
...Assalamualaikum...
...****************...
"Sayang, apa kamu menyukai daging?"
"Dhea sangat menyukai daging Mah. Ada apa Mama bertanya seperti itu?"
"Varo juga sangat menyukai daging. Bagaimana kalau kapan - kapan kamu main kerumah, Mama akan masak daging yang banyak untuk kamu. Mama lihat kamu agak sedikit kurusan, siapa tau dengan makan daging kamu bisa sedikit gemukan."
"Terimakasih Mah atas perhatiannya."
Dhea lalu mencoba kimci daun sawi.
"Ini sangat enak. Mungkin Dhea harus membeli beberapa sawi untuk di bawa pulang. Kira - kira mereka menjual sawi nggak ya disini?"
"Apa kamu menyukainya? Mama sangat pandai membuat kimci sawi."
"Mama bisa membuat sendiri?"
"Iya."
"Boleh tidak Dhea minta ajarakan bagaimana cara membuat kimci sawi?"
Sembari tersenyum, "Tentu, Mama akan mengajari kamu cara membuat kimci sawi karena kebetulan Varo juga menyukainya."
Selesai makan siang, Mama Widya dan Sameya mengantarkan Dhea pulang kerumahnya. Ketika hendak turun dari mobil seorang pria yang sudah berumur memanggil Dhea.
"Dhea."
Dhea terkejut melihat pria itu. Dhea pun buru - buru pamit pada Mama Widya dan Sameya lalu turun dari mobil Mama Widya.
Dhea menghampiri pria yang memanggilnya. Pria yang memanggilnya tak sendirian, tapi ditemani dua pengawal yang berbadan besar.
Dhea kesal, "Bagaimana kamu tahu kalau aku tinggal disini?"
Pria itu berkata, hanya karena Dhea memutuskan kontak, bukan berarti dia tidak bisa menemukan dirinya.
"Sangat tidak bijaksana untuk memutuskan semua kontak, Dhea."
"Katakan padaku, mengapa kamu ada disini?" ucap Dhea.
"Jangan terburu - buru. Aku ingin bekerja sama dengan VCI. Bantu aku dan rekomendasi kan perusahaan kami kepada direktur mu."
"Apa katamu?"
"Berusahalah agar VCI mau bekerja sama dengan perusahaan kami. Sesama keluarga harus saling membantu ketika mengalami kesulitan."
"Apa? Keluarga? Kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku dan keluargaku? Apa itu yang disebut dengan keluarga?"
__ADS_1
"Tentu saja, kita keluarga. Kita bukanlah keluarga asing."
"Aku tidak bisa membantu mu, jadi pergilah." ucap Dhea mengusir secara halus ketiga tamu - tamu yang tak di undang itu.
Mama Widya menepikan mobilnya dan menyaksikan semua nya dari kejauhan. Dia khawatir kepada Dhea yang disamperin oleh tiga orang itu
Pria itu marah, "Apa aku seperti sedang meminta bantuan mu?" ucap pria itu sembari tertawa.
"Apa katamu?"
"Kamu muak karena menganggapnya sebagai takdir yang buruk. Kamu harus mencobanya dan membuatnya menjadi hubungan yang baik dengan bersikap baik. Jika kamu tidak mau mencobanya maka aku sendiri yang akan bertanya kepada direktur mu."
"Apa selama ini kamu belum puas mengusik kehidupanku? Semua yang dimiliki keluargaku termasuk perusahaan, rumah, mobil dan seluruh properti yang sudah kamu ambil secara paksa dari keluargaku apa belum cukup memenuhi seluruh hasrat gila hartamu? Baiklah kamu hanya akan berhenti mengusik kehidupan ku jika aku mati. Baiklah jika itu mau mu. Aku akan mati untuk mu."
Tanpa rasa takut dan terus berjalan kedepan, Dhea
melangkah kan kakinya kejalan raya.
Sontak pria itu kaget, "Hei... hei ... apa yang kamu lakukan? Astaga, orang gila itu."
Dhea berdiri ditengah jalan dan berbalik menatap pria itu. Dhea lalu memejamkan matanya. Mobil box datang dan hendak menabraknya, tapi Mama Widya datang di saat yang tepat kemudian menarik tangan Dhea dan membawanya ketepi jalan.
Pria itu bertanya, "Siapa kamu?"
Mama Widya mengaku sebagai Mama kandung Dhea. Sontak Dhea terkejut mendengarnya.
"Kamu bicara omong kosong. Wanita ini tidak punya siapa - siapa di dunia ini selain aku."
"Dasar wanita jahat. Aku akan pergi sekarang, tapi ingat kita akan bertemu lagi."
Ketiga pria itu akhirnya pergi.
Mama Widya menatap Dhea. Kemudian memeluk dan menenangkannya.
"Sudah, sudah kamu jangan menangis lagi. Sekarang kamu aman, kan ada Mama disini."
Dengan bergetar, "Terima kasih Mah, maafkan kesalahan Dhea yang sudah mengecewakan Mama dahulu. Maafkan atas kesalahan Dhea yang sudah mengecewakan anak Mama yang sudah sangat menyayangi dan mencintai Dhea."
"Sudah, sudah yang berlalu biarlah berlalu. Jadikan yang berlalu sebuah pelajaran untuk menuju kehidupan yang lebih baik."
...💜💜💜💜💜...
Dhea sudah berada di apartemen nya. Dia teringat kembali kematian orang tuanya.
...Flashback....
Saat itu Dhea baru berumur 16 tahun, baru saja duduk di kelas 11. Dia hanya bisa terduduk terdiam di pemakaman Ayahnya.
"Kakak, kakak!" ratapnya.
__ADS_1
Ternyata, pria itu adalah paman Dhea adik dari Ayah Dhea.
Tangis Dhea pecah.
Pak Dimas menghampiri Dhea.
"Jangan khawatir, Dhea. Paman mu akan menjadi Ayah dan Ibu mu."
Tapi, setelah lulus SMA, Dhea malah dipaksa menandatangani surat pengambilan alih perusahaan dan segala properti yang di miliki orang tuanya Dhea oleh pamannya.
Dhea menolak nya, "Orang tuaku membuat perusahaan ini dengan darah dan keringatnya sendiri! Apa hakmu untuk mengambil nya."
"Akulah yang mengelola perusahaan ini sejak orang tuamu meninggal. Aku harus bertindak sebagai walimu sejak kamu masih di bawah umur sejak itu, tapi sekarang kamu sudah dewasa kamu harus membayar ku kembali karena telah merawatmu."
"Menjagaku? Sejak kapan kamu menjagaku?"
"Inilah sebabnya mengapa orang mengatakan untuk tidak mengurus siapa pun yang tidak berhubungan dengan mu. Lupakan, cepat tandatangani itu!"
Dhea menyembunyikan kedua tangannya. Dia tidak mau menandatangi surat itu, tapi kedua pengawal Pak Dimas memaksa Dhea untuk menandatangani surat itu.
...Flashback end....
Dhea menangis. Tangisannya semakin deras saat dia menatap foto dirinya bersama orang tuanya di depan perusahaan nya.
Tak lama kemudian ponsel Dhea berbunyi. Pesan dari Mama Widya.
"Apa kamu baik - baik saja? Beri tahu aku segera jika ada yang salah."
Kebaikan Mama Widya semakin membuat Dhea bertambah sesak.
...💜💜💜💜💜...
Seorang reporter tengah melaporkan berita dari bandara. Berita tentang pengusaha muda Bian Pratama Hady yang menerima penghargaan Internasional yang disebut sebagai penghargaan Hotelier Of The Century. Bian Pratama Hady yang memenangkan penghargaan tersebut akan segera tiba di bandara. Tak lama, Bian datang dan reporter langsung mengerubungi nya.
Mereka mengucapkan selamat atas penghargaan yang diterima Bian Pratama Hady.
Bian Pratama Hady adalah orang pertama Indonesia yang meraih penghargaan itu dan mereka ingin mendengar sepatah dua patah kata dari Bian Pratama Hady.
"Itu adalah penghargaan yang besar, jadi aku sangat bersyukur telah mendapatkannya. Ini suatu kehormatan dan sekarang aku merasakan beban nya di pundak ku."
Villia lewat di samping Bian yang sedang diwawancara. Bian melihat Villia.
"Villia."
"Bian."
Villia memeluk Bian. Villia senang Bian pulang ke indonesia. Villia lalu melepas pelukannya dan menatap Bian.
"Kamu terlihat sangat baik."
__ADS_1
"Kamu juga sama. Apakah orang akan percaya pada ku jika aku mengatakan kalau kamu adalah kekasihku?"
"Kamu telah menjadi sangat baik dalam memberika pujian."