejut.
"Aku bertanya padamu, apa orang yang kamu maksud adalah Varo?"
Dhea tak menjawab. Bian tahu kalau tebakkannya benar.
Bian mencengkram bahu Dhea.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa ini masuk akal? Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Bagaimana bisa?"
Bian mendorong Dhea. Bian beranjak pergi. Dia tak menyangka jika Dhea adalah simpanan adiknya sendiri. Bian menuju rumah Villia. Bian mendapati Villia sedang nonton TV.
"Villia."
Villia menatap Bian. Bian berjalan mendekati Villia.
"Apa kamu baik - baik saja?"
Villia memegang tangan Bian, "Aku baik - baik saja."
Bian menitikkan air mata kesedihan.
"Jangan menangis!"
...****************...
Bian pergi ke apartemen yang baru saja dia beli untuk Dhea beberapa Minggu lalu. Saat hendak mengetuk pintu, saat yang bersamaan Dhea keluar membawa semua barangnya. Dhea bersiap hendak meninggalkan apartemen nya. Mereka saling bertatapan, Dhea berjalan melewati Bian tanpa sepatah kata pun. Bian mengepalkan tangannya dan memukul dinding hingga tangannya terluka.
"Semua perhatian yang kamu berikan selama ini...."
Dhea berhenti melangkah.
"Kamu akan membayar luka yang kamu beri kepadaku. Dan jangan pernah berfikir untuk menyentuh atau menyakiti Villia, jika itu terjadi kamu akan berhadapan dengan ku dan aku tidak akan segan - segan menyakiti mu."
Dhea terkejut mendengarnya. Tak lama kemudian Dhea beranjak pergi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Bian dan Varo tak sengaja berpapasan di koridor kantor. Bian menatap Varo dengan tatapan kecewa. Varo mendekati Bian. Varo melihat tangan Bian di perban.
"Ada apa dengan tanganmu? Apa kamu terluka?"
"Ya, aku terluka."
"Seharusnya kamu berhati - hati."
"Biarpun sudah berhati - hati, tetapi masih bisa menimbulkan cidera."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi."
Varo ingin menepuk pundak Bian, tapi Bian langsung beranjak pergi sebelum Varo melakukannya.
Varo heran, Bian kesannya menghindari nya.
Kemudian Bian berbalik dan menatap Varo, "Kamu juga hati - hati ya!"
__ADS_1
Bian pergi, Varo tak mau ambil pusing dengan sikap dan kata - kata Bian.
Note : Jadi part ini Villia dan Varo sudah pisah rumah tapi belum bercerai karena ada beberapa hal yang harus Villia ambil kembali dari tangan Varo.... silahkan tunggu part selanjutnya 🙏🙏